
Alan menatap Salsa dari balik kaca kamarnya, dia yang merasa kasihan dengan Salsa, tidak tega melihatnya.
Maafkan aku Salsa. Semua gara-gara aku. Seandainya aku tidak menyuruh kamu datang ke sana lebih dulu. Semua pasti tidak akan pernah terjadi padamu.
"Tidak! Aku tidak bisa tinggal diam. Aku tidak bisa melihat Salsa di sana, apalagi hujan semakin lebat." gumam Alan.
Alan beranjak dari kamarnya dengan langkah terburu-buru. Dia mengambil payung di balik pintu. Lalu melangkahkan kakinya keluar, menghampiri Salsa.
"Salsa, lebih baik sekarang kamu masuk. Jangan perdulikan, kak Devid lagi." ucap Alan, membawakan payung untuk Salsa, mencoba meraih tubuh Salsa, yang sudah basah kuyup. Dengan tubuh yang terlihat sudah gemetar kedinginan. Bibir pucat itu terlihat sudah mengkerut.
"Alan, tolong. Biarkan aku di sini." ucap Salsa gemetar.
"Tidak, aku akan bawa kamu masuk!" Alan mencoba memaksa Salsa untuk segera beranjak masuk ke dalam rumahnya. Dengan cepat Salsa mendorong tubuh Alan menjauh darinya. Hingga tubuh kurus Alan terjatuh ke tanah, dengan payung yang sudah terbang.
"Salsa! Manusia dingin itu tidak akan pernah turun," ucap Alan, merangkak mendekati Salsa, di tengah guyuran hujan.
Salsa menarik ujung bibirnya tipis. "Aku tidak perduli, asal aku bisa membuktikan padanya jika aku tidak bersalah!" ucap Salsa, lirih. Tubuh lemasnya hampir saja jatuh, dengan sigap Alan menompang tubuh Salsa.
"Lihatlah kondisi kamu, kamu jangan memaksakan diri seperti ini." ucap Alan.
Salsa mendorong lagi tubuh Alan menjauh darinya. "Tolong jangan menyentuhku." bibir Salsa semakin gemetar hebat.
"Tolong jangan pernah lagi ke sini. Aku akan tetap bersikukuh untuk tetap tetap di sini. Sampai dia keluar." ucap Salsa, tidak berkutik sama sekali dari tempatnya. Meski guntur menyambar-nyambar, dia tidak memperdulikan itu semua. Tubuh Salsa semakin bergetar hebat, dia menutup telinganya rapat-rapat, di saat mendengar gelegar petir yang menyambar.
"Sa, pikirkan lagi tentang anak kamu. Dia tidak bersalah. Jangan sampai jadi korban!"
"Aku yakin anak aku pasti tahu kondisi ibunya. Dia pasti akan bertahan!" Alan meraih ke dua tangan Salsa. Naluri wanita itu bertindak cepat, ia menghempaskan tangan Alan.
"AKU BILANG PERGI!!" teriak Salsa, menbuat Alan terbungkam seketika. Baru pertama kali dia melihat Salsa marah. Meski tubuhnya terlihat sangat lemas. Alan tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk Salsa. Hanya bisa berharap jika kakaknya mau turun.
"Baiklah, tapi aku mohon, jangan seperti ini."
"Aku bilang pergilah!" Salsa memelankan nada suaranya.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang!" tegas Alan. Beranjak pergi meninggalkan Salsa sendiri. Meski ke dua kakinya sangat berat meninggalkan kakak iparnya itu. Namun, itu perintah baginya dari Salsa.
__ADS_1
Alan menoleh ke belakang, melihat Salsa memeluk tubuhnya sendiri yang jika di buatkan dia bisa pingsan dalam hitungan menit saja. Alan menarik napasnya dalam-dalam, memejamkan matanya sejenak. Dia tidak tega melihat Salsa seperti itu. Lagian itu murni kesalahannya.
Braakkk..
Pintu terbuka sangat kasar, hingga menimbulkan bunyi keras menggema di penjuru ruangan.
Alan berlari masuk menemui kakaknya, yang kini sedang berbaring di king size miliknya.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Devid datar. Dia mulai bangkit dari ranjangnya.
"Apa kakak masih tidak punya hati?" tanya Alan mencoba mengatur emosinya.
"Aku sudah bilang, aku tidak perduli. Jika dia lelah, pasti akan pergi."
"Apa hati kakak tidak tersentuh sama sekali melihat Salsa. Dia membuktikan jika dia tidak bersalah. Tidak ada kak wanita yang rela berkorban demi orang yang dia cintai." jelas Alan menggebu, dengan langkah ringan mendekati kakaknya.
"Dan Gio tadi bilang padaku, jika Salsa tidak makan dua hari. Sebelum dia datang ke rumah ini. Adiknya ingin aku membujuknya. Tapi itu tidak berhasil, dan dia tetap memilih kamu kak," tegas Alan, mencengkeram erat lengan Devid, menggoyangkan kasar.
Devid menepis tangan Alan, menarik ujung bibirnya sinis. "Itu urusan dia. Lagian salah siapa tidak makan!" jawabnya angkuh.
"Aku pastikan kamu akan menyesal nantinya. Dan ingat jangan jadi orang tua yang bodoh. Kasihan anak yang masih dalam kandungan Salsa." tegas Alan. Dia memalingkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya pergi, Dan. Braakkkk.
Tubuh Salsa yang sudah lemah, seketika terjatuh tersungkur tak sadarkan diri.
"Salsa..." teriak Devid, berlari keluar dari kamarnya. Dengan wajah paniknya, dia terus berlari menuruni anak tangga.
"Tuan, non Salsa.!"
"Aku sudah tahu," jawab cepat Devid, tanpa menghentikan larinya.
Devid membuka penuh semangat pintu rumahnya, tanpa pikir panjang dia menerobos derasnya hujan, meraih tubuh Salsa.
"Salsa! Maafkan aku!" ucap Devid, mengangkat tubuh lemas Salsa, beranjak berdiri.
"Salsa, maafkan aku! Maaf!" ucap Devid, beranjak masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Tuan, saya sudah siapkan kamar untuk non Salsa." ucap Bi Inem yang berdiri di pinggiran pintu.
"Tidak usah, aku akan bawa dia di kamarku." jawab Devid, melangkahkan kakinya cepat. Dan bi Inem, berjalan cepat mengikuti Devid.
"Bi, tolong buatkan wedang jahe, dan bawakan ke kamarku." ucap Devid, yang langsung berlari menaiki anak tangga.
"Baik, tuan!" bi Inem segera melakukan tuganya. Dan Devid Masuk ke kamarnya. Meletakkan segera tubuh basah Salsa di atas ranjangnya. Dia mengunci kamarnya rapat-rapat.
Dengan penuh keraguan, laki-laki itu mulai menggantikan baju Salsa dengan baju milik istrinya itu yang masih ada di lemari kamarnya. Dia membasuh tubuh wanita itu, dengan handuk. Selesai menggantikan baju basah Salsa dengan baju kering. Devid segera pergi ganti baju.
Devid menghampiri Salsa. Memegang erat tangannya. "Aku memaafkanmu sekarang. Aku mohon kamu sadarlah," Devid, mencium lembut tangan mengkerut milik Salsa. Tubuh Salsa terlihat sangat pucat, bahkan jemari tangannya mengkerut kedingunan, dengan pucat putih seakan tak ada darah di dalam tubuhnya. Devid menggenggam erat tangan Salsa, menggosok telapak tangannya.
Tok.. Tok.. Tok...
"Siapa?"
"Saya, tuan. Bi Inem,"
"Maaf, tuan. Ini wedang jahenya." lanjut bi Inem.
"Bentar!"
Devid membalut tubuh Salsa dnegan selimut tebal, kemudian melangkahkannkakinya membuka pintu kamarnya.
"Ini, tuan!" Bi Inem memberikan satu gelas wedang jahe untuknya.
"Iya, makasih!"
"Apa perlu aku panggilan dokter tuan?" tanya Bi Inem.
"Iya, aku ingin tahu keadaan anakku di dalam kandungannya. Semoga dia baik-baik saja!" jawab Devid.
"Baik, saya akan segera panggilkan dokter." bi Inem berlari, dan segera menghubungi dokter. Sedangkan Devid menatap segera mengangkat tubuh Salsa untuk bersandar di kepala ranjangnya. Tubuh lemasnya masih belum sadarkan diri.
Devid menyuapi dengan satu sendok demi sendok, wedang jahe ke mulut Salsa yang tertutup lemas.
__ADS_1
"Maafkan aku! Aku tidak bisa percaya dengan kamu. Rasa sakit hatiku benar-benar membuatku sulit sekali memaafkan apa yang kamu lakukan di depan mataku." ucap Devid lirih. Dia menatap wajah pucat Salsa yang pucat.
"Semoga kamu cepat sadar, aku tidak mau kamu kenapa-napa, dan aku juga tidak mau jika anak aku ikut terluka gara-gara hubungan kita yang berantakan!" Selesai menyuapi Salsa. Devid meletakkan gelas di atas meja. Kemudian membaring tubuhnya lagi ke atas ranjangnya.