
"Tubuh kamu dingin?" ucap Salsa memegang tubuh Devid yang terasa sangat dingin.
"Aku tidak akan pergi jika aku belum mendapatkan kata maaf darumu," tegasnya.
"Apa yang kamu katakan, sudah sekarang kamu masuk dulu," Salsa mencoba membantu Devid untuk berdiri tegap lagi.
"Gak usah, biarkan aku di sini,"
"Apa kamu mau mati di sini?" bentak Salsa cemas.
"Aku gak perduli," Devid menarik tubuhnya dari dekapan Salsa, dia duduk berlutut mencoba menyakinkan Salsa.
Salsa mendongakkan kepalanya, menahan ari mata yang sudah membendung kelopak matanya. "Tolong jangan seperti ini," ucap Salsa.
"Aku gak perduli. Asal aku bisa bersama dengan kamu, aku akan terus berlutut seperti ini." tegasnya lagi, dengan lutut yang tak kuasa lagi untuk berdiri, tubuhnya semakin lemas, bahkan kakinya tak bisa di gerakan sempurna.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini, kalau kamu masih keras kepala, ku akan pergi meninggalkan kamu!!" tegas Salsa mengusap air mata yang entah sejak kapan sudah menetes membasahi pipinya.
Salsa menundukkan kepalanya, menatap Devid yang masih memeluk erat je dua kakinya. "Aku akan tetap di sini, selalu di sini," tegas Devid. Salsa duduk jongkok di depan Devid, dia memeluk erat tubuhnya.
"Aku mohon jangan seperti ini!!" kata Salsa, dengan tangan mengusap punggung Devid.
Sebuah pelukan yang mampu menentramkan hari Devid, perlahan hatinya mulai luluh sifat keras kepalanya hancur di telah sebuah kelembutan sentuhan tangan Salsa yang hari-hari ini sangat dia rindukan.
"Aku gak mau kamu kenapa-napa, menurutlah padaku. Sekarang kamu masih dulu, ku akan buatkan kamu teh hangat," ucap Salsa sembari melepaskan pelukannya perlahan. Dia menyentuh wajah dingin Devid dnegan ke dua tangannya.
"Jangan seperti ini lagi, aku tidak mau jika kamu harus berlutut." ucap Salsa, mencium lembut kening Devid beberapa detik. Membuat hati Devid seketika tersenyum lebar.
"Makasih," ucapnya pelan, tubuhnya semakin lemas tengkulai tak berdaya. Dia mendekap erat tubuh Salsa.
"Apa yang ingin kamu katakan," tanyanya.
"Tetaplah di pekukanku," ucap Devid.
"Salsa Devid kenapa?" suara seorang laki-aki berlari panik meraih tubuh Devid.
"Bantu aku!! Bawa dia masuk!!" ucap Salsa tak kalah paniknya.
Devian segera membantu Salsa memapah tubuh Devid masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu seperti, Kak?" tanya Devian
"Biarkan aku di sana, sampai aku dapat maaf darinya," Devian seketika langsung melirik ke arah Salsa.
"Sudahlah jangan banyak bicara, bawa dia ke kamar aku. dan nanti kamu bantu Gio buatkan masakan untuknya dan antarkan sekolah!!"
Devian menarik ke dua kelopak matanya sebatas membuat ke dua alisnya saling tertaut.
"Apa?" ucapnya terkejut.
"Aku gak tahu di mana sekolahan dia," lanjutnya.
"Gio tahu, dan ini hari ke dua dia sekolah. Cepat pergi. Biarkan aku yang merawatnya!!" Salsa membaringkan tubuh lemas D3vid di ranjangnya.
"Kamu istirahat duku, ku buatkan teh. Dan sekalian aku buatkan air hangat untuk kamu mandi" ucap salsa terburu-buru.
"Tunggu!!" Devid memegang memegang lengan Salsa.
"Apa kamu mau memaafkan aku," ucap Devid.
Salsa terdiam, ia menarik napasnya dalam-dalam, Wanita itu hanya tersenyum menarik tangannya dan melangkahkan kakinya pergi menjauh dari Devid.
"Kak, aku berangkat dulu!!" ucap Gio.
"Kamu berangkat dengan kak Devian, ya."
"Tapi kakak gimana?" ucap Gio memegang ke dua tangan kakaknya.
"Kakak, mau merawat kak Devid, sekarang kamu berangkat dulu," Salsa mengecup kepala Gio.
"Baiklah!!"
"Sa, aku mau kamu jaga kak Devid, dia benar-benar tulus denganmu." ucapnya.
"Kau akan rawat dia," jawab Salsa dengan segera dia menyalakan kompornya untuk masak air.
"Cepat pergilah!! Nanti Gio terlambat,"
Gio dan Devian perlahan pergi dari pandangan matanya. Hampir beberapa menit menunggu, Salsa segera mengangkat satu panci air panas, untuk membuat teh dan ia masukan ke dalam baskom yang sudah berisikan air dingin.
__ADS_1
"Dan segara berlari kembali masuk ke dalam kamarnya, dia tak hentinya terus panik memikirkan keadaan Devid. "Kenapa kamu lama?" tanya Devid, mengusap wajah Salsa datang kini duduk di samping dia berbaring.
"Sekarang aku akan basuh tubuh kamu, setelah itu kamu minum teh hangat, aku juga akan buatkan makanan untuk kamu," ucap Salsa, beranjak memegang dada Devid.
Devid memegang tangan Salsa, ke dua maya mereka saling tertuju. "Apa kamu mau buka bajuku," ucap Devid. Dengan senyum tipis menggoda, meski tubuhnya terasa lemas, tapi hati dan jiwanya masih terasa kuat jika harus menggoda Salsa.
Salsa menghela napasnya kasar, dia memutar matanya malas. "Lebih baik aku pergi kalau begitu," ucap Salsa beranjak berdiri, secepat kilat Devid menarik tangan Salsa hingga jatuh di atas dadanya. "Jangan pergi dariku lagi. Aku tidak mau jauh darimu. Aku ingin selalu di dekat kamu." ucap Devid, menyentuh wajah salsa, menariknya memberikan sebuah kecupan lembut di bibirnya, perlahan bibir Devid menggulum bibir Salsa, tanpa ada penolakan darinya, dan. Tes.
Air mata tak sengaja jatuh di saat dia merasakan kecupan lembut Devid.
Aku tidak munafik, aku memang merindukan hal ini, tapi aku gak bisa seperti ini, aku gak bisa, Devid!! gumamnya dalam hatinya.
"Maaf!! Aku masih tubuh kamu dulu," Salsa melepaskan kecupan Degis, laku menyentuh kemeja Devid kembali.
"Silahkan!!" ucap Devid sembari senyum girang dalam hatinya. Dia ingin lihat apakah Salsa berani membuka kemejanya.
Apa yang harus aku lakukan, apa aku harus bisa sekarang. Tapi... Aku takut, aku gak bisa.. Gak bisa.
Salsa masih memegang kemejanya, jemari tangannya bergetar merasakan detak jantung Devid yang berdegup terasa jelas di telapak tangannya.
"Kenapa kamu diam," tanya Devid, menarik tubuh Salsa kembali dalam dekapannya.
"Sekarang aku hanya ingin kamu temani aku di sini, berbaringlah bersama denganku." bisik Devid mendekap erat tubuh Salsa, dengan jemari tangan lembut mengusap wajah cantik yang belum terpoles make up sama sekali.
"Gak bisa, kalau Devian lihat gimana?" ucap Slaaa, mencoba meronta untuk berdiri, namun Devid semakin mempererat pelukannya semakin erat.
"Jangan pergi!! Aku hanya butuh kehangatan dari tubuh kamu. Aku gak butuh air itu, aku butuh kamu, syang!!" ucap Devid mengecup lembut kening Salsa, sembari mempererat pelukannya.
Hatiku terasa berat di perlakukan lembut seperti ini. Kenapa aku merasa sangat nyaman seperti ini, sangat nyaman dan begitu nyaman.
Devid menyentuh dagu Salsa menariknya ke atas membuat ke dua nata mereka bertemu kesekian kalinya. "Kenapa kamu hanya diam? Apa ada masalah yang menganggu hati kamu? Atau kamu tidak suka aku seperti ini,"
Aku suka Devid, sangat suka, dan begitu nyaman bila aku terus berada di dekapan kamu. Jawab Salsa dalam hati.
"Kenapa.kamu menangis? Apa aku jahat padamu?" ucap Devid, mengusap air mata dengan jemari tangan kanannya bergantian.
"Maafkan aku jika aku jahat padamu. Aku tidak ingin melihat air matamu keluar lagi. Jangan lagi bersedih, u akan selaku bersama kamu apapun yang terjadi aku akan tetap di samping kamu." jelas Devid memeluk erat tubuh Salsa dengan ke dua tangannya.
"Aku gak bisa hidup tanpamu, aku ingin terus bersamamu. Jangan pergi lagi... Jangan tinggalkan aku!!" gumam Devid, gak kuasa meneteskan air matanya, baru pertama kali dalam sejarah dia menangis untuk wanita. Baru kali ini cintanya benar-benar tulus pada Salsa.
__ADS_1