Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Kecupan


__ADS_3

"Ada apa kamu menyuruhku keluar?" tanya Salsa, menatap wajah Devid yang hanya diam menatapnya. Salsa yang nampak sangat aneh, dia membuat matanya hingga pandnagannya tertuju pada beberapa koper yang sudah ada di samping Devid. Dan Gio sudah beroakaian sangat rapi.


"Kalian mau kemana?" tanya Salsa curiga.


"Ikut dengan kamu." jawab Devid, menarik ke dua alisnya bersamaan. Dia bangkit dari duduknya. Berjalan ringan mendekati Salsa. Memegang ke dua bahunya, kemudian tangan kanan mengusap lembut rambut istrinya.


Tuh, Kan! Benar apa yang aku pikirkan tadi. Pasyi dia ngerjain aku.. Sepertinya aku harus balik jahil ke dia sekarang. Gumam Salsa mengembangkan bibirnyam kengangkat kepalanya tegap menatap ke dua mata Devid di depannya.


Emang kamu pikir aku kamu saja yang bisa acting. Lihatkah aku beraksi. Salah sendiri kamu tega ngerjain aku. Kasar algi apdaku. Tapi.. Kali ini aku gak mau balas kamu dengan kekerasan juga. Tapi dengan sebuah kejutan yang akan menbaut kamu minta maaf bahkan lerutut padaku. Gerutu Salsa dalam hatinya.


Salsa menghela napasnya. Memegang dada bidang Devid. Dan mulai memasang wajah seriusnya. "Maafkan, aku!" ucap Salsa, merembak. Dengan bibir sedikit gemetar tak sanggup untuk bicara lagi.


"Kenapa?" tanya Devid, nencengkeram erat tangan Salsa.


"Sepertinya aku tidak hisa ikut dengan kamu. Dan biarkan aku pergi sendiri dengan Gio." ucap Salsa.


Devid beranjak berdiri. Tubuhnya seketika lemas mendengar apa yang di katakan Salsa. Tubuhnya gemetar dengan ke dua tangan terangkat mencoba memegang lengan Salsa.


"Apa yang kamy katakan? Akubtadi hanya pura-pura. Dan kamu ambil hati," ucap Devid.


"Pura-pura katamu, kamu hampir saja menyelakai anak aku. Dan jika ada apa-apa dengan anak aku. Maka aku tidak akan tinggal diam." geram Salsa, melepaskan tangan Devid di ke dua lengannya bergantian.


"Dan aku tidak suka bercanda sekarang. Bercanda kamu terlalu berlebihan." lanjutnya. "Ya, oke! Aku tahu kamu pasti hanya ingin dekat denganku. Tapi itu kelewatan, Devid. Nyawa anak kamu pertaruhkan."


Devid mengengkat tangannya frustasi. "Ah... Semuanya jadi berantakan begini." uampatnya kesal, dia mengutuk dirinya sendiri. Sifatnya yang terlalu egois tidak memikirkan anaknya mengakibatkan semuanya jadi renggang.


"Suami kamu yang bodoh ini benar-benar sangat bersalab padamu. Maafkan aku!" gumam David, meraih tangan kanan Salsa, mengevup punggung tanganya.


Salsa memalingkan wajahnya acuh. Wajah kesal penuh emosi itu benar-benar membuatnya sangat kesal. "Biarkan aku pergi sendiri sekarang. Aku gak mau tinggal dengan orang yang sama sekali tidak perduli dengan keadaan anaknya." Salsa melangkahkan kakinya pergi. Dengan cepat Devid memeganga lengan Salsa, embalikkan tubuhnya. au menariknya jatuh dalam dekapan tubuhnya. Laki-aki itu memeluk erat tubuh Salsa. Tak kuasa air mata menetes dari ke dua matanya.


Sedangkan Salsa memincingkan salah satu matanya. Memberi kode pada adiknya untuk tutup mata. Sembari tersenyum merayakan kemenangan.


"Jangan pergi dariku lagi, soal masalah itu aku sudha bantu kamu cari. Dan sekarang aku mau ikut dengan kamu. Berbagai susah senang bersama. Kamu malah pergi sendiri ninggalin aku lagi." jelas Devid, semakin mempererat pelukannya. Mengusap punggung Salsa.


"Kamu tahu, gak. Mungkin kamu bisa hidup tanpaku, tetapi belum tentu aku bisa hidup tanpa kamu. Aku menderita tanpamu." Devid memegang ke dua bahu Salsa, melepaskan oelukannya. Ke dua mata mereka saling tertuju. Wajah Salsa namoak sangat terluka saat melihat Devid yang meneteskan air mata untuk dirinya.


"Aku mohon padamu, kali ini saja." ucap Devid, menyentuh ke dua pipi Salsa. Mengusapnya lembut seketika membuat Salsa tak sanggup lagi meneruskan sandiwaranya.

__ADS_1


"Jangan menangis untukku, aku akan selalu bersama kamu." Ucap Salsa, jemari tanganya mengusap lembut pipi Devid, menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Menangislah karena kebahagiaan kita. Maafkan aku!" lanjut Salsa.


"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Devid, mengembangkan bibirnya membentuk sebuah senyuman manis.


Salsa menarik dua sudut bibirnya. Tersenyum tipis. "Karena aku telah bersalah,"


"Enggak! Aku yang salah. Aku sudah kelewat batas denganmu."


"Enggak, sayang! Aku yang salah."


"Aku yang salah,"


"Aku.. Salsa..."


"Aku bilang aku yang salah, karena aku telah membohongi kamu." sela cepat Salsa tak mau kalah.


Devid mengerutkan keningnya bingung. "Maksud kamu apa? Dan tentang apa kamu berbohong?" tanya Devid. Memegang ke dua telapak tangan Salsa, sedikit mengangkatnya di depan dadanya.


"Beneran? Kamu gak marah?" tanya Salsa membuka matanya lebar.


"Iya, aku gak marah."


"Janji?" Salsa menjulurkan jari kelingkingnya. Dan langsung di balas olehnya. Jari kelingking mereka saling menyantu, terucap janji dari mulut mereka.


"Memangnya kamu bohong tentang apa?" tanya Devid yang masih sangat penasaran dengan istrinya itu.


"Aku telah bohongi kamu. Kalau sebnarnya tadi itu hanya pura-pura marah." jelas Salsa menundukkan kepalanya takut.


"Jangan takut! Aku tidak pernah marah padamu. Lagian tadi aku juga sudah berbohong padamu." Devid menarik bahu kiri Salsa dalam dekapannya.


"Kak, bisa gak kalau mesra jangan di depanku." saut Gio yang dari tadi tak senagaj melihat pemandangan itu.


Salsa menyipitkan matanya, dengan senyum lebar di bibirnya. Dia mencubit perut Devid. Sembari bersandar manja penuh senyuman menggoda. "Lepaskan pelukanmu," pinta Salsa lirih, giginya sedikit menggertak. Membuat Devid takut. Dan meng-iyakan apa yang di kayakan Salsa.


"Gio, sepertinya kamu masuk ke mobil dulu, ya." pinta Salsa.

__ADS_1


"Terus kakak mau ngapain,"


"Ini urusan orang dewasa. Sekarang Gio masuk ke dalam mobil,"


Gio menghela napasnya. "Hah. Baiklah! Aku pergi dulu." Dia bangkit dari duduknya berlari kecil masuk ke dalam mobilnya. Yang sudah terparkir di luar.


"Memangnya kenapa kamu suruh Gio pergi?" tanya Devid heran. Baginya asal tidak bertindak lebih pada Salsa di depan anak kecil. Baginya itu wajar- wajar saja.


Dalam.satu tarikan napas. Salsa mencoba memberanikan dirinya.


Ke dua kaki Salsa jinjit. Dengan memegang pipi Devid sedikit menariknya, sebuah kecupan manis mendarat di bibir Devid. Salsa menggulum bibirnya lembut. Devid yang semula terkejut. Bibirnya mulai bisa menyesuaikan. Memegang tengkuk Slasa, membalas guluman bibir Salsa.


"Bentar!" ucap Salsa mendorong tubuh Devid.


"Kenapa lagi,"


"Aku ingin mulai hari ini jangan pernah bertengkar lagi. Dan kalau bercanda jangan kelewatan sayang" Salsa meletakkan ke dua lengan tangannya di atas pundak Devid, dengan tatapan menggodanya.


"Aku hanya ingin mengenang masa lalu." ucap Devid, mengusap lembut rambut Salsa.


"Udah sekarang ayo pergi," ucap Salsa.


"Baiklah!"


"Bentar,"


"Ada apa lagi?" geram Devid.


"Kamu lupa sesuatu, ya?" tanya Salsa.


"Aku?" saut Alan, berjalan mendekati mereka.


Alan terkekeh kecil membayangkan sebuah adegan yang baru saja di lihatnya tadi.


"Jangan suka mengintip," sindir Devid.


"Enggak! Aku hanya mau ke depan tadi." ucap Alan beralasan Dia beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. Sembari terus menahan senyumnya.

__ADS_1


__ADS_2