Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Kemarahan Devid


__ADS_3

"Tolong hubungi Alan, ia di rumah kenapa tidak tahu kalau Salsa pergi" gerutu Devid, berjalan dengan langkah terburu-buru masuk ke dalam bandara.


"Baik tuan!"


Devid sembari menunggu manajernya telpon Alan, dia segera memesan pesawat untuk pergi ke Jakarta lagi.


"Maaf tiket habis, anda bisa berkunjung lagi besok!!"


"Shiittt!! Apa yang kamu katakan?" umpat kesal Devid, menggebarak pembatas di depanya.


"Maaf taun!! Tapi tiket sudah besok ada jam 11 malam,"


"Arggg... sialan!!" umpat Devid penuh amarah.


"Tuan! Ini sudah terhubung dengan Tuan Alan!!" Devid yang semula ingin memakai penjual tiket, seketika langsung terdiam, dan mengurungkan niatnya untuk marah.


Devid meraih kasar ponsel manajernya, untuk bicara dengan Alan.


"Alan!! di mana Salsa, kenapa.kamu di rumah gak tahu kalau Salsa dan Gio pergi?" umpat kesal Devid tak membiarkan Alan bicara lebih dulu.


"Apa kerjaan kamu di rumah. Aku hanya menitipkan mereka saja sebentar kamu sudah membuat ku kecewa," kata kasar Devid pada Alan di seberang sana.


"Sebentar, dengar dulu kak," ucap Alan merendah.


"Apa lagi? kamu mau alasan apa, aku minta kamu cari dia?" bentak Devid dengan nada semakin meninggi.


"Dengarkan dulu aku mau bicara," Alan membalas, meninggikan suaranya.


"Kalau kamu terus bicara lagi, aku gak akan cari dia. Lagian itu bukan salah aku. Harusnya kamu sendiri yang cari dia, karena yang memulai masalah itu kamu," jelas Alan penuh emosi.


Laki-laki berjas hitam itu diam terpaku, "Apa maksud kamu?" tanya Devid merendahkan suaranya.


"Salsa pergi karena mama sudah tahu jika dia hanya istri kontrak kamu, dan oma juga sekarang kecewa dengannya dan kamu. Aku yakin sekarang dia sangat malu dan pergi dari rumah, dia meninggalkan surat untuk oma, aku dan Devian!!" jelas Alan menggebu, ia tidak mau terus di salahkan hanya karena masalah Salsa. Padahal itu murni kesalahannya sendiri bukan dirinya.


Devid mencengkeram ponselnya, dia menggeram kesal, hambusan napas beratnya terdengar sangat jelas di balik telepon.


"Kamu cari dia sendiri, di mana dia berada. Aku dan Devian juga sudah mencari tapi gak ada!!" Alan mengakhiri telponnya tanpa mengucapkan kata sudah, dia tak perduli dengan amarah kakaknya hang membuat pikirannya semakin frustasi. Di rumah semua keluarganya gak ada yang akur sama sekali.

__ADS_1


"Alan! Alan!" ucap Devid, mejauhkan ponselnya.


"Sialan dasar gak sopan, aku ingin bicara malah di matikan," ujarnya penuh emosi.


"Sekarang kita cepat pulang kembali ke hotel, setelah itu kita besok kembali lagi. Aku ingin mencari Salsa" Devid beranjak pergi meninggalkan bandara dan kembali ke hotel.


Keesokan harinya dia kembali lagi untuk pulang ke Indonesia. Dan manajernya sudah membelikan tiket untuknya. Dengan langkah buru-buru dia masuk ke dalam pesawat.


24 jam perjalanan, Devid sampai di rumah. Rahangnya mulai menengang, menatap rumahnya yang kini nampak sangat sepi, tatapannya semakin menajam, dia membuka pintu rumahnya kasar.


Brakkk..


"Ma! Kamu di mana?" teriak Devid yang baru saja sampai di rumah. Bahkan dia yang tadinya mau 2 hari di Amerika, dia harus mengurungkan niatnya dan membatalkan pertemuannya dengan client.


Keluar kalian semuanya," teriak Devid membuat semua penghuni rumah berhamburan keluar dari kamarnya masing-masing.


"Ma! Keluarlah!" teriaknya semakin meninggi, suara lantangnya menggelegar penjuru rumah mewah megah miliknya.


"Ada apa? kenapa kamu pulang marah-marah?" tanya oma, mencoba menghampiri cucu nya.


"Ada apa kata oma?" ucap Devid kesal. " Kenapa oma biarkan Salsa pergi?"


"Aku memang hanya suami bohongan dia. Tapi aku suka denganya," Devid memutar tubuhnya mencari mamanya, yang berdiri tepat di samping kirinya.


"Dan untuk mama jangan ikut campur urusan aku. Aku akan cari dia dan menikah secara resmi dengannya." jelasnya menajamkan pandangan matanya.


"Mama gak setuju," ucapnya sinis, sembari melipat ke dua tangannya di atas dadanya.


"Terserah mama, jika mama gak suka. Aku akan menikahinya. Karena aku yakin dia sekarang pasti mengandung anak aku." ucapnya meninggi.


"Kak tenangkan hati kamu dulu, kita bisa cari Salsa nanti. Dan kita bisa jelaskan semuanya baik-baik, jangan emosi seperti ini," Devian mencoba mendekati Devid menepuk ke dua pundaknya, namun ditepis olehnya cepat.


"Gimana kamu yakin jika dia sekarang sedang hamil,"


"Terakhir dia haid saat 1 bulan yang lalu,"


"Kalau begitu cepat cari dia," ucap oma yang mulai antusias saat mendengar jika Salsa hamil, kalau Salsa benar hamil dia akan menerima kembali jika Salsa mau tinggal di rumahnya. Baginya penantian punya cucu akan terkabul juga.

__ADS_1


"Setelah dia kembali aku akan bawa dia pergi, jadi kalian jangan banyak bicara atau ikut campur dengan urusan aku," umpat Devid memberikan pesan dengan nada mengancam.


"Apa dia pergi ke luar negeri?" tanya Alan, membuat semua orang menatap ke arahnya.


"Punya uang dari mana dia?" tanya sinis menarik bibirnya dengan ujung bibir mencibir tak suka.


"Aahhh... Terserah mau bicara apa," umpatnya mengibaskan tangannya kesal, lalu membalikkan badannya melangkahkan kakinya pergi. " Devian kamu ikut denganku," ucapnya berjalan dengan langkah semakin cepat. Dan Devian berjalan mengikuti langkah Devid yang sudah jauh darinya.


"Kita cari Salsa, dna kamu telpon ke semua bandara. Di cari tahu nama Salsa dan Gio mereka melakukan perjalanan kemana," kata Devid, masuk ke dalam mobilnya wajahnya nampak sangat panik, dan cemas."


Devian segera masuk ke dalam mobil Devid, dia segera mengeluarkan ponselnya menghubungi bandara yang paling dekat dengan kotanya.


Mata Devian terbelalak seketika saat mendengar ucapan di balik telepon itu.


"Gimana?" tanya Devid penasaran, wajahnya sangat panik tak hentinya memukul lengan Devian agar memberikan jawaban untuknya. Devian hanya diam, dia mengangkat tangannya se bahu, menunjukan telapak tanganya seakan menyuruh Devid untuk tidak bertanya lebih dulu. Dan dia masih meneruskan teleponya.


"Apa kamu yakin?" tanya Devian pada orang di di balik telpon itu.


"Iya tuan!!"


"Ya, sudah makasih!!" Devian segera menutup telponnya, dia menatap mata Devid dengan nada tak percaya.


"Apa.kamu tahu di mana Salsa pergi?"


Wajah Devid masih memerah, amarahnya belum sepenuhnya reda. "Cepat katanya jangan banyak basa-basi!!" decak kesal Devid, melirik tajam sembari kendua tanganya fokis menyetir mobilnya.


"Dia sekarang di Melbourne,,"


"APA?" ucap Devid tak kalah terkejutnya, ke dua alisnya tertarik ke atas membuat kelopak matanya semakin lebar.


"Apa kamu yakin?" tanya Devid memastikan.


"Iya,"


Kenapa dia bisa pergi ke sana? Apa selama ini dia minta uang padaku hanya untuk mengumpulkan uang agar bisa pergi. Gumam Devid dalam hatinya.


"Sekarang kamu cepat pesan penerbangan ke Melbourne." Devid mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi, memutar balik mobilnya cepat, membuat dencitan rem terdengar jelas, seakan seperti pembalap internasional yang sedang berbelok tajam dalam lintasan balap.

__ADS_1


"Kak kamu jangan gula, kalau kamu seperti ini kamu gak bisa bertemu dengan Salsa nantinya," umpat kesal Devian, yang semula ingin mengeluarkan ponselnya lagi, langsung mengurungkan niatnya, sekarang dia pegangan sangat erat, Devid benar-benar gila membuat jantungnya ingin copot.


"Aku mau cepat sampai bandara," Devid mulai melaju di jalanan lurus menuju ke bandara.


__ADS_2