
"Kamu udah bangun ya Shil" ucap Yuhera menghapus air matanya dan dibalas anggukan oleh Shila.
"Abang kenapa menangis? Apa ada yang jahat sama abang?" ucap Shila bertanya-tanya
"Nggak kok, abang cuma rindu sama Shila makanya abang menangis, karena abang sudah lihat Shila disini" ucap Yuhera tersenyum
"Terus kalau Abang rindu sama Shila, kenapa abang nggak pernah jenguk Shila dan kenapa abang nggak pernah jemput Shila di rumah ayah? Apa abang masih benci sama Shila ya?" ucap shilla yang sudah duduk di samping Yuhera
"Nggak kok, Abang nggak benci sama Shila. Iya sudah nanti kita bicarakan lagi ya, sekarang kamu mending bersih-bersih karena kita mau makan malam. Ayah, ibu, papa sama Mama dan sahabat-sahabat abang juga sudah menunggu di ruang makan dan tinggal menunggu kita berdua yang belum ada di sana" ucap Yuhera
"Ya sudah deh, Shila mandi dulu ya bang. Abang tunggu di sini ya biar kita sama-sama turun ke bawah" ucap Shila dan melangkah pergi ke dalam kamar mandi.
Tak lama menunggu akhirnya Shila pun selesai mandi, dan tanpa menunggu lama Shila dan Yuhera pun bergegas turun ke ruang makan karena yang lain sudah pada menunggu kedatangan mereka di ruang makan. selama makan malam, mereka hanya diam dan menikmati suasana makan malam mereka dengan nikmat. Hanya suara dentingan sendok yang berbunyi memecahkan keheningan di rumah makan itu.
Selesai makan malam mereka pun berkumpul di ruang keluarga. Mereka di sana berbincang-bincang dan ada yang membahas tentang pekerjaan dan tentang bagaimana Yuhera dan Shila ke depannya.
__ADS_1
"Nat, kapan kalian pulang ke desa ucap?" tanya Ardhani membuka obrolan mereka
"Mungkin besok kami sudah pulang, kami ke sini hanya untuk mengantarkan Shila. Kami kasihan melihat kondisi Shila yang terus menanyakan keberadaan Yuhera" ucap Natalis jujur dan dibalas anggukan oleh Laras
"Apa nggak terlalu cepat kalian pulang Ras. Apa kalian gak kangen berbincang-bincang dengan kami" ucap Sarah bercanda.
"Hahaha, bukannya kami nggak rindu untuk berbincang-bincang bersama kalian, tapi kan suami ku juga punya kerjaan di sana Dan nanti kalau libur kami pasti akan datang ke sini menemui kalian, kalau nggak kalian yang mendatangi kami ke desa" ucap Laras menghibur sahabatnya itu.
"Ibu, apakah ibu beneran besok mau pulang sama ayah? Apa Shila juga ikut pulang ke desa ya? Apa Shila nggak bisa di sini aja sama bang Yuhera? Shila kan masih rindu yah sama bang Yuhera" ucap shilla menangis
"Nak, kamu tenang saja ya, kita kan datang ke sini untuk mengantar mu bertemu dengan suami mu" ucap Laras menjelaskan sembari mengelus rambut lembut Putri semata wayangnya itu.
Melihat bagaimana cara Shila memohon, Tito, Felix, Victor, Sarah, Ardhani, Natalis yang mendengarkan itu hanya bisa menatap haru dengan rasa kasih sayang yang tulus Shila berikan kepada Yuhera. Berbeda dengan Yuhera yang melihat dan mendengar bagaimana cara Shila memohon kepada kedua mertuanya itu sampai ia tak sadar sudah meneteskan air matanya, karena dia dapat melihat ketulusan istrinya itu, tanpa memikirkan bagaimana dulunya Yuhera memperlakukan Shila.
"Nak, kamu jangan menangis ya, kami memang datang ke sini mau mengantarkanmu untuk bertemu dengan suamimu, kamu boleh kok di sini tinggal bersama suami mu. Kami juga besok nggak akan mengajakmu untuk pulang ke desa. Ayah dan ibu juga tahu bagaimana perasaanmu kalau berjauhan dengan suami mu, sudah cukup ayah dan ibu menghukum suami mu untuk tidak dapat bertemu denganmu dan ingat pesan ayah jika ada terjadi sesuatu di antara rumah tangga kalian sebaiknya kamu memberitahukan kepada ayah dan ibu. Jangan menyimpannya sendirian seperti itu, ingat pesan ayah baik-baik" ucap Natalis memeluk putri kesayangan nya itu
__ADS_1
"Iya ayah, Shila berjanji kok kalau terjadi sesuatu dengan rumah tangga kami, Shila akan memberitahukannya kepada ayah" ucap shila tersenyum.
"Oh iya, Nat, Ras, kalian boleh tidur di ruang tamu ya, Tito, Felix dan Victor, juga kalau mau istirahat boleh tidur di kamar kalian seperti biasanya" ucap Sarah
"Baik tan" ucap Tito, Felix dan Victor bersamaan
Mereka semua pun sudah pergi meninggalkan ruang tamu dan sudah berada di kamar masing-masing. Yuhera dan Shila yang sudah berada di kamar mereka berbincang-bincang membahas tentang permasalahan mereka yang belum dibahas sama sekali oleh Yuhera.
"Shil, abang minta maaf ya, karena sudah memperlakukan mu dulu seperti itu tanpa memikirkan perasaanmu. vAbang egois memperlakukanmu seperti itu dan dengan kejam nya juga Abang meninggalkanmu di Paris. Abang minta maaf ya Shil, mungkin kesalahan yang sudah Abang perbuat tidak mudah untuk kamu maafkan, tapi Abang akan berusaha minta maaf kepadamu, sampai kamu bersedia untuk memaafkan Abang ucap Yuhera memegang tangan Shila.
"Abang ngomong apa sih, memang apa yang Abang lakukan dulu itu sangat menyakitkan untuk Shila. Tapi kan Shila sayang sama abang jadi sudah seharusnya Shila memaafkan kesalahan Abang itu. Abang nggak perlu pikirkan itu lagi, yang berlalu biarlah berlalu" ucap Shila tersenyum
"Kamu mau cerita nggak, bagaimana kehidupan mu selama di Paris? seingat Abang kan, Abang nggak pernah ngasih uang ke kamu, memang waktu Abang pergi Abang nggak ada kepikiran tentang apakah kamu megang uang atau nggak dan aku tahu keberadaanmu juga dari sahabat-sahabat mu itu kalau nggak salah ingat namanya itu Rian sama Vino dan ada dua perempuan lagi" ucap Yuhera sembari membaringkan tubuhnya di kasur yang sangat empuk.
"Apa Abang benar bertemu sama abang dan kakak aku? Mereka itu sangat baik loh, mereka yang jaga Shila selama Shila di sana. Mereka juga yang terus datang ke rumah pohon untuk mengantar makanan agar Shila bisa makan" ucap Shila dengan mata yang sudah berkaca-kaca
__ADS_1
"Maksud kamu apa Shil? Mengapa mereka mengantar makanan ke rumah pohon? Memang kamu tinggal di rumah pohon? Kan nggak mungkin" ucap Yuhera memeluk Shila.
"Kenapa abang bilang nggak mungkin? Memang beneran kok, kalau Shila tidur di rumah pohon. Habisnya Shila kan nggak punya uang. Untuk membeli makanan aja Shila harus menjual cincin yang Abang kasih waktu kita nikah" ucap Shila keceplosan dan langsung menunduk kan kepalanya karena takut Yuhera memarahinya yang sudah menjual cincin pernikahan mereka.