
Keesokan harinya. Devian hanya diam di kamarnya. Hari ini merasa sangat malas untuk kemana-mana. Pikirannya benar-benar sangat kacau. Dia hanya duduk diam di atas sofa ruang keluarga menatap tv, yang kenyala dengan pikiran kosong.
Entah kapan pikiran itu melayang jauh memikirkan seseorang yang belum tentu dia juga akan memikirkannya. Di tambah rumah nampak sangat hening. Tidak ada siapapun di sana. Dan Adelia hari ini dia pergi beberbelanja dengan salah satu pelayannya. Entah sejak kapan dia balik, sudah hampir dua jam keluar belum juga kembalu.
Kenapa aku memikirkan dia? Di taman hiburan itu membuatku merasa sangat dekat dengannya. Dan kecupan itu.. apa aku sudah gila. Sudah memberinya sebuah kecupan. Gumam Devian, merentangkan ke dua tangannya di atas sofa. Dengan kepala menyandar di atasnya.
"Kepalaku benar-benar sangat pusing hari ini." gumam Devian, memijat kepalanya.
Drrttt...
getar ponsel seketika membuat Devian beranjak dari duduknya. Dia mengerutkan matanya di saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya 'Adelina'.
"Ada apa dia menghubungiku, jangan bilang jika dia gak pulang. Awas saja sampai dia berani gak pulang nanti. Aku akan kasih dia pelajaran." gumam Devian, meraih pinsel di atas meja depannya. Dan mulani mengangkat telfonnya.
"Ada apa?" ucap Devian, memulia pembicaraan lebih dulu.
"Kamu di mana?"
"Di rumah, ada apa?" tanya Devian jutek.
"Kamu mau makan apa?" tanya Adelina di ujung jalan sana.
"Aku gak mau makan."
"Kenapa? Aku hari ini mampir ke restauran. Kalau kamu mau pesan makanan. Aku belikan."
"Gak usah!" bentak Devian
Kenapa dia malah pesan makanan. Kenapa juga tidak masak sendiri. Aku lebih suka dia masak sendiri. Gerutu Devian dalam hatinya. Dia hanya bisa memendam keinginannya.
"Sayang!"
"Sayang!" panggil Adelina balum ada jawaban sama sekali darinya.
"Devian, kamu mau makan apa?" tanya Adelina berulang kali.
__ADS_1
"Aku mau makan nasi, bye.." ucap Devian langsung menutup telfonya.
Wanita benar-benar gak peka atau gimana. Kenapa dia gak sadar dia itu siapa? Devian melemparkan ponselnya di atas sofa, lalu menyadarkan kepalanya di atas sofa dengan ke dua telapak tangan mengusap lembut rambutnya.
***
Pov Adelina.
"Ada apa, non?" tanya pelayannya. yang melihat Adelina terlihat sedih. Wajahnya seketika muram saat baru saja mematikan ponselnya.
"Gak ada apa-apa, udah sekarang kita cari makan dulu. Aku mau belikan David makanan." Adelina mencoba tersenyum lebar. Meski dalam hati dia merasa sangat terluka dengan sifat Devian. Entah kenapa dia selalu tidak pernah mau jika di belikan makanan. Tetapi Adelina juga tidak pantang menyerah. Dia tetap berusaha untuk menjadi yang terbaik baginya.
Tak terasa di tengah kerumunan para pembeli di restauran itu. Adelina meneteskan air matanya, mengingat di mana saat dia makan dengan Devian pertama kali. Dan itu hari bersejarah dalam hidupnya.
"Non, benar baik-baik saja?"
"Udah gak apa-apa, jangan bahas itu lagi." Adelina menyeka air matanya dengan punggung tanganya. Dan berusaha tersenyum paksa. Mwnatap pelayannya.
Selesai membeli beberapa makanan. Adelina segera Pulang. Ia tak sabar memberikan makanan itu pada Devian.
Dan aku berharap kali ini dia sangat senang, aku sudah membawakan dia makanan kesukaannya. Gumam Adelina. Di jalan pikirannya mulai kacau memikirkan Devian yang berada di rumah.
***
"Bi, tahu gak di mana Devian?" tanya Adelina pada pembantunya yang kini sedang sibuk menyiapkan beberapa wadah untuk makanannya.
"Gak tahu, non. Tapi tadi saya melihat dia masuk ke kamar. Tapi.sekarang gak tahu," jawab pembantunya menunduk.
"Ya, sudah. Bawa beberapa makanan untuk kamu dan yang lainya. Aku cari Devian."
"Iya, non. Makasih!"
"Iya, bi!" Adelina melangkahkan kakinya pergi. Menaiki anak tangga berjalan menuju ke kamarnya. Mengetuk pintu kamarnya berkali-kali tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari Devian.
Dia kemana? Jatanya di kamar, tapi sepertinya gak ada orang.
__ADS_1
Adelina, memegang knop pintu. Dalam satu tarikan napasnya dia mulai memberanikan dirinya membuka pintu kamar Devian. Ke dua matanya memutar melihat seisi ruangan yang nampak sangat kosong. Ia tidak nampak batang hding David di sana.
"Devian.." panggil Adelina, berjalan mengendap-endap masuk ke dalam kamarnya. Ia meringankan langakhnya, berjalan semakin ke dalam. Hingga dia berhenti tepat di depan pintu kamar mandi. Menempelkan telinganya tepat di pintu.
Tidak ada suara orang sama sekali di depan. Bahkan gemercik airpun tak terdengar di sana.
Dia tidak ada di dalam?" gumam Adelina, tanpa sadar pintu duda terbuka. Dan Devian berdiri tepat di sampingnya, dengan ke dua mata mengerut, menatap. Tingkah Adelina yang nampak aneh.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Devian. Salsa tertegun, wajahnya nampak begitu pucat pasi, saat ke dua matanya melihat unjung kaki di bawahnya. Perlahan Adelina menatap ujung kakinya hingga merangkak naik ke ujung kepalanya. Seketika Adelina menelan ludahnya, melihat dada bidang Devian kesekian kalinya. Kali ini benar-benar sangat dekat dan nampak sangat jelas, di tengah teriknya matahari yang masih memantul di dinding kaca kamar Devid.
Oh.. Tuhan.. Kenapa pikiranku jadi liar begini. Pikiranku jadi kotor tak tertahankan lagi. Aku tidak bisa seperti ini terus. Adelina menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikiran kotor itu merasuki dirinya.
"Devian?" gumam Adelina, bibirnya gemetar takut. Dia berjalan dua langkah ke belakang, dengan pandangan mata tertunduk takut.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Devian, menajamkan pandangan matanya.
"Maaf, sepertinya aku harus pergi." lanjutnya, membalikkan badannya, sembari menghela napasnya perlahan. Menghilangkan rasa gugup yang merasuki dirinya.
"Kamu mau kemana?" tanya Devian, berjalan dua langkah ke depan, dengan wajah datar.
"Aku pergi, mau siapkan makanan untuk kamu."
Devian meraih tangan Adelina, menarik tangannya hingga tubuh wanita itu memutar menatap ke arahnya. Telapak tanga halus itu menrmpel di dada bidangnya. Merasakan detak jantung yang terus berdetak sangat cepat.
Adelina mengernyitkan ke dua matanya. Menghela napas beratnya berkali-kali.
Aku merasakan degup jantungnya. Seakan saling berpacu cepat denganya.
"Kenapa kamu diam?" tanya Devian.
"Aku.. Aku hanya.. Aku gugup," jawab Adelina tertunduk malu. Wajahnyanya mulai merah seperti kepiting rebus.
Devian menarik tubuh Adelina mendekat ke arahnya. "Mau sampai kapan kamu memegang dadaku. Apa kamu mukai tertarik." bisik lembut Devian. Di luar nalar Adelina, dia spontan mendorong tubuh Devian menjauh darinya.
"Maaf! Tadi aku gak sengaja,"
__ADS_1
Devian memarik ujung bibirnya. "Tidak sengaja tapi keseringan." sindir Devian, melangkahkan kakinya pergi, menutup pintu kamarnya.
"Kamu mau apa?" tanya Adelina panik. Dia semakin gugup.