
Di sisi lain, Devid dan Salsa keluar dari rumah. Devid memang sengaja untuk membuat Salsa senang sekarang. Tanpa memikirkan masalah yang ada. Dan jangan sampai Salsa tahu tentang masalahnya. Dia pasti akan menjadi beban pikiran Salsa, dan menganggu kehamilannya nanti.
Di dalam mobil nampak sangat hening, Devid melamun dengan pandangan mata ke depan. Tetapi yang membuat Salsa merasa aneh, di setiap perjalanan Devid tidak pernah diam. Dia selalu banyak tanya tentang apapun, tetapi kali ini Salsa melihat sisi lain dar Devid.
Salsa menghela napasnya, memegang tangan Devid, yang fokus mengemudi mobilnya.
"Sayang?" panggil Salsa, menarik dua ujung bibirnya mengukir sebuah senyuman manis di wajahnya.
Devid mencoba menyadarkan dirinya dari lamuanannya. Mencoba tersenyum paksa di depan Salsa.
"Ada apa?" tanya Devid.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin tahu. Apa yang menganggu pikiran kamu saat ini?" ucap Salsa menggerakkan kepalanya sedikit ke kiri, mencoba melihat raut wajah Devid yang nampak sangat gusrah.
"Jika kamu gak enak badan, lebih baik sekarang kita pulang.
"Enggak! Enggak!" Devid memegang tangan Salsa, mengusap lembut lengannya. "Jangan pulang, kita akan pergi makan. Setelah itu ikut aku menemui Devian,"
"Jadi kita ke rumah Adelia?" tanya Salsa menguntupkan bibirnya kesal. Memalingkan wajahnya berlawanan arah.
Devid tersenyum tipis sekilas melirik ke arah Salsa yang sudah terlihat cemburu.
"Jangan pikir aku ke sana untuk menemui Adelia. Aku hanya ingin bertemu adikku. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padanya."
Salsa menoleh cepat ke arah Devid. "Hal penting apa?" umpat Salsa kesal.
Devid mengusap lembut pipi kanan Salsa. "Jangan ngambek!" rayu Devid. "Nanti kamu juga akan tahu. Sekarang aku gak bisa cerita. Lagian terlalu panjang untuk di ceritakan."
"Di pendekkan jangan panjang-panjang,"
"Emangnya kayu bisa di potong pendek,"
Salsa menghela napasnya kesal. "Maksud aku itu, kata-katanya di cari inti dari cerita kamu. Jangan terlalu panjang, dan jangan terlalu pendek."
Laki-laki tampan itu terkekeh kecil, "Sayang aku yang imut, lucu, kayak manyun. Nanti saja. Lagian bentar lagi sampai rumah Devian." Devid mencubit pipi kanan Salsa.
"Sakit!!" rintih Salsa seperti anak kecil, dengan bibir manyun beberapa senti.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sampai di rumah megah milik Devian. Salsa dan Devid segera masuk mengetuk pintu rumahnya. Belum sempat mengetuk pintu, seorang pelayan sudah datang menyebutnya.
"Bi, baru saja aku mau mengetuk pintu," ucap ramah Salsa.
"Tadi, tuan Devian sudah tahu jika kalian datang. Jadi saya di suruh cepat-cepat untuk membuka pintunya."
Salsa menatap ke arah Devid. "Adik kamu peramal ya?" tanya Salsa. Dan di balas dnegan usapan lembut jemari tangan Devid di ujung kepalanya.
"Sudah, cepat masuk. Jangan terlalu lama berdiri di luar," Devid merengkuh pundak Salsa, berjalan masuk ke dalam rumah Devian menuju ke ruang tamu.
__ADS_1
Salsa menatap heran, rumah yang sangat megah itu terlihat sepi. Bahkan suami istri itu juga tidak pernah berbicara bersama. Bercanda atau hanya sekedar menonton tv bersama.
"Bi, Adelia mana?" tanya Salsa menatap ke arah pelayan yang berjalan di belakang mereka.
"Non, Adelia mungkin masih di kamar," jawab pelayan itu. "Apa perlu saya panggilkan, non?"
"Gak usah, biarkan saja. Nanti juga pasti dia keluar kalau tahu kita datang,"
Tak lama suara langkah kaki terdengar menuruni anak tangga. Dan duduk di depan mereka. "Ada apa, kak?" tanya Devian.
"Di mana Adelina?" tanya Salsa yang masih sangat penasaran.
Wajah Devian tidak suka, di saat mendengar nama itu.
"Aku, gak tahu!" jawab Devian datar.
"Apa kamu marah dengannya?" tanya Salsa.
"Sudah jangan Bahas itu. yang paling penting sekarang. Kamu, Salsa!" saut Dvid membuat ke dua mata Selsa menatap ke arahnya.
"Kenapa harus aku?" tanya Salsa bingung.
"Sebenarnya ada apa?" potong Devian.
Devian hanya diam, dia memberikan semua foto pada Devid.
Deb8an mebgerutkan keningnya, menatap setiap detail maksud kakaknya memberikan foto.
"Laki-laki ini siapa?" tanya Devian, menatap ke arah Devid.
"Felix, aku mau kamu cari tahu semuanya."
"Cari tahu tentang dia?" tanya Devian memastikan.
"Kenapa kamu tidak tanya dengan istri kamu,"
"Dia tidka tahu,"
"Bukannya di foto ini istrimu?"
Salsa menguntupkan bibirnya, sedikit kesal dengan Devian yang tidak paham-paham.
"Aku tidak tahu dia, tapi saat aku di Melbourne, dia selalu mengikutiku. Dan pernah bilang suka. Tapi entahlah, asal usul dia saja aku tidak tahu." jelas Salsa memotong pembicaraan.
Devian hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda dia paham dengan ucapan Salsa.
"Oke.. tidak masalah bagiku. Nanti aku akan menghubungimu," ucap Devian, mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menghubungi seseorang. Entah siapa yang di hubunginya, dia beranjak berdiri dan berbicara menjauh dari mereka.
"Kenapa dia pergi?" tanya Salsa, kendibgakkan kepalanya kenatap Devid tepat di sampingnya.
__ADS_1
"Sudah tahu dia lagi telfon," desah Devid kesal.
"Bukanya bisa telfon di sini. Lagian aku mau dengar,"
"Kalau dia telfon berbicara kotor, memangnya kamu amu dengar,"
Salsa terdiam, menguntupkan bibirnya, tertunduk lesu. Dengan ke dua tangan saling mencengkeram jari-jarinya.
"Enggak!" jawabnya lirih.
Devid tersenyum simpul, mengusap rambut belakang Salsa, "Sudah jangan ngambek, lebih baik sekarang kamu diam. Dan siap-siap dapat marahku lagi," goda Devid.
Salsa menoleh cepat, mengerjapkan katanya, hembusan panasnya terdengar sangat kasar.
"Jadi gitu, kamu mau marah lagi padaku?" tanya Selsa memalingkan pandangannya berlawanan arah, dengan ke dua tangan bersedekap.
Devian yang sudah selesai menelfon seseorang, ia segera kembali duduk tepat di depan Salsa dan Devid.
"Apa yang kamu lakukan, tadi?" tanya Salsa.
"Kak, sekarang aku tahu siapa dia. Felix, pemilik tunggal perusahaan Belfon Group, dan sekarang ayahnya menikah lagi dengan seseorang, nah pernikahan itu sangat rahasia. Jadi tidak ada yang tahu siapa yang menikah dengannya."
"Ibu Dea, Dan Fany?" saut seseorang membuat semua mata mengarah pada sumber suara itu cepat.
"Maksud kamu apa?" tanya Devid heran.
"Kamu tahu mantan kamu, kan. Dea? Ibunya menikah dengan Felix, dan karena Felix suka dengan Salsa. Dia memanfaatkan rencana liciknya. Dan di bantu dengan Fany."
"Jadi Dea punya sodara kandung?" tanya Devid memastikan.
"Apa yang kalian bicarakan?" saut Adelina, berjalan keluar dengan ke dua mata te5lihat sembab, dan sedikit bengkak.
"Bukan urusan kamu, lebih baik sekarang kamu masuk ke kamar dulu," saut tajam Devian. Namun, Adelina tidak menghiraukan itu, dia tetap berjalan mendekati Devian dan duduk di sampingnya.
Wajah Devian terlihat sangat tidak suka, tetapi dia tidak mau menunjukan pada saudara yang lainya.
"Kenapa kita tidak jebak dia saja, dan Devid. Kamu temui saja dia, kita cari tahu apa yang di inginkan dia."
"Dia menginginkan Devid,"
"Nah, maka dari itu. Kita bisa dengan mudah menjebak dia nantinya Mengumpulkan bukti untuk menjebloskan dia ke penjara."
Semua menatap ke arah Salsa, dan Devid yang terkejut dengan ucapan Salsa. Dia memegang kening Salsa.
"Kamu sadar, kan" tanya Devid.
"Sadarlah, kalau tidak sadar. Aku tidak mungkin ada di sini sekarang," jelas Salsa kesal.
"Benar kata, Salsa. Kamu harus telfon dia, dan ajak bicara dia berdua, dan kita memantau dari jauh. Aku yakin dia pasti akan berusaha mencelakai Salsa. Atau bahkan Felix yang akan nanti mendekati Salsa," jelas Alan, semua mata tertuju padanya, dengan wajah serius khas mereka masing-masing.
__ADS_1