
Selesai mandi berdua, Salsa yang belum paaki baju yang sudah ia ambil dari dulu, David memanggilnya, berbaring di ranjangnya, dengan ke dua paha kaki Devid menjadi tumpuan kepalanya. David mengusap lembut rambut panjang Keyla, yang terurai panjang, dengan tangan kanan memegang buku yang dari tadi terus ia baca, tanpa tahu apa yang sebenarnya di baca.
"Syang!!! Kamu cinta gak sama aku?" tanya Salsa, menayao ke atas, melihat dagu dan bibir Devid dari bawah. Wajahnya terlihat sangat tampan di lihat dari sudut manapun, tak ada sedikitpun hak yang membuat Salsa bosan menatap wajah tampan suaminya itu.
"Bukanya aku sudah bilang padamu. Apa yang aku bilang itu kurang jelas. Atau memang kamu ingin aku mengungkapkan lagi? Dengan cara biasa atau luar biasa"
"Aku ingin bukti!!" ucap Salsa singkat, memegang pipi kiri Devid, seketika Devid menutup bukunya, meletakkan di meja kecil sampingnya.
“Apa kamu berniat untuk meninggalkanku?” tanya Salsa, membuat Devid terdiam seketika. Salsan manarik sudut bibirnya, memutar mulutnya kesal, menatap Devid yang hanya diam dengan jemari tangan memainkan rambutnya. Seakan dia masih menimang-imang aap yang di katakan Salsa, padahal dia tidak mau meninggalkannya. Tapi Devid senagaj membairkan Salsa terus menerka-nerka sendiri.
Devid memegang ke dua pipi Salsa, mendekatkan wajahnya, dengan badan sedikit menunduk, hembusan napas mereka saling berpacu sangat cepat. Pandangan mereka saking tertuju seakan ada aliran cinta menyala-menyala di antara garis kedua tatapan mata tersebut.
Kenapa dia diam? Apa pertanyaanku salah? Atahu dia hanya main-main dengan aku?
"Kamu pasti mikir, ku hanya main-main dengan kamu. Dan asal kamu tahu, aku benar-benar syang!! Aku ingin punya anak dari kamu itu, untuk kita berdua, bukan hanya keinginan Oma."
"Kenapa? Lagian bukanya kamu tidak suka dengan aku, dan kamu itu ingin pergi meninggalkanku" ucap Salsa.
"Apa yang kamu katakan, syang!! Sudah sekarang kamu pakai baju kamu dulu!!"
"Kamu yang pakaikan, ya" goda Salsa.
"Apa kamu yakin? Nanti kalau aku ingin menyentuh kamu boleh tidak?"
"Bukanya kamu sudah sentuh aku, baby!!" Salsa mencubit manja pipi Devid.
__ADS_1
"Kamu berani, ya sekarang!!" ucap Devid, memegang dada Salsa.
"Syang!! Kamu ini ya, sudah berani terus terang pegang aku!!"
"Bukanya dari kemarin aku pegang kamu!!" ucap Devid, menarik helaian handuk yang masih membalut tubuh mungilnya.
"Devid!!" Salsa meraih handuk, dan menutupi tubuhnya.
"Dan kembali lagi menyadarkan kepalanya di ke dua paha Devid.
Tok.. Tok.. Tok...
Suara ketukan pintu membuat suasana kamar Devid berubah, mereka saling memandang, lalu memandang ke arah pintu.
“Kamu saja coba lihat, siapa yang datang?” ucap Devid, Salsa mengernyitkan keningnya, dengan memincingkan salah satu tanganya.
“Apa yang kamu katakan?” tanya Salsa. “kenapa bukan kamu yang melihat siapa ang datang, lagian kalau cleaning servis atau pegawai hotel, aku gak bisa bahasa mereka. dan aku juga tidak jago bahasa Inggris.” Lanjut Salsa, mengangkat tubuhnya dengan tangan kiri menompang tubuhnya, ia mendekatkan wajahnya, mengedip-ngedipkan matanya, mencoba merayu suaminya itu.
“Kak, kamu di dalam atau tidak?” suara berat seorang laki-laki itu, membuat pembicaraan mereka buyar. Mereka saling mentap sejenak, lalu Devid beranjak berdiri, dan Salsa yang berpakaian seksi, ia segera menarik selimut tebal warna putih itu sampai bagian dadanya, dengan tubuh bersandar di kepala ranjangnya.
Devid melangkahkan kakinya, memegang knop pintu kamarnya, meutarnya perlahan, lalu membuka pintunya setengah mengintip siapa yang datang mengetuk pintu kamarnya, menganggu keromantisan mereka berdua yang baru saja berjalan beberpa menit saja.
Devid membuka pintunya lebar, saat mekihat adiknya yang sudah bernapas tegesa-gesa. “Ka--kamu bantu.. aku sekarang” ucap Devian terpatah-patah, suaranya tersendak napasnya yang seakan di ujung tanduk.
“Tenangkan dulu, apa yang kamu katakna? Bantu apa? Memangnya ada apa?” tanya Devid, menepuk pundak Devian.
__ADS_1
Devian tak bisa mengucapkan kata-kata lagi, ia menarik tangan Devid ikkut dneganya. “Kita mau kemana?” tanya Devian.
“Angel... Angel!!” Rasa cemas, sedih dan khawatir menjadi satu bercampur aduk dengan napas yang masih tersenggal-senggal. Tubuhnya masih gemetar, ia takut terjadi apa-apa dengan Angel, Devian meminta tolong kakanya uantuk segera menghubungi dokter temannya yang bekerja di Korea.
Devian membuka pintu kamarnya, melepaskan tanga Devid, dan segera berlari membopong Angel yang sufah tidak sadarkan diri. “Sekarang kamu hubungi dokter teman kamu itu. Aku akan bawa dia ke luar untuk mencari taksi.
Devid terliaht shok, dia mulai panik, melihat Angel yang sudha berlumuran darah, tak sadarkan diri. “Baiklah!! Kamu cepat turun duluan, aku akan segera telefon teman aku.” Gumam Devid yang ikut oanik, meski dulu dia tidak terlalu akrab dengan adik-adiknya, tapi di sisi lain dia juga tidak bisa membiarkan adiknya terluka apalagi ini terkuka karena wanita yang ia cintai.
“Angel, kamu tahan ya, akunakan bawa kamu ke rumah sakit. Aku harap kamubisa secepatnya sebuh. Agar kita bisa bersama lagi seperti kemarin, kita bahagia, punya anak dan hidupo bahagia bersama.” Ucap Devian ,meteskan air matanya, hingga tetesan air mata cinta itu menetes tepat di pipi kanan Angel.
Angel sudah tak sadarkan diri, dan Devian membaringkan tubuh Angel di jok belakang taksi yang sudah ia pesan dari tadi.
Dan Devid berlari mengejar Debian yang sudha masuk ke dalam taksi, ia duduk di kursi depan memgantarkan adiknyaitu bertemu dengan tamnanya. Yang sudah ahli dalam penyakit dalam seperti yang di derita Angel.
“Aku berharap dia akan segera sembuh,” ucap Devid, melirik ke belakang, ia menatap ponselnya yang dari tadi terus bergetar, salsa terus menghubunginya tanpa hentinya.
“Kenapa kamu tidak angkat telefon dari, Salsa?” tanya Devian, dengan ke dua tangan menunpu kepala Angel.
Sampai di rumah sakit Devian berlari membawa Angel seger masuk ke dalam ruang ugd. Dengan terpaksa ia harus menunggunya di luar, Kali ini dokter teman David yang harus membantunya. Dan dia juga mau merawatnya khusus, tapi dia masih memeriksa secara detail dulu penyakitnya, apa sudah stadium akhir atau hanya awal, karena Devian juga tidak tahu, bahkan Angel juga tidak mau jika suaminya itu tahu.
Suasana di luar nampak sangat mencengkam, Devian terus mondar-mandir rasa cemas dan khaeatir tentng keadsn istrinya itu, membuatnya tak bisa diam daja, pandangan matanya bahkan sekilas melirik ke arah di mana Angel di periksa.
Sedangkan Devid, dia hanya diam, selesai mengirimkan pesan pada Salsa, jika dia sedang di rumah sakit mengantar Devian.
__ADS_1