
Dua hari berlalu, Salsa hanya bisa diam di dalam hotel, dia bahkan tidak makan dua hari. Di setiap harinya hanya bisa merenung terdiam di dalam. Adiknya yang tinggal bersama dia terus memaksanya untuk makan, namu hasilnya nihil, dia memilih untuk tetap diam dan mengabaikan adiknya. Sifat kakaknya yang berubah drastis dari yang ceria kini dia hanya merenung, melamun tanpa suara sedikitpun, dia juga tidak tidur sama sekali, bahkan tak hentinya terus menangis di saat mengingat kejadian itu, masa depannya yang semula ingin pergi ke Merlbourne kini hanya diam di hotel tanpa tahu arah jalan hidupnya. Tetesan air mata terus keluar dari mata bulatnya, membuat ke dua matanya bengkak dengan kantong mata hitam di bawah matanya.
Tubuhnya lemas, dengan wajah oucat tanpa ekspresi seakan seperti mayat hidup yang sedang duduk merenng.
“Kakak, sekarang makan, ya. Tadi kak Felix bawakan makanan ini untuk kita. Sekarang kita makan, ya.” Rayu Gio, mencoba menyadarkan Salsa dari lamunannya. Dan Salsa hanya membalas Gio dengan gelengan kepala.
“Salsa, aku mohon kamu makan, kasihan bayi yang ada dalam kandungan kamu.” bujuk Felix yang duduk di sofa sampingnya. Dan Salsa masih saja sama dia hanya diam menggelagkan kepalanya.
Melihat Salsa dia hanya menghela napasnya frustasi.
“Sa, setidaknya kasihan anak kamu yang tidak bursa;ah di dalam. Jangan hanya karena kamu marah anak kamu jadi korban.” Ucap Fellix, memegang lengan Salsa, membalikkan tubuhnya menatap ke arahnya. Tubuh Salsa yang seakan lemas lunglai hanya enurutu saja disaat Felix membalikkan badannya, wajah Salsa nampak sangat kosong, pikirannya melayang jauh kemana-mana.
“Kaka, Gio mohon. Makanlah. Sdah dua hari kakak tidak makan dan minum,”
“Iya, kamu makan, ya.” Ucap Felix, memegang dagu Manda, sedikit mengangkatnya ke atas.
Felix berusaha merapikan rabut Salsa yang berantakan seakan tidak terurus berantakan. Salsa yang semula diam, dia beranjak berdiri tegap, dengan wajah yang masih kosng. Seakan ada sesuatu keinginan yang menggebu dalam dirinya.
“Salsa, kamu mau makan?” tanya Felix, memegang ke dua pipinya, dengan cepat Salsa menghempas ke dua tangan Felix kasar. Dia segera berjalan dengan langkah cepat menuju ke pintu. Salsa memegang knop pintu memutarnya perlahan.
“kakak, kamu mau kemana?” Gio mencoba mencegahnya, memeluk pinggang kakanya dari belakang. Dan Salsa menari tubuh Gio menjauh darinya. Setelah pintu terbuka dia berlari keluar dari hotel, membaut Felix dan Gio seketika panik, mereka berlari mengejar Salsa. Sampai di depan lobi hotel, Gio dan Felix kehilangan jejak dia.
“Kak, kemana kak Salsa?” tanya Gio, menarik lemgan baju Felix.
“Tenanglah, kita cari kak Salsa bersama.” Ucap Felix, pandangan matanya memutar melihat sekelilingnya, mengamati secara detail. Hingga pandangan matanya tertuju pada Salsa yang sudah naik taksi. Di tengah derasnya hujan, membuat Felix dan Gio kebingungan dan panik, mereka takut jika Salsa akan melakukan hal nekat nantinya.
“kamu tunggu di sini sebentar, aku ambil mobuil dulu.” Ucap Felix, berlari menunu ke parkiran segera dia mengambil mobilnya.
__ADS_1
Tidak lama, Salsa sudah sampai di sebuah rumah mewah milik Devid, dia memang sengaja untuk pergi ke sana inta maaf lagi ke dua kalinya.Salsa turun dari taksi, menembus guyuran hujan lebar yang kini sudah membahasi tubuhnya. Salsa melangkahkan kakinya perlahan hingga kakinya berhenti tepat di depan pintu. Wanita pucat itu mengetuk pintunya berkali-kali, dan hanya pembantunya yang keluar.
“Non, Salsa, apa yang terjadi dnegan Anda?” ucap pembantu Devid yang sudha sangat akrab dengan Salsa.
“Non, masuk. Bibi akan ambilkan baju,”
“Siapa yang suruh dia masuk, jangan bawa wanita murahan itu masuk.” Ucap Devid, yang memang dari tadi duduk santai di sofa di temani seorang wanita yang kini memeluk tubuhnya, dengan memberikan mnuman padanya.
Salsa hanya diamn dia tidak terlihat marah melihat semuanya. “Bawa dia pergi,” pinta Devid pada pembantunya.
“Tapi tuan, bukanya nona sedang hamil muda. Dan dia habis hujan-hujan tuan.” Cela pambantunya sedikit menudnuk takut.
“Aku tidak perduli, kalau kamu mau pergi sana pergi dengannya,”
“Tapi...” Bi Inem menatap ke belakang dia tidak tega melihat Salsa dengan wajah lusuh kedinginan.
“Devid, aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin berbicara denganmu. Sekali saja biarkan aku bicara denganmu,”
“Tutup pintunya,” pinta Devid meninggikan suaranya.
Bi Inem mentap ke arah Salsa, yang berdiri di luar memilih untuk duduk dengan tumpuan ke dua lutut kakinya.
“Tersah apa yang kamu lakukan, asal kamu bisa puas dan mau memaafkan aku.” Air mata tidak tertahankan lagi, terus menetes membasahi ke dua pipinya di tengah guyuran hujan yang semakin lebat.
Perlahan bi Inem menutup pintunya, menuruti apa yang di katakan Devid. Dia tidak bisa menolak apa yang di perintahkannya. Dari pada harus di pecat.
“Devid, aku akan terus duduk di sini, sampai kamu mau keluar melihatku. Setidaknya aku ingin bicara denganmu.” Teriak Salsa menggema sampai ke telinga Devid, membaut laki-laki itu merasa sangat gusrah, dia menepis tengan wanita dalam dekapannya.
__ADS_1
“Pergi dari sini,” ucapnya mencoba merendam kemarahannya.
“Tetapi aku belum memuaskan mu,”
Devid menghela napas beratnya, “Pergi dari sini, dasar wanita murahan.” Bentak Devid meninggikan suaranya. Membuat wanita itu seketika menggeram kesal.
“Aku memang wanita murahan, tapi lebih berarti dari [pada laki-laki rendahan seperti kamu. Gak punya hati, dan kejam. Jika kamu ingin mendapatkan cinta tulus hargailah cinta yang ada di depan mata kamu. Lihatlah dia, istri kamu yang begitu malangnya. Di saat dia hamil bahkan kamu tidak peduli, apa kamu tega membunuh anak kandung kamu sendiri. Dasar laki-laki tidak punya hati,” tegas wanita itu menggebu, kemudian meraih tas di sofa dan beranjak pergi dari hadapan Devid, yang kini hanya duduk diam dengan pikiran entah melayang kemana.
“Tuan, apa Anda tidak kasihan dengan anak Anda?” tanya pembantunya takut.
“Pergi!!” pinta Devid, menajamkan pandanganya, membuat pembantunya tidak bisa berbuat apa-apa. Dia melangkah pergi dengan tubuh gemetar takut, meliat begitu menyeramkannya majikannya itu di saat dia marah.
“Aku akan terus di sini, sampai kamu keluar dan mau memaafkan aku.” Teriak Salsa dengan tubuh gemetar kedinginan.
Devid masih tetap diam, seolah dia bersikokoh pada pendiriannya dan di sisi lain, hatinya merasa kasihan dengan Salsa. Tetapi, rasa sakit yang dia terima amatlah dalam membuat dia membenci Salsa.
Devid beranjak dari sofa berjalan menuju kemarnya. Dia menatap Salsa dari balik kaca kamarnya, tangannya gemetar seketika di saat dia melihat tubuh lemah Salsa.
“Kaka, apa yang kamu lakukan pada Salsa, apa kamu ingin membunuhnya dengan bayi yang ada dalam kandungannya.” Ucap Alan berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan wajah marah dan kecewanya.
“Cepat suruh dia masuk,”
“Biarkan saja dia,”
“Apa itak kamu sudah tidak waras, kak. Qpa ini benar kak Devid gak punya hati. Bahkan dia tidak menginginkan anaknya sendiri. Anak dalam kandungannya tidak berdosa, kak?” jeklas Alan, mendorong tubuh Devid hingga terbentur ke kaca.
“Asal kaka tahu, aku yang salah. Lagian aku yang tidak tahu jika di hotel tidak ada kakak. Dan semua ini juga gara-gara aku tidak cek keadaan di dalam lebih dulu. Dan Salsa benar-benar mengira jika di dalam adalah kak Devid, dia sangat senang dan menyiapkan diri berdandan cantik,” jelas Alan penuh emosi, memukul wajah Devid.
__ADS_1