Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Cinta tak harus bersama


__ADS_3

"Salsa!!" teriak Devian berlari masuk ke dalam kamar, seketika langkahnya terhenti melihat Devid memeluk erat tubuh Salsa berbaring di sampingnya.


"Oppss... Maaf!!" ucap Devian tersenyum tipis, dan beranjak pergi


"Sial!! Tuh, kan, adik kamu tahu. Kamu malu-maluin," gumam Salsa mengumpulkan bibirnya kesal.


"Lepaskan aku!!" Salsa mendorong tubuh Devid, dan beranjak berdiri.


"Tunggu!!" Devid menarik tangan Salsa, hingga bibir mungil Salsa melayang tepat jatuh di bibirnya. Ke dua mata mereka saling bertemu. Wanita itu mengedipkan matanya berkali-kali.


Perasaan ini!! Aku mohon jangan sampai aku cinta lagi dengannya. Hubungan kita sudah selesai..


Devid menggulum bibir Salsa yang dari tadi hanya diam membisu, menatap ke dua matanya.


"Empp... Empp..." Salsa mencoba memberontak memukul dada bidang Devid.


Laki-laki itu melepaskan kecupannya, menatap wajah Salsa sembari mengatur napasnya.


"Aku gak akan melepaskanmu lagi, aku gak perduli di lihat orang. Asalkan aku bisa terus berada di dekat kamu. Bersama kamu, dan memulai hidup baru denganmu," ucapnya, lalu melanjutkan kembali kecupannya semakin mesra dan bergairah.


Apa yang di katakan dia, aku gak bisa. Apalagi aku sudah melukai hati oma. Dia pasti marah denganku. Gumam Salsa dalam hatinya, dia beranjak menarik tubuhnya.


"Maaf!! Aku gak bisa, kalau kamu sudah sembuh aku mohon cepat pergi dari sini," Sasa memasang wajah datarnya dan bergegas pergi keluar dari kamarnya.


"Salsa!!" teriak Devid beranjak bangun dari ranjangnya.


Kenapa dia begitu keras kepala. Padahal niat aku tulus dengannya. Tapi jika dia maunya seperti itu, oke.. Aku akan tetap terus berjuang agar kamu paham cinta aku sesungguhnya. Gumam Devid tersenyum tipis, lalu membaringkan tubuhnya lagi.


------


"Kak Devian!!" panggil Salsa berjalan menghampiri Devian yang duduk santai di sofa.


Devian tersenyum, saat melihat wajah Salsa membayangkan kejadian di kamar tadi, yang tak sengaja di lihat olehnya.


"Ada apa? bukanya kamu sedang berduaan," goda Devian.

__ADS_1


"Apaan sih!! Sudah jangan bahas itu lagi," ucap Salsa malu. Dia berjalan dan duduk di sofa tepat di depan Devian.


"Ada apa? kenapa kamu meninggalkan Devid di dalam sendiri?" tanya Devian.


"Aku hanya ingin bicara dengan kamu sekarang?"


"Tentang apa?"


"Tentang Devid,"


"Kenapa dengannya?"


Salsa menarik napasnya dalam-dalam mencoba mengeluarkan semua apa yang ada dalam hatinya saat ini.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Devian penasaran. Dia menarik duduknya mendekatkan tubuhnya menatap Salsa yang masih diam menundukkan kepalanya.


"Apa kamu ada masalah dengannya? Kalau memang ada masalah, kamu bisa bicara langsung dengannya. Hubungan kalian berdua itu bukan urusanku" tegas Devian.


"Bukan itu maksud aku!" ucap Salsa mengangkat kepalanya menatap wajah Devian yang semula serius, dia perlahan menyadarkan kepalanya lagi di atas sofa.


"Aku ingin kamu ajak Devid pergi dari sini setelah dia sembuh,"


Debian sekeyika meloncar duduk dari sofa, menatap wajah Salsa yang begitu lugu mengambil keutusan.


"Apa yang kamu bilang? Kalau kamu menunggalkan dia? Gimana kalau kamu hamil? Dan siapa hang menajga kamu annginya? Kalian suaministri? dan kalian sudha bulan madu, jadi tinggal tunggu kapan kamu merasa tanda-tanda hamil mincul," jelas Devian menggebu, dia memegang tangan Salsa, mengusap punggung tangannya.


"Aku mohon padamu, pikirkan kembali. Jangan ceroboh dalam mengambil tindakan." lanjutnya.


"Ta-tapi...."


"Apa pengorbanan dia masih kurang terhadapumu, pa kamu masih belum percaya jika dia sangat mencintai kamu." potong Devian cepat, dengan wajah penuh kekesalan dalam dirinya. Dia tidak menyangka jika istri kakaknya begitu lugu. Dia tidak tahu aman cinta sejati, mana hanya sebatas ucapan.


"Bukan itu majsduku," Salsa meninggikan suaranya tak mau kalah.


"Apa maksud kamu? Apa kamu tidak lihat dia melakukan semua ini untuk kamu. Dia memutuskan kerja sama kontrak di Amerika hanya untuk mencari kamu, dan dia seharian berdiri di luar juga karena kamu. Dan kamu menganggap semua itu hanya lelucon," gertak Devian, seketika membuat Salsa, air matanya tertahan, merebak, tidak kuasa menahan air kata yang sudah tak bisa terbendung lagi.

__ADS_1


"Salsa jangan bodohi diri kamu sendiri. Jika kamu memang suka pada kakak aku, katakan padanya. Buatlah dia bahagia." Devian melangkahkan kakinya, menepuk ke dua bahu Salsa, memberikan semangat untuknya.


"Jangan sampai kamu menyesal nantinya. Dan ingat, jika kamu jadi calon ibu. Penyesalan akan datang bertubi-tubi padamu. Di saat kamu hidup sebatang kara, kamu pasti akan mengingat siapa suami kamu. Apa yang dia lakukan,"


"Devian, sudah jangan banyak bicara lagi!!" saut Devid, mencoba berjalan menyeret kakinya yang terasa sangat kaku untuk berjalan secara normal. Dengan sigap Devian meraih tangan Devid, menopang tubuhnya, membantu dia berjalan mendekati Salsa.


"Kamu mau aku pergi? Apa kamu mau aku meninggalkanmu?" tanya Devidmemgerjapkan matanya sejenak, dia memasang hatinya dnegan lapang dada menerima semua jawaban yang akan di berikan Salsa nantinya.


Vina hanya menunduk, tidak kuasa dia terus menangis sesegukan. Entah keputusan yang dia ambil salah atau tidak. Tapi hanya ini yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"I---iya" jawabnya lirih.


Devid tersenyum tipis, menahan air mata yang sudah merebak di matanya, hatinya seakan di hujani berbagai jarum lancip yang mencap sekujur tubuhnya. Dia hanya bisa diam membisu. Ingin sekali marah, tetapi itu tak mungkin, dia tak mungkin marah dengan seseorang yang sangat dia cintai. Baginya cinta adalah segalanya. Kabahagiaan cinta baginya lebih penting meski harus mengorbankan perasaan dan hatinya yang sudah tersayat hancur sekalipun.


Devid menarik napasnya dalam-dalam mencoba mengatur napas yang seakan sesak, tak bisa napas dengan keputusan yang di ambil. Dia menepuk bahu Salsa. Lalu memegangnya dengan ke dua tangannya. berjalan semakin mendekati Salsa.


"Aku akan terima semua keputusan yang kamu ambil, aku akan pergi dirimu. Pergi selamanya. Dan aku tidak akan pernah kembali lagi. Bahkan mencari kamu." ucap Devid terpaksa melemparkan senyum palsunya di depan Salsa.


Salsa memeluk erat tubuh Devid, "Maafkan aku!! Maaf! Aku hanya ingin sendiri sekarang. Tolong jangan pernah menganggu kehidupan aku lagi.." katanya,


"Terima kasih, kamu menjadi bagian dalam hidup aku selama beberapa bulan ini. Aku merasa sangat bahagia. Susah senang berdua, dan meski aku sempat jahil, dan kasar padamu. Semua itu hanyalah figuran untukku agar aku bisa dekat denganmu. Aku cinta padamu, sampai kapanpun.. Sampai Tuhan mengambil nyawaku sekalipun..."


Mereka saling meluapkan perasaan masing masing. Berpelukan, mengusap punggung masing-masing untuk meredakan emosi hati yang mereka alami.


Devid melepaskan pelukan Salsa, membalikkan tubuhnya, menatap Devian, meluapkan semua emosi hatinya membelakangi Salsa. Tangisannya tak terbendung lagi. Dia berjalan pergi keluar dari rumah Salsa, berjalan tak hentinya memaksa kakinya yang masih terasa sangat sakit itu.


"Salsa, aku kecewa dengan keputusanmu. Aku pikir kamu wanita yang baik, tapi sekarang aku bisa menilaimu secara langung! Aku sangat kecewa. Kamu terlalu egois, pikirkan hatimu, pikirkan cingamu, aku harap kamu tidak menyesal nantinya." pesan terkahir dari Devian, dia melirik sekilas ke arah slasa penuh dengan perasaan kecewa, kesal, dan marah padanya. Kesekian detik, dia berjalan mengikuti Devid yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Apa kamu yakin, kak? Dan semua keputusan itu?"


"Jangan banyak tanya, sekarang kita pergi ke hotel. Dan besok kita balik ke Jakarta!!" jelas Devid, menatap ke arah kaca mobil. Tanpa berani memandang adiknya yang mengemudi mobilnya.


Salsa menatap kepergian Devid yang semakin jauh, jauh dari pandangan matanya. Bagai di hujani batu besar menumbuk sekujur tubuhnya, sakit, kesal, marah, kecewa, itu yang dia rasakan pada dirinya sendiri. Sebuah keputusan yang dia ambil.


"Maaf!! Tapi memang cinta tak harus memiliki. Aku ingin melihat kamu bahagia. Tanpa ada masalah dalam keluarga kamu lagi!!" ucap Salsa lirih, tersenyum tipis memandang mobil Devid yang sudah tak terlihat oleh pandangan mata telanjang.

__ADS_1


__ADS_2