Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Bermesraan


__ADS_3

Devid yang menikmati suasana makan malam bersama dengan Salsa. Berbeda dengan Alana dan Lia, yang hanya diam di rumah, menikmati masa romantis mereka di rumah.


Pasangan satu ini berbeda dengan ke dua kakaknya. Hubungan mereka di setujui oleh orang tua mereka. Karena memang Lia anak orang kaya, dan dia adalah anak tunggal, yang bakalan mewarisi warisan dari orang tuanya. Berbeda dengan Devid dan Devian yang memang tidak pernah dapat restu dari ke dua orang tuanya.


Alan dan Lia duduk di lantai, main game bersama.


"Sekarang aku mau kamu main dengan aku?" ucap Lia.


"Main apa?" tanya Alan bingung.


"Aku mau kita main tumpukan kotak ini. Kita ambil satu persatu, siapa yang membuat tumpukan kotak ini roboh dia yang kalah,"


"Cuma gitu, gampang itu!!" Tapi jika kalah gimana kalau kamu kalah cium aku!" ucap Alan menggoda.


"Baiklah, itu gak masalah bagiku," jawab Lia santainya.


Mereka mulai permainan dengan batu gunting kertas, hingga dua kali.


"Batu, gunting, kertas!!" ucap mereka kompak.


"Kamu kalah!!" ucap Lia penuh semangat.


"Oke aku mulai duluan sekarang!!" Alan mengambil salah satu kotak. Dan bergantian dengan Lia, mengambil salah satu kotak. Hingga gampir 3 kotak masin-masings udah di ambil dan giliran Alan.


Lia yang memang suka iseng, ia mencolek pinggang Alan, membaut tanganya getak. Hingga hampir saja roboh. Giliran Lia, ia mengambil salah satu kotak di atas, Alan menyenggol siku Lia, membaut semua kotak itu roboh.


"Alan!!!" teriak Lia kesal.


"Aku gak mau kamu curang!!"


"Bukanya kamu yang mulai duluan, jadi kita imbang sekarang."


"Gak mau, kamu curang! Curang! Curang!" ucap Lia tak mau kalah.


Alan memegang tangan Lia, mendekatkan wajahnya, menbuat jantung mereka berdegup sangat kencang. Dan Lia yang dari tadi banyak bicara seketika nyalinya menciut di buatnya.


"EH.. Kamu mau ngapain?" tanya Lia terpatah-patah.


Alan hanya tersenyum tipis, menarik tangan Lia, hingga ke dua tangannya, memegang dadanya, laki-laki utu memegang pinggang Lia. Langsung tanpa banyak bicara ia mengecup lembut bibir Lia.


"Alan!! Apa yang kamu lakukan?" teriak Lia, mendorong dada Alan menjauh darinya.


"Kenapa? Apa kamu gak mau?" tanya Alan kesal.

__ADS_1


"Bukanya janjinya cium pipi, kenapa kamu mencium bibirku?" umpat kesal Lia, beranjak berdiri.


"Memangnya kenapa, bukanya kita pacaran. Dan apa gak boleh aku mencium mu, tenang saja bentar lagi kita juga akan menikah, kalau kita lulus kuliah nantinya!"


Lia menghentukan langkahnya, ia menoleh ke belakang, menarik satu sudut bibirnya sinis.


"Emang kita pacaran, tapi gak berhak kamu menyentuhku lagi. Aku sudah cukup kamu pegang dulu. Sekarang aku udah gak mau lagi. Jika kamu mamu megang aku sesuka kamu, nikahi aku sekarang!!"


Alan seketika tertegun, mendengar ucapan Lia. "Kenapa hanya karena masakah sepele saja kamu amrah-marah padaku." Alan beranjak berdiri, memegang ke dua tangan Lia, mengusap punggung tangan mulus, milik kekasihnya lembut.


"Jangan marah lagi." ucap Alan, tersenyum tipis, mengusap ujung kepalanya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Alan, Lia, ayo kita makan!!" panggil mama Alan, baru pertama kalinya dia memanggil anaknya untuk makan malam.


"Iya, bentar!!" teriak Alan dari dalam kamarnya.


"Baik, kita semua tunggu kanu dan Lia makan di ruang makan, jangan lama-lama."


"Iya ma!!" ucap Alan


Mendengar labgkah kaki Mamanya sudah pergi menjauh dari kamarnya. Alan menrgang tantan Lia.


"Emm.. Gak mau!!" ucap Lia.


"Ya, udah kalau gak mau!!"


"Kamu gak maksa aku?" tanya Lia kesal.


"Kalau kamu gak mau, aku juga gak mu maksa kamu!!" ucap Alan. Melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Lia pergi.


"Tunggu!! Aku ikut," Lia memeluk punggung belakang Alan.


"Emang kamu suka meluk aku ya, di cium gak mau. Tapi kamu nempel-nempel," goda Alan.


"Udah ayo pergi, orang tua kamu sudah menunggu kita," Lia, memegang tangan Alan, melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan.


-----


Di sisi lain, Devian duduk di samping Angel, ia tak hentinya memandang wajah cantik Angel, dengan tangan menyangga dagunya.


"Syang!!" panggil Devian, meraih ponsel Angel di tangannya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lihat?" tanya Devian.


"Lihat foto kita tadi, bagus ya?" tanya Angel, meraih ponselnya, menyandarkan kepalanya di bahu Devian.


"Kita lihat vidio kita tadi. Pasti bagus, meski yidak ada tamu yang datang, tapi aku merasa sangat bahagia." gumam Angel, mencoba untuk tersenyum di hadapan Devian.


"Kalau kanu bahagia, kamu harus segera sembuh. Kamu harus lebih semangat lagi untuk sembuh. Agar kita bisa bersama masuk ke dalam rumah kita nantinya, aku akan kenalkan dengan ke dua orang tua ku. Dan oma juga ingin bertemu dengan kamu!!"


Devian mengusap lembut kepala belakang Angel, yang berbalut dengan topi menutupi kepalanya, ia menempelkan pipinya di ujung kepala Angel.


"Tapi aku malu, dan sekaligus takut!! Jika ke dua orang tua kamu gak mau bertemu denganku?"


"Aku yakin, jika mereka pasti akan meneimamu. Sekarang kamu harus fokus dengan kesembuhan kamu." ucap Devian, beranjak berdiri.


"Kamu mau kemana?"


"Sekarang waktunya kamu minum obat!!" ucap Devian, melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Sudah menunjukan pukul 8 malam.


"Tapi kita belum makan dari tadi." ucap Angel menundukkan kepalanya. Ia ingin sekali masak untuk Devian, tapi dia belum bisa memasak.


Devian menarik dua sudut bibirnya tipis. "Sudah tenang saja. Aku akan masak buat kamu, tapi aku sedikit bisa, setidaknya bisa untuk makan kita berdua. Dari pada makan di luar."


"Baik, tapi harus enak ya. Aku akan bantu kamu nantinya!!"


Devian segera membuatkan makanan untuk Angel, ia berniat untuk membuat soup.


"Kamu mau masak apa syang?" tanya Angel memeluk tubuh Devian dari bekakang, sangat mesra.


"Tuhan!! Makasih kamu telah memberikan laki-laki yang sangat baik. Dan selalu menyayangiku, dan ijinkan aku untuk sehari saja bisa merasakan kebahagiaan bersama dengannya. Sebelum aku kembali padamu. Aku ingin bahagia," gumam Angel dalam hatinya, menetesakn air matanya, menyandarkan kepalanya di punggung Devian.


"Syang!! Kamu kenapa?" tanya Devian.


Angel segera mengusap ke dua matanya, "Dia gal boleh tahu jika aku nangis. Jangan smapai dia tahu, jika umur aku hanya hitungan hari." ucap Angel dalam hatinya.


"Kamu nangis?" tanya Devian penasaran.


"Enggak, aku hanya gak nyangka bisa mendapatkan laki-laki seperti kamu!!"


"Oya, nanti malam pertama kita. Kamu mau sekarang atau tidak?" tanya Devian, membalikkan badannya, memegang ke dua bahu Angel.


"Kamu ya, soal malam pertama langsung ingat!! Tapi aku gak bisa sekarang, mungkin nanti saja kalau aku sudah mendingan, ya!!" ucap Angel beralasan.


Devian mengusap lembut pipi kanan Angel. "Baiklah, aku akan tunggu kamu sampai kamu mau syang!!.

__ADS_1


__ADS_2