
Selesai makan, mereka langsung pulang ke rumahnya, hari sudah menjelang malam. Gio yang sudah capek, ia terbaring di kursi belakang dengan mata tertutup rapat di setiap perjalanan pulangnya. Dan Devid mengangkat tubuh Gio membawanya masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Salsa langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri, ia tidak bisa pergi dalam keadaan seperti ini, hatinya terasa sangat berat meninggalkan Devid.
"Syang! Kamu di sini ternyata!!" ucap Devid menatap wajah Salsa yang tertunduk lesu di ranjangnya.
"Kamu sebenarnya kenapa? Aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu dariku!!" tanya Devid, melangkahkan kakinya mendekati istrinya, dan duduk di samping Salsa.
Salsa menghela napasnya panjang, "Aku tidak kenapa-napa, lagian aku lagi malas sekali hari ini, mau isyirahat!!" ucap Salsa berlasan.
"Ya, sudah. Aku sekarang mau pergi. Dan hari ini akan bersiap ke bandara. Kamu di rumah saja, ya. Jangan pergi kemana-mana. dan tunggu aku pulang!" ucap Devid mengusap rambut Salsa.
"Apakah kamu lama?"
"Enggak! Aku hanya 2 hari di Amerika," ucap Devid, "Apa kamu khawatir denganku, atau kamu gak sabar ingin selalu dekat denganku," goda Devid.
"Apaan sih, udah cepat mandi sana." Salsa beranjak berdiri, mendorong tubuh Devid masuk ke dalam kamar mandi.
"Syang!! Temani aku?" Devid membalikkan badannya, menarik tangan Salsa masuk ke dalam dengannya.
"Gak mau, Syang!!" pungkas Salsa, dengan tangan berpegangan di balik tembok.
"Lagian kamu juga belum mandi, sekalian kita mandi bersama." ucap Devid.
"Aku mandi nanti, nunggu jamu dulu,"
"Jadi sekarang gak mau mandi bersama?" tanya Devid melepaskan tangan Salsa, dengan wajah penuh kekecewaan.
"Bukanya begitu, tapi aku..." Devid menutup bibir Salsa dan segera melepaskan helaian benang yang menempel pada tubuh Salsa, dengan sangat agresifnya.
"Kenapa kamu maksa banget, sih!!"
"Bentar saja, entah kenapa aku ingin sekali berendam bersama kamu sekarang. Dan kalau kamu gak mau ngap-ngapain gak masalah. Kita hanya berendam bersama, sambil menikmati pemandangan malam." Devid memeluk tubuh Salsa sangat erat,hatinya terasa bergetar jika terus dnegan Salsa, dia tahu kalau dirinya merasa akan ada hal yang akan menyakiti hatinya.
Kenapa dia seperti ini? Gimana? Aku gak tahu harus gimana?
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Devid, melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Gak napa-napa, ayo!!" ucap Salsa mencoba untuk tersenyum lebar di hadapan Devid. Membuat laki-laki tampan di depannya itu, bergembira. Dia mengangkat tubuh Salsa, memasukan ke dalam bathup kamar mandi.
Kenapa maaf aku tidak bisa bersama kamu selamanya. Semoga kamu bahagia. Gumam Salsa, duduk di depan Devid, tangan kekar laki-laki di belakangnya itu tepat di atas pundaknya, sembari memeluk erat tubuhnya dari atas.
"Jangan pergi!! Kamu tetap di sini bersamaku selamanya, kan?" tanya Devid, menyandarkan kepalanya di punggung putih mulus Salsa.
"Kenapa kamu bilang seperti itu?" tanya Salsa.
"Karena aku merasa jika kamu akan pergi meninggalkanku nantinya."
"Syang!! Aku janji tidak akan mrnibggalkanmu!!" ucap Salsa, memegang kepala Devid mengusapnya lembut.
Maaf aku harus berbohong!! Tapi ini juga demi kebaikan kita, syang!! Aku akan pergi mengejar masa depan aku. Dan kamu harus kejarlah masa depan kamu nantinya.
"Janji?" tanya Devid, semakin merapatkan pelukannya.
"Aku janji!!" jawab Salsa santainya.
Devid terdiam, melepaskan pelukannya. Dan menggelitik tubuh Salsa di depannya.
"Sekarang gimana kalau kita main tebak-tebakan?" ucap Devid, mengusap punggung Salsa membuat gadis itu menggeliat geli. Dia menoleh ke belajang, melihat wajah Devid yang menyunggingkan sebuah senyuman tipis, dengan alis kanannya terangkat sedikit.
"Kenapa syang!!" ucap Devid.
"Kamu menggodaku, ya!!"
"Dikit!!"
"Baiklah! Terima pembalasnku!!" Salsa menggelitik tubuh Devid, mereka tertawa bersama saling menggelitik, tertawa lepas bersama.
Tubuh Salsa di atas tubuh Devid, ke dua mata mereka saling tertuju. "Syang? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Devid, jemari tangannya mengusap wajah cantik Salsa.
"Aku hanya kagum saja, seorang tuan Devid yang terkenal sangat jutek, bisa jatuh cinta denganku. Padahal dulu kamu pernah bilang jika tidak akan pernah suka denganku."
"Itu dulu, sekarang semua berubah. Aku tahu siapa pacar aku dulu. Jika aku tahu dari awal gak mungkin aku mau dengannya."
__ADS_1
"Iya, tapi sekarang semua sudah beda." ucap Salsa tertunduk lesu.
"Udah sekarang ayo kota keluar." ucap Salsa, meraih handuknya dan segera membalut tubuhnya.
"Kenapa kamu terburu-buru!!" tanya Devid, memegang tangan Salsa, mencegahnya pergi.
"Kau ingin siapkan baju kamu. Bukanya semuanya belum siap!!" kata Salsa sembari mengukirkan sebuah senyuman manis di wajahnya.
"Baiklah!!" ucap Devid.
Salsa segera pergi keluar dari kamar mandi, sebenarnya dia tidak sanggup berlama-lama dengannya. Nanti akan membuat hatinya akan selalu mengingat kisah romantis saat-saat bersamanya, yang akan menjadikannya semakin tertekan.
Salsa segera menyiapkan semua baju yang akan di bawa Devid ke Amerika. Dan dia hanya mendapatkan satu tiket pesawat, dengan terpaksa harus pergi sendiri tanpa mengajak Salsa.
Devid gang masih mandi, menjadikan kesempatan untuk Salsa menuliskan sebuah surat untuknya.
Tulisan Salsa.
Maafkan aku!! Aku tidak bisa menemani kamu lagi. Tapi aku tidak akan pernah melupakan kamu. Sekarang aku berharap kamu bisa menjadi laki-laki yang jauh lebih baik lagi. Dan tidak seperti awal kita bertemu. Kita memang pernah menikah tapi hanya sebatas perjanjian di atas kertas. Dan semua sudah berakhir. Aku akan pergi, dna kamu semoga bisa hidup bahagia nantinya dengan wanita pilihan kamu. Dan terima kasih atas semua yang kamu berikan padaku. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kamu sekarang. Aku akan mengurus surat perceraian kita secepatnya. Dan aku harap kamu bisa menerimanya.
Iya satu lagi, selama apa yang kita lakukan sebagai suami istri selama ini. Membuat aku merasakan sensasi yang berbeda. Tapi aku harap kamu juga melupakan semuanya. Hiduplah dangan baik.
-------
Salsa yak kuasa menahan air matanya, hingga jatuh kertas di tinta hitam yang tertulis di sebuah kertas putih, dia segera mengusap air matanya. Dan mulai menggunakan lipstik merah muda natural yang biasa dia pakai. Salsa mencium kertas itu, hingga membentuk bibirnya? laku melipat kertas dengan cincin dan kalung yang sudah Devid berikan padanya.
"Semoga kamu bisa menerima keputusan ini. Jangan sampai jika kamu akan merasakan terluka. Kamu pasti akan hidup normal kembali tanpaku." gumam Salsa. Dan segera di masukan surat itu ke dalam koper miliknya. Dan sebuah cincin beserta kalung yang baru saja di berikan Devid, ia meletakkannya di dalam koper miliknya, di balut dengan satu lembar kertas surat.
Semua sudah beres dia siapkan, perlahan suara pintu kamar mandi terbuka, Salsa langsung mengusap pipinya yang masih ada bekas air mata yang tertinggal. Dia nenoleh, mencoba tersenyum.paksa di hadapan Devid.
"Sudah siap semua baju aku?" tanya Devid
"Sudah! Semua sudah aku tata rapi. Dan baju kamu juga sudah aku siapkan, untuk kamu pakai ke bandara!!"
"Makasih!! Kamu istri yang sangat pengertian!!" Devid memegang leher belakang Salsa menariknya pelan sedikit mendekatkan padanya, sebuah kecupan lembut mendarat di kening Salsa.
__ADS_1