Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Masa lalu tak terlupakan


__ADS_3

Suasana pernikahan sudah selesai, dan Devian tidak ingin bulan madu kemanapun. Dia memutuskan untuk pergi ke rumah pribadinya di pinggir kota. Devian yang merasa dirinya saat ini bosan harus terus di rumah. Dia ingin sekali beranjak keluar mencari hiburan di luar dari pada harus bermanja berdua dengan orang yang sama sekali tidak dia cintai sama sekali.


Kenapa juga aku harus di rumah? Lagian pernikahan ini hanya untuk membuat dia tidak di permalukan di depan umum. Dan hanya untuk kakak dan untuk Salsa. Gumam Devian, yang baru saja selesai mandi, dia meraih jaket di atas sofa kamarnya, berjalan keluar dengan langkah terburu-buru. Sembari memakai jaketnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Adelina, yang baru saja dari bawa membawa beberapa makanan untuknya.


"Aku mau keluar," jawabnya tanpa menatap Adelina.


"Ayo, kita makan dulu. Aku sudah bawakan makanan untuk kamu," ucap Adelina gugup.


"Aku gak lapar!" jawab jutek Devian, lalu beranjak pergi meninggalkan Adelina sendiri. Tanpa menunggu jawaban dari Adelina.


"Tapi...." Adelina mengangkat tangannya, seakan ingin mencegah Devian pergi.


Merasa di cuekin Devian seharian tadi. Adelina hanya bisa diam, dan tetap mencoba untuk tersenyum. Dia tahu jika cintanya tidak untuk dirinya. Tetapi dia sangat yakin jika dia pasti akan mendapatkan Devian suara saat nanti. Meski hati terasa tersayat-sayat menikah dengan orang yang sama sekali tidak menganggapnya, mencintainya, bahkan meliriknya saja tidak mau.


Mungkin ini tantangan baru baginya, agar bisa mendapatkan hati Devian seutuhnya untuknya. Meski butuh perjuangan sangat lama.


------


Adelina membawa kembali makannya turun menuju ke dapur. Dia sebagai meninggalkan makanan untuk Devian di ruang makan agar di saat dia pulang dan lapar, dia bisa langsung makan.


"Hah.. Lebih baik aku taruh sini," ucap Adelina, tersenyum tipis. Lalu beranjak pergi ke kamarnya.


Adelina bergegas mandi.


"Lebih baik aku berendam, menghilangkan pikiran ini." gumam Adelina berjalan seakan tanpa beban di pikirannya, masuk ke dalam bathup merendam tubuhnya.


Di sisi lain, Devian pergi ke suatu tempat yang sangat sepi, sebuah danau di mana dia pertama kali bertemu dnegan Angel dulu. Dia duduk di kursi tepi danau memandang pemandangan indah di sana.


Sudah beberapa bulan kepergian Angel, dia merasa tidak bisa melupakannya. Hampir sempat menyerah karena terlalu sulir melupakan orang yang terlalu lama di hatinya.


Devian mengangkat kepalanya, dengan punggung bersandar di kursi menatap langit yang begitu verah, di iringi pemandangan indah bulan dan bitang yang begitu banyak beryebaran di langit.

__ADS_1


"Angel! Kamu pasti sudah bahagia di sana? Tapi apa kamu tahu aku sekarang terpaksa menikah dengan orang yang sama sekali tidak pernah aku cintai." gumam Devian lirih.


Merasa bosan untuk duduk, dia berjalan mengellingi tepi sungai, melihat pemandangan sungai sembari mengenang masa lalu bersamanya.


#Flash back


Wanita yang menarik, dia terlihat sederhana dan cantik dari samping. Baru kali ini aku merasa tertarik wanita. Gumam Devian, menarik napasnya dalam-dalam dan berjalan menghampiri seorang wanita yang duduk sendiri.


"Hai..." sapa seorang laki-laki tampan berjalan menghampiri wanita yang sibuk dengan lukisannya. Dia duduk menatap ke arah danau, sembari melukis di atas kanvas.


"Hai juga," jawabnya ramah, tanpa menatap ke arah laki-laki itu.


"Boleh duduk di sini?"


"Silahkan! Lagian ini tempat umum,"


"Emm.. Iya," Devian merasa sangat gugup. Baru pertama kali dia berdekatan dengan seorang wanita sepanjang umurnya. "Kamu sibuk apa?" tanyanya basa-basi dan duduk di sampingnya.


"Hemm... Aku lagi melukis pemandangan di sekitar." jawabnya. "Oya, menurut kamu lukisan aku, gimana?" wanita itu menoleh cepat, membuat helaian tipis rambut panjangnya beterbangan kemana-mana. Menutupi wajah cantik nya.


Deg!


Jantunya berdetak lebih cepat dari biasanya. Menatap jelas wajahnya, membuatnya hanya bisa menelan ludah kagum.


"Kamu kenapa?" tanya wanita itu mengibaskan tangannya ke depan wajah Devian.


"Eh.. Iya, maaf! Kamu terlalu cantik," jawab gugup Devian, sembari menggaruk kepala belakangnya yang sebenarnya tak gatal itu.


Wanita itu memincingkan matanya heran.


"Apa katamu?"


"Emm... Gak apa-apa, lupakan saja," jawab Devian mencari alasan. "Oya, Nama kamu siapa?" Devian mengulurkan tangannya ke depan. Dan langsung di balas cepat oleh wanita itu.

__ADS_1


"Aku Angel!!" jawabnya dengan wajah penuh senyum rumahnya.


"Angel, nama yang indah. Seindah wajahnya,"


Angel tertawa kecil, "Kamu bisa saja," jawabnya tersipu malu. "Aku sudah biasa gombalin wanita, ya?" Angel kembali fokus dengan canvas yang sudah di penuhi dengan gambaran yang sangat indah di sana.


"Enggak kok, baru pertama kali aku bicara dengan wanita sampai sedekat ini," ucap Devian tersipu malu.


Angel tertawa. "Haha. Mana ada sekarang laki-laki yang tidak bisa bicara sedekat ini dengan wanita, apalagi laki-laki tampan seperti kamu. Pasti banyak wanita yang menggoda."


"Jadi aku tampan?" tanya Devian antusias.


Angel menutup mulutnya yang entah kenapa tadi dia bisa berbicara seperti itu padanya.


"Lupakan saja" kata Angel mengalihkan pembicaraan. Dia menutup mulu


"Kombinasi warna yang bagus, dan lukisan kamu juga bagus,"


"Iya, tapi ini aku akan taruh di sini, sebagai kenang-kenangan jika aku pernah di sini. Dan sudah aku ukir dengan nama aku," ucap Angel. "Oya, nama kamu siapa? Aku akan ukir juga di sini,"


"Aku Devian! Tapi apa tidak masalah jika ini bukan lukisan aku kamu tulis namaku juga"


"Tidak masalah!" Jawabnya ramah penuh senyum.


---------


"Lukisan yang bagus," Devian yang tersadar dari lamunannya, ia berdiri menatap tepat di bawah pohon besar samping tempat duduknya. Lukisan itu masih di sana dan sudah tertimbun semak-semak belukar.


"Lukisan ini akan menjadi sejarah kita, sejarah cinta dan pertemuan kita," ucap Devian, mengambil lukisan itu, mengusap tanah yang menempel di lukisannya.


Jemari tangan Devian, mengusap setiap bentuk lukisan itu. Membayangkan wajah Angel di saat dia tersenyum.


"Angel apa kamu tahu? Jika Senyum manis kamu masih membekas di pikiran dan hatiku. Aku tidak bisa melupakannya," ucapnya, memeluk erat canvas itu.

__ADS_1


Tak terasa tetesan air mata tiba-tiba keluar dari matanya.


"Maaf, kan aku. Aku belum bisa membahagiakan kamu. Maafkan aku! Aku terlalu bodoh membiarkan kamu pergi. Aku masih mencintaimu Angel, masih tetap mencintaimu. Sekarang dan selamanya. Jangan tanya lagi, kenapa aku tidak bisa melupakan kamu. Karena kamu sudah di ikat dalam ragaku, jiwamu sudah menjadi satu denganku. Dan namamu sudah membekas di hati dan pikuranku," jelas Devian, mengusap kembali canvas itu, hingga tetesan air mata itu perlahan jatuh tepat di canvas putih dengan gambar danau dan pemandangan sekitarnya.


__ADS_2