
Hanya karena penebangan tertunda beberapa jam membuatnya sangat geram. Tapi pada akhirnya penerbangannya ke Indonesia harus tertunda malam hari. Butuh beberapa jam sampai di tujuan. Vina yang baru saja tiba di Indonesia. Dia sudah tidak sabar lagi untuk segera menemani Devid. Ingin sekali minta maaf padanya menjalaskan semuanya.
Dengan berat hati, Vina duduk diam di dalam mobil sembari menatap ke luar kaca. Jemari tanganya menyentuh kaca mobil, Wajahnya terlihat kosong dengan pikiran yang entah melayang jauh kr mana. Wajahnya terlihat sangat tenang, seakan dia lupa jika hari ini hari pernikahan Devid dan Adelina. Dia akan menikah jam 7 pagi. Dan akan terbang bulan madu ke New Zealand. Mengunjungi berbagai pantai indah di sana.
Apa semua minta maaf terlambat? Apa semuanya akan menjadi sia-sia. Dia akan tetap mencintai aku atau memilih menikah dengan orang lain. Gumamnya penuh tanda tanya dan keraguan dalam hatinya. Tubuhnya tenang dengan tangan yang mulai memucat. Dia terlihat panik dalam hatinya. Tapi tidak menunjukan rasa panik itu pada Gio dan Alan yang jauh lebih panik darinya.
Dia mengemudi dengan kecepatan tinggi, matanya tidak berhenti melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Bahkan mulutnya selaku mengeluarkan kata-kata yang Salsa sendiri tidak terlalu perdulikan itu.
Salsa melirik sekilas ke arah Alan, lalu memutar pandangan matanya ke belakang. Melihat Gio yang masih tertidur pulas di belakang
Aku gak tahu lagi apa yang harus aku lakukan? Benar penyesalan datang terlambat. Tapi sebelum nasi belum menjadi bubur. Aku akan tetap perjuangkan untuk minta maaf padanya, dam mulai hidup bahagia. Gumam Salsa dalam hatinya.
"Salsa kenapa kamu tenang sekali? Apa kamu tidak perduli dengan pernikahannya,"
Tampa mengeluarkan sepatah katapun, Salsa menoleh ke arah Alan, dia mengangkat tangannya yang seakan dari tadi sudah membeku. Perlahan tangan itu terangkat sangat berat, meletakkan telapak tangannya di atas lengan Alan yang sibuk mengemudi mobilnya.
"Tangan kamu? Kenapa dingin banget? Apa kamu sakit? Atau kamu demam?" tanya Alan panik.
"Aku gugup" jawabnya singkat.
Alan menghela napasnya lega, dia yang terlalu parno merasakan dinginnya tangan Salsa. "Apa yang kamu takutkan, Salsa. Dia suami kamu. Dam kamu berhak mencegah pernikahan dia."
"Tapi aku sudah meninggalkannya. bahkan sudah ingin berpisah dengannya," wajah yang semula tenang berbuah seketika. Air mata mulai tertahan, merebak keluar dari mata indahnya.
"Aku tahu, tapi semua masih bisa di perbaiki." jelasnya, dia yang terlalu fokus dengan mobilnya tidak terlalu menanggapi ucapan Salsa. Hampir tak lama mereka sampai di rumah Devid tepat waktu. Semua tamu undangan mulai berdatangan.
Alan menghentikan mobilnya tepat di depan halaman rumahnya. Sesekali dia melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Kurang 15 menit lagi pernikahan akan di mulai. Dan ini bukan waktunya lagi untuk banyak tanya.
"Salsa kamu turunlah dulu, aku akan bawa Gio." ucap Alan erburu-buru. Belum juga mulut tertutup Salsa sudah turun lebih dulu. Berlari masuk ke dalam.rumahnya dengan wajah panik, cemas, khawatir, takut, menjadi satu. Air mata tidak hentinya terus mengalur, hingga terbawa angin jatuh menetas ke lantai putih yang dia injak. Langkahnya semakin cepat menuju ke lantai dua kamar Devid. Dia tidak mau melihat waktu, karena baginya waktu itu sangat kejam.
Sampai di depan kamar Devid yang masih tertutup rapat, dua mengatur napasnya dengan badan sedikit membuatnya kesal. Salsa menarik napasnya dalam-dalam, memejamkan matanya sejenak menerima semua kenyataan dari jawaban Devid.
__ADS_1
Salsa tersenyum, dia sudah siap memandang pintu berwana cokelat dengan sedikit ukiran klasik di pintunya, Salsa memegang gagang pintu kamar Devid. Wajahnya yang semula tersenyim, dia mulai terdiam mendengar seseorang berbicara.
"Apa kamu yakin menikah dnehanku?"
"Iya, aku sangat yakin. Ini jangan terbaik. Dan aku sudah mulai melupakannya."
"Devid, aku tidak mau kamu menyesal. Dan aku tidak memaksa hati kamu suka denganku. Dan kamu tahu sendirj, aku suka dengan Devian tapi dia tidak menganggapku sama sekali,"
"Kita akan memulai hidup baru bersama melupakan masa lalu kita,"
ucapam itu seketika membaut Salsa lemas seketika, tubuhnya yang semula bersemangat kini seakan lunglai, bagai di sabar petir di pagi hari, kepalanya seakan bergemuruh tidak da hentinya. Pandangan mataya kosong dengan tubuh grmemtar, hati yang semula retak kini benar-benar pecah.
"Mungkin ini adalah takdirku. Aku lebih baik pe4gi, dari pada menganggu kebahagiaan mereka." ucap Salsa lirih, menunduk meneteskan air katanya yang semakin banyak bercucuran membasahi pipinya.
Dia membalikkan badannya dan berlari pergi menjauh, menuruni anak tangga dengan tangan menutup mulutnya. Dia tidak bisa lagi mendengar apa yang di katakan calon pengantin itu. mungkin mereka sudah bersiap untuk turun dan melakukan janji pernikahan.
"Aku yang salah, aku memang salah. Maaf! Maafkan aku!" ucapnya sembari terus berlari meneteskan air matanya.
Langkah Salsa terhenti sejenak menabrak orang di depannya. Tidak marah, dia hanya diam dan mencoba untuk pergi lagi. Namun langkahnya terhenti tangannya seakan menyangkut sebuah tangan seseorang.
"Salsa. Kenapa kamu di sini?" suara berat laki-laki itu tidak membuat Salsa bergeming dari tempatnya berdiri. Devian, melangkahkan kakinya mendekati Salsa memegang ke dua langanya.
"Salsa tataplah aku? Apa yang kanu lihat hingga kamu pe4gi dari sini?" tanya Devian.
Salsa hanya diam, dia masih menunduk sembari menggelengkan kepalanya pelan.
Devian memegang dagu Salsa, menariknya ke atas. Membuat pandangan mereka saling tertuju. "Tataplah aku!" ucap Devian.
"Ada apa lagi? Apa kamu mau menghinaku? Atau kamu ingin aku pergi dari sini? Oke.. Aku sekarang akan pergi. Dan cukup, sekarang aku sudha tahu semuanya. Dna lebih baik aku pergi membiarkan mereka bahagia." ucap Salsa meluapkan semua isi hatinya menggebu.
"Apa yang kamu dengar atau kamu lihat belum tentu itu kenyataannya. Kamu gak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dari pada kamu slaah paham dan ego kamu semakin tinghi. Lebih baik kamu mulai bicara baik-baik denganya." jelas Devian, mencoba tersenyum dengannya.
__ADS_1
Salsa mengangkat kepalanya.
"Bukanya kamu marah denganku?" tanya Salsa.
"Awalnya aku memamg sangat marah padamu, tapi aku pikir mungkin kamu terlalu terbawa emosi."
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Alan mendekati Salsa dan Devian.
Mereka kenoleh kompak menatap ke sumber suara. "Jangan banyak bicara, Devian sudah keluar tadi. Dan kenapa kalian masih berdiri dinsini,"
"Kapan dia keluar? Dan lewat mana dia?"
"Dia lewat pintu belakang, lagian acara di taman belakang. Dan kalian di sini gak lihat,"
"Memangnya kita bisa lihat, tangga rumah ini tertutup tembok ruang keluarga."
"Udah cepat pergi, Salsa kamu harus membatalkannyq," Alan menarik tangan Salsa beranjak pergi. Dan Devian mengikuti langkah Alan dan Salsa.
Langkah mereka semakin fepat, hingga sampai di sebuah tempat di akan acar pernikahan sakral itu akan di mulai.
Devid berjalan melewati para tamu. Di sambut dnegan tepuk tangan meriah. Dan dia hanya diam mengeluarkan senyum terbaiknya.
Salsa melepaskan tangan Alan, berlari mengikuti Devid sendiri.
"TUNGGU!!" teriak Salsa membuat semua orang yang ada di acar tersebut menoleh cepat ke arahnya. Dan tidak luput dnegan Devid mendengar suara yang selalu aku dia ingat di kepalanya.
"Salsa!!" ucap Devid lirih.
"Kamu sudah sampai di sini, aku mohon jangan batalkan. Jika kamu membatalkan sekarang kita pasti malu di kalangan para tamu," bisik Adelina, menatap ke arah Salsa dnegan tatapan tak suka.
"Aku mau kamu batalkan semuanya," ucap Salsa memohon, air matanya entah sejak kapan sudah menetes membasahi.
__ADS_1