
Selesai makan malam bersama. Devid mengajak Salsa segera ke tenda kecil yang memang di buat hanya untuk mereka berdua.
Tapi bukanya saling romantis, Salsa sibuk dnegan ponselnya, mencoba menghubungi adiknya lewat Alan. Namun tetap saja tidak ada jawaban dari Alan. Sudah hampir 3 kali menghubungi Alan masih tetap saja.
Dan Devid setia di sampingnya, menyandarkan punggungnya di bahu Salsa.
"Shiittt.. Kenapa Alan gak angkat telefon dariku, padahal aku butuh dia."
"Apa dia sibuk?" gumam Salsa kesal. Memguntupkan bibirnya, hingga manyun beberapa senti. Ia memandang ke depan dengan pandangan seakan ingin mencabik-cabik musuhnya, sembari tangan mencengkeram erat ponselnya, dengan terus mengumpat tidak ada hentinya.
"Awas kamu Alan. Di saat aku kangen sama adik aku, kamu malah sibuk sendiri."
"Jika aku belum dapat jawaban telefon balik darimu, 1 jam lagi. Maka aku akan beri perhitungan padamu," gerutu Salsa, memukulkan tangannya ke tanah.
"Aw-- " rintih Salsa. "Sakit ternyata." lanjutnya.
Devid menahan senyumnya, sembari menggelengkan kepalanya, mendengar kelakuan Salsa membuat dia tak hentinya tersenyum.
"Kamu coba telefon dia, aku udah coba gak bisa," ucap Salsa menatap Devid yang dari tadi sibuk sendiri.
Devid yang sibuk membaca buku di sampingnya, tersenyum melihat Salsa dari tadi terus menggerutu gak jelas.
"Kenapa syang?" tanya Devid, membaringkan tubuhnya, ddngan kepala di atas paha Salsa. Pandangannya tak hentinya terus menatap buku yang berada di tangannya dari tadi, tanpa menatap Salsa sama sekali.
Salsa meraih bukunya, menutupnya, lalu melemparnya ke dalam tenda. "Sudah jangan baca buku lagi. Bukanya ini malam kita, kenapa kamu gak perduliin aku." decak kesal Salsa.
Devid mencubit dagu Salsa, "Sudah jangan ngambek terus. Percuma kalau kamu telefon Alan jam segini. Dia gak bakalan petduliin, nanti malam saja saat jam malam," ucap Devid.
"Adik aku pasti sudah tidur, besok kalau kamu pulang. Kamu harus belikan juga ponsel untuk adik aku."
"Gampang!!" Devid beranjak berdiri, melangkahkan kakinya menuju ke depan perkemahannya, mengumpulkan kayu, yang memang sudah ia siapkan sejak tadi pagi.
Salsa mengerutkan keningnya, "Apa yang kamu lakukan?"
"Mau makan kayu!!"
"Kamu serius?" tanya Slasa melebarkan matanya, berjalan mendekati Devid. "Apa kamu masih sadar?" lanjutnya. Memegang kening Devid, memeriksa kondisinya.
__ADS_1
"Kamu yang harusnya di cek, bukan aku. Udah tahu ngumpulin kayu, untuk di bakar, biar hangat. Gak mungkin aku makan," ucap Devid, mencubit manja hidung Salsa.
"Kenapa gak sekalian bakar ikan?"
"Emangnya kamu lapar lagi?" tanya Devid, duduk di samping Salsa.
"Emm.. Enggak sih, aku sudah kenyang!!" Salsa bergidik kedinginan, hembusan angin malam, masuk ke dalam piri-pori tubuhnya, merasuk ke dalam tulangnya. Ia tak berhenti memeluk tubuhnya sendiri, mengusap ke dua lengannya. Tubuh putih tanpa balutan jaket semakin kedinginan duduk di depan tendanya.
Devid yang menyadari Salsa kedinginan, ia merengkuh tubuh Salsa dari belakang, dengan memegang ke dua tangannya. "Kamu dingin ya?" bisik Devid. Laki-laki itu langsung mengangkat tangan Salsa, membuka telapak tangannya, merasakan hangatnya api unggun kecil yang ia buat.
Salsa melirik ke arah Devid, tersenyum tipis. "Kamu kenapa seromantis ini dengan aku!!" gumam Salsa dalam hatinya.
"Kenapa kamu menatap aku seperti itu? Apa aku tampan, ya?" Devid memasukan tangannya di dalam sela-sela jemari tangan Salsa. Mencernkramnya sangat erat.
"Maaf!! Aku pernah menyakiti kamu!!" gumam Devid.
"Iya, sama-sama. Makasih juga sudah jadi bagian dalam hidup aku." lanjut Salsa, memoleh ke samping, seektika membaut Salsa mencium pipi Devid di sampingnya, tang sangat dekat, disana da jarak lagi dengannya.
"Mau kopi gak?" tanya Devid.
"Boleh!!"
"Itu ada di dalam," Slasa menoleh ke bekakang, menunjuk jaketnya.
"Baiklah, ambilah!! Sekalian minta tolong ambilkan gitar, aku ingin ajarkan padamu." Salsa menileh ke dua kalinya je belakang, matanya berkeliling mencari sebuah gitar.
"Dimana? Memangya tadi kamu bawa, gitar?"
"Bawa, ada di dalam!!"
Salsa bakgit dari duduknya, masuk ke dala. tenda, menagmbol gitar Devid lalu keluar kembali, untuk memberikan gitar itu pada suaminya.
"Eamngnya kamu bisa, main gitar?" tanya Slasa ragu, ia duduk kembali di d3pan Devid.
"Bisa, aku sangat bisa!!"
"Aneh ya kamu, di luar terlihat sangat dingin. Ternayata kamu serba bisa semuanya!!"
__ADS_1
"Gak juga," Devid mulai memegang gitarnya, berpikir sejenak, lagu apa yang ia ingin nyanyikan buat Salsa.
"Aki bisa gitar dari SMA, dan sering menyanyikan untuk wanita,"
"Dasar penvinta wanita!!"
"Aku memang pecinta wanita dulu, tapi sekarang hanya kamu!!" ucap Devid, mencubit lembut pipi Salsa.
"Udah sekarang dengarkan!!" gumam Devid, yang mulai memainkan gitar, sembari bernyanyi lirih, mencoba tes setiap kunci gitar yang ia mainkan.
"Beneran bisa gak, sih!!" ucap Salsa, meraih gitar itu.
"Emangnya kamu bisa?" Devid menatap Salsa, mengernyitkan wajahnya tak percaya, jika istrinya itu bisa.
"Bisa!! Sekarang diam dan dengarkan!!" Salsa mulai memetik sinar hitar, dengan alunan merdu suaranya, membuat Devid terbawa suasana lagu yang di mainkan Salsa.
"Gak nyangka, jika istri aku bisa semuanya juga. Termasuk masak, gak nyesel aku suka dengan kamu!!" gumam Devid dalam hatinya, senyum manis terukir dari bibirnya, bahkan laki-laki itu tak berhenti memandang Salsa, yang sedang menikmati gitarnya.
Hampir setengah jam berlalu, Salsa menatap wajah Devid, yang terlihat sudah mulai mengantuk. "Kamu ngantuk," ucap Salsa.
"Iya, tapi aku ingin di sini berdua dengan kamu,"
Salsa meletakkan gitar Devid, memegang tangan suaminya, membantu dia berdiri, menarik tangannya masuk ke dalam tenda.
Devid menyipitkan matamya, tiba-tiba pikiran kotor te4besit di otaknya. "Apa kamu ingi melakukan kwajiban kamu juga sebagai istri?"
Salsa hanya diam, ia duduk lalu membaringkan tubuhnya, dengan kepala di luar tenda, menatap prmandangan langit yang sangat indah di atasnya. "Jika kamu ingin kenikmati pemandangan ini, berbaringlah di samping aku!!" ycap Salsa.
Devid tak pikir panjang, ia berbaring di samping Salsa dengan posisi yang sama. "Kamu lihat langit di atas?" tanya Salsa tanpa kenatap ke arah Devid.
"Lihat! Memangnya kenapa?" Devid melirik ke arah Salsa, dan langsung di balas lirikan, membuat ke dua mata meteka saling tertuju beberapa detik, lalu memandang ke atas langit lagi.
"Cinta bagaikan bulan dan bumi, tak akan pernah satu, meski bulan selalu memberikan yang terbaik untuk bumi. Dan bumi lebih memilih matahari sebagi sumber kehidupannya."
"Maksud kamu?"
"Suatu saat kamu juga akan tahu sendiri, tergantung sifat kamu ke depannya seperti apa denganku!!"
__ADS_1
"Salsa!!" panggil Devid, menatap Salsa di sampingnya, dengan tangan kiri memegang tangan kanan Salsa.
"Aku sudah janji akan selalu menjaga kamu. Di hatiku sudah tidak ada kehidupan lain selain kamu. Semua berubah seiring berjalannya waktu. Tapi sekarang aku ragu? Apa kamu juga suka denganku?" tanya Devid.