Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Persiapan kejutan


__ADS_3

Dua hari berlalu, Salsa sudah hidup bahagia dengan Devid. Dan kini tampan ada pengganggu lagi dalam rumah tangganya. Dan berharap akan terus seperti ini. Tanpa ada orang ke tiga lagi di antara mereka.


Setelah selesai merendam tubuhnya, Salsa berbaring di ranjang dengan gaun tidur yang dia kenakan begitu seksi menggoda. Sudah berpaa lama dia tidak pernah tidur dan memanjakan Devid sebagai istrinya. Kali ini dia ingin memberikan hal itu padanya.


Salsa memandangi jam backer di samping laci ranjangnya, jarum jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Devid belum juga kembali dari kantornya. Bahkan dia tidak menghubunginya sama sekali.


"Kenapa dia belum juga pulang, apa sengaja tidak mau tidur denganku," umpat kesal Salsa, menguntupkan bibirnya kesal.


Dia beranjak dari ranjangnya, berjalan dengan wajah penuh kekesalan. Ingin sekali dia marah, meluapkan semua kekesalannya pada Devid di saat dia pulang nantinya. Salsa berjalan menuju ke ruang tamu. Langkahnya terhenti saat melihat seseorang sedang duduk sendiri di ruang tamu. Seketika ke dua matanya menyipit mengamati seorang laki-laki itu dari belakang. Sembari berjalan mengendap-endap, meringankan langkah kakinya mendekati laki-laki itu.


"Kamu sedang apa?" tanya Salsa.


"Kamu bangun?" jawab seorang laki-laki itu, menoleh cepat ke arah Salsa. Dengan senyum tipis terukir di bibirnya.


"Alan?" gumam Salsa lirih. "Kenapa kamu ada di sini? Dan di mana Devid? Kenapa kamu pulang sendiri? Apa dia baik-baik saja?" Salsa menatap ke sekeliling ruangan itu tidak mendapati Devid di sana. Dia spontan menutupi tubuhnya yang terlihat seksi dengan gaun terbuka menunjukan paha dan bahu mulusnya.


Alan memalingkan pandangannya. Meski kesempatan melihat Salsa. Tapi dia tidak mau, dari pada di bunuh kakaknya sendiri gara-gara cari pandang pada Salsa.


"Devid belum pulang, dari tadi aku di sini. Kara dia suruh nunggu kamu. Tapi tidak boleh sampai masuk ke kamar, bisa di bunuh aku olehnya." tegas Alan, membalikkan badannya lagi menatap ke depan.


"Terus kenapa dia belum pulang? Apa dia gak sadar jika besok sore kita juga harus kembali ke Melbeurne"


"Dia tahu, makanya dia mengurus semua pekerjaannya sekarang. Dan besok dia sudah ganti kepemilikan perusahaan. Devian yang akan memegang perusahaan Devid di sini?"


"Ya, sudah aku mau tidur," Salsa membalikkan badannya, beranjak pergi.


"Tunggu!"


Salsa menghentikan langkahnya. tertegun sejenak, lalu membalikkan badannya. "Ada apa?"


Alan meringis, "Kamu punya makanan gak?" tanyanya.


"Ada, cari saja di kulkas. Ada makanan ringan di dalam," Salsa menunjuk ke arah dapur.


"Oke, makasih!!"


"Iya," Salsa membalikan badannya lagi, melangkahkan kakinya berjalan ke depan.


"Eh.. Bentar!"


"Apa lagi," desahnya kesal.

__ADS_1


"Kamu mau beri jatah Devid, ya?" goda Alan.


"Memangnya kenapa?"


"Kamu cepat ganti baju, aku akan ajak kamu ke suatu tempat,"


"Ingat, jangan macam-macam. Nanti kakak kamu marah,"


"Enggaklah! Tenang saja, lagian aku hanya menyampaikan pesannya saja. Soal Gio tenang saja. Aku yang akan menjaganya."


"Udah gini saja,"


"Memangnya kamu mau pakai baju terbuka seperti itu." Alan membuka kulkas di dapur, dan mulai mengambil beberapa roti. Lalu memakannya.


"Memangnya kenapa? Aku bisa pakai jaket,"


"Kamu gak kasihan dengan nataku?"


Salsa mengerutkan ke dua asisnya bingung.


"Aku ini laki-laki normal, kalau aku melihat sedikit takut kakak. Kalau tidak lihat nanti jika sia-sia dong," jelas Alan sembari terkekeh kecil.


Alan berjalan mendekati Salsa mendorong punggung Salsa menaiki anak tangga. "Udah cepat ganti baju, sebelum kamu menyesal nantinya. Dan kamu buka kotak hadiah dari lemari," ucap Alan.


"Apa?"


"Udah gak udah banyak tanya, lihat sendiri nanti." Alan mendorong masuk tubuh Salsa ke dalam kamar, lalu menguncinya di dalam. Dan dia segera pergi meninggalkan Salsa sendiri di dalam untuk segera ganti baju.


Ih.. udah tengah malam gini, dia mau ajak kaku kemanam? Dan sebenarnya di mana Devid? Kenapa dia tidak jemput aku sendiri? Dan kenapa harus Alan. Awas saja kalau dia main serong dengan wanita lain. Aku cubit pantatnya nanti. Gumam kesal Salsa, menguntupkan bibirnya beberapa senti.


Salsa membuka lemarinya, seketika ke dua matanya melebar melihat kita putih dengan ukuran besar di dalamnya. Dia segera mengambilnya, meletakkan di atas ranjangnya.


"Apa sih? Kenapa dari tadi aku tidak lihat kalau ada yang memberi kejutan," desah Salsa membuka kotak putih itu, membuat dia tercengang melihat gaun mewah berwarna putih dengan reda bunga di bagian dadanya.


Hufftt.. Pasti Devid yang membiarkan semua ini. Desah Salsa.


Dia segera memakai gaun yang di berikan Devid. Selesai memakainya Salsa merias rambut panjangnya di depan cermin sembari mengagumi kecantikan wajah dan gaun yang apa dengan tubuhnya.


Tok... Tok.. Tokk...


"Sa! Sudah belum?" teriak Alan.

__ADS_1


"Iya, bentar!" balasnya.


"Cepetan,"


ckleeekkk...


Suara pintu terbuka membuat Alan melangkahkan kakinya mundur. Pandangan matanya tertuju pada kaki, perlahan mulai naik ke atas. Seketika matanya melebar melihat wanita cantik di depannya.


"Salsa?" gumam Alan lirih.


"Jauhkan pandangan mata kamu itu. Ingat aku istri kakak kamu," tegas Salsa, mendorong wajah Alan menjauh darinya. Dia berjalan lebih dulu meninggalkan Alan sendiri di belakang.


"Eh.. Tunggu!!" Alan berlari menghampiri Salsa.


Mereka segera masuk ke dalam mobil. Pergi ke tempat di mana seseorang menunggu Salsa di sana. Dalam perjalanan mereka hanya diam, tanpa ada suara sama sekali keluar dari bibir mereka masing-masing.


Sampai di tujuan, Salsa tertegun seketika saat seseorang tiba-iba membukakan pintu mobilnya. Dia menoleh cepat ke arah alan yang masih duduk di sampingnya. Dia pikir Alan yang bersedia membuka pintu untuknya.


"Selamat datang, nona!" sapa seorang pegawai dengan setelah jas berwarna hitam.


Salsa hanya meringis sembari sedikit menunduk, sebagai penghormatan untuknya.


"Iya," jawabnya.


"Seseorang sudah menunggu anda," ucap pegawai itu. Salsa yang bingung hanya diam, melirik ke arah Alan. Dia memberi kode padanya untuk tetap tenang dan ikut dengannya tanpa khawatir.


Dengan atu tarikan napas, Salsa berjalan mengikuti pegawai laki-laki itu berjalan masuk ke dalam sebuah hotel mewah di depannya. Hotel yang sangat terkenal dis ana dengan pemandangan indah dari atas yang langsung tertuju pada pantai.


Dan Alan pergi meninggalkan Salsa, karena tugasnya sudah selesai. Dia sekarang tinggal menjaga Gio di rumah Devid nantinya.


Salsa mencengkeram ujung gaun putih miliknya, hingga membentuk gumpalan di genggaman tangannya.


"Silahkan masuk?" ucap pegawai itu, membukakan pintu salah satu kamar tepat di lantai. Dia tanpa sadar sudah berjalan begitu jauhnya mengikuti pegawai laki-laki itu.


Salsa mengerutkan keningnya, dia berpikir negatif tentang laki-aki di depannya.


"Anda jangan macam-macam dengan saya?"


"Tidak, nona!"


Baru membuka mulutnya, sebuah tangan menariknya masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya rapat-rapat. Tanpa tahu siapa orang yang menariknya tadi.

__ADS_1


__ADS_2