
Dua hari berlalu, Devid dan Salsa hidup bisa tanpa ada ganguan lagi sekarang. Dan yang dia inginkan hanyalah kebahagiaan bersama anak kecil yang masih dalam kandungannya. Sekarang Salsa sering main bersama Devid ke rumah Adelina. Bahkan mereka sering menghabiskan waktu bersama.
Hari ini, setelah Salsa sudah mengajarinya jahit, Adelina langsung mempraktekkan di kancing kemeja Devian, yang copot.
"Hari ini. Aku harus bisa selesaikan. Setelah aku jahit. Aku akan cuci, setrika, lalu aku berikan padanya. Dan semua aku akan kerjakan dengan tangan aku sendiri. Agar lebih bermakna." gerutu Adelina penuh semangat.
"Awww---" rintih Adelina, yang sudah hampir puluhan kali tangannya terkena jarum.
Ternyata berjuang demi cinta itu sakit. Sakit mental, sakit hati, dan sakit saat terkena jarum Rengek Adelina seperti anak kecil.
Meski terus tertusuk, hingga berdarah berkali-kali. Adelina tidak mau menyerah begitu saja. Sesuai permintaan dia. Adelina menjahit sendiri kancing baju Devian. Hingga hampir 30 menit dia menjahit dua kancing baju. Bagi dia yang tidak pernah jahit, amat begitu susah. Dan penuh pengorbanan.
Adelina menghela napasnya kasar.
"Haahh... Kehidupan rumah tanggaku begitu rumit. Aku berjuang mati-matian. Tetapi tetap saja, dia tidak bisa melihatku." Gumam Adelina, membaringkan tubuhnya di ranjang. Meletakkan kemeja di tangannya. Jemari tangan kirinya terasa masih sakit akibat tusukan bekali-kali oleh jarum.
Selesai beristirahat sebentar, Adelina yang sudah memberi plaster tangannya. Segera menemui Devian. Dia tidak sabar memberi tahu dirinya.
"Alan, apa Devid dan Salsa sudah pulang?" tanya Adelina, yang baru keluar dari kamarnya.
Alan yang duduk santai di sofa ruang tamu, dia menoleh ke arah Adelina dengan pandangan mata sedikit menyipit. "Bukanya mereka sudah pulang dari tadi," jawabnya santai dan kembali lagi memegang ponselnya.
"Emm.. Apa Devian ada di dalam?" tanya ragu Adelina, menunjuk ruang kerjanya tepat di depan pandangan matanya.
"Ada apa cari aku?" saut Devian berjalan dari belakang mrnghampirinya.
Adelina menoleh perlahan, seketika dia menelan ludahnya, dia menggigit bibir bawahnya, masuk ke dalam sela-sela giginya. Dengan ke dua tangan mencengkeram ujung rok miliknya.
"Emm... Aku tadi ingin... Em.. Itu..e, iya aku ingin tawarkan kamu makanan," gumam Adelina gugup.
Wajah Devian nampak sangat dingin, dia meraih tangan Adelina, menariknya menjauh. dari Alan.
Sedangkan Alan yang melihat hal itu, hanya diam dan tersenyum tipis. Seakan dia tahu apa yang di lakukan kakaknya itu.
\=\=\=\=\=\=\=
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Devian sedikit ketus.
Adelina hanya diam menundukkan kepalanya. Jemari tanganya tak berhenti memaikan lipatan rok pendek miliknya.
"Em.. Aku.. Aku..."
"Tataplah mataku!" Devian meninggikan suaranya.
"Aku gak bisa," geram Adelina menghentakkan kakinya kesal.
"Kenapa?"
"Karena kamu terlalu menakutkan," ucap polos Adelina, ke dua matanya mengeryit menunggu jika Devian pasti akan marah dengannya.
Devian meraih dagu Adelina, menatap wajahnya yang gemetar ketakutan. Membuat hatinya tersentuh tak tega untuk marah berlebihan padanya. Dia menarik dagu Adelina sedikit mendongak.
__ADS_1
"Mau makan?" tanya Devian.
Adelina menatap tak percaya dengan apa yang di dengarnya, dia mengerjapkan matanya berkali-kali. "Apa.. Aku gak salah dengar?" tanya Adelina tak percaya.
"Enggak! Kalau kamu mau makan, sekarang masakin buat aku." Devian melepaskan dagu Adelina, kemudian berjalan menghampiri Alan lagi.
"Eh.. tapi.. kamu mau masak apa?" tanyanya, berjalan tepat di belakang Devian.
"Terserah!"
"Pedas gak? Terus kamu gak suka makanan apa? Nasi goreng atau nasi biasa pakai lauk pauk, pakai sayur? Kamu mau di potongin buah gak?" tanya Adelina tak hentinya, membuat Devian menoleh cepat. Seketika membuat wanuta itu terkejut, hampir terjatuh di buatnya, tangan Devian cepat menarik tangannya, hingga masuk dalam dekapannya.
"Terserah!"
"Jawab dulu," rengek manja Adelina tanpa rasa takut lagi.
"Jangan banyak bicara," ucap datar Devian, Mendorong tubuhnya menjauh darinya.
"Masak yang kamu bisa, jangan banyak tanya." tegasnya, kemudian duduk di sofa samping Alan.
Adelina masih memegang dadanya yang terus berdugup. Dia menghela napasnya lega.
Kenapa aku masih sangat grogi di saat dia menyentuhku.
"Mau sampai kapan berdiri di situ, cepat ke dapur. Dan buatkan juga untuk Alan," pekik Devian.
"Iya, nasi goreng. Jangan pedas, ya." saut Alan yang asik dengan game onlinenya.
"Bentar, kenapa nasi goreng Devian spesial." tanya Alan menatap aneh dengan nasi gorwong yang di berikan apda kakaknya.
"Karena dia sangat spesial di hatiku,"
"Udah, sekarang. Silahkan di makan!" ucap Adelina.
Wajah Devian tertegun sejenak, menatap nasi goreng miliknya. Tanpa suara wajahnya terlihat masih datar, mulai memakanan masakan Adelina. Pikirannya mulai berkecamuk mengagumi Adelina.
Masakannya ternyata enak juga. Sejak kapan gadis manja itu bisa masak seperti ini. gumam Devian dalam hatinya.
"Gimana? Enak gak?" tanya Adelina melipat ke dua tangannya di atas meja makan menatap setiap sendok nasi yang masuk ke mulut Devian.
"Enak banget!" saut Alan.
"Gak biasa saja," sambung datar Devian.
Alan menatap aneh ke arah Devian. "Kalau tidak enak kenapa habis?" tanya Alan menggoda.
"Aku lapar!"
"Lapar atau enak?"
"Lapar!" tegas Devian tak mau dirinya mengakui masakan Adelina yang ternyata memang enak dan pas di lidahnya.
__ADS_1
"Bilang saja enak, tapi gak mau bicara karena malu. Atau memang sudah ada binih-binih,"
Braakkk...
"Gak ada yang namanya cinta," ucap keras Devian.
Alan .engerutkan dahinya, melihat wajah kakaknya yang begitu merah malu. "Siapa yang bilang cinta?" tanya Alan. "Padahal aku gak bilang cinta, lo, kak."
"Udah lupakan!"
Adelina mendengar itu tersenyum tipis.
"Jangan terus tersenyum, cepat makan!" pinta Devian, melirik sekilas ke arah Adelina, kemudian melangkahkan kakinya pergi.
"Kak Ade, jangan di pikirkan ucapan dia. Padahal dalam hati dia bilang masakan kakak enak. Dan dia sepertinya mulai perduli denganmu," ucap Alan pada Adelina, dengan nada pelan.
"Tapi apa masakan ku, benar gak enak?"
"Coba dulu makan," pinta Alan. Dan Adelina mencoba masakannya sendiri. Dia mengerjapkan matanya terkejut. Tak di sangka masakannya memang benar enak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selesai makan, Adelina mencoba menemui Devian lagi yang kini sudah berada di ruang kerjanya. Kali ini dia berjalan mengendap-endap masuk ke dalam ruangan kerja Devian yang dari tadi sudah setengah terbuka. Langkahnya sempat terhenti di saat tahu jika Devian sedang mengenang masa laku dengan Angel di balik foto album yang masih dia simpan.
"Permisi," Adelina yang sudah membawakan satu jus orange kesukaan Devian masuk ke dalam.
"Siapa yang suruh kamu masuk?" tanya tajam Devian tanpa menatap ke arahnya.
"Tapi.. tadi pintu kamu terbuka, jadi aku pikir gak masalah ada orang masuk,"
"Aku bilang sekarang kamu keluar,"
"Tapi aku ingin mengantarkan ini.."
"Aku bilang keluar..." Devian meninggikan suaranya.
"Tapi ini..." Adelina meletakkan satu gelas jus itu di sampingnya. Seketika langsung di tepis oleh Devian.
Pyaarrrrr....
Suara gelas pecah berserakan di lantai, Adelina merebakkan matanya. Entah salahnya apa di saat dia sibuk dengan foto bersama mantan istrinya dia selaku marah-marah tak jelas lagi padanya. Seakan semua takdir adalah salah dia. Air matanya tak terbendung lagi.
Adelina dudu jongkok, mencoba membereskan kepingan kaca di lantai, wajahnya yang nampak kosong tak terasa tangannya tergores.
"Berdiri apa yang kamu lakukan?" tanya Devian meninggikan suaranya. Dia sadar tangan Adelina sudah di penuhi darah.
Adelina yang masih melamun tak sdat, DeVian segar meraih tangan Adelina menariknya berdiri. Membuat wanita itu tersadar dari lamunannya. Devian menariknya cepat menuju ke dapur. Kemudian, Devian mencuci tangan Adelina, dia terlihat panik dan khawatir, melihat darah seakan mengingatkannya pada Angel.
Darah yang terus keluar membuat laki-laki itu semakin bingung. Peenuh perhatian Devian menghisap jari telunjuk tangan kanan Adelina yang sudah di penuhi dengan darah. Lalu meludahkannya di wastafel. dia melakukan berkali-kali hingga darahnya berhenti.
Adelina hanya diam tersenyum menatap wajah Devian saat khawatir membuat dia tersenyum senang dalam hatinya.
__ADS_1
"Makasih!" ucap lirih Adelina.