Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda

Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda
Kebahagiaan Hanif


__ADS_3

Tak terasa usia kandungan Emeli sudah memasuki usia sembilan bulan. Pertanda sebentar lagi dia akan melahirkan. Semua perlengkapan sudah di beli, Hanif pun ikut andil dalam memilih untuk anak pertamanya. Menurut hasil Usg, Emeli akan melahirkan bayi perempuan.


"Utun mau di tengok ayah ga? Kata dokter semakin sering di tengok, semakin baik untuk menjelang kelahiran." goda Hanif sambil menciumi perut istrinya.


Tanpa basa basi Hanif langsung melahap bibir sang istri. Melu*matnya dengan penuh semangat. Kini lidah mereka saling membelit satu sama lain dan tangan Hanif pun sibuk mere*mas bukit kembar milik istrinya.


"Aaahhh..." leguhan keluar dari bibir Emeli saat mulut suaminya melahap dua bukit kembarnya secara bergantian tentu saja hal itu membuat Hanif semakin bersemangat mendengar leguhan istrinya.


"Sayang....aku mulai ya!" ujar Hanif kepada sang istri. Emeli hanya mampu menganggukkan kepalanya, tak mampu lagi berkata-kata.


Hanif langsung mensejajarkan kedua pangkal paha milik istrinya dengan miliknya.


"Aaahh..." racau keduanya saat milik Hanif masuk dengan sempurna. Hanif langsung memompanya dengan penuh semangat. Semakin lama semakin di percepat hingga akhirnya mereka mengerang bersama.


❤️❤️❤️❤️


"Kenapa perutku sejak tadi mules terus ya?" gumam Emeli yang sedang mengalami mules. Semakin lama tanda mules itu semakin cepat, membuat Emeli mengeluarkan keringat dingin. Meringis kesakitan, membuat dirinya tak tenang.


"Apa aku akan segera melahirkan?" gumam Emeli kembali pada hatinya.


Saat itu jam masih menunjukkan pukul 17.00, Emeli hanya sendiri di apartemen karna sang suami belum kembali dari bekerja. Rasa mules semakin menjadi. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi sang suami.


Mendengar rasa mules yang di rasa sang istri, Hanif langsung bergegas pulang. Dia menjadi khawatir. Hanif baru saja sampai apartemen. Dan langsung mencari keberadaan sang istri.


"Ya ampun sayang, mengapa kamu tak bicara sejak tadi sih. Ayo kita langsung saja ke rumah sakit!" ujar Hanif. Hanif langsung menggendong tubuh istrinya ke mobil, dia tak peduli jika dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya.

__ADS_1


"Bertahanlah sayang!" ujar Hanif yang sesekali melirik ke arah sang istri yang terus menjerit kesakitan.


Mobil Hanif telah terparkir rapih di parkiran rumah sakit. Hanif langsung menggendong tubuh sang istri masuk ke dalam rumah sakit. Saat itu wajah Emeli sudah terlihat pucat. Membuat Hanif semakin panik. Emeli langsung mendapatkan pertolongan.


"Pak, istrinya akan segera melahirkan. Pembukaannya sudah lengkap!" ujar sang dokter yang menangani Emeli.


"Lakukan tindakan yang terbaik untuk istri saya!" sahut Hanif. Jantungnya berdegup sangat kencang, ini adalah hal pertama kali yang di rasa Hanif. Hanif merasa panik. Terlebih Emeli terlihat sudah mulai lemas.


Hanif langsung masuk ke dalam persalinan, di mana sang istri akan melahirkan.


"Semangat sayang! Aku yakin kamu pasti bisa melahirkan buah cinta kita!" ujar Hanif mencoba memberi semangat sang istri. Emeli hanya mampu menganggukkan kepalanya.


Hanif merasa tak tega melihat perjuangan sang istri melahirkan buah cinta mereka. Hanif terus membisikkan kata-kata semangat di telinga sang istri. Dia juga tak peduli kalau tangannya kini menjadi sasaran empuk untuk Emeli remas. Kuku Emeli menancap dan meninggalkan bekas di tangan suaminya.


"Ayo sayang kamu yakin bisa!" ujar Hanif yang tak putus memberi semangat sang istri.


Dan akhirnya suara tangis bayi terdengar di ruang persalinan. Buah cinta Hanif dan Emeli sudah terlahir ke dunia. Terlahir tanpa kurang apapun. Hanif sempat meneteskan air mata penuh harunya. Dia tak menyangka jika saat ini dirinya sudah menjadi ayah untuk sang anak.


"Terima kasih sayang karna kamu sudah berjuang melahirkan anak kita. Aku mencintaimu." ucap Hanif sambil melayangkan kecupan di kening sang istri.


Setelah proses kelahiran telah selesai, Emeli di pindahkan ke ruang perawatan. Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuk Emeli dan Hanif. Mereka sudah resmi menjadi ayah dan bunda.


"Permisi ibu dan bapak. Dede nya kami anter ya! Tolong latihan di susui ya bu!" ujar suster yang mengantarkan bayi perempuan mungil ke pelukan Emeli. Raut bahagia terlukis di wajah keduanya.


Hanif langsung menghubungi sang bos, memberi tahu jika istrinya sudah melahirkan dan meminta izin untuk tidak bekerja selama tiga hari. Papi Jo yang mendengar tentu saja ikut merasa bahagia dan memberikan ucapan selamat kepada asistennya.

__ADS_1


"Lucu, cantik, dan menggemaskan banget si kamu." ujar Hanif saat melihat putri pertama mereka. Hanif sudah belajar menggendong sang anak. Hanif merasa bersyukur sekali, karena akhirnya dia bisa memiliki keturunan meskipun anak pertama mereka perempuan.


Emeli tersenyum melihat sang suami begitu menyayangi buah cinta mereka. Hanif memang seorang ayah dan suami yang luar biasa. Emeli bersyukur memiliki Hanif.


Owek...owek...owek


"Kenapa nangis? Anak ayah laper ya? Sebentar ya ayah kasih kamu ke bunda." ujar Hanif. Hanif memberikan anaknya kepada Emeli.


Emeli langsung memposisikan sang anak ke pu*ting bukit kembarnya. Hanif hanya bisa menelan saliva nya harus melihat penampakan bukit kembar milik istrinya yang sangat menggoda.


"Anak ayah pinter banget ya, enak ya punya bunda? Ayah ngalah deh, sampai dua tahun bukit kembar milik bunda buat kamu." ucap Hanif kepada sang anak.


Setelah sang anak sudah terlihat tertidur, Hanif mengambil meletakkan sang anak ke dalam box kembali. Dan mengambilkan air putih untuk sang istri.


"Minum dulu! Biar tenggorakan kamu tidak kering! Kamu mau makan apa? Biar aku belikan!" ujar Hanif. Dia ingin memanjakan sang istri setelah sang istri selesai berjuang melahirkan.


Emeli menggelengkan kepalanya. Saat itu dirinya tidak menginginkan makanan apapun. Tubuhnya masih terasa lemas, dan justru mengantuk. Di saat sang istri tertidur, Hanif keluar dari kamar untuk membeli makanan untuk dirinya dan juga sang istri.


"Sayang...makan dulu yuk! Aku sudah membelikan makanan untuk kamu!" ujar Hanif yang mencoba membangunkan sang istri agar makan.


Perlahan Emeli membuka matanya. Untungnya sang anak tak rewel, masih tertidur pulas.


"Pinter banget si kamu, nak! Pengertian banget bundanya cape." ujar Hanif sambil menatap sang anak yang masih tertidur pulas.


Hanif dengan telaten menyiapkan makanan untuk sang istri dan menyuapinya lebih dulu. Dia rela menahan rasa laper yang dia rasa. Hal itu membuat Emeli semakin tersanjung merasa di cintai. Setelah sang istri sudah selesai makan, baru lah Hanif makan.

__ADS_1


"Aku akan mencari art yang akan membantu kamu. Aku tak ingin kamu kerepotan sendiri mengurus buah hati kita.


__ADS_2