
Pov Alan.
Hari ini hari pertama kencan dia dengan senang wanita yang selama ini pergi meninggalkan dia secara tiba-tiba. Lia, dia datang dan pergi tanpa kejelasan. Beberapa hari lalu dia bertemu dengannya. Dan jalan berdua. Tetapi kemudian dia pergi begitu saja tanpa kabar. Sekarang Lia menghubungi dia lagi dan tiba-tiba menanyakan gimana kabarnya.
Alan merapikan rambutnya di balik cermin. Wajhnya begitu tampan dengan balutan kemeja sedikit gelap.
Anak kesayangan dari keluarganya itu. Kini sudah siap untuk pergi. Alan mengambil ponselnya di atas laci. Melangkahkan kakinya pergi keluar dari kamarnya. Langkahnya terhenti saat mamanya sudah berdiri di depan pintu. Mengusap ke dua bahu anaknya itu. Penuh rasa curiga padanya.
"Kamu mau kemana? Sayang?" tanya mamanya. Alan mengerutkan keningnya. Baru pertama kali mamanya itu bertanya padanya. Meski dia selalu mengekangnya. Tetapi dia tak pernah tanya pergi dengan siapa san pergi kemana. Dan kini dia terlihat sangat perhatian tak seperti biasanya. Tapi, Alan merasa snagat risih terus di perhatikan berlebih oleh mamanya. Dia ingin bebas seperti kakaknya yang lain.
"Ma, bentar, ya. Aku ingi. pergi sebentar saja." ucap Alan, meringis, melepaskan ke dua tangan mamanya. Dia melangkahkan kakinya cekat beberapa langkah dari mamanya.
"Alan, kamu sekarnag sudah mau diam-diam pergi!"
"Apa, sih. Mah. Udah jangan terlalu over." decak kesal Alan yang sudah berdiri jauh di depan mamanya. Mencoba menghindar dari amarah mamanya.
"Aku pergi dulu, bye..." Alan mengibaskan tangannya berlari pergi.
"Kamu mau pergi kemana?" tajamnya. "Jika.kamu pergi kencan lagi. Mama gak mau kalau kamu tinggal di sini lagi."
"Jadi mama mengusirku?" tanya Alan memastikan. Ia menghentikan langkahnya tepat di tangga. Menatap ke arah mamanya.
"Iya, aku tidak mau kamu sama seperti kakak kamu yang lainya, yang tidak pernah mau menurut padaku."
"Kamu juga harus berkerja keras dan bisa mandiri."
"Apa mama gak waras? Bukanya kakak selama ini sufha kerja keras hingga bis amendaptakn semua ini. Apa yanga karena istri mereka hang dari kalangan rendah?" tanya Alan membela.
__ADS_1
"Alan, aku beri kamu satu kesempatan lagi. Tetap di rumah atau pergi." ancam mamanya, dengan tangan menunjuk penuh kekesalan. Wajahnya mulai memerah seakan amarah yang terpendam dalam dirinya mau meledak. Perasaan mama pada anaknya seakan memang sangat dalam. Dia merasa jika Lia hanya mempermainkan. Meski sudah bertahun-tahun pacaran. Belum pernah dia melihat wajah Lia yang ramah padanya.
"Aku lebih baik pergi dari rumah ini dari pada terus di kekang." tegas Alan tak perduli. "Aku bukan anak kecil lagi yang seenaknya mama bisa atur. Aku juga ingin bebas seperti kakak aku. Dan soal kerja keras aku sudah pasti akan melakukannya." ucap Alan.
"Aku tidak mau kamu bertemu dengan wanita tidak jelas itu. Lihatlah dia? Kemarin dia datang dengan kamu. Dan pergi ke rumah kakak kamu. Terus selama dua hari dia meninggalkan kamu lagi, kan. kalau bukan wanita gak jelas, apa."
Mama jangan pernah menghina dia," Alan bergegeas pergi. Meninggalkan mamanya tanpa banyak depan lagi. Yang akan semakin membuang-buang waktunya saja nanti. Langkah Alan semakain cepat, sesekali ia melirik jam tangan hitam yang melingkar di pengalaman ganganya, udah memunjukan pukul 10 malam. Dan Alan terus menembus gelapnya malam, mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi di atas rata-rata.
"Alan.. aku mohon kembalilah!" teriak Mamanya dari atas lantai dua. Memegang pagar lantai dua menatap ke bawah, Alan yang sudah pergi menjauh darinya. Bahkan mobilnya sudah tak terlihat di halaman rumahnya
"Kali ini aku akan minta penjelasan darimu." gumam Alan. Ia menghela napasnya frustasi. Sembari mengusap kepalanya yang terasa sangat pusing.
Omongan mamanya selalu terngiang dalam kepalanya. Dia yang belum pernah membantah mamanya baru kali ini, gak berbicara lembut lagi dengannya. Hanya gara-gara seorang wanita dia jadi membantah seperti itu.
"Maafkan aku, ma! Maaf!" gumam Alan.
Saura dering ponsel seketika membuat Alan mengakhiri lamunannya. Meraih ponaelnya tepat di depannya. Di penyangga posnel. Alan hanya memasang handsat.
"Kamu di mana Kenapa kamu lama sekali?" tanya menggebu di Lia di ujung sana.
***
Sampai di sebuah pasar malam. Pasar kejutan yang buka setiap malam. Dan berbagai macam di jual di sana. Entah kenapa, Lia mengakatnya bertemu dengannya di sama. Ia batu kali ini pergi dengan Lia di sana. Ia tak tahu jika dirinya bakalan menjadi hal romantis.
Aku bingung dengan dia, lagian kenapa dia ajak aku ke sini. Baru pertama kali juga dalam hidupku ke pasar pinggir jalan seperti ini. gumam Alan.
Alan bermajak turun. Meski dalam hati dia merasa aneh. Tetapi demi pacarnya apapun bisa di lakukan.
__ADS_1
"Alan, kenapa kamu ada di sini?" sapa seseorang laki-laki yang tiba-tiba datang tak di undang. Dan menepuk pundaknya. Membuat ia terkejut, memegang dadanya sembari tersenyum sok ramah. Meski dalam hati mengumpat kesal.
"Kenapa kamu juga di sini?" tanya ganti Alan.
"Aku ada janji dengan wanita." jelas laki-laki itu. "Oh, ya! Aku tadi bertemu dengan Lia di sana. Sepertinya dia sedang berbincang dengan seseorang."
Alan mengerutkan keningnya. "Bicara dengan siapa?" tanya Alan curiga. "Laki-laki atau perempuan?"
"Sepertinya laki-laki dan wanita? Udah buruan sana pergi. Siapa tahi dia dengan pacaranya lagi." goda lak-aki itu menepuk bahu Alan.
"Aku pergi dulu," ucapnya mengibaskan tangannya pergi. Di nalas dengan semyum tipis oleh Alan. Dia seger aberjalan pergi mencari Lia. Sesuai dengan petunjuk temannya tadi. Dia gak mungkin berbohong.
Alan berlari menembus kerumunan para pejalan kaki. Ke dua matanya terhenti saat melihat beberapa laki-laki dan wanita dengan Lia. Ia berjalan sembari terus memegang ponselmu. Meski di sampingnya serang laki-laki yang sama sekali tidak dia ketahui.
Benar apa yang di katakan temanku tadi. Aku harus cari tahu siapa mereka. Dan apa urusan mereka dengan pacarku.
"Lia?" terial Alan, berlari menghampiri Lia. dan langsung memeluk tubuh Lia. Melingkarkan tanganya di perutnya sabgat erat. Lia memegang tangan Alan, mengusap.punggung tanganya. Lalu tangan kanan terangkat, mengusap kepala Alan yang menyandar manja di pundaknya.
"Apa, sayang!" ucap manja Lia. Seakan dunia milik mereka berdua. Sampai Alan dan Lia tak perdulikan tatapan orang mengarah padanya. Dan teman-teman Lia juga bergegas pergi, mengibaskan tanganya berpamitan untuk pergi.
"Siapa dia?" tanya Alan, semakin merengkuh erat Lia. Seperti belum pernah bertemu puluhan tahun. Beberapa hari tak bertemu membuat Alan menjadi gila.
"Dia teman-teman aku. Lain waktu aku akan kanalkan dia padamu!"
"Iya, sudah. Sekarang ayo kita makan."
"Hanya makan?" tanya Lia. Alan melepaskan pelukannya. Memegang ke dua bahu Lia, memutarnya ke belakang. Membuat ke dua mata mereka saling tertuju.
__ADS_1
Mereka saling menikmati pemandangan pasar di sana. Ada hal yang membuat Alan diam. Ada yang aneh dari kekasihnya itu.