Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Ungkapan perasaan


__ADS_3

Bulan mulai menampakkan sinar cantiknya. Dengan di temani gemerlap bintang di malam hari yang nampak begitu cerah. Cuaca hari ini terasa sangat dingin. 


Seorang gadis cantik, berdiri di pinggir pantai menatap indahnya pemandangan di depannya. Ia yang semula ingin menginap di puncak kawah. Tempat di amna di langsungkan pernukahan Devian dan Angel. Namun, tidak jadi. Dan lebih memilih di pinggir pantai, melihat pamandangan di pantai dan sekitarnya, yang di kelilingi bunga yang membentang luas.


Berdiri dengan ke dua tangan merentang ke samping. Ia memejamkan matanya, agar terasa lebih nikmat jika merasakan hembusan angin yang langsunh menerpa tubuh hingga masuk ke dalam pori-porinya kulit purihnya, dan sampai menusuk ke tulang Salsa. 


"Syang!!" panggil Devid.


Devid tersenyum, melangkahkan kakinya mendekati Salsa. 


Salsa yang menikmati udara malam di pinggir pantai, tak menghiraukan panggilan Devid. Seakan dia memang sengaja untuk tutup telinga rapat-rapat.


"Kamu sedang apa? Kenapa tidak menghiraukan panggilan aku sama sekali?" tanya Devid, memasukan jemari tanganya, di sela-sela jemari tangan Salsa. Ia menggenggam tangan Salsa, lalu memeluknya, melipat tangannya di atas perut Salsa. 


"Bukanya kamu bisa lihat sendiri, Devid!!"


Salsa membuka matanya, melirik tangannya yang sudah dalam gengaman erat tangan Devid. 


"Kamu dari mana? Aku sudah nunggu kamu dari tadi?"


Devi menempelakan pipinya manja, dan berbisik padanya. 


"Aku sedang siapkan sesuatu untuk kamu?" Devid, semakin mempererat rengkuhan, dan pegangangan tangannya. Membuat kehangatan malam mulai menjalar ke tubuh Salsa. 


"Siapkan apa?" Salsa menatap Devid di sampingnya. 


"Kejutan buat kamu, yang memang sudah aku persiapkan dari tadi pagi. Aku harap kamu suka!!"


"Kejutan apa?" tanya Salsa semakin penasaran.


"Kejuran yang membuat kamu akan merasa bahagia nantinya. Dan kamu juga belum makan, kan?" tanya Devid, mengendus pipi Salsa, membuat gadis itu semakin menikmati pelukan Devid, di tengah dinginnya hembusan angin laut.


"Apa kamu sudah kangen, baru aku tinggal satu jam," gumam Devid, semakin memeluk maja Salsa. 


"Kenapa kamu ninggalin aku. Apa kamu gak mikir aku takut di sini sendiri."


"Kalau kamu takut, banyangin wajah aku di otak kamu. Apa yang kamu lihat, anggap saja itu wajah aku."


"Jadi kalau ada hantu, bayangin wajah kamu, gitu?" goda Salsa. 


"Kamu samain aku kayak hantu?" Devid mengerutkan bibirnya kesal. 


"Ktanya suruh banyangin wajah kamu, jadia semua hantu kalau ada aku banyangin wajah kamu. Biar gak takut,"


"Kalau lihat wajah kamu, berubah jadi hantu nantinya."

__ADS_1


"Kamu resek." ucap kesal Devid. 


"Yang resek itu kamu,"


"Kenapa aku?"


"Kamu!!" gertak kesal Salsa.


"Yang nyebelin, dam resek itu kamu,"


"Kenapa aku? Emangnya aku ganggu kamu apa, dasar nyebelin!!" bibir Salsa manyun beberapa senti. 


"Karena kamu selalu menganggu pikiran aku, membuat aku gak bisa fokus dengan kegiatanku." ucap Devid, seketika membuat Salsa yang semula manyun, ia mengembangkan bibirnya, tersenyum tipis, memalingkan pandangannya berlawanan arah.


"Lagian, kalau memang takut, kamu gak mungkin menikmati udara malam di sini." ucap Devid, menyandarkan dagunya di pundak Salsa. "Dan kamu jangan mengulangi itu lagi. Kalau kamu masuk angin, gimana? Dan kamu juga gak pakai jaket,"


Devid, kenapa kamu membuat aku berharap dengan kamu. Dan kenapa dia begitu perhatian dengan aku. Apa dia mulai serius dengan ku? Atau ini hanya tipu dayanya. Tapi, aku berharap semoga ini benar dirinya. 


Salsa tersenyum, melirik Devid, yang terus menatapnya sangat dekat, membuat hembusan napasnya, mengalir ke pipinya, masuk ke dalam pori-pori kulitnya. 


"Kenapa kamu begitu perhatian denganku?" tanya Salsa, dan langsung di balas dengan kecupan lembut di pipinya. 


"Memangnya salah, aku mulai perhatian dengan istri aku. Karena kemarin kamu sudah memberi aku hadiah yang istimewa. Maka aku akan membalasnya dengan sebuah kejutan kecil." jelas Devid, langsung mengecup pipi Salsa lembut.


"Kamu nanti juga akan tahu jawabannya. Sekarang kamu hitung saja sampai tiga," desah Devid, melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. 


"Jangan bikin aku oenasaran!!"


"Semakin penasaran maka akan semakin romantis. Dan yang kamu lihat pertama adalah awal." jelas Devid. menatap dari samping wajah cantik Salsa, dengan hidung mancung yang terlihat jelas dari samping.


Wajah Salsa semetika semakin memerah di buatnya. 


"Hitung mulai sekarang!! Kenapa kamu menatapku?" ucap Devid, mencium pipi kanan Salsa. 


"Kecup dulu," ucap Salsa yang kinu mulai berani minta pada Devid. 


"Devid, melepaskan tangan Salsa, memegang dagunya, lalu mengecupnya lembut beberapa detik. 


"Sekarang kamu diam! Dan nikmati pemandangannya." ucap Devid, memeluk tubuh Salsa lagi, dari belakang, dan langsung di balas sentuhan lembut tangan Salsa di atas perutnya. Sembari terus mengusapnya lembut.


"Mulailah hitung!!" lanjutnya.


"Baik!! Satu..... Dua.... Tiga," Salsa mulai menghitung, dan.


Dorr... Dor... Dor.. Dor..

__ADS_1


Tiba-tiba kembang api menyala tepat di depan pandangannya, membentuk gambar hari dengan nama Salsa. Membuat mata wanita itu melebar sempurna, dengan pupil mata perlahan membesar, menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat. 


"Ini, apa benar, kamu semua yang siapin?" tanya Salsa.


"Aku sudah siapkan jauh-jauh hari, dan minta orang untuk membantu aku. Lagian apa salahnya jika aku semakin dekat dengan kamu, dan aku mulai jatuh cinta dengan kamu." gumam Devid.


" Tapi syangnya aku masih belum sepenuhnya percaya, jika kamu tak segera membuktikanya." jawab Salsa


"I lovu you." ucap Devid, melepaskan tangan Salsa, berlutut di depannya, dengan salah satu tangan mengambil satu tangkai bunga yang ia selipkan di balik punggung. dan memyembunyikannya di balik punggungnya


Salah satu tanganya, memegang tangan kanan Salsa. Lalu mengecup lembut punggung tanganya. Devid mengeluarkan setangkai mawar. Mendongak menatap ke wajah Salsa. 


"Devid berdiri, apa yang kamu lakukan?" tanya Salsa, menarik tangan Devid untuk berdiri. Namun laki-laki itu tetap bersikukuh untuk tetap berlutut di depannya. 


"Apa kamu mencintai aku?" tanya Devid, seketika membaut gadis itu terdiam, mengernyitkan wajahnya. 


Salsa menarik satu sudut bibirnya, lalu tersenyum tipis. "Jangan bercanda, kamu gak lucu, Devid."


"Siapa yang bercanda, aku serius. Bukanya kita sudah bersama selama satu bulan lebih. Apa kamu tidak ada perasaan sedikitpun dengan ku?" desah Devid. 


Apa yang harus aku jawab aku juga suka dengannya. Tapi.. Apa dia benar-benar tulus denganku? Apa dia akan menjadikan aku istri sesungguhnya..


"Salsa, aku hanya ingin bersama kamu. Jika kamu mau menerima aku menjadi pasangan kamu," tanya Devid, dengan mata berkunang-kunang penuh harapan. 


Salsa tersenyum, dan menagnghukkan kepalanya. 


"Eh... Apa itu.. Tandanya.. Kamu.." ucap Devid terpatah-patah, ia berdiri memegang ke dua tangan Salsa. 


"Apa kamu yakin dengan jawaban itu?" tanya Devid masih belum percaya. 


Salsa meraih mawar di tangan Devid, mencium harum wangi mawar yang membuat aroma tersendiri di hidungnya. Wanginyang begitu harus menteruak masuk dalam penciumannya. 


Plukkk!!


Salsa memukulkan mawar itu di kepala Devid. "Kamu bisa cari mawar ini di mana? Bukanya di sini tidak ada pohon mawar. Tadi kamu pergi kamana? Kenapa bisa dapatkan bunga ini?" tanya Salsa beruntun.


Devid tersenyum, mengusap kepalanya. "Aku tadi dapat dari toko bunga, jadi jangan curiga terus denganku." ucap Devid, kencubit manja pipi Salsa. 


"Siapa yang curiga?"


"Tadi kenapa kamu tanya beruntun gitu?"


"Karena... Aku.."


Devid mendekatakan wajahnya, membuat Salsa semakin gugup, tak bisa mengucap kata-kata lagi. 

__ADS_1


"Kenapa diam?" tanya Devid, menarik dua alisnya ke atas. 


Salsa menelan ludahnya kasar, menatap begitu dekatnya wajah Devid, hembusan napasnya semakin terasa dekat, berpacu semakin cepat di iringi detak jantung yang tak beraturan.


__ADS_2