Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Membuat dia marah.


__ADS_3

Selesia mandi. Salsa segera ganti baju. Dan memakai gaun seperti baisanya. Di balut make up tipis yang membuat Devid semakain tergoda. Salsa menatap dirinya di depan cermin. Jemari tangannya memegang pipi kanan dan kirinya, mengagumi wajah cantiknya yang sudha lama tak pernah terpoles sama sekali.


Ternyata aku vantik juga. Gumamnya sendiri di depan kaca.


"Bisa lebih cepat gak?" tanya Devid, menghentakkan kakinya kesal, sesekali ke dua katanya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah menujukkan pukul 8 pagi. Dan Felix pasti menunggu dia di ruang tamu. Devid memang sengaja ngolor-ngalor waktu bertemu dnegan saudaranya itu.


"Kalau kamu mau temui Felix duluan, silahkan!" ucap Salsa menatap wajah Devid yang terlihat gusrah di balik cermin depannya.


Devid mengerutkan keningnya, di saat dia melihat di balik cermin wajah Salsa yang terpoles dengan bedak tipis. "Kenapa kamu pakai bedak?" tanya Devid, beranjak herdiri melangkahkan kakinya mendekati Salsa.


"Memangnya kenapa?" tanya Salsa yang masih sibuk merias dirinya.


"Hapus!"


Salsa mengernyitkan wajahnya, membalikkan tubuhnya menghadap ke belakang. "Aku ingin tampil cantik di sata bersama kamu. Aku pakai bedam juga karena ingin buat kamu bahagia."


"Bedak tidak akan pernah biat aku bahagia. Aku lebih suka kamu tampil sederhana." Devid, meraih tisu basah di atas meja rias. Mengusapnya tepat di wajah Salsa.


"Aku hanya ingin istriku tampil apa adanya. Jangan perdulikan apa kata orang, perdulikan hatiku." Devid, menyentuh wajah Salsa, memandang ke dua matanya. "Aku tidak mau ada laki-laki lain yang melirik kamu. Biarkan aku saja yang bisa melihat kecantikanmu. Di hadapan orang lain tampilah sederhana." lanjutnya, mengusap lembut rambut samping Salsa, membelainya lembut ke belakang telingannya.


Salsa tersenyum tipis, ke dua kakinya berjinjit. Mengecup lembut beberapa detik bibirnya.


"Makasih,"


"Untuk apa?" tanya Devid heran.


"Karena kamu sudah mau menerima aku apa adanya."


Devid mengembangkan bibirnya. Mengusap lembut ujung rambut Salsa.


"Udah, ayo keluar!" Devid merengkuh pundak Salsa, meraihnya masuk dalam dekapannya. Berjalan dengan langkah ringan keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga.


"Bentar, bentar!" Salsa mencoba melepaskan tangan Devid di atas pundaknya.


"Kenapa lagi?" Devid menghela napasnya kesal.


"Bukanya kita mau susun rencana. Kenapa.kita tidak tanya saja sama diam Dia pasti tahu dalang di balik semuanya. Aku yakin dia berkelompot." Devid menutup rapat mulut Salsa mendorong tubuhnya sembunyi di balik tembok tangga, di saat Felix mendengar percakapan mereka. Merasa tidak ada siapapun di belakang. Dia kembali lagi menatap ke depan.


"Kenapa kamu menutup mulutku?" tanya Salsa menriak tangan Devid yang menutup bibirnya.

__ADS_1


Ssttt..." desis Devid, pandangan matanya mengamati setiap gerak-gerik Felix yany duduk sendiri di ruang tamu.


"Jangan bicara keras-keras. Hampir saja kamu membicarakan rencana di depan dia."


"Maaf!" Slasa menundukkan kepalanya, wajahnya menggkerut penuh rasa bersalah. Entah kenapa dia jengangkat kepalanya lagi, tersenyum oebar di hadapan Devid.


"Gimana kalau kita berdua ikuti kemanapun dia pergi seharian ini. Siapa tahu kita dapat petunjuk darinya."


Devid menjulurkan jari telunjuknya, mendorong pelan kening Salsa. "Iya, tapi jangan bicara keras-keras." geram Devid, sedikit melotot.


Salsa mengusap keningnya, menguntupkan bibirnya kesal. "Kenapa lagi? Aku selalu salah," gumam Salsa lirih. Bibirnya semaikin menyun beberapa senti.


"Udah, ayo kita temui dia." Devid meraih tangan Salsa menariknya keluar dari persembunyiannya.


"Maaf, lama menunggu." sapa Devid sok ramah. Meski di dalam.hati dia merasa muak dengan Felix. Gara-gara dia juga yang membaut hubungannya hampir herantakan.


"Emm.. Kalian sudah baikan?" tanya Felix, sedikit ragu.


"Memangnya kenapa?" jawab jutek Salsa.


Felix tersenyum tipis. "Em. Gak apa-apa, aku hanya memastikan saja."


Dasar gak tahu diri. Kenapa dia tidak merasa bersalah sama sekali. Apa dia memang tidak punya hati. Atau dia memang sengaja.


"Emm.. Aku yakin pas..." ucapan Salsa terhenti di saat dia merasakan kakinya seakan terinjak gajah besar. Dia hanya tersenyum sembari meringis menahan rasa sakit.


"Kamu kenapa?" tanya Felix sok khawatir.


"Gak napa-napa, hanya cram saja." jawab Salsa berlasan. Ke dua natanya menatap gajah ke arah Devid di sampingnya, dan di balas dengan pelototan tajam.


"Kalian jangan bertengkar di sini" Felix beranjak berdiri, sok perhatian pada mereka berdua.


"Kalian jangan bertengkar di sini,"


"Siapa yang bertengkar," jawab compak Devid dan Salsa, menoleh cepat dengan pandangan mata serentak menatap tajam Felix.


Felix beranjak duduk kembalu dengan wajah gugup sedikit takut.


"Ya, sudah lanjutkan!" gumam Felix, mengalihkan wajahnya.

__ADS_1


"Jangan menginjak kakiku," Salsa mulai melanjutkan lagi pertengkaran kecil dalam rumah tangga mereka.


"Siapa juga yang menginhak kakimu,"


"Tadi kaki gajah siapa?"


"Bukanya kamu yang kaku gajah?"


"Nyebelin!" Salsa menguntupkan bibirnya. Memalingkan wajahnya berlawanan arah. Dnegan ke dua tangan bersendekap.


"Kamu yang nyebelin!" tegas Devid. "Dikit dikit ngambek," lanjutnya sedikut mengejek.


"Biarin!!"


"Maaf, apa kalian amsih mau bertengkar. Kalau begitu aku pergi dulu." potong Felix beranjak berdiri.


"Tunggu!" jawab kompak Salsa dan Devid dengan tangan kanan terangkat ke depan.


"Tetap duduk di situ." lanjutnya lagi serentak Menatap sekilas ke arah Felix. Kemudian ke dua mata mereka saling menatap lagi. Ke dua mata mereka manajam, terkunci, seakan aliran listrik mulai menyala-nyala di antara tatapan mereka.


"Apa kamu mau buat Frlix tahu jika kamu suka dengannya?" ucap Devid, sontak membuat Salsa semakin bingung. Amarahnya tiba-tiba berbuah membahas hal yang tak di ketahuinya.


Devid menginjak ke dua kalinya kaki Salsa. memberi kode padanya agar paham kedipan mata yang di tujukan padanya. "Mata kamu kenapa? Belekan?" tanya Salsa. Membuat Devid menghela napasnya frustasi. Dia mengusap dadanya, menahan amarah yang merasuk tubuhnya.


"Belekan melihatmu,"


Salsa berdengus kesal. Beranjak berdiri berkacak pinggang menatap tajam ke arah Devid.


Fekix merasa tidak suka dengans itusasi seperti ini. Dia merasa bersalah atau senang melihat mereka bertengkar. Tapi pertengkaran mereka membaut kepalanya terasa sangat penat. Dan ingin sekali segera berlari pergi dari mereka berdua.


"Eh.. Apa kamu tidak malu sama Felix. Dia bahkan tidak oernah menghinaku,"


"Memangnya aku tahu dia tidak pernah menghinamu?" Devid meninggikan suaranya, dan beranhak berdiru menantang.


"Udah...Udah! Stop!" telinga Felix yang sudah merasa tidak kuat. Dua menghentikan ucapan mereka. Menarik napasmya dalam-dalam, menahannya. Mangangkat kepalanya dan mulai membuka mulutnya.


Devid dan Salsa saling memandang sekilas. Ada senyum tipis terukir di bibir mereka. Entah apa yang ada di pikiran licik mereka.


"Kalian kalau mau bertengkar silahkan di luar saja. Atau di dalam kamar. Biar aku tidak dengar pertengkaran kalian." jelas Felix menggebu.

__ADS_1


__ADS_2