
Part Adelina.
Sudah hampir dua hari berlalu, Devian tidak menampakkan batang hidungnya di depan Adelina. Dia sama sekali belum pulang ke rumahnya. Dan Adelina berusaha untuk mencari tahu di mana Devian berada, dia bahkan menghubungi Alan, mertuanya, Devid, dan bahkan dia juga mengerahkan para pengawal ayahnya untuk membantu nya, mencari Devian. Tetapi tetap saja hasilnya nihil. Tidak ada yang bisa menemukan Devian sama sekali. Dan pada akhirnya Adelina memutuskan untuk mencoba mencari sendiri keberadaan Devian saat ini.
Adelina berjalan di tengah gelapnya malam, tidak kuasa dia masih terus meneteskan air matanya hingga tergurai membasahi pipinya.
“Apa aku salah mencintai orang yang sama sekali tidak pernah mencintaiku? Apa aku salah jika aku memaksakan kehendakku?” gerutu Adelia sedikit meninggikan suaranya.
Devian.....
Kamu di mana?
Teriakan keras Adelina menggelegar di tengah gelapnya malam.
“Devian, apa kamu tidak pernah berpikir sama sekali untuk mencintai aku. Apa tidak ada ruang sedikitpun untukku, apa kamu benar-benar sangat membenciku.” Cercah Adelina tidak pernah ada hentinya.
Langkah Adelina sempoyongan, dengan pandangan mata yang sudah mulai kabur. Seketika langkahnya terhenti di saat dia mengingat akan sesuatu hal. Dia ingat jika Devian pasti akan ke rumah Angel. Dia tahu akhir-akhir ini Devian selalu memandang foto Angel.
“Iya, dia pasti ada di sana. Aku yakin! Sangat yakin,sekarang!” Adelina mengambil ponselnya dari saku jaket, dan segera menghubungi orang kepecayaan ayahnya, yang biasa di tugaskan memang untuk mencari tahu informasi seseorang.
Setelah selesai menghubunginya, Adelina menatap ke kiri, dia tersenyum samar di saat melihat ada kursi untuk tempat dia beristirahat sekarang, sembari menunggu kabar dari orang kepercayaannya itu.
Drrrttttt
Bunyi ponselnya, membuat dia tersadar dari lamunannya sejenak. Di liriknya ponsel tersebut, yang tertera sebuah nama Belman. Adelina dengan semangat membuka isi pesan itu, seketika dia menyunggingkan bibirnya di saat melihat isi pesan itu. Dia beranjak berdiri, menatap ke kanan dan kiri. Wajahnya tidak berhenti tersenyum di saat dia tahu jika dirinya sudah berada di alamat tersebut dan hanya mencari di mana keberadaan rumah Angel.
Adelina melangkahkan kakinya, penuh dengan semangat mencari alamat rumah itu dengan teliti.
__ADS_1
Hingga sepuluh menit berlalu, Adelina yang sudah lelah berhenti tepat di sebuah rumah yang nampak sangat kecil. Dia menyipitkan matanya melihat rumah di sampingnya.
“Ini rumahnya,” Adelina mengembangkan bibirnya, mulai melangkahkan kakinya mendekati rumah itu, membuka dengan penuh keraguan. Wanita berambut panjang itu, menarik napasnya dalam-dalam. Lalu melangkahkan kakinya masuk ke teras rumah yang tidak begitu luas. Dan mulai mengetuk pintu rumahnya.
Tok.. Tok.. Tok...
“Apa ada orang di dalam?” tanya Adelina, Devian atau tidak.
Merasa tidak ada jawaban sama sekali, Adelina mencoba untuk masuk ke dalam rumah itu, ia memegang knop pintu, memutarnya perlahan. Lalu membukanya secara perlahan. Rumah yang nampak sangat gelap, bahkan pandangan matanya tak bisa menjangkau benda di depannya.
“Devian..” panggil Adelina, berjalan mengendap-endap, melangkah dengan ke dua tangan meraba tembok untuk mencari tombol lampu rumah itu. Hingga dia berhasil menayalakannya.
Deg!
Jantung Adelina seketika berhenti di saat melihat Devian sudah terkapar di lantai dengan berbagai banyak macam botol minuman di sampingnya. Napas Adelia tiba-tiba terasa sangat sesak seperti penderita asma, dia berlari cepat meraih tubuh Devian. Menepuk-nepuk pipinya panik.
Devian yang semula memejamkan matanya, perlahan dia mulai membuka matanya, mengeryitkan matanya, melihat wajah samar wanita di depannya.
“Angel,” panggil Devian, memegang lengan Adelia, dia melihat wajah cantik Adelina adalah sosok bayangan wajah Angel yang saat ini memenuhi hati dan pikirannya.
Kenapa dia memanggilku dengan nama itu? Apa dia tidak bisa melupakanku? Atau dia memang sengaja tidak mau memanggil namaku, dan menggantikan namaku dengan nama mantan istrinya itu. Desah Adelina, memejamkan matnaya, mencoba menahan rasa sakit hatinya yang amat sangat menusuk hati, bahkan menembus jantungnya.
Nama yang tidak akan pernah di lupakan oleh Devian, dan selalu ada di pikiran dan hatinya. Semnetara Adelia tahu itu, tetapi setidaknya dia tidak akan pernah berhenti untuk terus berjuang mendapatkan haknya sebagai istri yang kelak akan selalu di cintainya, menggantikan nama Angel yang masih terukir jelas di hati Devian.
Devian memegang pipi kanan Adelia, mengusapnya lembut. “Kenapa kamu diam?” tanya Devian setengah sadar.
Adelia memalingkan sekilas wajahnya, bau minuman itu seakan menyeruak masuk menganggu pemciumannya. “kamu pasti ada masalah? Atau tubuh kamu kurang sehat?” Devian beranjak duduk, wajahnya mulai terlihat sangat panik, di pegangnya ke dua pipi Adelina lembut.
__ADS_1
“Jika kamu kurang sehat, sekarrang aku akan antar kamu ke rumah sakit,” ucap Devian, menari ke dua bahu Adelina, memeluk erat tubuhnya.
Seketika air mata Adelina tumpah kesekian kalinya, entah kenapa dia merasa nyaman seperti ini. Meski harus menahan rasa sakit. Setidaknya jika dia mengingatnya dengan Angel akan mengubah hubungannya menjadi lebih baik dengannya.
Maaflkan aku, lebih baik aku diam. Aku sangat nayamn seperti ini, kamu bergitu perhatian dneganku, sayang denganku, bahkan mau melihatku tanpa rasa jijik lagi.
Adelina tersenyum paksa, memegang ke dua bahu Devian, melepaskan pelukannya. “Aku baik-baik saja,” jawab Adelina. “Kenapa kamu ada di sini? Apa kamu tidak pulang ke rumah?”
“Bukanya ini rumah kita, kenapa aku harus pulang. Aku ingin di sini denganmu. Hanya di sini berdua.”
Adelina tertunduk, manahan rasa sakit yang amat sangat menyakitkan.
Dalam satu tarikan napasnya, Adelina mulai memberanikan diri untuk bertanya. “Apa aku boleh tanya?” Adelina nampak sangat gugup, takut jika Devian akan marah denganya.
Tubuh lemas Devian mencoba untuk berdiri, wajahnya penuh dengan senyuman yang menghiasi ketampanannya, hingga dia hampir saja terjatuh, dengan sigap Adelia membantunya berdiri tegap, meletakkan tangan kirinya melingak di pundaknya.
“Apa yang ingin kamu katakan, sehingga menbuat hatimu gundah, sayang!" pungkas Devian mendekatkan wajahnya. Menempelkan eningnya di kening Adelina. Seketika membuat wanita itu semakin gugup.
“Kenapa wajah kamu sedikit berubah?” tanya Devian yang perlahan mulai curiga.
Adelia menarik napasnya dalam-dalam, memberanikan dirinya, melayangkan sebuah kecupan lembut di bibir Devian. Membuat laki-laki di depannya itu terkejut sekilas, lalu menikmati kecupan lembut dengan kecupan bergairah.
Mungkin ini kesempatan aku untuk bisa mendapatkan anak dari Devian, jika seperti ini. Aku yakin jika Devian akan mencintai aku, meski dia mengira aku adalah Angel. Aku tidak perduli.
Devian menarik pinggang Adelia, menggulum bibir kembut itu dnegan gananya, ke dua kaki mereka melangkah pelan hingga menjatuhkan dirinya di atas sofa yang tak jauh dari mereka.
Devian seakan baru mendapatkan sosok kehangatan tubuh yang sudah lama tidak dia rasakan lagi. Hingga di tengah gelapnya malam, tubuh mereka saling berpau dalam irama yang selaras. Devian meluapakan nafsunya dengan sangat lembut dan penuh perhatian dengannya.
__ADS_1
Hinggan erangan, rengkuhan, kecupan, berpacu dalam sebuah irama tubuh mereka.