
"Apa yang kamu katakan? Kenapa? Kamu berbicara seolah aku yang salah dnegan semuanya."
"Karena kamu datang dalam hidip aku, semuanya hancur."
"Tapi aku datang saat Angel sudah sakit. Dan kenapa kamu masih belum terima tentang itu semua." jelas Adelina menggebu, Adelina mengusap dadanya mencoba untuk tetap bertahan dalam balutan luka tusukan yang hampir saja merobek semua hatinya. Sakit, rasa. sakit tak membekas itu terasa lebih menyakitkan.
"Tapi kamulah orang yang membaut Adelina meninggal,"
"Adelina meninggal karena takdir, bukan karena aku." tegas Adelina tak mau terus di salahkan. Dia sudah sakit karena cinta Devian yak pernah padam pada Angel. Dan dia juga tidak mau terus di salahkan banyak orang, karena ia di anggap.perebut suami orang. Dan ini mungkin balasan Tuhan untuknya. Namun Adelina tetap sabar menghadapi semuanya. Meski harus menyembunyikan kesedihan di balik senyuman.
"Sekarang temani aku," pinta tegas Devian, semakin membuat Adelina bingung. Di tengah malam.seperti ini dia mau ajak Adelina kemana. Bahkan wanita itu saja tak tahu. Tapi dia berharap ini akan menjadi awal baik bagi hubungannya. Meski sempat ada hal romantis beberapa.hari lalu. Dan Ia tak tahu kenapa hal romantis itu sama saja gak ada gunanya sama sekali.
"Ka--kamu mau.. Ajak aku.. Kemana?" tanya Adelina gugup.
"Temani aku tidur malam ini,"
Hatinya benar-benar ingin melompat kegirangan dari kerangkanya. Rasa memang yang tak bisa di ungkapkan saat ini. Ini yang di nantikannya selama ini sebagai istri yang terus tidur terpisah selama berbulan-bulan menikah.
"Apa aku gak salah dengar?" tanya Adelina memastikan.
"Tidak, aku ingin mencoba membagi rasa itu. Menghilangkan pikiran buruk aku terhadapmu." jelas Devian, meski padangan matanya terlihat kosong. Tetapi ucapannya terasa benar-benar dalam hatinya. Kali ini Devian memberi Adelina kesempatan untuk menanamkan hatinya di dalam hati Devian. Dia tidak mau kehilangan kesempatan emas ini. Dan akan di gunakan sebaik mungkin menjadi yang terbaik untuk Devian.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Adelina bingung.
"Aku ingin kita setiap hari tidur bersama. Dan jangan pikir aku akan melakukan hal.oebih padamu. Karena itu tidak mungkin! Jika aku sudha seriys padamu."
"Aku tidak menginginkan itu. Yang paling penting bagiku sekarang adalah bisa bersama dengan kamu."
"Makasih," ucap Devian, yang mulai bernaring di atas ranjang Adelina.
__ADS_1
Adelina tersenyum, dia membalikkan badannya dan berjalan mengambil selimut di lemarinya. Kemudian memberikan selimut itu pada Devian.
"Pakailah!"
"Gak usah,"
"Kenapa?" gumam Alice, membuka selikut tebal itu, memutup kaki Devian.
"Aku bilang gak, ya, gak! Jangan membantaku!" tegas Devian, menarik selimutnya melemparnya ke samping.
"Sudah sekarang tidurlah," pinta Devian menggerakkan tangannya, mulai mulai bernaring dengan tangam di bawah kepalanya. Ia memiringkan tubuhnya ke kiri mrmnelakangi Adelina.
Meski kamu tidur dengan aku. Tetapi tetap saja. Kamu gak pernah mau dekat denganku sama sekali.. Aku berharap akan ada keajaiban. Gumam Adelina, beranjak naik ke ranjangnya membaringkan tubuhnya di samping Devian.
Sekujur tubuh Devina merasa gemetar seketika. Wajagnya mulai pcat, berbaring ke samping kanan tepat mrmrbelakngi punggjng Devian lalu membalikkan tububnya menatap punggung Devian.
"Aku boleh tanya?" gumam Adelina. Devian yang belum mrnutup ke dua matanya. Dia hanya diam, kendengarkan suara Adelina.
"Kamu tahu gak.. Dulu aku merasa bingung. Kenapa aku bisa suka dengan kamu. Bahkan aku bisa dekat debgan kamu aja aku butuh perjuanhan. Tetapi sekarang aku sudah meniakh dengan kamu igu hal yang paling bahagia dalam hidupku.
Devian mengerjapkan matanya. Dalam pikirannya seakan membalas apa yang di katakan Delina.
Kamu memamg anggap itu hal indah.. Bagiku adalah kenangan buruk yang sangat aku benci harus menikah dengan kamu.
"Oh, ya! Mungkin kamu anggap aku adalah orang yang paling buruk pernah kamu kenal. Aku orang yang benar-benar menjijikkan. Udah tahu di tolak berkali-kali tapi tetap saja gak pernah menyerah." gumam Delina, ia mencoba mengangkat tanganya. Ingin sekali tangannya mendarat di pinggang Devian. Tetapi hatinya merasa takut, Adelina akan marah dengannya.
Daarr....
Suara petir tiba-tiba itu sontak membaut Adelina merinding takut. Seketika tubuhmya reflrk memeluk erat tubuh Devian.
__ADS_1
"Aku takut!" ucap Adelina, menyembunyiakn wajahjya di balik punggung Devian.
"Jangan lebay, lepaskan aku sekarang!" pekik Devian, krncoba melepaskan tangan Adelina yang semakain erat memeluk tubuhnya. Suara petir itu mrmyambar-nyambar hebat di luar. Dan tiba-tiba hujan baru saja turun begitu derasnya. Suara rintikan hujan lebat itu srmakain membauf suasana semakin menakutkan.
"Sekali saja, aku ingin memeluk kamu. Aku takut!" gumam Adelina, semakin mempererat pelukannya.
"Aku gak perduli," Devian membalikkan tubuhnya. Menatap kesal ke arah Adelina.
"Aku mohon," Adelina merebakkan matanya, tubuhnya semakin gemetar takut. Jemari tangannya seakan tak bisa menyentuhnya. Rasa takut sudah menjalar dalam tubuhnya. Suara petir menyambar di luar semakin keras, sontak Adelina tak mau melepaskan pelukannya.
Kenapa aku tidak beri kesempetan dia. Dari wajahnya saja dia terlihat sanagt ketakutan.
"David, memegang bahu Adelina dari bawah punggung wanita utu. Memeluknya semakin erat.
Adelina meletakan kepalanya di atas dada Devian.
"Terima kasih,"
Duaarr....
Adelina semakin memeprerat pelukannya. Hingga tak sadar ke dua tubuh mereka benar-benar sudha menempel.sangat dekat. Dada miliknya tak sengaja tersentuh siku Devian. Tetapi Adelina tak perdulikan hal itu. Dia menutup matanya, wajahnya penuh kekesalan itu.
"Aku ingin. kamu jadi milikimu selamanya." gumam Adelina membuat David yang sedang tertidur pulas David di sampingnya. Ia bahkan masih sedikittu s perduli dengannya biasanya hanya diam, menatap.penuh keraguan dalam hatinya..
Jemari tangan Devian sekana maju mundur cantik saat tangannya ingin merasakan halusnya tubuh Adelina dari balik sentuhan-sentuhanmu sentuhannya.
Entah kenapa dia merasa sentuhan itu membiusnha. Wajahnya mulai memerah malu. Tangan jahil laki-laki itu semakin gila. Jangan sampai aku menikah denga orang yang sa sekali tida bisa di tiru.
"tidurlah!" pinta Devian, melirik Adelina di dalam dekapan hangat tangannya.
__ADS_1
"Apa boleh aku tidur dengan posisi begini? Boleh gak? Atau kamu akan marah nantinya?" tanya Adelina takut. Wajahnya tertuduk mengernyitkan ke dua matanya takut. Dengan jawaban yang menyakitkan hatinya.
"Tidurlah dalam dekapanku, jika kamu takut. Lebih baik tutup mata dengan selimut." ucap Devian kenciba tersenyum ramah. Bagai di hujani salju hari ini. Devian dan Adelina begitu menakjubkan. Wajahnya penuh dengan teka-teki