
"Aku pamit masuk ya! Kamu semangat kerjanya! I love you." ucap Celine saat dirinya hendak turun dari mobil suaminya. Celine melambaikan tangannya ke arah sang suami. Papi Jo membunyikan klakson untuk memberi tandanya pamit pergi. Biasanya papi Jo menunggu sang istri sampai masuk, namun kali ini dirinya harus secepatnya ke kantor karna akan mengadakan meeting dengan klien barunya.
Kini Papi Jo telah sampai di perusahaan. Semua karyawan yang berpapasan dengannya langsung memberi hormat kepadanya. Papi Jo terlihat berkharisma. Dia sosok pemimpin yang bijaksana, namun terlihat dingin.
"Han, bagaimana? Apa semuanya sudah di siapkan? Jam berapa kita harus berangkat memenuhi undangan?" tanya papi Jo.
Berkas-berkas penting sudah siap, dan kini mereka akan berangkat ke tempat meeting. Papi Jo terlihat sangat gagah. Jika dalam urusan bekerja, dia terlihat sangat serius.
Kini mereka telah sampai di sebuah restoran mewah. Mereka akan melakukan meeting untuk membahas tentang proyek kerja sama yang akan di lakukan.
Deg
Jantung Papi Jo berdegup kencang, saat melihat wajah orang yang akan melakukan kerja sama dengannya.
"Kamu? Untuk apa kamu di sini?" tanya papi Jo ketus.
"Jadi kamu yang akan melakukan kerja sama dengan perusahaan saya? Jika iya, saya akan membatalkannya. Saya tidak Sudi jika harus melakukan kerja sama dengan kamu!" setelah sang asisten mengatakan iya, bahwa Vino lah kliennya. Papi Jo memilih langsung pergi meninggalkan restoran tersebut begitu saja. Melihat sikap bosnya tentu saja hal itu membuat Hanif merasa bingung.
"Tuan tunggu! Maaf jika saya lancang pada anda! Mengapa anda pergi begitu saja? Apa anda sudah yakin akan membatalkan kontrak kerja sama perusahaan kita dengan perusahaannya?" serentetan pertanyaan keluar dari bibir Hanif.
Mendengar sang asisten terus bicara, tentu saja hal itu membuat dirinya bertambah emosi. Dia langsung membentak asistennya. Tekadnya sudah bulat, dia ingin membatalkan kontrak kerja sama ini. Dia tak sudi jika harus bekerja sama dengan rivalnya.
__ADS_1
"Kau tau, pria itu mantan kekasih istri ku! Dan bahkan dirinya sempat ingin merebut istri ku. Aku tak peduli apapun alasannya." sahut papi Jo. Dan Hanif hanya menganggukkan kepalanya. Mengerti maksud dan tujuan bosnya itu.
Meninggalkan Papi Jo yang telah menolak bekerja sama dengan Vino. Vino saat ini sedang kalang kabut. Pasalnya perusahaan papinya sudah di ujung tanduk, jika dirinya tak mendapat suntikan dana kemungkinan besar perusahaan itu akan bangkrut.
"Satu-satunya aku harus mengemis dengan pria sombong itu. Terlebih aku membutuhkan uang untuk keluarga kecilku." gumam Vino.
Vino kini telah resmi menjadi seorang papi. Anaknya sudah terlahir ke dunia. Dan tentu saja hal itu yang membuat dirinya merasa senang sekaligus bingung dalam kondisi seperti ini. Karna semua bertumpu padanya.
Akhirnya demi perusahaan papinya dan keluarganya, dengan perasaan malu dirinya datang menemui rumah rivalnya. Dia sengaja menemui papi Jo di rumahnya bukan di kantor. Ibarat kata sambil menyelam minum air, dia bisa bertemu juga dengan Celine.
"Tuan, maaf ada tamu yang ingin bertemu anda di bawah." ucap Bi Midah yang mengetuk pintu kamar tuannya.
"Entahlah, aku juga ga tau. Seingat aku, aku tak memiliki janji dengan siapapun. Lagi pula kamu kan tau aku tak suka jika masalah bisnis harus membahasnya di rumah. Ya sudah aku temui tamu itu dulu, setelah itu kita lanjut lagi ya." ujar papi Jo dan Celine menganggukkan kepalanya. Akan menunggu sang suami naik kembali, dia memilih untuk menunggu sang suami di kamar.
Setelah berpakaian kembali, Papi Jo menuruni anak tangga untuk menemui sang tamu. Dirinya di buat kaget bukan kepalang, karna tamu itu adalah Vino. Orang yang dia tolak siang tadi untuk bekerja sama dengannya.
"Untuk apa anda ke rumah saya sekarang? Ganggu kami bercinta saja!" ucap Papi Jo dengan gaya sombongnya. Mendengar penuturan hal itu membuat Vino semakin dendam kepada papi Jo.
"Maaf sebelumnya jika kedatangan saya saat ini mengganggu kebersamaan anda dengan istri anda. Saya akan langsung saja mengungkapkan maksud dan tujuan saya datang ke sini. Saya meminta anda agar tak membatalkan kerja sama kita! Saya ingin anda bersikap profesional, jangan membawa urusan pribadi ke dalam urusan bisnis!" ungkap Vino.
"Memangnya siapa anda berani mengatur hidup saya? Suka-suka saya donk mau bekerja sama dengan siapa. Jika saya sudah mengatakan tidak, ya tidak! Tak ada alasan lagi! Lebih baik anda sekarang pergi dari rumah saya, dan jangan pernah berharap jika saya akan menarik omongan saya kembali! Ya sudah, saya rasa cukup perbincangan kita kali ini!" ujar papi Jo ketus. Tentu saja hal itu membuat Vino mengepalkan tangannya karna merasa geram, mendapat penolakan dan penghinaan dari papi Jo.
__ADS_1
Papi Jo pergi meninggalkan Vino begitu saja. Menaiki anak tangga masuk kembali ke kamarnya.
"Sombong sekali anda! Aku ingin lihat reaksi dia saat aku merebut istrinya dari dia!" ucap Vino dendam. Dia berniat merebut Celine dari tangan papi Jo.
Kini Papi Jo telah berada di kamarnya, dia langsung menyenderkan tubuhnya di sofa. Melihat sikap aneh suaminya, tentu saja membuat Celine tanda tanya siapa tamu gerangan itu yang hadir menemui suaminya.
"Yang, kamu kenapa? Apa kamu sakit? memangnya siapa yang datang?" ucap Celine lembut yang kini ikut menduduki bokongnya di samping suaminya.
"Aku ga apa-apa, hanya saja aku sedang mengontrol emosiku. Kamu tau siapa tamu itu?" ucap Papi Jo sambil menatap wajah istrinya. Celine menggelengkan kepalanya dengan lemah, dirinya tak tahu siapa tamu yang di maksud.
"Vino, mantan kekasihmu! Dia ingin melakukan kerja sama dengan ku! Perusahaan papinya saat ini hampir bangkrut, dia berniat meminta pertolongan." ungkap papi Jo.
"Lantas kamu mau menolongnya?" tanya Celine penuh tanya.
"Entahlah aku juga tak tahu. Apa keputusan yang aku ambil ini benar atau salah yang pasti aku masih merasa takut dan tak Sudi untuk bekerja sama dengannya." ujar papi Jo dan Celine mengangguk mengerti. Sungguh ini bukan suatu keputusan yang mudah di ambil suaminya. Di mana pernah memiliki masa lalu yang tak baik. Celine menyerahkan semuanya kepada sang suami, dalam hal ini dia tak mau ikut campur.
Celine langsung memeluk tubuh suaminya, memberi ketenangan kepada suaminya. Agar rasa emosi yang hadir segera pergi.
"Apa mau lanjut lagi? Sebagai bentuk permintaan maaf ku, aku yang akan melayani kamu malam ini!" goda Celine.
Yuk terus beri dukungan untuk karya ini!
__ADS_1