
"Loch mengapa kamu menangis? Aku tak berniat macam-macam, hanya ingin menurunkan daster kamu yang menyingkap ke atas. Kamu jangan marah sama aku donk, yang salah itu kamu! Justru aku juga merasa bingung mengapa kamu berada di kamar aku saat aku terbangun?" cerocos Hanif, dia hanya ingin calon istrinya itu tidak salah paham padanya.
Blush
Wajah Emeli berubah memerah karna merasa malu dengan tuduhannya ke Hanif. Karna dia lah yang salah.
"Maaf...aku tadi sempat salah paham sama kakak! Semalam aku ga bisa tidur, dan aku iseng mengintip kakak ternyata kakak sudah tidur. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk tidur di sebelah kakak berharap aku segera memejamkan mataku. Dan ternyata rencana aku berhasil, baru beberapa menit tidur di sebelah kakak, mata aku mengantuk." sahut Emeli.
"Ya sudah tak perlu di bahas! Untungnya semua tak terjadi sesuatu di antara kita! Aku minta tolong sama kamu jangan di ulangi lagi! Sabar nunggu kita halal dulu! Aku seorang pria normal, lama kelamaan kalau seperti ini terus, bisa saja aku khilaf," ujar Hanif dan Emeli menganggukkan kepalanya.
Hanif sudah bersiap-siap mengenakan pakaian kantornya, dan mengatakan kepada Emeli bahwa jam 3 sore dia akan menjemput Emeli untuk membeli cincin dan baju untuk pernikahan mereka.
❤️❤️❤️
Hanif sudah sampai di kantor dan mulai mengerjakan pekerjaan satu persatu agar cepat selesai. Saat ini dia hanya sendiri di dalam ruangan karna bosnya belum bisa masuk kerja dan menyuruh Hanif untuk membawakan berkas-berkas yang perlu di tanda tangani ke rumah.
"Ga menyangka sebentar lagi aku akan melepas masa lajang aku! Semua seperti mimpi bagiku." ujar Hanif menyenderkan tubuhnya di kursi miliknya. Hanif membayangkan saat dirinya dulu pertama kali bertemu Emeli. Namun lamunannya harus terhenti karna sang bos menghubungi dirinya dan meminta ke rumahnya segera untuk mengantarnya ke rumah sakit.
❤️❤️❤️
Kini mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
__ADS_1
"Tuan, nyonya maaf mengganggu waktunya sebentar! Saya hanya ingin memberitahukan jika Minggu depan saya akan menikah. Saya harap Tuan dan Nyonya bisa hadir di acara pernikahan kami!" ujar Hanif membuka obrolan.
"Serius kamu Han? Saya senang sekali mendengarnya. Selamat Han, semoga semuanya berjalan lancar! Akhirnya sebentar lagi kamu akan melepas masa lajang kamu!" ujar Jo, tentu saja dia sangat bahagia mendengar asistennya akan menikah.
Papi Jo langsung mentransfer uang sebesar 20 juta untuk Hanif sebagai kado untuk pernikahannya. Hanif sudah ikut dengan papi Jo cukup lama, dan selalu melakukan tugasnya dengan baik. Tak salah jika papi Jo bersikap baik juga.
"Terima kasih Tuan!" Hanif sangat senang sekali dan mengucap kata syukur.
Bukan hanya papi Jo saja yang mengucapkan kata selamat dan doa agar semua berjalan lancar, tetapi Celine pun melakukan hal itu.
Kini papi Jo sudah berada di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaaan secara keseluruhan. Dan ternyata dia terkena penyakit tipus, untungnya tak memiliki masalah yang serius sehingga di perbolehkan langsung pulang tak perlu di rawat inap.
"Silahkan! Rencananya kalian akan menikah di mana? Apa pihak keluarganya sudah mengetahuinya?" tanya Papi Jo.
Hanif menjelaskan pada bosnya jika dirinya memilih untuk menutupi pernikahan ini sementara dari keluarga Emeli. Hanif takut jika keluarga Emeli akan menggagalkan pernikahan ini. Dan rencananya pelaksanaan akan di adakan di apartemen Hanif. Tak ada pesta hanya sekedar akad nikah dan makan bersama saja. Karna tak ada yang di undang juga dalam pernikahan ini, hanya keluarga bosnya saja yang akan menjadi saksi pernikahan mereka. Dan untungnya Emeli sudah tak memiliki bapak dan tak kakak laki-laki. Emeli akan meminta tolong kepada kakak bapaknya untuk sebagai wali.
"Sayang...aku telah kembali!" panggil Hanif namun tak menemukan Emeli. Dia mencoba mencari ke segala penjuru. Tubuhnya terasa lemas saat tak menemui wanita yang akan di nikahi.
Hanif menduduki bokongnya di sofa. Dan jantungnya berdegup kencang dan merasa lega saat melihat Emeli yang baru keluar dari kamar mandi. Melihat Emeli, Hanif langsung berlari menghampiri dan memeluknya.
"Tadi aku merasa takut banget kalau ternyata kamu sudah pergi meninggalkan aku! Aku merasa sangat lemas. Ku mohon jangan pernah tinggalkan aku!" ucap Hanif lirih. Dia tak bisa membayangkan rasa sedihnya jika kejadian itu benar terjadi. Dan saking semangatnya, hal itu membuat handuk yang di lilitkan Emeli terlepas menampilkan tubuh indahnya.
__ADS_1
Hanif mencoba menahan Saliva nya, dan Emeli langsung berlari ke kamarnya untuk menahan rasa malunya. Jantung Hanif bertambah tak karuan, pikirannya terus saja traveling.
"Indah banget, bikin aku sudah tak sabar." ucap Hanif lirih.
Dia langsung memilih untuk mandi dan mengguyur kepalanya dengan air dingin agar terasa segar kembali. Kini mereka sudah bertemu, suasana merasa canggung.
"Lain kali kamu tak boleh seperti itu ya! Kalau orang lain yang melihat gimana?" ucap Hanif kesal. Membuat Emeli mengerutkan keningnya, calon suaminya sangat posesif. Padahal hal itu tidak akan ada yang bisa masuk kecuali mereka berdua, karna tak ada lagi yang mengetahui password apartemen mereka.
Kini mereka sudah bersiap-siap untuk membeli perlengkapan pernikahan mereka.
"Bisa ga ga usah pakai baju ketat seperti itu. Kamu terlihat sangat muda sekali, jadi buat aku merasa malu." ucap Hanif kesal. Hal itu membuat Emeli terkekeh. Karna hal ini bukan perkara baju, karna memang dirinya masih muda saat ini masih berusia 21 tahun sedangkan Hanif sekitar 30 tahun. Gaya berpakaian dia juga berbeda, Hanif terlihat dewasa, meskipun hanya memakai pakaian casual.
Dan akhirnya terjadilah drama berganti pakaian, Emeli langsung mengganti pakaiannya dengan kemeja.
"Nah kalau begini pas, ayo kita berangkat!" ujar Hanif, membuat Emeli memutar bola matanya karna malas.
Kini mereka sudah sampai di sebuah toko emas. Hanif membelikan satu paket perhiasan untuk sang istri, Hanif memberi kuasa kepada Emeli untuk memilihnya sendiri sesuai apa yang dia suka. Hanif tersenyum kala melihat pilihan Emeli. Pilihan yang sangat cantik namun bukanlah sebuah berlian hanya mas putih.
"Yakin kamu tak memilih yang mahal? Berlian gitu? Aku tak masalah jika harus mengeluarkan kocek yang besar demi orang yang aku cinta." ujar Hanif namun Emeli justru menggelengkan kepalanya. Baginya sebuah cincin bukan dari mahalnya harga cincin tersebut, tapi karna makna dari cincin tersebut. Tentu saja hal itu membuat Hanif terharu mendengarnya. Emeli memang wanita yang tepat untuknya.
Tetap terus beri dukungannya ya 🙏😄😍
__ADS_1