Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Manja


__ADS_3

Keesokan harinya. Semua berjalan seperti biasanya. Salsa kembali lagi ke rumah. Dan dia sudah memutuskan akan pergi ke Melbourbe lagi. Entah suaminya mau atau tidak bersama denganya. Jika dia tidak ikut, ya, terpaksa harus sendiri ke sana. Meski dia tahu kalau itu tidak mungkin dia kengijinkan aku pergi sendiri. Dalam keadaan hamil anak dia.


\=\=\=\=\=


Di ruangan kamar yang nampak begitu luas. Dengan kelambu yang tergurai kenutupi ranjangnya, agar tak tetlihat dari luar. Salsa berbaring di ranjangnya. Menatap wajah suaminya yang masih tertidur lelap, di sampingnya, dengan tangan tepat di atas perutnya.


Pandangan matanya mengganti setiap sudut wajahnya, melihat begitu tampan wajah Devid saat tidur membuat dia merasa sangat kagum. Salsa menyentuh hidung Devid, membaut laki-laki itu. geli, menggaruk hidungnya berkali-kali. Salsa yang melihatnya cekikikan tak tertahankan.


Devid merengkuh semakin erat tubuh Salsa. "Sayang, jangan ketawa." gumam Devid tanpa membuka matanya. Dan semakin menggerakkan kepalanya semakin mendekat di dada Salsa.


"Kamu sudah bangun?" tanya Salsa, megintip ke dua kata Devid yang masih terpejam.


Dia tidur, atau hanya oura-pura tidur? Jika pura-pura tidur. Tapi matanya kenapa gak gerak.


"Hmmm... " desah Devid, menggerakkan tubuhnya. Mengusap kepalanya di dada Salsa seperti anak kecil berlindung di dalam dekapan ibunya.


"Ternyata kamu masih tidur. Aku kira sudah bangun." gumam lirih Salsa, mengusap lembut rambut Devid. Lalu membelai wajahnya lembut.


Salsa tersenyum tipis, tangannya menyentuh hidung, lalu ke dua matanya. Dan menyentuh bibirnya yang membuat dia terpaku kagum.


"Bentar! Tapi kamu kelihatan lucu jika seperti ini. Atau hanya perasaanku saja. Jemari tangan Salsa mengusap lembut wajah Devid.


"Setiap hari saja seperti ini," gumam Devid, memrgang tangan Salsa di pipinya, mengusap oipinya manja dengan tangan lembut istrinya.


"Kamu sudah bangun?" tahya Slasa, menarik tubuhnya sedikit ke belakang.


Devid mengangkat kepalanya, tersenyum menyeringai, mencubit hidung mungil Salsa.


"Lagian dari tadi kamu gak sadar aku bicara?" tanya Devid memastikan.


Salsa berdengus kesal, berkacak pinggang, menajamkan pandangan matanya.


"Kamu ya," geram Salsa.


"Sini,"


"Apa?"


"Siniin wajah kamu,"


"Udah!"


"Lebih dekat lagi, sayang!"


Salsa mengerutkan keningnya bingung.


"Apaan, sih!"


"Udah cepetan," pinta Devid mulai kesal.


"Gak mau, kamu meragukan. Saiap tahu nantinya kamu berbuat jahat padaku."

__ADS_1


Devid mengetuk pelan dahi Salsa. "Tidak mungkin aku menyakiti wanita paling aku sayangi,"


Salsa hanya diam, dengan bibir sedikit manyun beberapa senti. Sembari mengangguk-anggukan kepalanya pelan tanda dia paham dengan apa yang di katakan Devid.


Devid yang merasa tak sabar, dia menyentuh tengkuh Salsa, menariknya sedikit ke depan, melayangkan sebuah kecupan lembut di keningnya.


"Jangan ngambek lagi, sayang!" ucap Devid, mengusap ujung kepala Salsa lembut.


Salsa menguntupkan bibirnya. "Dasar nyebelin!!" rengek Salsa.


"Udah, sana cepat mandi." pinta Devid, segrra beranjak bangun dari ranjangnya.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Salsa, beranjak dari tidurnya. Berjalan mendekati Devid.


"Aku mau tunggu kamu mandi,"


"Oo.. Aku kira kamu mau ke kamar mandi,"


Devid menoleh, menarik turunkan alisnya kenggoda. "Apa kamu berpikir jika aku ingin mandi berdua dengan kamu?" tanya Devid menggoda.


Salsa menelan ludahnya, memalingkan wajahnya malu. "Enggak. Siapa juga yang berpikir seperti itu. Jangan bicara mesum deh,"


"Tuh wajah kamu merah,"


Salsa sontak menutupi ke dua pipinya. "Memangnya terlihat merah." tanya Salsa, bibirnya sedikit manyun ke depan.


"Banget!"


Ih.. Kenapa aku jadi malu-maluin gini sih. Bener-bener nih wajah kenaoa harus merah segala.


"Ada apa?" bisik Devid, sontak menbaut slasa terjingkat dari tempatnya.


"Apa kamu malu?"


"Enggak!"


"Cium aku!"


"Apa?" Salsa semakin melebarkan matanya. Mengedip-ngedipkan berkali-kali.


Salsa menatap malu, melihat Devid sudah meberikan pipi kirinya tepat di depannya dengan ke dua mata tertutup rapat.


"Cepetan!"


Sebenarnya apa yang di minta laki-laki ini. Kenapa dia hari ini berubah kelewat jalur dari Devid yang sebelumnya. Dia terkenal galak berubah menjadi laki-laki sok ramah, gini. Gumam Salsa menggerakkan-gerakkan bibirnya.


"Ayo, sebentar saja. Setelah itu aku akan meruti apa yang kamu katakan,"


"Janji?"


"Iya, bawel!"

__ADS_1


Salsa mengecup lembut pipi kiri Devid beberapa detik.


Ini kesempatan aku untuk bilang padanya. Jika aku harus pergi dari sini. Aku tidak mau kuliah aku putus di tengah jalan.


"Sudah!" ucap Salsa, tersenyum, menautkan ke dua alisnya bersamaan.


"Makasih," Devid mebgusap pipi Salsa. membalikkan badannya dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi lebih dulu.


"Eh.. Bentar! Kamu mau kemana?" tanya Salsa, mencoba mencegah langkah Devid. Namun pintu itu sudah keburu tertutup lebih dulu.


Brak.. Brak.. Brak..


Devid, keluarlah. Aku mau mandi lebih dulu,"


"Kamu kelamaan, aku dulu yang mandi," teriak Devid dari dalam.


Dasar nyebelin! Kenapa gak dari tadi saja mandi. Terus tadi kenapa dia minta cium segala. Apa itu hanya alasan dia.


"Kamu diamlah di situ, tunggu aku. Atau kamu mau amsuk, silahkan! Aku akan bukakan pintu.


"Gak mau!" jawab tegas, sekaligus lantang Salsa.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Tok... Tok.. Tokk..


"Kak, sudah bangun belum." suara kecil seorang anak laki-laki terdengar nyaring. Membuat Salsa terkejut.


"Iya, ada apa, Gio?"


"Ada kak Felix mencari kakak, dia sekarang menunggu di luar." ucap Gio tepat di depan pintu kamarnya.


"Iya, bentar. Suruh dia tunggu. Nanti kak Devid yang akan menemuinya,"


"Baik, kak!"


Devid yang mendengar percakapan mereka. Seketiakd ia membuka pintu, mengeluarkan tanganya meraih tangan Salsa yang amsih berdiri di depan ointu kamar mandi. Menariknya masuk ke dalam. Hanya hitungan detik tubuh Salsa sudah melayang. Devid menggendongnya berjalan mendekati bathup.


"Mandi bersama," ucap Devid, menyeburkan paksa Salsa di dalam bathup.


"Sayang! Apa gak bisa apa lembut dikit," uampat kesal Slasa, memukul berkali-kali air dalam batgup membuat air itu tumpah ke lantai.


"Lagian beraninya kamu mau menemui Felix,"


Salsa menghela napsnya kesal. "Siapa juga yang mau menemui Felix, sekarang cepat mandi sana dan temui sendiri dia."


Devid tersenyum tipis, mendengar jawaban Salsa. Dia masuk ke dalam bathup, memeluk erat tubuh Salsa dari belakang. Membuka perlahan helaian tipis yang masih membalut tubuhnya.


"Mandi dulu, setelah itu kita keluar bersama." bisik Devid, melingkarkan manja tangannya, dan dagu menyandar di pundaknya.


"Kenapa kafang kamh lembut, tetapi terkadang kamu juga kasar. Bikin aku jengkel terus,"

__ADS_1


"Maaf!" jawab Devid. "Tetapi meski begitu, aku tetap sayang sama kamu. Tetap cinta sama kamu," jelasnya, mengecup tengkuk Salsa, terasa helaian tipis rambutya yang masih tersisa menutupi tengkuk belakang kepalanya.


__ADS_2