
Sampai di taman hiburan malam. Salsa begitu antusias. Dia berlari masuk ke dalam lebih dulu. Meninggalkan Devid yang masih berjalan santai di belakangnya. Dengan ke dua tangan masuk ke dalam sakunya, sembari pandangan matanya tak mau lepas dari punggung Salsa yang jauh di depannya.
Dia terlalu ceroboh. Apa tidak mikir jika dia sedang hamil. Kenapa lari-lari begitu. Devid menghela napasnya kesal.
"Ehem..." suara daheman seorang wanita membuat langkah Devid terhenti.
"Siapa?' tanya Devid, tanpa menoleh ke segala arah mencari sumber suara itu. Dia hanya diam mematung.
Suara kekehan kecil terdengar jelas di belakangnya. "Aku wanita yang kirim surat padamu kemarin. Oh, ya! Apa kamu sudah memutuskan,"
Devid menoleh cepat ke belakang di saat suara itu sekarang tepat di belakangnya. Ke dua mata laki-laki itu membulat di saat melihat wanita itu menggunakan jaket tebal dengan kelupuk menutupi kepalanya, tak lepas topeng yang terpasang menutupi wajahnya.
"Siapa kamu?"
"Aku, seorang wanita yang mengagumi kamu,"
"Jangan basa basi, aku tidak kenal denganmu." tegas Devid, menajamkan pandangan matanya.
Wanita itu tersenyum tipis. Memegang pundak Devid dan langsung di tepis olehnya.
"Jangan beraninya menyentuhku." geram Devid. "Hanya boleh satu wanita dalam hidupku yang boleh menyentuh ku,"
Suara tawa itu terdengar nyaring di telingannya, "Hahaha.. Apa kamu yakin? Bukanya sebelum dengan dia, kamu sudah tidur dengan banyak wanita."
"Dasar gila!"
"Aku memang gila, tetapi aku tidak tergila-gila karena cinta."
"Sayang!" panggil Salsa, Devid menoleh cepat melihat Salsa melambaikan tangan ke arahnya.
"Apa kamu akan membiarkan bisa tersenyum setiap hari. Atau kamu akan melihat dia nenjadi wanita paling menyedihkan. Pikirkan hal itu, sayang!" wanita itu menpuk pundak Devid. Mendekatkan wajahnya sembari berbisik pelan.
"Ini baru permulaan,"
"Tidak ada kata permulaan, aku yang akan mengakhirinya." saut seorang laki-laki yang entah dari mana datangnya. Devid menoleh, melihat Alan yang jalan dengan Lia, dengan santainya mendekat ke arahnya.
"Kak, biar aku yang urus dia di sini bersama Lia. Lebih baik sekarang temui Salsa jaga dia dan anak kamu," pinta Alan, memberi kode pada Devid dengan gelengan kepala satu kali.
"Kamu yakin? Bisa menyelesaikan sendiri?" tanya Devid memastikan.
"Bisa, tenang saja! Aku yang akan bantu kak," sambung Lia, tersenyum ramah.
__ADS_1
"Baiklah, aku serahkan semua pada kalian. Salsa sudah menungguku," ucap Devid terburu-buru, berlari pergi menemui Salsa.
"Apa yang kalian inginkan tidak ada urusan dengan kalian sama sekali." seorang wanita itu tanpa terlihat panik sama sekali.
Alan dan Lia mulai memasang wajah licik mereka. Berjalan mendekatinya perlahan. Dan wanita itu melangkah mundur was-was.
"Lihatlat!" ucap Lia, dan Alan dengan sigap meriah tangan wanita itu, mengikat tanganya ke belajang, mencengkeramnya sangat erat agar dia tidak bis lepas dari jeratannya.
"Kurang ajar! Lepaskan aku!" tegas wanita itu meronta. Lia hanya diam, menarik sudut bibirnya licik, membuka kelupuk jaketnya. Hingga rambut panjang wanuta itu tergurai berantakan kenutupi wajahnya.
"Kalian tidak akan bisa lepas dariku nanti." ancam wanita itu, mencoba menggerakan kepalanya memutar, menyilakan rambutnya yang menghalangi pandangan matanya.
"Jangan banyak bicara, kamu tidak akan bisa berkutik." saut Lia, menarik dagu wanita itu ke atas. Wajah Lia benar-benar berbeda dari sebelumnya. Dia terlihat sangat sadis.
"Jangan berani kamu melawanku," bisik Lia tajam. Suara ancaman itu terdengar seperti pencabut nyawanya. Getaran rasa takut mulai menjalar ke penjuru tubuhnya.
Wanita itu hanya membalas ucapan Kia dengan senyum tipis tanpa rasa takut terbesit di otaknya. Lia mencoba melepaskan topeng penutup wajah wanita itu, dan sudah dalam genggamananya, tetapi sebuah kaki melayang tepat di perutnya.
Duukkkk.
Wanita itu menendang perut Lia, hingga terpental jauh darinya. Lalu menginjak keras kaki Alan dengan hight heels miliknya. Hingga terdengar rintihan kesakitan dari Alan. Dia berlari kebir sebelum mereka bisa melihat wajahnya. Dan Lia sudah berhasil membawa topeng yang di gunakannya.
"Sialan! Jangan kabur!" teriak Alan. Mencoba mengejar wanita itu, dan Lia dengan cepat meriah tangan Alan, mencegahnya pergi.
Alan menatap tajam Lia, "Biarkan katamu?" ucapnya meninggikan suaranya.
"Nah, kalau kamu mau kejar dia, memangnya kamu bisa. Dia pasti tidak sendiri. Dan lebih baik kita bawa topeng ini sebagai bukti. Dan kita juga bisa menyelidikinya sendiri," jelas Lia, menepuk-nepuk bahu Alan yang terlihat penuh emosi menggebu.
Alan menghela napasnya. "Baiklah, kalau begitu. Kita temui kakakku dulu," ucap Alan, meraih tangan Lia, berjalan pergi tanpa memperdulikan wanita misterius itu lagi.
\=\=\=\=\=
Di sisi lain, Devian dan Adelina sedang antri untuk naik biang lala. Wajah Adelina kini jauh lebih berbeda. Aura kecantikannya lebih terpancar jelas di pandangan mata Devian.
"Maaf!" ucap lirih Adelina.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Devian bingung.
"Karena aku hanya ingin tanya, kenapa kamu menatapku seperti itu." jawabnya, mengeryit takut jika dia akan marah dengan pertanyaannya.
Devian mengembangkan bibirnya, membentuk sebuah senyuman manis. Yang seketika membuat hati Adelina semakin berdebar hebat. Dia tidak berhenti merasakan getaran cinta itu semakin dalam merasuk dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Siapa juga yang melihatmu,"
"Em.. Mungkin tadi aku salag lihat," jawabnya gugup. Memalingkan wajahnya berlawanan arah.
"Jangan menghadap membelakangiku. Tetaplah lurus ke depan. Sebentar lagi kita naik," ucapnya dingin. Devian meraih tangan Adelina, seketika membuat wanita itu bingung. Dia menatap wajah Devian dari samping. Kini dia menarik tangannya berjalan masuk ke dalam biang lala.
Mereka duduk berhadapan, tetapi ke dua mata Adelina tidak mau menatap ke depan. Dia takut sekaligus malu jika berhadapan secara langsung dengan suaminya itu. Entah, sejak kapan dia berubah menjadi wanita pemalu.
Biang lala mulai memutar. Pandangan mata Devian tak mau lepas dari Adelina. Dia terus kengamati gerak gerik wanita di depannya itu. Tubuhnya yang gemeter dengan keringat bercucuran di keningnya. Membuat Devian tersenyum tipis. Dia mengeluarkan sapu tangan di saku kemejanya. Kemudian mengusap kening Adelina.
Wanita berambut panjang itu terkejut dan soktak memegang tangan Devian. Ke dua nata mereka saling tertuju sangat dekat, terkunci penuh dengan percikan api kasmaran. Gembusan napas berat mereka saling beradu.
Apa yang aku rasakan, lihatlah bibirnya. Begitu menggoda, apa aku berani mengecil sekali bibir tipisnya. Gumam Adelina, menelan ludahnya susah payah, dia memegang ke dua pipi Devian, menariknya, melayangkan sebuah kecupan di bibir Devian mencoba menghilangkan rasa canggungnya.
Deg! Deg! Deg!
Devian hanya terdiam, mengerjapkan matanya berkali-kali. Baru pertama kali dalam hidupnya. Detak jantungnya kembali berdetak cepat di saat dengan wanita selain Angel. Perasaan yang sama di saat dia pertama kali berkenalan dengan Angel.
\=\=\=\=\=\=
Di bianglala berbeda. Dua pasang mata sedang mengamati mereka. Sembari tersenyum senang. Karena rencana mereka berhasil.
"Sayang!" panggil manja Salsa.
"Ada apa?" tanya cuek Devid. Membuat Salsa mengerutkan bibirnya kesal.
"Gak jadi," ke dua tangan Salsa bersendekap, memalingkan wajahnya berlawanan arah.
Devid tersenyum tipis, beranjak berdiri, dengan badan sedikit menunduk, duduk di sebelah Salsa.
"Sayang, jangan ngambek, gitu!"
"Emm.." Salsa mengibaskan tangan Devid.
Devid menyentuh dagu Salsa, "Lihatlah sini," ointa Devid.
"Gak mau!"
"Beneran gak mau?"
"Iya, udah diam saja sana." jawab jutek Salsa.
__ADS_1
Dia benar-benar gak peka. Bikin aku kesal. Apa dia gak sadar kalau aku juga mau seperti mereka. Gumam Salsa dalam hatinya.
Devid menarik dagu Salsa menatap ke arahnya, melayangkan sebuah kecupan lembut di bibirnya. Tepat biang lala berada di paling atas. Salsa yang semula terkejut, ia membalas kecupan lembut Devid, menggulum bibirnya seperti seorang wanita berpengalaman dalam hal itu.