
Dua hari Salsa terbaring di ranjangnya. Dan di setiap harinya. Devid selalu merawatnya, bahkan dia yang menggantikan pakaian serta menyuapinya makan. Meski dalam hati masih merasa sangat amat kesal, tapi dia tidak tega membiarkan Salsa menderita sendiri.
Devid berjalan masuk ke dalam kamarnya, dengan membawa satu nampan berisikan beberapa macam makanan dan minuman hangat untuk istrinya. melihat Salsa yang sudah membuka matanya dan berusaha untuk duduk namun berulangkali tak bisa.
"Salsa kamu sudah bangun?" Devid yang baru saja membawakan makanan untuk Salsa, dia berjalan masuk ke kamarnya. Mendekati Salsa, yang masih terbaring lemas di ranjangnya.
Melihat Devid datang, Sasal mengeluarkan wajah sedihnya, sengaja memang ingin sekali mennggoda Devid.
"Aku mau pergi," Salsa mencoba menarik tubuhnya untuk segera duduk. Dengan segera Devid meletakkan makanan untak Salsa di atas meja, menompang tubuhnya, untuk membantu Salsa untuk duduk.
"Jangan pergi, duduk saja di sini. Lagian aku tidak masalah kamu tinggal di sini, sayang." ucap Devid, membelai lembut rambut Salsa. dari ujung kepalanya sampai ke bawah punggungnya. Dalah hati Salsa melompat-lompat kegirangan. Perjuangannya tidak sia-sia untuk membuat Devid memaafkannya. Kini perlakuan lembutnya mulai terasa lagi.
Ya, memang ini yang di inginkan wanita hamil. Butuh perhatian sangatlah ekstra agar dia selalu bahagia.
"Aku pergi saja, sepertinya kamu gak mau memaafkan aku," ucap Salsa.
"Aku mencoba melupakan semuanya Dan sekarang Alan sedang mencari tahu tentang siapa yang menjebak kamu di kamar," jelas Devid. "Sekarang kamu makan ya, jangan pergi dari sini. Aku mohon! Tetaplah tinggal bersamaku. Kita akan mencari buktinya bersama.
Devid meraih ke dua tangan Salsa, duduk jongkok, mencium lembut ke dua punggung tangannya bergantian. Selama kamu masih belum terbukti bersalah. Tolong jangan pernah tinggalkan aku. Dan meski kamu bersalah, pun. Aku juga masih ingin pertahankan hubungan kita." ucap memohon Devid.
Salsa hanya tersenyum tipis, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mengamati setiap gerakan Devid yang begitu lucu di saat dia memohon padanya.
Devid mengangkat kepalanya, sedikit mendongak ke atas. "Jangan pergi, ya! Kita bisa mulai hidip baru. Dan aku akan pergi bersama kamu ke Australia nanti"
"Sayang... sayang, entah aku mau seih atau ketawa." gerutu Salsa dalam hatinya.
Seketika wajah Devid nampak sangat khawatir dan panik. Baru pertama kali melihat wajah Devid yang nampak sangat sedih. Tetapi Salsa suka melihatnya, lagian ini juga pertama kali baginya. Dan hati menjadi moment, jika Devid pernah memohon padanya dengan wajah memelas, dan sedih. Meski pernah sih, dia marah pada Devid. Dan sampai laki-laki itu menangis.
Devid mengerjapkan matanya, seakan menahan kesedihan yang ada, membuat Salsa seketika terkekeh kecil melihatnya.
"Kamu lupa?" ucap Salsa.
Devid, menautkan ke dua lainya ke atas, bingung. "Maksud, kamu?"
"Lagian aku, tuh, mau pergi ke kamar mandi. Kenapa kamu bahas yang lalu." ucap Salsa. Membuat wajah laki-laki di depannya itu semakin bingung. Dia mengamati wajah Salsa sekilas, lalu menghela napasnya lega?.
Hampir saja jantungnya terasa mau copot dari tempatnya. Melihat Salsa pergi akan membawa penyesalan yang amat sangat dalam nantinya. Dan belum tentu juga dia akan mendapatkan pengganti Salsa yang jauh lebih perhatian darinya. Kali ini dia masih bisa bersama dengan Salsa. Jari telunjuk dan ibu jarinya mencubit manja ke dua pipi Salsa.
"Kamu ini, ya. Kalau mau ke kamar mandi, bilang! Jangan membuat aku salah paham,"
Salsa mencoba untuk berdiri. Kakinya yang masih sakit, membuatnya tak bisa berdiri tegap. Hanya hitungan detik tanpa sadar, ke dua kaki Salsa sudah melayang. Devid mengangkat tubuhnya, tanpa memberikan aba-aba padanya. Membuatnya sempat terkejut.
"Devid, turunkan aku,"
"Bukanya kamu mau ke kamar mandi?"
"Tapi turunkan aku, aku bisa ke kamar amndi sendiri."
"Enggak! Aku yang akan mrnganyarkan kamu, lagian lihatlah. Tubuh kamu kurus kering gini, seperti ikan asing, dan lihatlah wajah kamu masih sangat pucat," ucap Devid.
"Tapi, aku bisa jalan sendiri."
"Enggak,"
__ADS_1
"Aku ngambek!"
"Terserah, meskipun kamu buang air kecil atau apapun, aku akan menunggu kamu di dalam kamar mandi. Kamu saja baru berdiri dari ranjang sudah hampir jatuh, gimana kalau nanti kamu di kamar mandi, terus kamu terpeleset. Aku tidak bisa bayangin hal itu. Dan pokoknya kamu harus diam, aku antar kamu." Entah sejak kapan, Devid laki-laki yang tegas berubah menjadi seorang ibu-ibu yang cerewetnya minta ampun. Seakan dia baru saja di marahi ibunya. Dan kini Salsa seperti anak kecil manja, yang setiap mau kemanapun selalu minta gendong bapaknya.
Sedangkan Salsa memalingkan wajahnya, sembari menggerakkan mimik bibirnya mengikuti setiap ucapan Devid.
"Gimana?" tanya Devid.
"Terserah, kamu," jawabnya jutek.
"Kalau mandi, biar aku saja yang bantu kamu."
Salsa menarik sudut bibirnya tipis, sembari mencibir pelan."Bilang saja kalau mau cari kesempatan pegang-pegang," gerutu Salsa.
Devid mengerutkan keningnya, dia mendengar sekilas apa yang di katakan Salsa, meski sangat pelan. "Apa yang kamu bilang?" tanya Devid kesal. Ke dua alisnya tertaut, dengan kelopak mata tertarik ke atas, membuat yayasannya semakin menajam.
Ssa hanya tersenyum menyetingai, membuat ke dua matanya menyipit. "Hehe.. Udah, jangan marah. Kalau kamu marah, lebih jelek dari pada kambing hitam,"
"Apa katamu, kambing hitam?" geram Devid.
"Iya, apa nama itu terlalu bagus. Aku ganti saja gimana kalau..." Salsa memutar matanya mencoba mengingat nama yang baik untuknya.
"Ah.. Aku tahu..." ucap Slasa antusias. Dan Devid terus berjalan masuk ke kamar mandi, menurunkan tubuh Salsa yang lumayan ringan baginya. Mungkin bahkan baginya seperti kertas terbang mengangkatnya. Karena beberapa hari ini, berat badan gak malah naik malah turun.
"Monyet jantan," ledek Salsa, dan di baals dengan pelototan tajam oleh Devid, Dan Salsa hanya tersenyum tipis, menepuk pundaknya. Lalu pergi dengan langkah kaki menyeret.
Langkahnya terhenti di saat, sebuah tangan memegang lenganya erat. "Apa yang kamu bilang tadi?" tanya Devid.
"Kalau monyetnya kamu aku suka," jawab Salsa, sembari tersenyum sumringah.
"Oke, sekarang monyetnya mau menemani kamu mandi,"
Salsa melebarkan kelopak matanya, menelan salivanya susah payah.
"Apa?" Salsa memincingkan salah satu matanya.
"Kamu gak mau?" tanyanya.
Salsa tersenyum semeringai, "Aku bisa mandi sendiri."
"Yakin?"
"Iya, memang aku terbiasa mandi sendiri."
"Lebih enak di temeni," goda Devid, meski agak canggung, habis seharian 2 hari lalu marah dengannya.
"Gak usah! Bukanya kamu masih benci denganku, kalau memang iya masih. Aku gak masalah, asalkan kamu berusaha untuk memaafkan aku dan mencari bukti itu."
"Lebih baik kamu keluar, aku gak mau mandi. Aku mau buang air kecil." gumam Salsa.
"Udah, aku tunggu di sini." ucap Devid.
Tok.. Tok.. Tok..
__ADS_1
"Permisi tuan, ada kiriman paket."
"Bentar, bi. Aku masih di kamar mandi." teriak Devid, membuka setengah pintu kamar mandinya.
"Taruh saja paketnya di depan pintu, bi." lanjutnya.
"Baik, tuan!" bi Inem, meletakkan pekatan yang terburngkus rapat itu tepat di depan pintu kamar Devid. Dia juga tidak tahu, apa isi dari peket itu? Apakah sesuatu yang akan membuat Devid dan Salsa bahagia?
"Ada apa? Mas," tanya Salsa membuat Devid mengerutkan alisnya, dengan bibir menyungging.
"Kamu tadi panggil aku apa" tanya Devid memastikan.
"Mas," jawab Salsa tersenyum manis. Dia segera keluar dari kamar mandi. Melangkah lebih dulu meninggalkan Devid, meski kakinya hanya bisa jalan jika di tarik.
Ya, mungkin gara-gara terlalu lama berlutut. Dan hampir seharian kemarin Salsa berlutut hanya untuk meminta maaf.
"Aku suka kamu memanggilku, gitu," Devid, berlari kecil, langsung mengangkat tubuh Salsa. Dan di balas dengan tangan kiri melingkar di tengkuk Devid
"Kamu gak capek gendong aku," tanya Salsa.
"Aku gak pernah capek. Lagian kamu masih sakut," Devid membaringkan tubuh Salsa di ranjang.
"Kamu di sini saja, aku ambilkan paket. Kata Bi Inem tadi ada paket buat kita;"
Salsa mengerutkan keningnya. "Paket apa?" tanya Alasanya.
"Entah!" Devid segera membuka pintu kamarnya, pandangan matanya langsung tertuju pada paket kota yang terbungkus rapat di bawahnya. Dia segera mengambilnya, menutup pintunya kembali.
"Dari siapa?" tanya Salsa.
"Gak tahu, gak ada nama pengirimnya." Devid membolak balikkan kardus itu, dia tidak melihat siapa yang pengirimnya.
Klatak.. Klatak...
Suara dari kotak itu membuat mereka berdua curiga. Devid yang merasa curiga membuka paksa semua penutup di kardus itu. Seketika wajahnya mulai memerah.
"Apa, mas?" tanya Salsa menatap ke arah Devid yang bengong menatap isi di dalamnya.
"Bentar!" Devid menyipitkan matanya melihat sebuah ponsel, dan beberapa foto. Lalu tepat di atasnya ada sebuah surat bertinta hitam. Devid mengambilnya, mulai membaca perlahan dalam hatinya.
"Aku akan membuat kamu jatuh dalam pelukanku, jangan harap kamu bisa pergi dariku. Aku akan melakukan apapun, agar kamu mau bertekuk lutut padaku. dan mau menikah denganku, tau semua ini akan menjadi hal yang paling menyenangkan. Tinggalkan istri kamu, dan menikahlah denganku. Jagalah istri kamu, jika kamu tidak ingin dia terluka. Aku akan beri tahu siapa aki. Di saat kamu membuka ponsel itu. Jangan kasih tahu istri kamu. Jika dia tidak mau terluka." isi pesan itu membuat Devis menguap.
Devid menggeram kesal, hembusan napas beratnya semakin kasar, ia mencengkeram erat kertas itu, mengepalknya dengan penuh kemarahan.
"Siapa kamu sebenarnya," gumam Devid lirih, menahan amarahnya yang seakan ingin sekali memuncak.
"Siapa, sayang?"
"Gak tahu," jawab datar Devid. Berjalan mendekati Salsa.
"Memangnya tadi isinya apa?" tanya Salsa yang masih sangat penasaran.
"Gak begitu penting." jawab Devid, membuang jauh kertas itu keluar dari lantai dua kamarnya. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan agar tak terlalu curiga dengan isi surat itu.
__ADS_1