
Salsa hanya tersenyum, menatap wajah Devid di sampingnya.
"Apa karena ibu aku?" tanya Salsa.
"Bukan karena itu" Devid memegang tangan slasa meletakkan di dadanya.
"Karena hati ini telah memilihmu!!"
Ke sua mata mereka saling menatap ke dua kalinya, kini tatapan mereka semakin dalam penuh makna cinta.
Devid mendekatkan wajahnya, dengan tangan kanan mengusap lembut pipi istrinya. "Kamu akan bersama dengan aku selamanya. Aku sudah janji pada hatiku!!"
Devid mencium lembut bibir Salsa, di temani dengan pandangan pantai, bunga dan langit yang seakan tersenyum memandang mereka. Angin sepoi malam, semakin mendingin, merasuk tubuh mereka berdua, membuat ke kecupan mereka semakin dalam, dan ke dua tangan membalas memeluk, masuk dalam pusaran gairah.
Salsa dan Devid segera menikmati malamnya lagi, malam yang indah berdua, untuk saling melakukan kewajiban mereka. Permainan mereka penuh dengan cinta, dan senyuman, tanpa paksaan lagi. Salsa bergantian posisi dengan Devid. Saling memeluk, mencium, mencengkeram satu sama lain, menikmati irama tubuh mereka.
Hampir satu jam, mereka yang sudah terliaht sangat cepek, akhirnya terlelap berdua, saling merengkuh masing-masing.
------
Di sisi lain, di sebuah istana mewah milik oma Devid. Mama Devid keluar dari kamarnya, mencari Devid yang dari kemarin ia tidak melihatnya.
"Malam tante!!" sapa seorang laki-laki sangat kecil, dengan senyum polosnya.
"Ih.. Siapa kamu?"
"Aki Gio tante, adik kak Salsa!!"
"Oo. adik wanita miskin itu. Kenapa kamu di sini. Ini bukan tempat penampungan orang miskin!! Siapa yang membawa kamu?" ucap mama Devid, seketika membungkam mulut Gio. Mata mama Devid semakin menajam, menatap tidak suka dengan Gio.
"Lebih baik kamu pergi dari sini!!"
"Mama!!" bentak Alan, berjalan mendekati mamanya.
"Aku yang membawa dia ke sini. Jadi mama jangan seenaknya bicara seperti itu pada anak kecil!!"
"Alan kenapa kamu sekrang berani membentak mama. Pasti semua gara-gara gadis ifu, semenjak dia masuk dalam keluarga ini. Semua jadi berani membantah aku!!"
Alan yang dulu selalu ikut dengan apa yang di katakan mamanya. Kini ia semakin berani membantah ucapan mamanya. Tapi memang benar mamanya salah, tak patut untuk mengucapkan hal itu pada anak kecil.
"Bukan seperti itu ma, emang mama sendiri yang salah." ucap tegas Alan, memegang tangan Gio, melangkah pergi, berjalan menjauhi mamanya.
"Kamu sekarang tidur dengan aku. Jangan dengarkan ucapan mama, kakak tadi ya." ucap Alan, pada Gio, dengan tangan mengusap lembut kepala Gio.
"Iya, kak!!"
__ADS_1
"Syang!! Ini Siapa?" tanya Lia, berjaan mendekati Gio.
"Ini anak aku!!" goda Alan.
Lia melebarkan matanya, seakan bola matanya mau copot di buatnya. "Apa katamu? Anak?" ucap Lia tak percaya.
Alan yersenyum, mengusap ujung kepala Lia, mengacak-acak rambutnya.
"Kamu percaya dia anak aku? Gak mungkin aku punya anak segede ini. Emangnya aku menikah sd apa!!"
Lia menguntupkan bibirnya kesal. "Nyebelin!! Aku kira benar dia anak kamu!!" ucap Lia kesal, menghentakan kakinya berkali-kali.
"Lagian siapa juga yang suruh kamu percaya. Oya, aku antar kamu pulang sudah malam," ucap Alan, segera mengambil jaketnya, di lemari.
"Emangnya aku gak boleh menginap di sini?" tanya Lia, yang memang awalnya ingin menginap.
"Gak boleh!! Kita belum menikah, jadi gak boleh tinggal bersama." ucap Alan tegas.
"Baiklah!!" Lia, segera meraih tasnya.
"Gio, kamu ikut kakak ya, kau gak mau nanti mama marah-marah dengan kamu lagi!!" Alan mendekati Gio yang duduk di ranjangnya.
"Kita sama adik Salsa ini?" tanya Lia.
Lia mengerutkan bibirnya, menatap kesal pada Alan.
Kenapa dia selalu saja membela Salsa. Ia aku tahu gadis itu baik, tapi kenapa segitunya dia membelanya. Apa mungkin dia suka dengan Salsa. Kalau memang iya, terus kenapa dia perduli dengan aku.
Alan mengibaskan tangannya di wajah Lia, yang melamun dengan pandangan kosong ke depan.
"Syang!! Kenapa kamu diam? Kamu mau aku antar atau naik taksi"
"Baiklah!! Di antar kamu saja!!" Alan tersenyum, memegang tangan Lia, dan S3mbari menggendong Gio berjalan keluar dari kamarnya.
Alan seketika menghentikan langkahnya, saat melihat wanita yang tiba-tiba masuk di rumahnya tanpa ijin.
"Shitt... Kenapa gadis itu datang lagi?" gumam Alan lirih.
"Siapa dia syang?" tanya Lia, dengan pandangan mata terus menatap gadis itu.
"Dia wanita yang ngejar-ngejar kak Devian"
"Apa, terus kenapa dia malam-malam begini. Datang ke rumah kamu, bukanya kak Devian ke korea juga!!"
"Nah, itu dia. Kamu bantu aku dulu, usir dia pergi. Aku gak mau berurusan dengannya." ucap Alan, bersembunyi di balik tembok, agar wanita itu tidak melihatnya.
__ADS_1
"Baiklah!! Aku juga gak mau wanita itu sampai ganjen padamu, juga" gumam Lia, mwnayap tajam wanita itu.
"Siapa nama dia?" lanjutnya
"Adelina, dan aku akan pergi lewat pintu belakang. Dan aku tunggu kamu di depan." ucap Alan.
"Baiklah, sekarang cepat pergi!!"
Alan segera berlari lewat pintu samping dapurnya, berlari ke depan.
Dan Kia masih menatap gerak-gerik wanita itu.
-----
"Di mana Devian, kenapa rumah ini sepi, tidak ada orang. Padahal baru jam 9 malam. Apa semuanya sudah tidur?" gumam Adelina, menatap sekeliling rumah itu. Ia memang sengaja menyuruh pelayan agar tidak memberi tahu kedatangannya pada pemilik rumah itu.
Lia menarik napasnya dalam-dalam, lalu melangkahkan kakinya mendekati wanita di depanya.
"Eh.. Kamu siapa, ngapain di sini?" tanya Lia, berjalan mendekati Adelina, dengan langkah penuh percaya.
"Emm.. Kamus siapa? Kenapa kamu di sini?"
"Harusnya aku yang tanya kamu siapa?"
"Oke, kenalin aku calon pacarnya Devian." Adelina mengulurkan tangannya ke arah Lia.
"Gak perlu kenalan, dan Devian gak ada, dia sekarang pergi ke korea." Lia menepis tangan Adelina.
"Memangnya dia pergi liburan ke kota mana?"
"Mana aku tahu! Sekarang kamu cepat pulang. Lagian kamu tengah malam ke sini. Jika kamu wanita baik-baik lebih baik kamu keluar sekarang!!"
"Dan kamu kenapa di sini?" tanya Adelina tidak mau kalah.
"Emangnya kenapa, suka-suka aku!!" Lia, melangkahkan kakinya, berjalan menyenggol bahu Adelina, membuat tubuhnya mental ke samping.
"Tu siapa? Kenapa aku baru melihatnya di sini?" gerutu Adelina, melangkahkan kakinya kesal, berjalan pergi meninggalkan rumah Devian. Pandangan matanya tertuju pada Alan dan Lia, yang baru masuk ke dalam mobil.
"Oo.. Jadi itu pacarnya. Cantik sih, tapi jutek banget. Padahal kita akan saudaraan nantinya," gumam Adelina penuh percaya diri, ia melangkahkan kakinya, masuk ke dalam mobil mewah miliknya.
"Tapi bentar!! Kenapa mereka tidak tahu di mana Devian!! Apa dia berlibur dengan pacarnya?" gumam Adelina, mencengkeram erat setir mobilnya.
"Gak bisa di biarkan, aku harus segera cari tiket ke korea sekarang juga. Aku akan susul dia, aku ingin melihatnya, dengan pacarnya." ucap Adelina, memukul setir mobilnya kesal.
Mobil Alan melaju keluar dari halaman rumahnya, dan di susul Adelina, yang langsung menuju je bandara. Ia segera mencari tiket sekarang jika ada, jika tidak ada ia ingin berangkat besok.
__ADS_1