Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Sampai di tujuan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Jarum jam menunjukan pukul 3 pagi, Salsa sudah bersiap untuk segera pergi dari rumah Devid. Drngan ke adaan rumah amsih gelap, dan semua lampu di ruamh itu mati, dan hanya lampu ruang tamu yang masih menyala redup, dan lampu depan rumah yang amsih terang benerang. Sepertinya semua masih terbaring pulas di ranjangnya.


"Salsa beranjak pergi, mengangkat koper dan tas yang berada di saya ranjangnya. "Apa yang ingin aku lakukan setelah ini? Apa aku bisa melupakannya nanti, aku juga tidak tahu, karena aku sudah terlanjur cinta dengannya. Tapi ini yang terbaik, jika dia memang jodoh entah gimana caranya kita bisa bertemu kelak nanti.


Salsa menghela napasnya, dia segera membuka pintu kamarnya perlahan, mengeluarkan separu badannya melihat suasana di luar, yang masih terlihat sangat sepi.


"Sepertinya orang-orang masih tidur!!" ucap Salsa lirih. Melangkahkan kakinya keluat, dia memelankan langkahnya lalu menutup kembali pintu kamarnya pelan-pelan. Dia berjalan mengendap-endap menuju ke kamar Gio, dia membukanya perlahan. Seketika langsung menggelengkan kepalanya. Saat melihat Gio masih berbaring di ranjangnya, di balut selimut tebalnya.


Salsa menepuk-nepuk pelan pipi Gio, mencoba membangunkannya. "Gio!! Bangunlah!" ucap Salsa dengan pandangan mata mencoba mengawasi sekitarnya.


"Emm.. Ada apa, kak. Gio masih ngantuk!!" jawabnya malas, sembari menarik tanganya ke atas, merenggangkan otit-otot, tulang kecilnya itu.


"Ceepat bangun, kita harus pergi sekarang." ucap Salsa, segera emmbereskan abrang-barang Gio yang amsih bersrrakan di meja. Dan bajunya sudha dia sipakan dari kemarin malam, dan sudha terbungkus rapi di dalam kopernya.


"Iya-iya kak.. Aku bangun sekarang!!" ucap Gio, membuka selimutnya, dia bernajak duduk srmbari ke duantanganya mengusap matanya yang terasa sanagt kengket


"Ayo cepat, keburu ada yang bangun nantinya,"


"Iya, bentar kak!!" ucap Gio bergegesa berdiri, dia memegang kopernya dan eprlahan menariknya mendekati Salsa.


"Ayo!!" ucap Gio.


Salsa bergegas kwlaur dari kamar Gio, dengan wajah was-was, dan langkah kaki yang sangat pelan, mereka berjalan keluar dari kamarnya, tanpa ada satu orangpun tahu kalau mereka pergi. Dan Salsa sebelumnya sudah memberikan surat untuk Alana, Devian dan Devid. Dan aku yakin nanti mereka akan membuka dan membaca isi surat yang aku berikan.


Salsa sebelumnya sudah memesan taksi yang sekrang sudah stay di depan rumahnya.


"Pak masukan ke dalam bagasi ya," ucap Salsa.


"Iya? non!!"


Sopir segera memasukan semua koper di dalam bagasi, kemudian sopir itu bergegas masuk, menjalankan mobilnya pergi dari depan rumah mewah Devid.


"Kita mau pergi kemana, kak?" tanya Gio.


"Kita akan pergi ke luar negeri, tepatnya di Melbourne.

__ADS_1


"Kak kenapa kita harus pergi? Memangnya kakak punya uang untuk tinggal di luar negeri?" tanya Gio.


"Sudah jangan pikirkan soal uang. Kakak ada sedikit uang untuk kita sewa rumah di sana. Dan setelah itu kakak akan kerja," ucap Salsa mrngusap lembut kepala belakang Gio.


"Kenapa kakak tidak mau bersama dengan, kak Devid? Dia memberikan semua yang kita inginkan. Nahkan jika kakak minya rumah pasti akan di belikan" jelas Gio.


"Kamu amsih kecil, jadi gak perlu tahu masalah kakak. Sekarang kamu tidur lahi saja ," ucap Salsa.


Gio mengehela kesal, dia beranjak tidur tanpa perdulikan kakaknya lagi.


---------


"Gio!! Sudah sampai cepat bangun!!" panggil Salsa.


"Emm.. Iya kak!!" jawab Gio malas.


Sampai di sebuah bandara , Salsa segera berjalan melangkahkan kakinya semakin cepat masuk ke dalam pesawat. Dia tidak mau ketinggalan, dan tak mau ada orang yang mengetahuinya dan menghalangi dia pergi.


"Kakak apakah benar-benar yakun mau pergi?" tanya Gio memastikan.


"Iya, sangat yakin!!" jelas Salsa.


---------


Salsa bergegas mencari taksi, pergi ke sana. Tak lama sampai di tempat tujuan.


"Kak, apa ini rumah baru kita?" tanya Gio, mendongak menatap kakaknya.


"Iya, lumayan bagus, kan?" Salsa tersenyum menunduk menatap Gio.


Gio memutar bibirnya, menatap setiap sudut rumah itu. Sepertinya lumayan, jauh lebih baik dari rumah pertamanya dulu. "Apa kakak sudah membayarnya?"


"Tenang saja!! Kakak akan segera bayar, lagian uang kakan sepertinya cukup untuk sewa 1 tahun di sini!!"


Salsa menggandeng tangan Gio untuk menuju ke tempat pemilik rumah itu, rumah yang lumayan untuk disewa meski kecil. Selesai bertemu Salsa di ijinkan untuk masuk.


"Maaf ruangannya masih sangat kotor. Kalian bisa bersihkan sendiri kan?" tanya pemilik rumah itu, sembari tersenyum ramah.

__ADS_1


"Bisa!! Makasih!!" ucap Salsa.


Dia serah masuk ke dalam, dan bersiap membersihkan rumah yang amsih di penuhi banyak debu. Dan semua perabotan rumah di sana msih tertutup dengan kain.


-------


Malam tiba, Devid yang baru saja sampai di Amerika dia sudah duduk di ranjang hotel. Pikirannya melayang teringat Salsa yang masih di rumah. Hatinya merasa sangat ingin segera kembali menemui istrinya.


Hah.. Aku sangat capek, sepertinya aku mandi dulu, setelah itu aku akan pergi.


Devid membuka kopernya, selembar kertas terjatuh ke lantai.


"Apa ini?" gumam Devid mengambil kertas itu. Dan segera membukanya, saat membaca isi kertas itu, seketika dia berdengus kesal, mencengkeram erat kertas itu melemparinya ke arah di depannya. Rahangnya mulai menggertak, dengan tatapan tajam tertuju ke depan.


"Kenapa kamu pergi? Apa aku kurang bukti jika aku sudah mencintai kamu," umpat Devid, dia membuka kopernya lagi, melihat kalung dan cincin yang dia berikan juga tepat diatas bajunya.


"Arggg... " decak Devid, mengusap kepalanya frustasi.


"Aku harus hubungi dia, aku harus cari tahu!!" ucap Devid gemetar.


Devid meraih ponsel di ranjangnya, dengan tangan yang sudah gemetar, dia mencari nama istrinya di kontak ponslenya dan mencoba menghubunginya.


"Kenapa nomor kamu tidak aktif? Krnapa!" teriak Devid, hembuaan naaps beratnya semakin kasar, dia melempar ponselnya, dan beranjak membereskan kopernya lagi.


Tak banyak bicara lagi, rasa cemas dan khwatir Devid yang sudha semakin menjadi, dia beranjak untuk pe4gi dari hotel itu menuju ke bandara.


"Tuan, Mau kemana?" tanya manajernya yang baru saja ingin masuk ke kamarnya.


"Kita kembali ke bandara, dan pulang lagi ke jakarta!!" jelas Devid, tanpa menatap manajernya.


"Tapi.. Bukanya kita akan bertemu dengan Client?"


"Batalkan!!" Devid melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan manajernya yang masih diam membisu.


"Tapi.."


"Cepat pergi!!" ucap Devid keras, manajernya berlari mengikuti langkah Devid, dia segera menghubungi client-nya untuk membatalkan kerja sama.

__ADS_1


Kenapa tuan membatalkan kerja sama yang sangat besar ini. Tidak seperti biasanya tuan sepeti ini. Gumam manajer, melihat punggung Devid yang berjalan penuh aroma kemarahan yang membara.


__ADS_2