
Satu hari telah di lewati begitu bahagia oleh Salsa dan Devid. Salsa kembali lagi ke kampus. Menjalani hari-hari bersama ke campus. Tapi ia tak punya banyak teman seperti dirinya. Dari negara yang sama. Dan terpaksa dia juga menggunakanan bahasa Inggris untuk sehari-hari dia beraktifitas.
Dan hari ini Devid sudah janji akan menjemput dia setelah pulang kuliah. Dan Salsa sudah bersiap menunggu dia di depan kampus sendiri. Tak hentinya ke dua matanya menatap jam tangan coklat yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sudah hampir sore, apa Devid lupa tak menjemputku." gumam Salsa, ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencoba memastikan lagi jika Devid belum juga menjemputnya. Tubuhnya tak berhenti menghentakkan kakinya, merasa sedikit khawatir dengan Devid yang yak kunjung datang
"Hai... Sa, aku duluan, ya." salah seroang teman Salsa menyapanya. Dengan penuh semangat Salsa membalas lembain tangan temannya.
"Iya..." jawabnya penuh senyuman.
Sepuluh menit menunggu, Devid masih tak kunjung datang juga. Dia memutuskan untuk pergi dengan segera. Berjalan dengan penuh rasa kesal keluar dari kampusnya. Hingga tak terasa sampai di sebuah halte bus yang lumayan jauh.
"Siapa dia?" gumam Salsa. Mengarah pada ujung jalan. Terlihat mobil melintas dengan kecepatan tinggi.
Chhiiittt...
Suara injakan rem itu berdenging di telinganya. Sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di depannya.
"Aaaa...." teriak Salsa memejamkan matanya.
Salsa menutup matanya seketika saat melihat mibil hitam dengan kecepatan tinggi memyentuh ujung rok putih miliknya. Jantungnya hampir saja copot dari kerangkanya. Saat ia mengira mobil itu akan menabraknya.
Salsa perlahan membuka matanya, seketila dia menghela napasnya lega, mengusap perutnya. Melihat dirinya masih utuh. Ia tak tahu lagi jika tadi ia di tabrak. Apa masih bisa hidup atau tidak. Kandunganya yang semakin membesar membuat ia juga harus lebih berhati-hati.
Pandangan mata Salsa tak berhenti mengamati kaca mobil yang perlahan terbuka. "Sa, masuklah!" suara seorang laki-laki yang sangat familiar itu membuat ukiran senyuman di bibirnya. Meski sedikit ada rasa kesal dalam hatinya.
"Sayang, kenapa kamu selalu membauat aku jantungan." pekik Salsa penuh emosi.
Hah...
Devid menghela napasnya, tersenyum tipis menatap Salsa.
"Sudah, naiklah!" pinta Devid, membukakan pintu mobionya.
Salsa memalingkan wajahnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil sport hitam milik Devid. Meski ia ragu, Devid dapat mobilnya kembali dari siapa.
"Ini mobil siapa?" tanya Salsa curiga.
"Mobilku, masak kamu lupa sekarang?" tanya Devid, yang mulai mengemudi mobilnya perlahan.
"Jangan ngebut," pinta Salsa.
"Iya, bawelku." Devid tersenyum mengusap ujung kepala Salsa.
"Jadi kamu lama ambil mobil ini?" tanya Salsa.
"Aku beli baru, tapi hampir sama mobilnya seperti mobil ku yang dulu."
"Kamu beli mobil lagi?" tanya Salsa menoleh cepat menguntupkan bibirnya, ia menajamkan pandangan matanya.
__ADS_1
Kenapa dia boros sekali, katanya hidup sederhana. Tapi kenapa uang di buat beli barang mewah ini lagi.
"Sudahlah, jangan pikirkan. Lagian uang bisa di cari. Asal aku bisa antar jamput kamu lahi. Dan sesuai janjiku. Sekarang aku jemput kamu." Devid melirik sekilas ke arah Salsa, mengusap lembut rambutnya.
Salsa menghela napasnya kesal. Menarik ujung bibirnya ke kanan dan ke kiri bergantian. "Iya.. Tapi kamu boros sekali. Apalagi kita hidup sederhana di sini." pekik Salsa mencoba mengingatkan.
"Gak usah khawatir. Aku hanya ingin kamu bahagia, apapun aku lakukan." tegas Devid. Melirik sekilas ke arah Salsa. Lalu ke dua matanya kembali fokus pada jalan di depannya.
"Kita mau kemana?" tanya Salsa.
"Nanti kamu juga akan tahu,"
"Jawab,"
"Gak!" tegas Devid, menarik ke dua alisnya, sembari tersenyum menggoda.
"Terserah!"
Mereka yang tak hentinya terus berdebat di dalam mobil tanpa sadar Devid sudah sampai di pinggiran pantai. Sesuai dengan rencana ia ingin membuat Salsa bahagia, melupakan masa lalunya dulu yang membuat mereka hampir saja pisah. Karena kandungan dia sekarang sudah mulai membesar. Dan semakin butuh perhatian ekstra, dan juga kebahagiaan agar Salsa tak terlalu stres lagi.
Devid membuka pintu mobilmya, laku melangkah turun. Tanpa banyak bilang apa-apa, pada Salsa yang masih menguntupkan bibirnya acuh tak acuh padanya. Membalikkan wajahnya berlawanan arah.
Devid hanya bisa tersenyum, lalu memutari mobilnya membukakan pintu untuk Salsa. Dengan tangan kiri di belakang punggung dan tangan kanan ke depan seakan mempersilahkan tuan putrinya itu untuk keluar.
"Gak usah aku bisa turun sendiri." pekik Salsa kesal, menepis tangan Devid dan melangkahkan kakinya turun. Membuat ia hampir saja jatuh, dengan sigap Devid memegang ke dua lengan istrinya.
"Aku pernah baca artikel tentang ibu hamil yang mudah emosi. Karena peningkatan kadar hormon progesteron dan estrogen. Hal tersebut dapat memengaruhi kondisi kimiawi pada bagian otak yang mengatur mood atau suasana hati." Jelas panjang lebar Devid sok tahu. Namun memang Devid akhir-akhir ini selalu banyak baca artikel agar dia bisa selalu mengerti kondisi istrinya saat hamil. Apalagi suasana hatinya yang kadang suka berubah.
Devid yang tahu istrinya kesulitan. Ia tersenyum berjalan dengan langkah cepat, laku duduk jongkok di depannya. Memegang kaki putih bersih bahkan tanpa bulu sekalipun. Devid melepaskan satu persatu sepatu di kakinya.
"Kenapa dia begitu baik sekarang?" gumam lirih Salsa. Devid sedikit mendengarnya, ia mengangkat kepalanya mendongak manatap Salsa. Berdiri perlahan, tanpa mengalihkan matanya dari pandangan indah wajah Salsa.
"Aku melakukan semuanya demi kamu," jawab Devid.
"Apa termasuk ini juga?" tanya Salsa.
"Ini apa?"
"Di pantai ini?" tanyanya ragu.
"Iya, aku sudah menyewa kapal untuk kita nanti."
Salsa memincingkan matanya tak percaya. "Kapal?" tanya Salsa memastikan.
"Iya, kapal. memangnya kenapa?"
"Siapa yang jadi nahkodanya?" tanya Salsa.
"Aku, akan menjadi kapten kamu. Kita akan berada di lautan tengah nanti. Merasakan ketenangan di sana."
__ADS_1
"Termasuk?"
Devid mengerutkan keningnya bingung. "Termasuk apa, maksudnya?"
Salsa melangkahkan kakinya perlahan di jembatan kayu yang akan menghubungan dirinya ke sebuah kapan sederhana di ujung jembatan kayu. Terparkir dekat dengan kapal-kapal lainya.
"Aku pernah melihat suasana seperti ini," gumam Salsa. Mencoba memutar kembali ingatannya.
"Oh, ya! Aku ingat seperti di drama Turki." ucapnya penuh semangat.
Devid tersenyum berjalan cepat mengikuti Salsa yang jauh di depannya. "Iya, aku ingin mewujudkan impian kamu." Devid meraih pundak Salsa merangkulnya dari belakang.
"Emangnya kamu tahu apa yang aku inginkan?" tanya Salsa.
"Tahu..."
"Kamu selalu melihat drama setiap bosan. Dan sampai kebawa mimpi." ucap Devid. Mengusap ujung rambut Salsa, membuat helaian tipis rambutnya itu berantakan.
Sekarang silahkan masuk!" pinta Devid, menggenggam tangan Salsa melangkahkan kakinya masuk ke dalam kapal. Dengan cepat penjaga kapal itu melepaskan talinya.
"Tuan, apa anda mau saya antar." tanya penjaga kapal itu.
"Gak usah, aku bisa bawa sendiri." tegas Devid.
"Baik, tuan!" penjaga itu segera pergi. Dan Salsa berjalan di ujung kapal, sementara Devid mengemudi kapalnya dengan kecepatan sedang sampai hampir di pertengahan laut. Ia menghentikan kapalanya dan berjalan mendekati Salsa yang kini duduk di ujung kapal.
Merasa penasaran dia menghampiri Devid, melihat bagaimana cara mengemudi kapal itu.
"Apa susah jika kita mengemudi kapal ini?" tanya Salsa, memeluk Devid dari belakang.
"Tidak, ini sangat gampang dati pada mengemudi kapal pesiar hang besar." Devid memegang tangan Salsa menariknya tepat berdiri di dalamnya.
"Apa kamu mau mencobanya?" tanya Devid, memegang tangan Salsa dari belakang, sembari memeluk tubuhnya, dan berbisik pelan di telinganya.
"Aku akan mengajarimu?" lanjutnya.
Salsa menoleh, tersenyum, mengangguk anggukan kepalanya tanda ia mau belajar dengan Devid.
Dengan senang hati Devid mencoba membantu Salsa belajar mengemudi, sembari bercanda dan tak hentinya dia menggoda Salsa. Menggelitik pinggangnya. Dan mengecup lembut pipinya dari samping. Mereka tertawa lepas, saling bercanda, tersenyum.
"Merasa sudah lelah, Salsa beranjak pergi meninggalkan Devid berjalan di ujung kapal lagi menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya.
Devid menghentikan kapalnya tepat di tengah laut saat melihat Salsa sedang gusrah dia yang semula senyum tiba-tiba terdiam tanpa suara. Seakan ada pikiran yang mengganggunya.
"Kamu kenapa?" tanya Devid berjalan mendekati Salsa.
"Apa ada pikiran yang mengganggu kamu?" lanjutnya.
Salsa tersenyum, duduk dengan ke dua kaki ia tekuk sembari merentangkan ke dua tangannya. Ia bisa merasakan angin laut sore menusuk tulangnya.
__ADS_1
"Aku merasakan indahnya laut," sambung Salsa. Menurunkan tanganya, lalu menoleh ke arah Devid yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya.
"Apa kamu suka?" tanya Devid memastikan.