
Dua tahun berikutnya
Brug
"Maaf, aku tak sengaja!" ucap seorang gadis berusia sekitar 21 tahun yang menabrak Hanif dan menumpahkan air minumnya ke celana Hanif. Tentu saja hal itu membuat Hanif menatap gadis itu tajam. Hanif langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Apa mata mu tak bisa melihat dengan baik? Kau tau gara-gara tumpahan minuman kamu, celana saya basah. Padahal saat ini saya sedang menunggu klien saya!" ujar Hanif geram.
Mendapatkan perlakuan Hanif seperti itu tentu saja membuat Emeli merasa geram. Terlebih saat ini dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang di sana.
"Terus mau kamu apa? Cepat katakan!" sahut Emeli ketus.
"Aneh ya kamu? Saya yang jadi korban malah galakan kamu. Saya ingin kamu cepat belikan saya celana baru untuk mengganti celana saya yang basah!" ujar Hanif tak kalah ketus.
Penuturan Hanif membuat Emeli melotot, pasalnya dia hanyalah seorang mahasiswi dan belum bekerja. Tentu saja dia tak mampu untuk membelikan celana untuk Hanif.
"Kenapa diam? Tadi kamu berteriak-teriak menanyakan apa mau saya? Sekarang malah diam seperti patung. Dasar wanita aneh! Makanya jangan sombong jadi wanita!" cerocos Hanif membuat Emeli mengepalkan tangannya.
"Ya sudah sana! Kalau kamu tak bisa melakukannya, lebih baik kamu segera pergi dari sini! Jangan buat kesabaran saya habis! Karna kau telah membuat saya seperti orang mengompol." ujar Hanif. Dan akhirnya Emeli memilih untuk pergi meninggalkan Hanif begitu saja tanpa meminta maaf.
Berniat menenangkan hatinya yang sedang merasa kesal karna baru saja dirinya memergoki kekasihnya yang sedang bercumbu mesra dengan sahabatnya, tapi justru kini hatinya menjadi bertambah kesal dengan sosok pria. Baginya pria hanya ingin menang sendiri.
❤️❤️❤️❤️
"Han, apa kau tak ingin menikah? Usia mu kini sudah semakin tua. Apa kau sebelum mati tak ingin merasakan surga dunia? Menjadi bujang lapuk itu tak enak, bahkan saya saja tak kuat untuk terus menerus menduda. Kita itu memiliki kebutuhan biologis, butuh pelepasan untuk menghilangkan kepenatan kita. Apa kau tak bosan harus menuntaskan dengan bersolo karier terus?" ujar papi Jo membuat hati Hanif tersentak.
__ADS_1
Setelah di pikir-pikir memang ada benarnya apa yang di katakan bos nya itu. Dia juga ingin memiliki pendamping hidup yang menemani masa tuanya. Memiliki keturunan sebagai penerusnya.
"Terima kasih masukannya Tuan, saya akan mencoba membuka hati saya untuk seorang wanita." sahut Hanif.
Dirinya juga sering kali bersikap iri dengan Tuannya yang hidup bahagia bersama anak dan istrinya. Tak merasakan kesepian, harus tidur memeluk guling dan mengerjakan semuanya sendiri. Karna tak ada yang mengurus.
❤️❤️❤️
"Kamu lagi, kamu lagi! Selalu saja membuat saya kesal! Kemarin kamu menumpahkan air minum kamu ke celana saya, dan sekarang kamu mau melakukan percobaan bunuh diri dengan berniat menabrakkan dirimu ke mobil saya." cerocos Hanif.
"Ku mohon tolonglah saya! Bawa saya pergi dari sini!" ujar Emeli dengan air mata yang masih membasahi wajahnya. Dan akhirnya dengan tak banyak tanya, Hanif mempersilahkan Emeli naik ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya.
Ternyata benar, Emeli sedang di kejar-kejar dua pria berbadan besar. Untungnya Hanif dengan cepat menolongnya, membawa Emeli dari tempat kejadian. Hanif sesekali melirik ke arah Emeli yang saat ini masih terisak tangis. Melihat Emeli yang seperti itu, tentu saja membuat Hanif merasa kasihan. Dia yakin jika wanita yang di sampingnya sedang mengalami masalah besar.
"Boleh saya menumpang sementara di rumah kamu? Itu pun jika kamu tak keberatan. Jika istri mu mengizinkan." ucap Emeli sambil matanya kini mengarah ke Hanif yang sedang fokus menyetir.
Mendengar penuturan Emeli tentu saja membuat Hanif merasa bingung. Pasalnya dia tak pernah sekali pun membawa seorang wanita ke apartemennya. Dia mencoba menimbang-nimbang ucapan Emeli. Dan berhubung saat ini sedang hujan deras, Hanif menjadi merasa tak tega untuk menyuruh Emeli untuk turun di jalan. Dia akan merasa bersalah jika nantinya akan terjadi sesuatu dengan Emeli. Terlebih Emeli termasuk wanita yang cantik dan memiliki postur tubuh yang menarik, meskipun hanya menggunakan pakaian yang sederhana.
"Baiklah untuk malam ini, saya memperbolehkan kamu untuk menginap di apartemen saya! Karna saya merasa tak tega untuk menurunkan kamu di tengah jalan dalam kondisi hujan deras." sahut Hanif dan Emeli mengucapkan kata terima kasih kepada Hanif.
Kini mereka sudah sampai di apartemen milik Hanif, Hanif memberi tahu kamar untuk Emeli. Untungnya apartemen itu terdiri dari dua kamar. Emeli terpanah melihat pemandangan apartemen Hanif yang terlihat rapi dan bersih
"Di mana istri kamu? Apa dia tak merasa keberatan, aku berada di sini? Aku tak ingin dia merasa salah paham dengan kehadiran aku di sini." tanya Emeli.
"Tak ada, sampai saat ini saya masih hidup sendiri. Jadi kamu tak perlu khawatir akan ada yang memarahi kamu." sahut Hanif.
__ADS_1
"Baiklah saya ingin mandi dulu! Tapi sebelumnya saya akan mencari kaos oblong dan handuk untuk kamu pakai setelah kamu mandi! Kamu harus mandi dan berganti pakaian agar tak masuk angin!" titah Hanif. Dan Emeli mengikuti saran Hanif.
Setelah Hanif menyiapkan kaos oblong dan celana pendek dan juga handuk untuk Emeli, dia baru mandi. Emeli pun akhirnya memilih mandi di kamar mandi luar.
Setelah mandi, Hanif keluar dari kamarnya dan melihat Emeli yang merasa tak nyaman dengan pakaian yang dia kenakan sekarang. Terlebih masih memakai pakaian dalam yang basah.
"Maaf saya tak mempunyai pakaian dalam wanita, karna memang tidak pernah ada perempuan yang masuk ke dalam apartemen ini." ujar Hanif dan Emeli mengangguk saja, mengerti dengan ucapan Hanif.
Hanif menanyakan kepada Emeli, makanan apa yang dia inginkan. Karna dia ingin memesan makanan via online.
Dua piring nasi goreng dan telor mata sapi sudah siap di hidangkan. Emeli makan nasi goreng dengan lahap seperti orang yang kelaparan. Karna memang dia kelaparan, sejak siang dia belum sempat makan.
"Mengapa kau tidak buka saja pakaian dalam kamu yang basah? Biar kamu tak kedinginan. Tenang saja, saya tak akan mengambil kesempatan dalam hal ini!" ujar Hanif. Meskipun demikian Emeli tetap akan waspada.
"Besok saya harus bekerja. Kamu mau saya antar ke mana?" ujar Hanif.
"Entahlah...saya juga bingung kak, harus tinggal di mana. Karna saya sudah kabur dari rumah orang tua saya. Mereka berniat untuk menikahkan saya dengan duda kaya raya." ujar Emeli sambil menetaskan air mata. Tentu saja membuat Hanif merasa terenyuh.
Mampir yuk di karya author lainnya, jangan lupa terus beri dukungan untuk karya ini🙏😄😘
__ADS_1