
Matahari sudah menampakkan sinarnya. Dan Devid sudah tidak ada di samping Salsa. Membuat dia merasa sangat bersalah sendiri. Meski dia tidak tahu apa sebenarnya salahnya.
Gara-gara surat kemarin, Devid bahkan sekarang lebih sering diam sendiri. Wajahnya nampak sangat pucat dan bengong, seakan banyak sekali masalah yang di pendam dalam hatinya. Bahkan dia sama sekali tidak mau tersenyum di depan Salsa. Meski Salsa sering ajak dia bicara.
Dia juga tidak nyambung di ajak bicara. Dan selalu mengalihkan pembicaraannya. Membuat Salsa sekarang mulai geram dengan sikapnya. Tetapi, dia tidak bisa marah dengannya. Dia yang baru saja baikan dengan Devid, dia tidak mau jika diri saling berjauhan lagi dan saling marah-marah seperti anak kecil labil yang pacaran gak jelas. Karena baginya dia sudah rumah tangga, harus di selesaikan baik-baik.
Salsa yang masih sangat cemas dengan keadaan Devid, dia memberanikan dirinya untuk segera menghampiri Devid, yang kini duduk nyaman di sofa, dengan pandangan matanya kosong menatap ke depan.
Melihat wajah Devid yang terlihat merah, dan sangat menyeramkan. Membuat Salsa maju mundur, untuk bertanya padanya.
Huff.. Hufft...
Apa aku harus tanya pada suamiku? Tapi aku takut gimana kalau dia membentak lagi. Dan terus nanti marah lagi.
Salsa mengusap perutnya. Di saat seperti ini dia selalu mengingat kandungannya, yang semakin bulan juga pasti akan semakin besar. Dia tidak mungkin terus bertengkar dan salah paham terus dengan Devid.
Salsa mengatur napasnya dalam-dalam, melangkahkan kakinya mendekati Devid. Dan berdiri tepat di belakangnya.
Aku harus tanya! Harus! Salsa mencoba memberi semangat untuk hatinya.
"Dari siapa?" tanya Salsa yang masih penasaran dengan surat tadi. Dia bingung, kenapa Devid tidak memberikan surat itu padanya. Rasa penasaran membuat Salsa merasa ingin terus bertanya dan bertanya pada Devid. Sampai dia benar-benar dapat jawaban yang pasti.
Salsa memegang pundak Devid, "Kenapa kamu hanya diam?" tanyanya.
Devid mencoba membangunkan dirinya sendiri dari lamunannya. Mengangkat kepalanya, menatap bingung wajah Salsa.
"Maksud kamu apa?" tanya Devid datar.
__ADS_1
"Aku hanya ingin tanya padamu. Tapi kamu harus jawab jujur. Sejujur-jujurnya. Tapi kalau kamu gak mau jawab sekarang, apa yang kamu pikirkan. Tidak masalah, mungkin kamu butuh waktu,"
Devid mengerutkan alisnya, menarik tangan Salsa, duduk di pangkuanya. Salsa yang terkejut dia mengedip-ngedipkan ke dua katanya tak percaya. Menarik bibir bawahnya masuk je dalam sela-sela giginya. Menahan rasa gugup yang merasuki sekujur tubuhnya.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Devid, memegang tangan Salsa. "Kenapa kamu sangat gugup? Apa kamu takut jika aku marah denganmu lagi?"
Salsa menelan ludahnya dalam-dalam. sembari menganggukkan kepalanya pelan. Mulutnya terbungkam rapat-rapat. Menatap wajah Devid sekarang seakan baru menatap dia pertama kali. Getaran rasa itu perlahan semakin meluas menutupi hatinya, mengukirkan sebuah kata cinta yang kini melekat di hatinya.
"Jangan gugup, aku akan mencoba memperbaiki hubungan kita. Dan mencoba untuk tidak pernah marah lagi denganmu," gumam Devid, mengusap lembut rambut Salsa, menyilakan helaian tipis rambut di pelipisnya ke belakang telinganya.
Salsa menghela napasnya. "Apa kamu tetap mencoba menyembunyikan sesuatu itu dariku?" tanya Salsa.
"Sesuatu apa?" tanya Devid. "Tidak ada yang aku sembunyikan sama sekali," tegas Devid, mencoba untuk tetap tersenyum di depan istrinya untuk menghilangkan rasa curiga salsa padanya.
"Aku tahu, kamu, sayang. Kamu seperti apa aku sudah tahu. Meski belum bertahun-tahun kenal kamu. Tetapi aku yakin jika kamu menyembunyikan sesuatu," Salsa beranjak berdiri, menatap Devid yang masih nampak sangat gundah di buatnya. Di alin sisi dia tidak bicara cerita padanya. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa lagi banyak bicara atau apapun juga.
Di setiap rumah tangga, harusnya kita saling berbicara jika ada masalah. Dan lebih baik kita selesaikan masalah itu bersama. Kamu suamiku, dan aku istrimu. Jadi beban berat itu jangan kamu tanggung sendiri. lupakan semua cerita dan masalah kamu pada istrimu. Dan aku akan coba mencari jalan keluarnya bersama." saran Salsa sok bijak. Dan membuat Devid mengangkat kepalanya.
Mencoba menahan emosi yang hampir saja keluar. Tetapi dia mengurungkan niatnya. Hanya karena tidak mau membentak Salsa lagi. karena bukan hanya Salsa, yang nantinya merasa di bentak, tetapi anak dalam kandungannya pasti akan merasakan hal yang sama seperti yang di alami ibunya saat ini.
Devid berdesis lirih. "Baiklah!" gumamnya. "Sekarang kamu ikut aku, aku juga ingin bertanya padamu?" Devid meraih tangan Salsa. Menarik tangannya, berjalan menuju ke sebuah gudang tempat penyimpanan barang. Dia dia mendorong pelan tubuh Salsa agar duduk di kursi. Dan dia mengambil ponsel dan beberapa foto yang dia terima kemarin.
"Lihatlah ini," ucap Devid, meletakkan semua barang yang bisa di jadikan bukti itu di atas meja, yang mungkin sudah terlihat sangat kotor. Banyak debu tebal menutupi cat warna meja itu.
Salsa mengerutkan keningnya, memutar ke dua bola matanya ke kanan dan kr kiri.
"Apa ini?" tanya Salsa, meraih foto dirinya yang bersama dengan Felix di berbagai keadaan dulu saat di Melbourne.
__ADS_1
Apa-apaan ini.. Kenapa? Kenapa semua masih ada di sini? Siapa yang melakukan ini, dia diam-diam mengambil gambarku.
"Tapi aku tidak perduli lagi dengan foto itu. Asal kamu jelaskan. Apa hubungan kamu dengan dia?" tanya Devid yang mulai menunjukan wajah seriusnya.
Salsa menggelengkan kepalanya, entah sejak kapan air mata nya sudah membasahi pipinya. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Sayang! Aku bisa jelaskan, aku bisa jelaskan semuanya. Di foto ini tidak seperti yang kamu bayangkan," gerutu Salsa, meraih tangan Devid, memeluknya sangat erat.
"Aku hanya minta penjelasan. Aku tidak menuduh kamu bersalah." jelas Devid.
Salsa memejamkan matanya, menahan air mata yang tidak bisa berhenti keluar dari matanya. "Baiklah!" ucap Salsa. "Sebenarnya aku itu pergi ke rumah sakit bersama dnegan Felix, hanya karena dia bertemu aku tidak sengaja saat aku mau cek kehamilan. Bahkan dia yang membantu aku di saat kamu tidak ada."
"Apa setelah dulu kamu mengusir ku. Agar kamu bisa dekat dengannya. Sepeti yang di foto itu, begitu sangat mesra. Bahkan lebih mesra dari pada denganku."
Salsa menarik ujung bibirnya.
"Apa yang kamu katakan, tidak ada yang paling aku sayangi kecuali kamu. Dia hanya mengantar aku ke dokter, tidak lebih." jelas Salsa, meraih fotonya, menyobeknya penuh dengan kemarahan.
"Foto itu hanyalah pembodohan. Dan sama sekali aku tidak seperti itu. Bukanya sekarang jaman modern. Apa saja bisa di buat. Kalau kamu tidak percaya kamu bisa tanya Alan. Dia yang mengikutiku sampai rumah, kan. Kalau kamu tetap gak percaya. Aku serahkan semuanya pada Tuhan." ungkap Salsa menggebu, dan Devid meraih ke dua lengan Salsa, mencoba untuk kenenangkannya, menarik ke dua lengannya hingga tubuh mereka saling menempel.
Devid memeluk erat tubuh Salsa, membelai lembut rambut dan punggungnya. "Aku percaya, lagian Alan yang aku perintahkan untuk ke sana. Karena aku tahu jika kamu tidak mungkin bisa melihatku menikah dengan orang lain." Salsa melepaskan pelukannya
"Sekarang lebih baik kita cari tahu saja. Jangan sampai salah paham lagi."
"Biar aku yang cari tahu, kamu jangan ikutan."
Tapi waktuku gak sedikit. Aku harus kembali ke Melbourne." gumam Salsa. Dan hanya di sambut dnegan sebuah senyuman tipis.
__ADS_1
"Tidak masalah," jawabnya. "Sekarang kamu mandi, nanti aku akan ajak kamu keluar." Devid beranjak berdiri, meraih tangan Salsa, mengangkatnya. Mengecup lembut punggung tangannya.