
"Jangan ganggu mereka. Biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka masing-masing. Dan lebih baik kita diam saja. jangan ikut campur.." Devid memegang pergelangan tangan Salsa agar tidak pergi jauh.
"Tapi..."
Devid menutup mulut Salsa dengan telunjuk tangannya, membuat bibir Wanita itu menutup rapat, dengan ke dua mata saling memandang.
"Sudahlah. Dari pada kamu ikut campur dengan hubungan mereka. Lebih baik kamu temani Angel dulu. Aku akan belikan makan buat kalian semua!!" lanjut Devid.
"Baiklah.. Kamu tahu saja kalau aku lapar!!" mendengar kata makanan, bibir Salsa seketika tersenyum lebar, ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Dengan tangan kanan mengusap perutnya.
Devid membalas senyum Salsa, ia memegang kepala belakangnya, sedikit menariknya ke depan, ia mengecup lembut kening Salsa. "Aku pergi dulu.. Jaga Angel!!" kata Devid, melepaskan tangannya di kepala Salsa, ia membalikkan badannya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Salsa. Dan wanita itu langsung masuk ke ruangan tepat di samping dia berdiri, tanpa tahu itu ruangan Angel atau bukan sebelumnya.
------
Sedangkan Devian melemparkan tubuh Adelina kasar, hingga te4pental keluar dari rumah sakit itu. "Jangan pernah temui aku lagi!!" umpat kesal Devian, memancarkan percikan api kemarahan yang mengobar pada sekujur tubuhnya. Membuat wanita itu terbungkam seketika. Ia memegang ujung bajunya, melihat wajah menakutkan Devian yang membuat tubuhnya bergetar takut, baliknya seketika mencium dapat perlakuan kasar dan bentakan dari Devian.
Tanpa perduli Adelinayang hanya diam membisu, ia beranjak pergi menuju ke sebuah taman sendiri. Berjalan mencari tempat sepi untuk berdiam, memberikan pikiran dan hatinya tenang.
Devian terus melangkahkan kakinya, melihat banyak sekali pasien yang bermain di taman, saing berbincang satu sama lain. Hingga langkah Devian terhenti pada tempat duduk tepat di depannya ada air mancur dengan kolam buatan berisikan ikan koi yang begitu indah.
Devian duduk sendiri, melamun memandang ke kolam buatan itu. Ia tak sadar jika Adelina duduk di sampingnya. Wanita itu memegang tangannya sendiri, mencengkeram kedua tangannya diatas pahanya.
"Maaf!! Aku awalnya gak tahu kalau kamu sudah menikah. Tapi apa boleh aku berteman dengan kamu." gumam Adelina lirih, sembari menundukkan kepalanya.
"Emm.. Lebih baik kamu sekarang temani istri kamu.. Kenapa kamu di sini. Apa kamu gak mau melihat istri kamu saat sadar nantinya!!"
Devian yang dari tadi masih tetap melamun, ia membungkukkan badannya dlsedikit, menatap ke bawah, air mata putih itu keluar dari sarangnya, tanpa sadar air mata itu terus menete8s dari mata Devian.
Puk!
Adelina memegang pundak Debian. Ia mengambil sapu tangan di dalam tasnya. Lalu memberikan pada Devian. "Ini oakailah!!" Laki-laki itu hanya diam, seakan menulikan pendengarannya.
Merasa tak di hiraukan oleh Devian, Adelina beranjak pergi meninggalkan sapu tanganya di paha Devian.
"Aku gak mau kehilangan kamu.. Aku gak mau!!" Devian berteriak, menutup wajahnya yang penuh air mata membasahi pipinya
__ADS_1
Mendengar teriakan Devian, langkah Adelina terhenti, ia menoleh ke belakang. "Baru kali ini aku tahu seorang laki-laki menangis hanya karena sosok wanita yang dia cintai!!" ucap Adelina dalam hatinya. "Wanita itu sangat beruntung, telah di cintai oleh, Devian" lanjutnya.
"Devian!! Lebih baik kamu temui Angel, jangan biarkan dia sendiri!!"
"Apa urusan kamu!!" jawab Devian sinis.
"Emm.. Baiklah.. apa aku boleh jenguk dia!! Hanya sekali, dan aku janji tidak akan cerita banyak padanya!!"
"Jangan ganggu dia... Aku gak mau dia kenapa-napa." Devian mendongakkan kepalanya enatap sinis ke arah Adelina.
"Memangnya aku mau melukai dia. Aku hanya ingin menjenguknya. Setelah itu aku akan pergi!!"
Devian beranjak berdiri, mulutnya tertutup rapat tanpa jawaban sama sekali dari bibirnya, ia melangkahkan kakinya pergi. "Ikut aku!!" ucap Devian datar, tanpa menoleh menatap Adelina yang berdiri dengan wajah bingung di belakangnya.
Adelina segera mengikuti setiap langkah Devian pergi, tanpa banyak tanya lagi, yang akan semakin membuat Devian sangat marah dengannya.
Mereka terus melangkahkan kakinya, tanpa seuntai kata keluar dari mulut mereka berdua. Devian sampai di kamar Angel, ia melihatnya terbearing lemas, dengan ke dua mata yang sudha terbuka, dia berbicara dengan Salsa yang dari tadi menemaninya. Seakan sudah akrab lama dengannya.
"Devian!!" sapa lemas Angel, suaranya tanpa daya sama sekali.
Angel menatap sosok wanita yang berdiri tepat di belakang Devian, ia tersenyum ramah padanya. "Kamu teman Devian, ya. Cantik sekali!!" ucap Angel, yang tak hentinya terus memandang Adelina dan tersenyum manis padanya.
"Iya, aku temannya. Maaf ya. Aku ganggu kamu!!" Adelina melangkahkan kakinya mendekati Angel, ia perlahan melihat wajah cantik Angel yang terlihat sangat pucat, dengan bibir yang sudah terlihat pucat.
"Kamu gak pernah ganggu!! Lagian di sini banyak orang. Dan makasih kamu juga jenguk aku.." Angel menyipitkan matanya, tersenyum tamah kembali padanya.
" Emm.. Tapi apa kamu juga liburan di sini?" Lanjutnya.
"Iya, aku liburan di sini. Dan makasih.. Sudah diperbolehkan ke sini. Tadi aku kebetulan saja lewat dan bertemu dengan, Devian!!"
"Oya.. Kamu duduk sini." Angel memegang tangan Adelina.
"Syang!! Lihat dia cantik, kan?" tanya Angel, membuat Devian mengerutkan keningnya seketika. Ia hanya diam membisu tanpa jawaban keluar dari mulutnya.
"Sudah gak usah bahas dia!!" ucap Devian jutek.
__ADS_1
"Kenapa? Padahal dia cantik.. dan kalian sangat cocok!!"
"Kamu bicara apa? Aku gak akan berpaling sama sekali darimu. Dan ingat bagi aku hanya kamu paling cantik.. Tidak ada wanita lain secantik dirimu.." ucap tegas Devian.
"Hay.. Hay.. Ayo kita makan. Dan kamu Devian, kamu suapi istri kamu setelah itu suruh dia minum obat. Jangan berdebat yang enggak penting.." jelas Devid yang baru saja masuk ke kamar Angel, dengan wajah nampak dingin dan datar, membawa beberapa makanan untuk mereka semuanya.
"Baiklah!!" Devian segera mengambil makanan yang dari rumah sakit untuk Angel.
"Aku gak mau makan ini!!" ucap Angel jutek. Ia mendorong satu mangkok makanan yang di berikan Devian.
"Terus kamu mau makan apa, syang!!"
"Aku lagi gak nafsu makan, sekarang aku mau istirahat lagi!!"
"Kamu marah denganku!!"
"Iya, aku sangat marah!!" jawab Angel.
"Baiklah, kalau begitu kita semua keluar dulu. Kalian selesaikan masalah kalian berdua!!" ucap Salsa yang dari tadi hanya diam, ia mulai membuka mulutnya, dan berjalan menghampiri Devid, menarik tangannya keluar dari kamar pasien Angel.
"Aku juga akan keluar!!" sambung Adelina. Tanpa menatap ke arah Angel dan Devian yang hanya diam tanpa saling memandang sama sekali.
-------
"Aku mau kamu keluar juga!!" ucap Angel lirih.
"Maaf tadi bukan maksud aku bicara keras denganmu!! Aku gak suka kamu bahas wanita lain. Sedangkan kita surah menikah, lebih baik bahas tentang hubungan kita.."
Angel menoleh menatap ke arah Devian. Dan tersenyum kecut. "Hubungan kita?" ucap Angel tersenyum tipis. "Hubungan kita tidak akan bertahan lama Devian. Dan kamu pasti sekarang sudah tahu.. Aku tidak akan bisa bersama kamu lama. Jadi kamu harus cari penganti aku nantinya.."
"Kau yakin kamu bisa bertahan. Aku gak mau cari yang lain!!" Devian memegang tangan Angel, mencoba menyakinkan dirinya.
"Devian!! Aku tahu.. Tapi ini sudah takdir.. Dan aku hanya ingin di hari terakhirku nanti.. Kamu bawa aku jalan-jalan ke pantai. Aku ingin ke pantai!!" ucap Angel, tak kuasa menahan air katanya.
"Tidak! Tidak! Kamu pasti bisa bertahan.."
__ADS_1
"Devian!! Dengarkan aku atau aku akan marah denganmu!!" bentak Angel membuat Devian terdiam seketika.