
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Devian belum juga kembali. Adelina yang merasa sangat khawatir, dia berjalan mondar-mandir, dengan wajah cemas dan khawatir jadi satu. Ingin rasanya marah padanya, meluapkan semua emosi untuknya. Tetapi ia tidak bisa, rasa sayang yang begitu besar membuat ia seakan lupa siapa Devian sebenarnya, siapa cintanya sebenarnya. Dia tidak perduli dengan lingkungan sekitar yang terus mencemoohnya. Bagi dia itu hanyalah angin lewat. Adelina tetap yakin jika dia bisa meluluhkan hati Devian yang kerasa bahkan mengalahkan kerasnya batu.
Adelina berjalan menuju ke luar rumah, sesekali dia menengok jam tangan yang terus berdetak semakin cepat. Dan Devian bahkan belum menampakkan batang hidungnya sama sekali di depannya. Malam ini adalah malam pertama yang sangat di nantikan para pengantin. Tapi bagi Adelina, dia tidak mengharapkan itu semua. Karena baginya itu terlalu cepat, dan Devian pasti akan menolaknya.
"Kemana Devian? Kenapa dia belum juga pulang?" gumam Adelina, tubuhnya tidak berhenti bergerak, dengan tangan kiri bersendekap di atas perutnya. Dan tangan kanan di takuk ke atas, dia menggigiti jari-jarinya mencoba menghilangkan rasa cemas yang semakin menguasai dirinya.
"Semoga saja dia baik-baik saja. Aku sudah masak makan malam untuknya,"
Hampir beberapa jam kemudian, dia mulai lelah. Bahkan Adelina tidak.berhenti yerus menguap.lebar, tanda dia benar-benar sudha mengantuk.
"Kenapa dia belum pulang? Makanan pasti sekarang sudha dingin, dan gak bisa di makan," gerutunya menghela napas kesalnya berkali-kali.
"Semoga dia baik-baik saja," ucapnya, sembari menengok ponsel yang dari tadi di genggamannya. Seperti biasa layar ponsel masih mati, belum ada pesan bahkan panggilan darinya. Meski dia tahu dia tidak akan mungkin menghubunginya. Tapi apa salahnya jika berharap lebih.
Adelina menghela napas panjangnya. Menatap ke depan. Tepat sebuah mobil hitam pekat itu masuk ke halaman rumahnya. Seketika dia tersenyum melihat mobil itu. Adelina tahu jika itu adalah Devian, suami yang sangat dia cintai tapi sedikitpun dia tidak suka dengannya.
Adelina menatap jam tangan yang melingkar di tangannya kesekian kalinya. Dan kali ini terakhir baginya. Jarum ham sudah menunjukan pukul 1 malam. Itu artinya sudah dua jam dia berdiri di luar hanya karena menunggu suaminya.
Brakkk..
Suara bantingan pintu mobil tertutup sangat keras, seketika membuat Adelina terkejut. Dan lebih terkejut lagi saat melihat Devian pulang dengan keadaan mabuk, dia berjalan dengan tubuh sempoyongan menaiki anak tangga yang hanya 10 tangga untuk bisa masuk ke dalam rumahnya.
"Devian?" ucap lirih Adelina.
Dengan sigap Adelina berlari, memopang tubuh Devian, dia meletakkan tangannya di pundaknya, sembari tangan kanan memegang erat pinggangnya. Menuntun Devian berjalan menaiki anak tangga. Membawanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Jangan bantu aku, aku bisa masuk sendiri" ucap Devian setengah sadar, dia mendorong tubuh Adelina menjauh darinya.
"Ingat jangan menyentuhku sama sekali," pintanya, berjalan amsuk ke dalam rumahnya, meski beberapa kali dia melangkah semoat hampir terjatuh.
Adelina memejamkan matanya, menahan air mata yang seakan dari tadi mendesaknya ingin sekali keluar.
Meski aku tidak pernah di anggap, tapi bagi aku kamu tetap suamiku. Dan aku akan melakukan tugasku sebagai istri yang terbaik buat kamu.
Adelina menatap ke depan, berlari kecil mengikuti Devian yang sudah masuk ke dalam ruang tamu. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, dengan posisi tengkurap dan salah satu tangan di atas sofa.
Adelina mencoba membenarkan posisi tidur Devian. Membuat posisi terlentang. Jemari tangannya mencoba melepaskan kancing kemeja miliknya.
"Jangan sentuh aku!" ucap tegas Devian sembari mata terpejam, dia mencengkeram erat pergelangan tangan Adelina.
Adelina mencoba melepaskan tangan Devian yang mencengkeram erat pergelangan tangannya.
Apa kamu ingin kembali?" tanya pada masa laku kamu? Atau kamu ingin aku merubah semua sifat aku seperti mantan istri kamu. Jika itu bisa membuat kamu suka padaku. Aku akan lakukan. Gumam Adelina, mengusap lembut wajah Devian saat tertidur.
Cinta butuh perjuangan, begitu juga aku. Akan berjuang untuk mendapatkan sebuah kata cinta dari suamiku sendiri. Dan ini adalah hal yang paling menantang bagiku. Demi cinta aku rela melakukan segalanya.
Adelina tidak berhenti terus bergumam dalam hatinya. Jari tangannya mengusap setiap lekuk wajah tampan Devian.
"Angel, jangan pergi!"
"Aku hanya ingin kamu.. Dan hanya kamu yang aku inginkan. Aku tidak mau yang lain," ucap Devian, sembari bersendawa keras, mengeluarkan bau alkohol menyengat dari mulutnya. Seketika membuat Adelina menutup rapat hidungnya.
__ADS_1
Apa sebegitu cintanya dia dengan istrinya dulu? Kenapa dia tidak mau memandang aku sedikit saja.
Adelina hanya tersenyum tipis, dia tidak begitu memikirkan apa yang di katakan suaminya tadi. Melihat suaminya sudah terlelap kembali Adelina mengecup lembut keningnya beberapa detik. Lalu beranjak herdiri, melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Mencari baskom dan handuk kecil, untuk membasuh tubuh Dan wajah Devian.
Selesai mengambil semua yabg di butuhkan. Adelina duduk jongkok, meletakakn satu air baskom di atas meja sampingnya. Perlahan jemari tangannya membuka kancing kemeja Devian dengan cepat.
"Maaf! Bukan maksud aku lancang. Aku hanya ingin membersihkan tubuh kamu yang bau alkohol." ucap Adelina, mulai membasuh wajah Devian dengan handuk basah. Selesai itu, dia memngusap tubuhnya membersihkan setiap bau alkohol yang menyengat. Seketika tangannya berhenti saat melihat sebuah bibir wanita di lengan bajunya. Adelina mencoba memastikan, dan mencium bau sebuah lipstik wanita.
Rasa ingin marah dan kesal menggumpal dalam hatinya. Dia mencengkeram handuk basah hingga air berceceran di lantai.
"Dia mau di kecup wanita lain, tapi kenapa denganku. Menyentuhku saja tidak. Bahkan melirik saja tidak sudi. Sebenarnya apa salahku? Apa? Apa aku kurang cantik bagimu? Kurang baik?" ucap Adelina menggebu, dia memegang ke dua tangan kekar Devian, menggoyang-goyangkan tubuhnya penuh kekesalan. Hingga merasa lega, Adelina menyandarkan kepalanya, sembari menangis tersedu-sedu di atas dada bidang Devian.
Merasa sudah lega meluapkan semua kekesalan dalam hatinya. Adelina beranjak berdiri. Membawa baskom air tadi kembali. Bari satu langkah dia terpeleset karena air yang berceceran di lantai tadi. Hingga dia terjatuh tersungkur ke lantai.
Braakkkk...
"Aw---" desah Adelina, mengibaskan ke dua tangannya yang basah.
"Aw--Aw--" rintihnya, meringis kesakitan.
"Kenapa.tangan aku sakit? Aw--sakit banget." Adelina mencoba untuk berdiri kembali. Meski tangannya terasa sakit akibat menumpu tubuhnya yang terjatuh tadi.
"Aw-- Aduh.. Kakiku!!" rintih Adelina kesekian kalinya. Kakinya tidak mampu berdiri sempurna. Dia segera berjalan membawa membawa baskom yang airnya bahkan sudah tumpah kamana-mana. Dia segera membersihkan semuanya. Meski tangan dan kakinya terasa sakit. Dia mencoba untuk tetap kemana rasa sakitnya.
Selesai semuanya, Adelina kembali duduk jongkok dengan tangan yang sakit di atas perut Devian, hingga tertidur pulas di sana dnegan posisi duduk di lantai, kepala tepat di atas perut agak ke samping milik Devian.
__ADS_1