Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Oma sakit?


__ADS_3

"Sayang, kamu tahu gak kenapa aku ikut dengan kamu?" tanya Devid, melirik sekilas ke arah istri cantiknya. Yang berbaring di atas sofa.


"Karena kamu gak mau kehilangan aku," jawab Salsa penuh percaya diri.


"Bukan!"


Salsa beranjak duduk, mengerucutkan bibirnya. Sembari menajamkan pandangannya lurus tepat ke mata Devid.


"Oo.. Jadi gak mau dekat denganku. Udah pergi sana!" decak kesal Salsa, memalingkan wajahnya. Ke dua tangannya bersendekap menatap kesal ke arah Salsa.


Devid terkekeh kecil. "Jangan marah dulu. Aku belum selesai bicara." ucap Devid. "Padahal aku hanya ibgin bilang jika kamu dan aku bagaikan burung tanpa sayap. Gak akan bisa pergi jauh."


Salsa tersipu malu. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus di buatnya. Dengan tangan tak terasa mulai meraih kembali bajunya dan membereskan semua ke dalam lemari.


Setelah selesai beres-beres rumah yang berantakan. Bahkan lebih berantakan dari pada rumah Salsa yang lama. Baru kali ini dia juga melihat Devid berkeringat. Bahkan dia terlihat kerja keras membantunya.


Salsa terdiam, mengamati setiap gerak gerik Devid. Sampai dia menyeka keringat menetas di keningnya dengan punggung tangannya.


Salsa mengambil sapu tangan di dalam tas miliknya. Berjalan mendekat. "Sayang.. Bentar, Deh!" ucap Salsa, mengusap keringat yang mulai membasahi wajahnya dan hampir menetes turun dari lehernya.


Devid memegang tangan Salsa. "Makasih!" ucap Devid, meraih tengkuk Salsa. Mengecup lembut kening istrinya.


"Jangan cium cium sembarangan nanti kalau Gio tahu. Kita juga yang malu"


Devid menatap ke kanan dan ke kiri, "Gak ada Gio? Dia mungkin lagi di kamarnya. Atau mungkin dia sudah tidur terlelap juga.


"Slasa, apa semua bisa terjadi nantinya."


Salsa menoleh cepat. "Apa maksudmu?" tanya Salsa bingung. Tangannya masih sibuk membereskan barang-barang yang masih berantakan.


"Kita bisa hidup sederhana seperti ini," ucap Devid, menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Pandangan amtanya tertuju pada jam dinding di depannya. Jarum jam sudah kenunjukan pukul 11 malam.


"Harusnya aku yang tanya? Apa kamu bisa hidup susah?" tanya Salsa, duduk di samping Devid.Di balas dengan pelukan di atas pundaknya. Dengan kepala menyandar di dada bidang Devid.


"Ini, sudah malam. Apa kamu gak amu tidur?" ucap Devid, jarinya sibuk memainkan rambutnya.


"Tapi barang-barang kuta belum beres,"


"Lupakan saja, besok kita lanjut lagi," Devid tersenyum, ke dua mata mereka slaing tertuju. Tangan Devid meraih tangan Salsa, memegangnya. Lalu menariknya agar semakain dekat.

__ADS_1


"Kenapa kamu gugup?" tanya Devid, memegang ke dua pipi Salsa. Hembusan napas mereka saling berpacu sangat cepat.


Salsa tersenyum tipis, mengangkat tangannya. Meletakkan di ke dua pipi Devid. "Aku gak gugup sekarang. Tapi aku melihat kamu rasanya itu.. Ingin terus tertawa.." ucap Salsa, mencubit hidung mancung Devid.


Bibir mereka semakin dekat, hampir sebuah kecupan mendarat. Namun, terhenti saat mendengar suara ponsel berbunyi. Salsa menutup bibir Devid. Mrngrmvangkan bibirnya semabri nemainkan alisnya naik turun.


"Tahan dulu!" ucap Salsa.


Devid menghela napasnya kesal. "Siapa sih, memgganggu saja."


"Nyebelin, ya?" goda Salsa tersneyum tipis.


"Iya.. Pasti dari simpanan kamu."


Salsa mengerutkan keningnya. Menutup mulut Devid dengan satu jari telunjuknya. "Jangan pernah sama sekali bicara seperti itu.."


"Kenapa?"


"Karena setiap ucapan bisa jadi doa. Jadi hati-hati dalam berbicara hal kejelekan untuk keluarga kita."


Salsa menyandarkan kepalanya lagi di dada bidang Devid, dengan tangan memegang ponselnya. ke dua matanya tak lepas menatap layar ponsel yang tertera nama 'Alan'. Devid yang tahu hanya diam, menatapnya. Telapak tangannya tak mau berhenti mengusap lembut rambut Salsa.


"Sepertinya dia mau tanya kabar kamu?" goda Devid.


"Angkat gak?" tanya Salsa mengangkat tubuhnya tegap menatap Devid. Dia tak mau menerima telfon dari siapapun tanpa seijin dia. Karena rasa cemburu Devid lebih besar darinya. Bahkan Devid yang terus salah paham dengannya. Salsa gak mau, jika kesalah pahaman itu akan terulang lagi dan lagi. Cukup satu kali dan jangan sampai terulang lagi.


"Terserah kamu, aku juga gak mau banyak melarang kamu."


"Gak! Aku gak mau jika bukan tanpa ijin darimu." tegas Salsa menggelengkan kepalanya. "Aku ingin jadi istri yang terbaik buat kamu. Menurut apa kata suami, melayani suami, dan selalu menjaga martabat kamu sebagai suami."


Salsa meletakkan kembali ponselnya di atas dan membiarkan ponsel itu terus berdering tak hentinya. Devid memegang kening Salsa. "Kamu gak sakit, kan?" tanya Devid curiga.


Salsa menepis tangan Devid. "Gak, lah! memangnya aku sakit apa?"


David mengerutkan alisnya, mengamati setiap wajah Salsa.


"Kenapa kamu tiba-tiba jadi istri yang penurut."


"Karena aku gak mau kehilangan kamu," Salsa memeluk erat tubuh Devid, menenggelamkan tubuhnya dalam dada bidangnya. Di balas dengan pelukan hangat dari tubuh Devid.

__ADS_1


"Makasih, sayang!" ucap Devid, memeluk sembari mencium lembut ujung kepala Salsa.


"Angkat saja telfonya, siapa tahu juga itu penting." ucap Devid.


"Tapi bebera kamu gak apa-apa?"


"Enggak! Gak mungkin aku cemburu pada adik aku sdniri." jelas Devid.


Salsa menatap ponsel di meja yang sudah berhenti berdorong. Ia menghela napasnya kesal. "Ahh.. Sepertinya bukan jodoh Alan akh angkat panggilan telfonya." gumam Salsa.


"Cepat telfon kembali!"


Salsa menguntupkan bibirnya. "Iya.. Deh.. Iya.." ucap Salsa kesal. Ia meraih ponselnya di atas meja. Mencoba menghubungi kembalu nomor Alan. Tak lama menunggu, Alan begitu cepatnya mengangkat panggilan telfonya.


"Salsa, kenapa kamu laam sekali angkat trlfon!" tanya Alan kesal. Ia tak hentinya terus menggeram keras.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat khawatir gitu?" tanya Salsa bingung.


"Omma... Oma, Kak..Sa..." ucap Alan tubuhnya gemetar seketika seakan suaranya terkunci rapat.


"Apa Alan... oma kenapa?" Devid mengambil alih ponsel Salsa. Dan mulai berbicara meninggikan suaranya.


"Kak.. Oma.."


"Cepetan oma kenapa?" sela cepat Devid tanpa memberi cela Alan untuk bicara.


"Oma, sakit!" gumam Alan, menghela napasnya. Seakan dia baru saja menhan napas beberapa menit sudah hampir membuatnya tak bisa kembali. Dadanya begitu sesak ingin mengucapkan terus terang.


"Kenapa kamu bilang saat aku sudah berangkat ke Melbourne?"


"Kalau aku tagu dari awal juga udah aku kasih tahu, kak!" pekik Alan. "Oma drop lagi saat tahu kamu sudah ke melbourne tanpa beri tahu dia dulu."


"Kamu antar Oma ke sini. Aku yang akan merawatnya di sini dengan Salsa.


"Bentar! Bentar! Bukanya oma baru saja menelfonku?" ucap curiga Salsa.


"Iya memang. Setelah itu oma makan. Dan entah kenapa jadi drop."


"Udahlah.. Kamh bicara gak jelas. Tadi gara-gara kita sekarang beda lagi. Aku gak mau tahu. Kamu segera pangg dokter. Setelah itu pesan pesawat antar oma ke sini." ucap Devid tenpa sela, dan langsung menutup telfonya.

__ADS_1


"Sayang... Bentar..." Salsa yang masih mau bertanya lagi, mencoba mencegah Devid tidak mematikan telfonya. Namun ia sudah terlambat.


__ADS_2