Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Marah


__ADS_3

Adelina tersenyum tipis, melihat dari samping wajah Devian yang begitu tampan di saat memejamkan matanya. Pandangan mata bulatnya seakan tidak mau lepas dari wajah yang sangat mengagumkan itu.


“Eh.. Bentar, bagaimana aku bisa belajar jahit nanti? Apa Salsa bisa membantuku? Emmm.. Semoga saja dia bisa membantu ku.” Gumam lirih Adelina, yang tidak hentinya terus tersenyum. Memeluk erat kemeja Devian.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di sisi lain Devid sudah bertemu dengan Dea, bahkan si wanita ****** itu mmebawa saudaranya Fany yang memang baru pulang dati luar negeri.


“Hai..” sapa Dea, tersenyum menatap Devid yang sudah duduk sendiri menunggunya.


“Iya,”


“Aku boleh duduk?”


“Duduklah, tidak ada yang melarang kamu untuk duduk.” Ucap Devid, mengangkat kepalanya menatap ke arah Dea.


“Sekarang kalian terus terang saja.” Devid memulai pembicaraan lebih dulu.


Dea dan Fany saling menatap bingung, dengan ke dua alis bertautan.


“Maksud kamu apa?” tanya Fany.


“Tidak usah basa-basi, sekarang aku mau kamu bilang jujur apa maksud kamu mengganggu hubungan ku dengan Salsa,” sambung Devid.


Fany dan Dea, tertegun sejenak. Tiba-tiba mereka tertawa kecil di saat tahu apa maksud Devid.


“Siapa yang menganggu kalian,” saut Dea.


“Kamu jangan bohong, aku sudha tahu semuanya.” Geram Devid.


“Aku memang tidak tahu apa-apa,” tegas Dea meninggikan suaranya.


Devid menarik sudut bibirnya tipis, “Aku akan melaporkan kalia ke polisi karena tidakan pengancaman. Atau aku akan beberkan semua kelakuan busuk kalian.” Ancam Devid, tanpa membuat mereka takut sama sekali. Fany duduk bersandar, sembari memesan dua minuman pada waiters yang kebetulan lewat di sampingnya.


“Aku tidak ada yang berniat untuk menganggu hubungan kalian. Lagian aku tidak tahu apa maksud kamu.” Ucap Dea yang kesal.


Devid mencoba mengatur emosinya, dia tidak mau jika emosinya meluap di tempat yang tidak semestinya.


“Aku tidak suka basa-basi, terus terang apa yang kalian mau?” tanya Devid, yang sudah tidak tahan lagi. Ingin sekali dia menampar mereka, namun Devid mencoba meredam amarahnya.


Tak lama minuman Fany datang, dia hanya diam mendengarkan ocehan Devid sembari menyedu minuman jus apukat dua tanganya.


“Dinginkan dulu pikiran kamu, baru bicara pada laki-laki kurang ajar ini,” ucap Fany, memberikan satu gelas minuman dingin pada Dea.


Lebih baik, kita bicara baik-baik, apa pucuk masalah kamu. Aku dan Dea baru pulang dari luar negeri. Dan aku tidak tahu apa masalah kalian. Dan sebentar lagi Dea juga akan menikah.”


Devid menautkan ke dua alisnya bingung, “Apa maksud kalian?”


“Bukanya sudah jelas, apa yang aku katakan. Kalau kurang jelas, bisa aku jelaskan lebih detail nantinya.” cerca kesal Fany.


“Sekarang, aku ingin bicara sesuatu padamu,” saut Dea.

__ADS_1


“Aku gak punya banyak waktu, lebih baik kalian bicara sekarang.”


“Oke.. jangan tanya lagi, aku tidak tahu menahu tentang hubungan kalian. Dan Fix.. Aku sudah ikhlas dengan pernikahan kalian. Jadi jangan pikir aku yang merencanakan semuanya.”


Di sisi lain, Alan yang sudah sangat geram mendengar ucapan mereka, seketika beranjak berdiri.


“Kamu mau kemana?” tanya Salsa, memegang pergelangan tangan Alan. Mecegah dia untuk mengacaukan suasana.


“Aku mau bicara dengan mereka,”


“Tapi ini tidak sesuai dengan rencana,”


“Tidak perduli...” Alan menarik tangannya dengan wajah penuh kekesalan berjalan menghampiri Dea dan Fany.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


“Jangan pikir aku wanita murahan yang sudah mendapatkan mantan, terus aku ajak balikan lagi. Oh..Tidak!” tegas Dea. Tersenyum samar menatap Devid di depannya.


“Apa kamu kenal dengan, Felix?” saut Alan, yang sudah berdiri tepat di samping Fany.


Fany mengerutkan keningnya, mengangkat kepalanya. “Felix? Siapa dia?” jawab Fany, menarik ke dua bahunya bersamaan.


“Aku tidak kenal dengannya!” sambung Dea.


Alan tertawa sinis. “Apa kalian buta, atau memang sengaja ingin berbohong.” Pekik Alan.


Braakkkk....


“Jangan asal bicara jika tidak ada bukti,” geram Fany, mendekatkan wajahnya menatap tajam ke arah Alan.


Devid bangkit dari duduknya, “Kami punya bukti,” saut Devid.


“Apa buktinya?” tanya Fany, menoleh ke arah Devid


Dea mengeluarkan surat undangan di dalam tas nya, dan memberikan usrat itu pada Devid. Dan lansgung di ambil oleh Devid.


“Apa ini benar kamu?” tanya Devid memastikan.


Dea tersenyum tipis. “Iya, memangnya kenapa? Apa kamu cemburu?” tanya Dea, dengan senyum menggodanya.


“Tidak ada kata cemburu dalam kamus mantan. Dan mantan hanyalah barang bekas, yang ingin aku sumbangkan pada orang lain," sindir Devid, membuat wanita itu meluap seketika. Darahnya perlahan berdesir, merangkak naik ke wajahnya. Dea berdengus kesal, mengepalkan ke dua tangannya.


“Kalau benar memang kamu menikah, kamu tanyakan apa yang sudah dilakukan saudara kamu ini.” Gumam Alan, sedikit meninggikan suaranya.


Dea menatap bingung ke arah Fany. Lalu kembali menatap ke arah Alan. “Maksud kamu apa?”


“Gak usah pura-pura hilang ingatan. Kamu yang kirim surat ini, dan foto-foto ini. Serta kamu juga yang membuat Felix tiba di kamar hotel Devid. Membuat Devid dan Salsa salah paham.  Kamu merencanakan semuanya, jika bukan kamu. Tanyakan pada saudara kamu ini,” Alan melirik tajam ke arah Fany.


“Jangan menuduh orang tanpa bukti,” decak kesal Fany, menerobos ucapan Alan.


“Aku ada buktinya,” sambung cepat Alan, dia mengeluarkan ponselnya dari saku. Lalu menunjukkan pada Fany.

__ADS_1


Ke dua mata Fany melotot seketika di saat dia melihat dirinya di vidio itu bersama dengan Felix. Wajah yang semula tegang, berubah tersenyum.


“Hanya ini?” tanya Fany tanpa rasa bersalah. “Di vidio itu, tidak menunjukkan aku sedang apa dengan Felix. Dia adalah sahabat lamaku, dan aku baru saja bertemu dengannya. Jangan anggap vidio itu kerja sama dengannya.” Gumam Fany terkekeh kecil.


Salsa yang tiba-tiba datang, dia mendorong kasar tubuh Fany hingga terpental ke belakang.


“Apa yang kamu inginkan. Kenapa kamu menggangguku, aku tidak kenal dnegan kamu. Dan sebaliknya kamu juga tidak kenal aku.” Ucap Salsa meninggikan suaranya, dia berbicara dengan tangan menunjuk dan melangkah mendekatinya.


“Aku tidak akan tinggal diam, camkan itu!” pekik Salsa tanpa rasa takut.


“Apa yang kamu katakan,” Salsa dengan penuh amarah, menari rambut Dea dan Fany bersamaan. Seketika Devid dan Alan menghalanginya.


“Jangan halangi aku, aku mau robek mulut orang yang tidak bertanggung jawab atas kesalahannya.” Umpat Salsa, Devid merangkul perutnya mendorongnya sedikit ke belakamg. Salsa yang masih belum bisa terima,  hingga dia menendang dengan.


"Ingat, jangan harap kalian bisa mengacaukan hidup aku. Aku tidak akan diam saja. Ingat itu!" teriak Salsa, membuat kegaduhan di cafe itu. Devid yang sudah merasa malu, dia membawa Salsa segera pergi. Sebelum semua menggertakkan karena mengacaukan suasana cafe yang damai di sana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di sisi lain, Adelina hanya diam, sesekali memandang wajah tampan Devian yang sudah tertidur di sampingnya, tak sengaja dia yang sudah pulas perlahan kepalanya menyandar di bahu kiri Adelina, membuat wanita itu terkejut. Dalam hati dia rasanya ingin berteriak merayakan kesenangan. Degup jantungnya berdetak tak beraturan. Adelina mencengkeram erat bajunya yang menempel di dadanya, merasakan detak jantungnya.


Adelina tak mau menghilangkan kesempatan langka ini, dia mendekatkan wajahnya, sedikit menunduk, jemari tangannya menyentuh wajah Devian.


Oh... Tuhan.. Biarkan dia tidur seperti ini. Aku ingin bersama dengannya. Aku ingin bisa dekat denganya. Meski di saat dia tidak sadar.


“Apa yang kamu mohon tadi?” suara serak berat itu, seketika membuat Adelina terkejut, dia menatap ke arah Devian yang masih menutup matanya.


Adelina mengeyitkan wajahnya.


Haduh... gimana nih, mati aku. Kenapa dia tiba-tiba sadar. Apa dia tahu aku menyentuhnya tadi. Terus kalau dia marah gimana? Bisa-bisa di cekik aku. Gerutu Adelina, memalingkan wajahnya.


Adelina menarik napasnya dalam-dalam, menoleh menatap wajah Devian, dengan ke dua mata yang masih terpejam.


“Apa.. Kamu... Tadi tanya?” tanya gugup Adelina, mendekatkan wajahnya, menggerakkan ke dua tangannya tepat di wajah Devian. Devid memegang lengan kanan Adelina, ke dua matanya terbuka lebar, dia melepaskan airphone miliknya. Duduk tegap menatap Adelina. Membaut ke dua mata mereka bertemu.


Adelina yang sangat gugup, dia menelan ludahnya susah payah. Mencoba menghindarinya.


“Apa yang ingin kamu lakukan tadi padaku?” tanya Devian meninggikan suaranya.


Adelina menelan ludahnya ke dua kalinya, dia bingung harus jawab bagaimana lagi. Ingin sekali jujur tetapi itu tidak mungkin. Dia takut jika laki-laki itu akan marah padanya.


“Devid, biarkan aku menjambak rambutnya sampai rontok.. Dia wanita tidak punya malu.” Ucap Salsa, membuat ke da orang di dalam mobil itu sontak menatap mereka di balik kaca.


Devid memeluk erat pinggang Salsa, mencegahnya pergi lagi, dia mendorong tubuh Salsa keluar dari cafe, dan memasukan dia ke dalam mobilnya.


“Sudah, diamlah! Jangan banyak bicara dulu.” Geram Devid.


“Tapi dia telah hapir ingin membuat aku cerai dengan kamu.” gumam Salsa, memeluk erat tubuh Devid, menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya, dengan posisi Salsa memang sudah duduk di jok belakang mobilnya.


“Benar kata Devid, kita pulang duu. Dan besoknya lagi, kita atur rencana untuk penyelidikan tanpa bertanya pada mereka.”


Salsa mengerutkan keningnya, bibir tipisnya sedikit menguntup. Devian dan Adelina menatap mereka bingung.

__ADS_1


"Sudah, sekarang kita pulang dulu." ucap Alan, yang mulai masuk ke dalam mobil. Di susul oleh Devid yang duduk di jok depan samping Alan.


__ADS_2