
Sudah hampir 3 bulan berlalu, Salsa melakukan kegiatan seperti biasanya. Dia menatap ponselnya, entah kenapa berharap jika Devid menghubunginya. Tapi selama dua minggu dia meninggalkan Devid, dia tidak pernah menghubungi Salsa lagi.
Apa dia benar-benar meninggakkanku? Apa sekarang dia lupa? Yapi, kenapa aku memikirkan dia. Sekarang aku harus fokus dengan Gio dan kehidupannya di sini. Gumamnya dalam hatinya.
Ukk.. Ukk...
Entah sejak kapan perutnya terasa mual ingin muntah, Salsa segera beranjak dari duduknya menutup bibirnya berlari masuk ke dalam.kamar mandi, dia memuntahkan makanan yang baru saja dia makan.
"Apa aku masuk angin?" tanyanya dalam hati, sembari menatap lega wajahnya di depan cermin.
"Aku harus segera pergi, gak bisa hanya tinggal diam. Aku harus kerja!!" Salsa yang teringat tentang pekerjaannya. Dai membasuh wajahnya secepat mungkin. Mengusapnya dengan handuk, lalu keluar dari kamar mandi. Mencari baju kerjanya, dan dengan langkah cepat. Dia berjalan keluar. Langkahnya terhenti saat berada tepat di ujung jalan. Kepalanya terasa sangat pusing, Salsa memegang kepalanya tak sudah tak bisa terkendali. Hingga tubuhnya perlahan lemas, lunglai terjatuh.
Dengan sigap seorang laki-laki menangkap gubuhnya, menepuk-nepuk wajahnya mencoba membangunkannya. "Heh.. Kamu kenapa? Bangunlah!" ucapnya panik.
Laki-laki itu mengangkat tubuh Salsa, segera membawanya masuk ke dalam mobil yang tidak jauh dari tempat dia berdiri. Tak mau banyak bicara lagu, dia membawanya ke rumah sakit terdekat.
Sampai di sana, Salsa langsung di tangani dengan baik. Dan laki-laki itu duduk di luar, menunggunya di luar menanti kabar selanjutnya.
Ckleekkk...
Suara pintu terbuka membuat laki-aki itu beranjak berdiri
"Maaf tuan Felix!! Ada hal yang harus saya bicarakan," dokter itu masuk kembali ke dalam ruanganya, dan di susul laki-laki yang mengantar Salsa.
"Duduklah tuan!!" pintanya.
Laki-laki itu segera duduk, "Ada apa? Aku gak mau banya bertele-tele lagi,"
"Selamat untuk anda,"
Felix menautkan ke dua alisnya, "Selamat?" tanyanya.
"Iya, istri anda sedang hamil 3 bulan,"
Aaln mengernyitkan wajahnya, "Hamil?"
"Iya, tuan Felix,"
Jadi wanita itu hamil? Kenapa suaminya tidak mengantarnya. Dan membiarkan dia hampir saja pingsan di jalanan. Bukanya suaminya orang kaya.
"Oya, tuan saya akan tuliskan resep vitamin untuknya. Dan juga penambah darah. Karena tensi darah istri anda rendah." dokter itu segera menelis resep.
"Tapi dok.."
"Ini tuan," potong dokter itu cepat, memberikan secarik kertas resep untuk Felix.
Felix mengurungkan niatnya untul berbicara pada dokter itu. Dia beranjak berdiri menghampiri Salsa. "Hai.. kamu bangunlah!!" ucapnya menepuk lengan Salsa untuk membangunkannya.
__ADS_1
Ke dua mata Selsa perlahan terbuka, dia menatap heran melihat ruangan yang begitu familiar. "Aku di mana?" tanyanya.
"Kamu di rumah sakit?" jawab Felix datar.
Salsa menoleh cepat, melihat laki-laki yang sangat familiar di matanya. "Bukanya kamu?" Salsa menatap heran.
"Kenapa kamu di sini?" tanya menatap tajam Felix.
"Oya, di mana suami kamu. Kenapa dia membiarkan wanita hamil pergi sendiri,"
"Hamil?" tanya Salsa terkejut.
"Iya, memangnya kamu tidak tahu jika kamu hamil?"
Salsa mengusap perutnya, ia menghela napas panjang. Mencoba menarik tubuhnya untuk duduk. "Apa kamu yakin aku hamil?" tanya Salsa tanpa memikirkan jika dia tadi sempat ingin marah pada Felix.
Felix hanya tersenyum tipis, memberikan resep vitamin dari dokter, "Sekarang cepat pulang, aku akan antarkan kamu!!" Selesai memberikan kertas itu, Felix memegang lengan Salsa membantunya untuk berdiri dan bergegas pergi.
"Kenapa kamu mau membantu aku?" tanya Salsa.
"Aku tidak tega melihat seorang wanita lemah yang hampir jatuh di pinggir jalan,"
Salsa menepis tangan Felix yang ingin memegang lengannya. "Jangan sentuh aku!!" ucapnya, mencoba untuk berjalan sendiri, meski tubuhnya masih terasa sedikit lemas.
"Aku akan antar kamu tebus vitamim kamu, setelah itu kita pulang"
"Oke baiklah!!" Felix membuka pintu mobil, mempersilahkan Salsa untuk masuk ke dalam. Dan Felix berlari kecil memutar depan mobilnya, lalu masuk ke dalam mobil. Dan segera pergi dari halaman rumah sakit.
"Salsa!!" panggil seorang laki-laki berlari menghampiri mobilnya. Namun mobil itu semakin melaju jauh dan cepat hilang dari pandangan matanya.
"Sepertinya aku tadi dengar ada orang yang memanggilku?"
Felix melirik ke arah Salsa. "Aku tidak mendengarnya, mungkin kamu salah dengar,"
"Memangnya kamu tahu namaku?" tanya Salsa menajamkan pandangan matanya.
"Enggak!!"
"Hah..." Salsa menarik bibirnya sinis.
"Sudah sekarang cepat jalan, aku mau sampai di rumah cepat," pintanya.
Salsa lalu diam, dia memandang jalanan lewat kaca mobil Felix.
Di saat aku hamil, tanpa suami yang menemaniku. Apa aku benar-benar bodoh telah mengusirnya dulu. Sekarang apa yang aku lakukan? Apa aku harus tetap diam merahasiakan kehamilan aku. Merawatnya dan membesarkannya sendiri.
"Lebih baik kamu hubungi suami kamu, gak mungkin juga kamu lahiran nanti tanpa suami kami,"
__ADS_1
"Gak usah sok perduli denganku,"
"Aku bukanya sok perduli. Emangnya kamu gak kasihan dengan anak kamu, jika lahir tanpa orang tua lengkap," jelasnya, melirik ke arah Salsa.
"Biar aku yang pikirkan itu sendiri jangan ikut campur lagi. Setelah ini kamu cepat pergi jangan temui aku," jawab Salsa jutek.
"Kenapa? Apa dia sekarang pergi meninggalkanmu?" tanya Felix sembari tertawa kecil.
"Sudah aku bilang jangan ikut campur, kalau kamu masih ikut campur. Turunkan aku di sini?" ancam Salsa.
"Oke! Baiklah! Maaf!" jawabnya menatap sekilas wajah Salsa yang nampak sangat sedih.
Semua terdiam hingga sampai di rumah Salsa. Tanpa mengucap terima kasih Salsa berjalan keluar dengan wajah nampak kosong penuh beban pikiran. Felix berjalan mengikuti setiap langkah Salsa hingga sampai ke depan rumahnya.
"Kenapa kamu mengikutiku?" tanyanya tanpa menoleh ke belakang.
"Dasar keras kepala," umpat Felix membuat Salsa menoleh cepat seketika.
"Apa katamu?"
"Kamu itu keras kepala?"
"Aku tidak keras kepala" Salsa mencoba membela dirinya.
"Pikirkan anak kamu, jika memang dia pergi meninggalkanmu. Apa kamu mau jika menikah denganku,"
"Apa yang kamu bicarakan?" Salsa membalikkan badannya menatap wajah Felix di depannya.
Felix meriah tangan Salsa. "Aku mau menikah dnegan kamu, kita akan rawat anak kamu sama-sama,"
Salsa menarik bibirnya, memutar matanya malas, "Jangan bercanda gak lucu,"
"Aku tidak bercanda!!"
"Kalau tidak apa?"
"Aku serius, aku sudah 3 bulan ini selalu mengamati kamu. Setiap kegiatan yang kamu lakukan. Dan aku juga yang mengirimkan kamu buah-buahan setiap hari di depan rumah kamu,"
"Jadi itu semua kamu yang mengirimkan paket setiap hari padaku?," tanya Salsa memastikan.
"Iya, apa kamu mau menikah denganku?"
Salsa menarik ke dua tangannya, dia menghela napasnya. "Maaf!! tapi aku belum ada surat resmi cerai dengan suami aku. Jadi aku masih menunggunya."
"Bukannya kamu yang mengusir dia, kenapa kamu menunggunya?"
"Karena dia ayah biologis anakku," tegas Salsa.
__ADS_1
"Iya, benar apa yang di katakan dia. Lagian Salsa harus segera kembali," suara sangat familiar itu terdengar jelas di telinga Salsa. Felix dan Salsa menoleh seketika menatap ke sumber suara. Ke dua kata Salsa terkejut saat melihat sosok laki-laki di depannya.