
Salsa dan Devid saling memandang. Seakan ingin tertawa mendengar pernyataan yang sudah di katakan Felix. Salsa tersenyum samar, menginjak kaki Devid, sembari meringis menatap wajah Devid.
"Aku minta maaf," gumam Felix memecahkan keheningan di antara mereka.
Benar dugaanku. Dia pasti minta maaf denganku. Tapi aku tidak akan pernah melupakan apa yang sudah dia lakukan padaku dan Devid. Apalagi sampai merenggut kebahagiaan anakku.
"Maaf buat apa?" sambung Devid.
"Karena aku.."
"Memangnya kamu kenapa?"
"Aku merasa telah menghancurkan rumah tangga kamu. dan maaf untuk semuanya. Aku tidak akan mungkin bisa berhenti minta maaf. Sebelum kalian benar-benar tulus memaafkan aku." jelas Felix menatap ke arah Salsa dengan mata penuh bersalah.
"Oke.. Oke. Aku akan memaafkan kamu. Tapi entah suamiku." jawab Salsa, sembari melirik ke arah Devid di sampingnya.
"Aku.. Menurut saja setiap ucapan kamu." saut Devid. Mengusap lembut rambut pannjang Salsa. Mereka terlihat begitu mesra. Sesekali. Dan Entah tanpa kode atau apapun dia tiba-iba bertengkar lagi dengan Salsa.
Semua terdiam, saling tertunduk. Bahkan Felix memainkan jemari tangannya. Seakan dia masih berpikir mau bicara apalagi denganya.
"Kamu mau minum?" tanya Salsa basa-basi. Menciba memulai pembicaraan lebih dulu.
"Boleh!" jawab Felix, mengangkat kepalanya.
"Minum apa?"
"Apa saja,"
"Air putih?"
"Boleh!"
"Oke! Tunggu, ya." ucap Salsa sok ramah. Meski Devid sedikit tak suka dengannya. Lirikan matanya semakin menajam. Membuat Salsa bergidik takut.
Iya, wajah Devid tak suka. Salsa adalah istrinya. Wajah dia cemburu padanya. Meski tidak begitu dekat dan akrab dengan Felix. Berbicara saja rasanya sangat kesal. Ia hanya bisa menelan ludahnya, mengusap dadanya mencoba untuk tetap sabar. Ia yakin jika Salsa pasti akan setia padanya. Dia sudah menunjukan kesetiannya. Hanya saja dirinya yang terlalu over padanya.
Devid mendekatkan tubuhnya. "Jangan sok akrab dengannya. Jangan sampai kamu lengket d3nganya. Aku tidak suka." bisik Devid. Salsa hanya mengedipkan matanya, sebagai jawaban dari ucapan Devid.
Salsa segera mengambil air minum. Dia sengaja ingin melihat apa yang di lakukan oleh Devid di saat berhadapan dengan Felix. Meski kalau di pikir-pikir mereka sama-sama tampan. Tetapi hati Salsa sudah menetap dan jadi hak paten Devid tak terbesit dalam pikirannya melirik orang lain.
Dia membawakan satu gelas air putih dingin. Meletakkan di atas meja.
"Kamu gak minum?" tanya Salsa melirik ke arah Devid.
"Gak!"
"Kenapa kamu jutek?" umpat kesal Salsa.
"Lagian kenapa kamu hanya tawarin dia minum. Aku dari tadi duduk di sini sama sekalj kanu tidak mau memberiku minum."
__ADS_1
"Salah sendiri kamu gak bilang tadi." decak Salsa. "Sekarang aku ambilkan kamu minum, ya?" Salsa sedikit merendahkan ucapannya.
"Gak usah," Devid, memalingkan wajahnya acuh.
"Ya, udah. Jangan sama aku sekarang."
"Kenapa kamu selalu cari gara-gara?" pekik Salsa, melangkah satu lengkah ke depan.
"Apa? Kamu mau apa?" Devid sengaja mendorong ke dua bahu Salsa. Membuat tubuh Salsa terpental menyenggol satu gelas minuman dingin, tepat menumpahi celana Felix.
"Shitt.." umpat Felix kesal.
Salsa menoleh celat, ia duduk jongkok. Meriah tisu mengusapnya apda celana Gelix. Dengan sigap Devid menarik tangan Slasa untuk berdiri.
"Gak usah!"
"Tapi dia ketumpahan air, kenapa kamu tidak mengijinkanku membersihkannya."
"Aku takut kamh jatuh cinta padnya."
Salsa terkekeh kecil. "Mana mungkin aku jatuh cinta padanya." ucap Salsa sembari melirik tajam ke arah Felix tanpa laki-laki itu sadari.
"Udah, aku bilang sekarang duduk! Ya, duduk! Jangan membantah."
"Oke.. oke." Salsa menahan senyum di bibirnya sembari mengedipkan matanya, memberi kode pada Devid.
Bagai lakon dalam film. Salsa dan Devid begitu sempurna saat berakting. Mereka sama sekali tidak ada ekspresi sedikitpun dari wajahnya.
Merasa semua hening tanpa suara. Dan Felix sibuk mengusap celananya yang basah.
Salsa beranjak berdiri. Melangkahkan kakinya dua langkah ke depan. Langkahnya terhenti di saat sebuah tangan mencengkeram erat lenganya. Menariknya kembali duduk di sofa sampingnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Devid.
"Buatkan minuman lagi untuk kamu dan dia."
"Udah gak usah, aku akan pergi sekarang." saut Felix. Membuat ke dua mata mereka saling memandang kesekian detik. Lalu kompak menatap ke arah Felix bersamaan.
Yes.. Akhirnya dia pergi juga. Dari tadi aku capek terus berakting di depan Felix. Mungkin memang aku berbakat menjadi artis. Begitu sempurna Devid dan aku barakting tanpa skrip yang di rencanakan.
"Kamu yakin?" tanya Salsa memastikan.
"Iya, maaf aku sudah merepotkan kalian." ucap Gelix, bangkit dari duduknya. Melangkahkan kakinya pergi tanpa banyak bicara lagi. Devid dan Salsa seketika tertawa di saat melihat punggung Felix sudah tak terlihat dari pandangan matanya.
"Akhirnya.. dia pergi juga. Aku capek yerus berakting." ucap Devid. Merangkul pundak Salsa, menariknya dalam dekapan tubuhnya.
"Kamu memang pintar," ucap Salsa, mencubit manja hidung Devid. Dan langsung di balas dengan sentuhan lembut di ujung kepalanya. Mengusap ya lembut membuat rambut Salsa sedikit berantakan.
Salsa tetdiam, dia tertunduk lesu. Wajah penuh bahagia berubah muram dalam hitungan detik.
__ADS_1
"Aku suka kamu yang seperti ini. Aku merasa nyaman dengan sifat kamu yang mulai berubah padaku." ucap Salsa yang masih tertunduk malu.
"Aku akan selalu ada bersama kamu. Selalu sayang padamu." jawab Devid.
"Sekarang kita."
Salsa mengerutkan keningnya. Mengangkat kepalanya, menarik ujung bibirnya tipis.
"Makasih!" ucap Salsa.
"Akubsudha dengar ribuan kali uacpana terima kasih darimu. Apa kamu tidak bosan?"
"Tidak, karena aku menganggap kamulah lami-laki sempurna yang pernah aku miliki."
"Jangan mulai merayuku."
"Emangnya salah aku merayu suami tampanku."
"Tidak apa-apa, sih. Tapi bolehkan aku.." Devid me gangkat tubuh Salsa, membawanya berlari menaiaki anak tangga.
"Devid, turunkan aku. Kamu mau bawa aku kemana?" tanya memukul dada bidang Devid pelan.
"Mau ke kamar,"
"Apa kamu bilang? Kamar?" tanya Salsa heran. Memincingkan salah satu matanya.
"Iya.."
"Enggak!" Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Enggak mau, Ini masih sianh. Aku gak mau. Nantj gimana kalau Gio tahu." ucap Salsa mengelak.
"Gak ada, Gio sekarang sama Alan."
"Kalau dia tiba-tiba pulang gimana?" Salsa yang semula kengelak, ia mengalungkan ganganya di leher Devid.
"Tidak mungkin!"
"Memangnya dia pergi kemana dengan Alan."
"Bermain,"
"Kemana?"
"Mau tahu saja." Devid menarik ke dua alisnya ke atas.
"Memangnya dia mau kemana?" tanya Salsa penasaran.
"Kamu tanya saja sama dia nanti," Devid melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Menjatuhkan tubuh Salsa tepat di atas sofa kamarnya. Jemari tanganya mulai meraih remot tv di atas meja. Dengan cepat menyalakannya, sembari duduk bersandar di samping Salsa.
Ke dua mata Salsa hanya menatap setiap gerak-geriknya bingung. Mengerjapkan ke dua matanya berkali-kali.
__ADS_1
Kenapa dia? Aku kira dia akan mengajakku. Ternyata aku yang salah. Atau aku yang berpikiran kotor. Salsa mengacak-acak rambutnya frustasi.