
1 minggu kemudian.
Semenjak kejadian meninggalnya Angel, Devian selalu murung sendiri di kamarnya. Bahkan dia tidak mau keluar dari rumahnya, bertemu dengan orang asing dia juga tidak mau.
Alana dan Devid bingung di buatnya, mereka mencoba untuk membujuk Devian tapi masih saja sama. Semua berduka atas meninggalkanya Angel tapi tidak dengan orang tuanya, yang malah senang jika dia meninggal tidak ada lagi yang menghalangi keinginannya agar Devian bisa menikah dengan Adelina, wanita pilihan orang tuanya, yang pasti karena hartanya nomor satu, dan dia juga cantik, tak kalah cantik dengan Angel.
Tapi berbeda dengan hubungan Salsa. Dia juga sekarang lebih fokus untuk mencari di kana dia akan kuliah nantinya. Dan apstinya harus mendapatkan bea siswa.
------
"Hah.... Sangat melelahkan.." ucap Salsa, membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dengan ke dua tangan terlentang. Pandangan matanya tertuju pada atap langit.
"Beberapa hari ini, Devid sibuk kerja. Dan besok dia akan pergi ke luar kota," gumam Salsa, mengusap wajahnya, dan beranjak duduk.
"Sepertinya aku harus pergi!!" lanjutnya.
Brak.. Brak.. Brak..
"Keluar kamu!!" teriak seorang wanita yang membuat Salsa terkejut dengan suara kerasnya.
"Ada apa? Kenapa mereka ribut seperti itu!!" ucap Salsa, beranjak berdiri.
"Eh.. ****** keluar kamu!!" teriak semakin keras.
"Iya, bentar!!" ucap Salsa, memegang knop pintu, memutarnya perlahan, dan Bruk..
Dorongan kuat dua tangan di depannya, membuat gadis itu tersungkur ke lantai.
"Heh.. Kamu, jangan harap kamu bisa mendapatkan harta Devid!!" pekik mama Devid sangat keras.
"Kamu beraninya membohongi semua keluarga ini. Penikahan kamu palsu. Dan sekarang kamu pergi dari sini." ucap mama Devid.
"Aku sudah curiga dari awal jika kamu hanyalah ingin menguasai harta Devid. Dan kamu ****** jika aku tidak menemukan surat ini pasti semua akan terlambat." wanita paruh baya itu menarik bibirnya sinis.
"Ma!! Apa yang mama lakukan pada Salsa." ucap Alan, menerobos masuk ke dalam kamar Salsa, duduk jingkok dengan tangan memegang ke dua bahu wanita itu.
"Aku sudah tahu semuanya, pernikahan kamu hanya palsu. Dan pasti kamu memanfaatkan Devid untuk mendapatkan apa yang kamu mau, kan? Dasar ******! Pergi kamu dari sini!!" umpat kesal mama Devid.
"Apa yang mama maksud, dia istri kak Devid,"
Wanita paruh baya itu menarik bibirnya sinis, "Sekarang pergi dari sini, dan surat perjanjian ini akan aku buang!!" umpat kesal mama Devd, merobek surat perjanjian kertas itu dan melemparnya tepat di wajah Salsa.
__ADS_1
"Ma! Aku tahu jika dia salah, tapi meskipun pernikahan di atas surat perjanjian tetap saja dia adalah kakak iparku," ucap Alan, membuat mamanya semakin geram.
"Terserah!! Tapi aku mau dalam 2 hari kamu harus segera pergi dari sini," ucap mama Devid melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Alan dan Salsa.
"Kamu jangan perdulikan apa kata mama, dia mungkin terbawa rmosi, atau dia lagi dalam masalah!!" ucap Alan, membantu Salsa untuk berdiri.
"Iya, gak apa-apa, aku akan segera pergi nantinya. Pernikahan aku hanyalah sebatas perjanjian dari awal. Dan ini saatnya pernikahan itu berakhir!!" ucap Salsa menundukkan kepalanya.
"Tapi, memangnya kamu mai tinggal di mana, Dan Gio sekarang masih sekolah. Apa kamu tega meninggalkan dia!!" ucap Alan.
Salsa melepaskan tangan Alan yang masih memegang dagunya. Dan duduk di ranjangnya, "Gio akan ikut denganku, dan mungkin aku akan pindah ke kota lain," ucap Salsa, mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Alan, dia mencoba untuk tetap tersenyum meski hatinya terluka.
"Tapi..."
"Aku harap kamu mengijinkannya, dan jangan bilang pada Devid tentang hal ini." Salsa menerobos ucapan Alan, membuat alan hanya diam, menarik kembali kata-katanya.
"Baiklah!!" ucap Alan terpaksa.
"Makasih!!" Salsa berdengus lega. "Oya, gimana Devid, apa dia mau keluar dari kamarnya." tanya Salsa.
"Belum, dia masih di dalam kamarnya dari kemarin dia tidak mau keluar sama sekali!!"
"Percuma! Dia gak mau bertemu dnegan siapapun!!"
"Setidaknya aku akan berusaha, aku akan bujuk dia!!" ucap Salsa, melangkahkan kakinya pergi menjauh meninggalkan Alan yang masih duduk di ranjangnya.
"Dia sangat perduli dengan yang lain, sebenarnya dia sangat baik!! Tapi entah kenapa aku dulu selalu memusuhi dia! Sekarang aku baru sadar jika dia sangat cantik dan juga sangat baik, dan perduli dengan semua saudaranya!!" gumam Alan, menekuk de dua tangannya di letakkan di atas pahanya dengan tubuh sedikit menunduk ke depan.
------
Salsa berdiri di depan kamar Devian, dia menatap nuansa klasik ukiran pintu kamar di depannya. Ingin mengetuk pintu, namun tiba-tiba terbesit dalam pikirannya.
Wnaita berambut lurus sepunggung itu, mengangkat tangan kanannya, dia mebgetuk pintu petlaham.
"Kak Devian!!" panggil Slasa dengan suara khas lembutnya.
"Bi, bawa makanan untuk Devian, ya?" tanya Salsa. Melihat seornag pelayan menbawa satu namoan maoanan dan satu gelas minuman untuk Devian.
"Iya, non!!"
"Biar saya saja yang berikan!!" ucap Salsa.
__ADS_1
"Baik, non!!" pelayan itu segera memberikan nampan makanan yang di bawa pada Salsa dan bergegas pergi.
Melihat pelayan sudah pergi, Salsa mengetuk pintu kamar Devian sekali lagi.
"Kak Devian, buka dulu pintunya. Aku ingin bicara" ucap Salsa.
"Memangnya kamu mau bicara apa?" jawab Devian yang duduk tepat di lantai bersandar pintu kamarnya.
"Bukanlah dulu, mungkin ini juga pertemuan terakhir dengan kak Devian!!" ucap Selsa. Tanpa menjawab ucapan Salsa Devian beranjak berdiri membuka pintu kamarnya perlahan.
"Memangnya kamu mau kemana?" ucap Devian, memegang tangan Salsa, dan menariknya masuk ke dalam kamarnya, lalu menutupnya kembali.
"Duduklah!! Cepat bicara ada apa sebenarnya?" tanya Devian, mengambil nampan makanan di tangan Salsa, meletakkan di atas meja. Dan Salsa duduk di sofa seperti apa yang di pinta Devian padanya.
"Kak Devian makan dulu, nanti aku akan bilang pada kak Devian," ucap Salsa, dengan senyum tipis menyungging di bibirnya.
"Gak mau!!" ucap Devian tegas.
"Kenapa kak Devian gak mau? Apa memang sengaja kak Devian membuat Angel yang di surga sedih melihat kak Devian seperti ini," ucap Salsa memegang tangan Devian menariknya duduk di sampingnya.
"Aku tahu kak Devian sedih kehilangan orang yang paling kita syang!!" Tapi itu sudah takdir, jangan salahkan takdir. Kita juga punya masa depan sendiri. Jika kamu ingin melihat dia bahagia, lebih baik kak Devian hidup normal kembali mencoba melupakan dia perlahan."
"Aku gak mungkin jika melupakan dia, meski dia sudah tidak ada di sini. Tapi aku akan tetap mencintainya."
"Cinta itu akan tetap ada dalam hati, tapi kak Devian jika terus seperti ini. Sama saja melukai hati Angel saat dia masih ada di sini," jelas Devian.
"Tapi..."
"Kak aku tahu, tapi relakan dia pergi. Biarkan dia bahagia di surga sana. Jangan halangi jalannya!!" ucap Angel membuat Devian terdiam.
"Sekarang senyumlah!!" Salsa menarik ke dua pipi Devian, seketika membuat laki-laki itu tersenyum tipis di hadapan Salsa.
"Makasih!!" ucap Devian.
"Sekarang kak Devian makanlah!!" ucap Salsa. Mengambil satu piring nasi dan segera meberikan pada Devian. Dan hanya di balas sebuah senyuman tipis oleh Devian.
"Kamu makalah dulu. Nanti aku akan bicara lagi." ucap Salsa.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau temui adik aku dulu. Kak Devian makan saja dulu," ucap Salsa, beranjak berdiri melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kamar Devian, sampai di depan pintu Salsa menoleh ke belakang, dia melayangkan sebuah senyuman tipis ke arah Devian, lalu menutup pintunya kembali.
__ADS_1