
Ruangan nampak sangat gelap membuat pandangan Salsa tidak bisa terlihat sempurna. Bahkan dia tidak bisa melihat siapa yang menariknya tadi.
Di dalam ruangan yang sangat gelap bahkan tanpa penerangan sama sekali. Sosok tangan yang tiba-tiba menariknya itu kini perlahan tangan itu memegang tangannya, mendekapnya sanagt erat, helaian napas berat laki-laki itu terasa bedesis di telinganya. Membuat Salsa menggeliat geli, di saat ia merasa tubuhnya seakan di tarik ke balakang.
“Sayang, apa ini kamu?” tanya Salsa, mencoba menoleh, namun tetap saja pandangan matanya tidak bisa melihat jelas siapa laki-laki di belakangnya, bahkan sekarang sudah dalam dekapan hangat tubuhnya. Salsa mengangkat tanganya, meletakkan tanganya tepat di wajah laki-laki itu, ke dua mata Salsa terpejam merasakan sentuhan lembut laki-laki itu menjalas ke tubuhnya. Dia juga mencoba meraba wajah laki-laki di belakangnya itu. Ia sangat yakin jika itu suamunya, meski dia hanya diam tanpa suara dan hanya menunjukkan napas beratnya yang membuatnya geli.
Salsa merasakan setiap lekuk wajah tampan suaminya. “Sayang, sudahlah. Jangan bercanda, kenapa kamu main rahasia-rahasiaan segala.”kata Salsa, melepaskan tangan kekar laki-laki itu, memegang tangannya sembari memutar tubuhnya. Ke dua tanganya terangkat memegang ke dua pipinya, Salsa melayangkan sebuah kecupan hangatnya. Dan di balas oleh laki-laki itu, dia menggulum bibir Salsa, sembari memegang pinggang Salsa, menarik tubuhnya masuk ke dalam dekapan hangat tubuhnya.
“Apa kamu menginginkan sekarang?” tanya Salsa. Salsa meletakkan tangannya di dada bidang laki-laki itu. Seketika dia tertegun sejenak, merasakan ada yang berbeda dari laki-laki yang ada dalam dekapannya itu.
Jemari tangan laki-laki itu terus menajalajahi tubuh Salsa, hingga suara desahan kecil keluar dari bibir Salsa. “Sayang, apa sekarang kamu sudah tidak pernah olahraga lagi?” tanya Salsa mencoba menghilangkan rasa curiga.
Sebuah bibir mendarat lagi, tanpa menjawab uacapa Salsa. Dia menarik tubuh Salsa, menjatuhkan tubuhnya bersamaan ke atas ranjang yang tidak jauh dari tempat dia berdiri. Dengan penuh gairah laki-laki itu tidak berhenti mebgecup bibir, leher hingga perlehahan menurun ke bawah dagu. Salsa menggeliat merasakan sentuhan demi sentuhannya, jemari tanganya tidak senagat memegang lampu di laci samping ranjangnya, dia yang sudah penasan dengan suaminya. Mulai menyalakan lampunya. Di saat lampu menyala berbarengan dengan suara pintu terbuka seketika membuat ke duanya terkejut, Salsa menarik selimut menutupi tubunya yang sudah setengah terbuka.
“Sayang?” seketika tubuh sekujur tubuh Salsa gemetar di saat melihat siapa yang membuka pintu tadi. Dia menoleh cepat ke arah pria yang tanpa baju di sampingnya dengan senyum tipisnya.
“Siapa kamu?” tanya Salsa, bibirnya gemetar melihat ke arah Devid dan laki-laki di smapingnya bergantian.
“Jadi ini yang kamu lakukan? Aku gak menyangka jika kamu wanita murahan.” ucap Devid penuh rasa kekecewaan.
Salsa beranjak dari ranjangnya, mencoba membenarkan bajunya yang sudah berantakan. “Devid, aku bisa jelaskan semuanya.” Salsa mencoba meraih tangan Devid.
“Gak ada yang perlu di jelaskan lagi,” Devid menepis kasar tangan Salsa.
__ADS_1
“Hikksss.. Sayang, aku benar-benar tidak tahu jika tadi bukan kamu. Aku tadi di antarkan Alan ke sini. Dan tadi ruangan ini gelap, aku.. Aku benar gak tahu apa-apa. Aku mohon... maafkan aku!” Salsa mencoba terus memohon dan berkali-kali Devid menepis kasar tangan Salsa.
“jangan snetuh aku, aku jijik dnegan peremouan murahan seperti kamu.” Devid melihat leher dan dada salsa yang penuh dengan bercak merah bekas kecupan laki-laki yang kini hanya diam sebagai penonton di sana. “sangat menjijikan. Dan ingat setelah kamu melahirkan nanti, aku ingin kita pisah.” ucap Devid tegas, membuat air mata Salsa membanjiri seisi ruangan.
“Devid aku mohon, aku gak tahu kenapa dia ada di sini.”
“kamu gak tahu, katamu?” ucap Devid, menarik sudut bibirnya tipis. “Lihatlah semua yang ada di sana.” Devid menunjuk ke seluruh penjuru raungan itu, dan Salsa menatap ke dalam dia semakin terpukul di saat Devid ternyata memang sudah merencanakan semuanya. Dia ingin memberikannya sebuah kejutan dengan dinding di penuhi balon dan bertuliskan namanya. Dengan makan malam romatis tepat menghadap ke penjuru kota.
“Sayang, aku minta maaf!” Salsa tertunduk, perlahan tubuhnya terus memegang kaki Devid, dioa tidak berhenti memohon padanya.
“Sudah lupaka saja dia. Aku sudah bilang dulu padamu. Jika aku sangat mencitai kamu.” Saut laki-laki itu, berjalan mendekati Salsa, memegang ke dua bahu Salsa mencoba membantunya berdiri, Salsa seketika menggerakkan tubuhnya kasar sebagai penolakan.
“Jangan sentuh aku, aku tidak akan berhenti memohon padamu. Aku tidak akan pernah mau beranjak sampai kamu mau memaafkan aku.”
Devid memalingkan wajahnya, menarik napasnya dalam-dalam, sembari menahan air mata yang ingin sekali keluar. Tidak ada laki-laki yang bisa tahan di sata melihat wnaita yang di cintainya bercumbu dengan laki-laki lain.
“Sudah aku bilang padamu, jika dia itu asti bukan wanita baik-baik, sayang!” uacp Dea yang berjalan memeluk lengan Devid.
“Jangan menyentuhku,” uvap Devid menarik tanganya.
Dia merasa sangat kesal dengan Salsa, bahkan tidak perdulikan tetesan air mata penyesalan di depannya.
“Asal kamu tahu, aku belum melakukan apapun dneganya.”
__ADS_1
“Tapi dia sudah menyentuh kamu,” ucap Devid meninggikan suaranya, dengan bibir gemetar penuh dengan emosi yang menggebu.
“Aku akan suruh seseorang membawakan semua baju kamu ke sini. Dan kamu boleh tinggal di sini untuk hari ini. Dan ingat jangan kembali lagi ke rumahku,” ucap Devid, dia memalingkan pandanganya.
“Sayang, tenangkan diri kamu.” Saut Dea.
“Jangan ikut campur dengan urusan aku. Kamu dan dia sama saja murahan,” ucap devid seketika membuat Dea menelan ludahnya. Kata-kata singkat dan langsung menusuk hatinya.
“Kalian sama-sama murahan, lebih baik kalian pergi dari hidupku.” tegas Devid melangkahkan kakinya pergi.
Salsa hanya tertunduk, menyesali semuanya.
Aku yang begitu bodoh, kenapa tadi aku tidak mengenalinya. Kenapa aku begitu bodoh. Aku terlalu bodoh. Bodoh. Umpat Salsa keras, memukuli kepalanya sendiri, dan Felix laki-laki yang dulu pernah mengungkapkan cinta pada Salsa memegang tanganya, mencegahnya melakukan hal gila lagi.
“Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu menangisi laki-laki itu,” ucap Felix, duduk jongkok tepat di depan salsa. Mencoba menenangkan hati Salsa yang sangat terluka karenannya. Karena rencana busuknya yang ingin memiliki Salsa seutuhnya.
Dan Dea menatap kepergian Devid yang sudah menjauh, dia hanya mengepalkan tangannya. Sembari enatp ke bawah melihat Salsa yang masih duduk tersungkur, dia menarik bibirnya tipis seakan ada rencana licik lagi yang akan dia lakukan. Tak perdulikan Salsa yang manangistersedu, Dea menainggalkan Salsa sendiri, rencanakanya kali ini adalah mendapatkan hati Devid lagi.
“Kamu jangan ikut campur urusanku,” ucap Salsa, menepis tangan Felix.
“Aku sayang dengan kamu,”
Salsa mengangkat kepalanya, menatap tajam ke arah Felix. Dia lengsung menghujani Felix dengan pukulannya bertubi-tubi.
__ADS_1
“Semua gara-gara kamu, kenapa kamu masuk ke kamar ini? Kenapa?” ucap Salsa meninggikan suaranya satu oktaf.
Felix hanya diam menunduk, dia sebenarnya mengikuti Devid dari awal. Dan membaut rencana bertemu diam-diam dengan Salsa.