
Hampir lima menit berlalu. Salsa tidak hentinya terus mondar-mandir di depannya. Pikirannya kacau, saat memikirkan gimana nanti jika dia lapar. terus di kamar gak ada makanan. Dan Alan sepertinya memang sengaja menutup.mereka berdua. Entah apa.yang di rencanakan mereka. Semua benar-benar membuatku pusing. Gerutu Salsa, menyacak-acak rambutnya frustasi.
Apa sebenarnya yang mereka rencanakan. Kenapa Devid terlihat sangat datar, seakan tak terjadi apa-apa dengannya.
Devid menghela napasnya. Mengangkat kepalanya menatap Salsa. Pandangan mata Slasa sekaan tak lepas menatapnya.
"Kamu pasti memikirkanku, kan?" ucap Devid.
"Udah diam duduk, aku pusing melihat kamu mondar-mandir gak jelas."
Dan Salsa hanya menatap ke arah David dengan pandangan bingung.
"Apa kamu gak bisa duduk diam" ucapnya lagi.
"Aku bingung gimana cara kita keluar." ucap Salsa dengan tangan dan kaki bergerak mengikuti ekpresi wajahnya. "Kamu juga bantu aku mikir. Atau kamu dobrak pintumya."
"Emang bisa pintu di dobrak dari dalam. Bisa-bisa lengannya yang memar, memangnya kamu mau tanggung jawab." decak Devid.
Salsa memutar matanya malas. Menghentakkan kakinya, dan tangan bersedekap. Ia menarik ujung bibirnya sinis sembari mencibir pelan.
"Emang dia hamil tanggung jawab. Dasar lebay.. bilang saja kalau dia lembek gak kuat."
"Apa katamu?" tanya Devid, menarik ke dua alisnya bersamaan ke atas. Pandangan matanya menyipit.
"Biasa saja kalau melihatku, nanti kalau kamu jatuh cinta padaku, gimana?" sindir Salsa memutar matanya acuh.
Devid hanya diam, menghela napasnya mencoba untuk tetap sabar. Dia menundukkan kepalanya lagi, dan mulai membaca buku yang masih terbuka di tangannya.
Tuh orang bener-bener, ya. Apa memang dia itu sengaja berdua de gan aku di sini. Atau jangan... jangan..
"Apa kamu yang meminta Alan mengunci kita di dalam?"
David tetap pada pendiriannya. Dia menutup mulutnya rapat-rapat. Tak mau ikut campur lagi, atau memikirkan Salsa.
"David, kamu dengar gak?" ucap Salsa meninggikan suaranya. Dan David masih tetap saja datar, memasukan jarinya ke telinga, dengan sikap acuh tak acuh padanya.
"Entah gimana aku bisa bicara denganmu." Salsa menggeram kesal, hatinya sesekali ingin sekali mencabik tuh bibirnya biar bisa terbuka lebar. Lagian punya mulut tak di gunakan dengan baik.
"Jangan membicarakanku dalam hati," ucap David, ke dua matanya masih fokus membaca setiap tulisan kecil di buku itu. Salsa menoleh, menarik ujung bibirnya tipis. Saat melihat David masih tak berkutik sama sekali dari tempatnya.
"Siapa juga yang membicarakanmu. Dia benar-benar kepedean banget, sih!" ucap Salsa, menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tempat duduk yang pas untuknya. Kakinya terasa nyeri terlalu lama berdiri mondar-mandiri sendiri. Dari pada capek di buat sendiri. Lebih baik cari akan duduk tenang seperti David.
"Nah, gitu tanang! Gak banyak bergerak. Bikir repit orang saja."
"Lagian kenapa juga kamu yang repot."
"Karena kamu berdiri di depan mataku." jawab David, mengangkat kepalanya kesekian detik. Kembali lagi fokus pada bukunya.
"Kalau kamu mau tidak di ganggu, lebih baik kamu masuk saja ke kamar mandi. Dan berdiri di sana, terserah mau jungkir balik. Atau salto, atau bahkan atraksi di dalam aku tak perduli." jelas Devid, bangkit dari duduknya. Melangkahkan kakinya berjalan menuju ke ranjangnya. Membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.
Salsa hanya menatap ke arahnya tajam. Dia mengerutkan keningnya. Dengan mata kesal, dan bibir manyun beberapa senti.
Ah.. Terserah dia lah. Aku capek ladeni dia. Lagian dia laki-laki aneh yang pertama kali aku kenal.
Salsa menghela napasnya, menyandarkan punggungnya di sofa, dan kepala di atas, dan ke dua tangan terlentang. Ia merasa tenang saat otot-ototnya perlahan mualai istirahat, sedikit tertarik.
"Hah... sangat nyaman.. Mungkin ini lebih nyaman lagi.. Jika berbaring berdua dengan kamu, imsiang begini."
"Enggak!" jawab cepat Salsan memutar matanya acuh
Hampir satu jam berlalu. Salsa hanya diam, menatap wajah Devid yang entah dia apa tidak bosan terus menatap buku di tangannya. Bahkan sudah hampir siang Salsa belum juga mandi. Dan semua gara-gara Devid. Dia bahkan ganti-ganti posisi tetap saja tidak melihat Devid melirik ke arahnya sama sekali.
Gimana cara dia bisa mendapatkan perhatian dari Devid saat hamil seperti ini. Huh.. Bukanya perhatian. Tapi.malah sifat jahil dan cueknya kembali lagi seperti dulu. Bikin kesal saja.
Devid sibuk dengan dunianya sendiri. Membaca baginya adalah kehidupan baru baginya. Dia tak perduli dengan orang yang ada di sekitarnya. Seakan dunianya adalah miliknya sendiri.
Kenapa bisa aku menikah dengan manusia es seperti dia. Apa dia terlahir memang sebagai manusia es. Gak bisa senyum sama sekali. Atau aku perlu tarik itu mulutnya biar bisa tersenyum lebar.
__ADS_1
Salsa membaringkan tubuhnya di sofa, dengan tangan menyangga pipinya, siku menrmpel pada pinggiran ujung kiri sofa. Dan pandangan mata tak lepas dari wajah serius Devid.
"Ehem... Ehem..." dahem Salsa. Mencoba memanggil Devid. Tetapi, tetap saja hasilnya nihil. sama sekali Devid tak melirik ke arahnya.
Apa aku kurang menarik? Kenapa dia tidak menatapku seperti sama sekali. Nyebelin banget dia. Seakan dia sempurna tanpa ada salah.
Salsa menghela napasnya. Mencoba untuk tetap tersenyum. Meski Devid acuh tak acuh padanya.
"Ssstt.. heh.." Salsa melemparkan bantal kecil tepat mengenai lengan Devid. Dan laki-laki itu masih saja tak perdulikannya. Seakan acuh tak acuh denganya.
"Heh.. Kamu.."
"Eh.. Apa kamu tuli?"
"Devid.." panggil Salsa berkali-kali, tak ada jawaban darinya. Devid hanya diam, mengangkat kepalanya dengan pandangan mata menajam.
"Apa?" tanya jutek Devid, kepalanya menunduk kembali lagi menatap bukunya.
"Gak ada apa-apa, sih!!" ucap salsa memegang dagunya, sambil memutar otaknya mencoba berpikir lagi apa yang ingin dia bicarakan sekarang. Lama berpikir Salsa melebarkan bibirnya membentuk senyuman manis.
"Kalau gak ada apa-apa gak usah ganggu aku." pekik Devid, membalikkan tubuhmya, menghindari pandangan Salsa padanya.
"Apa kamu gak bosan baca buku terus?" tanya Salsa, beranjak duduk tegap menatap ke arahmya.
"Memangnya kenapa?"
"Sekali-kali cara cara untuk keluar dari sini. Aku bosan!" ucap Salsa terus terang, menarik turunkan alisnya, dan bibir sedikit tertarik ke atas.
"Keluar saja sendiri." jawab singkat Devid acuh.
"Apa katamu? Kalau aku bisa keluar sendiri dari sini aku sudah keluar dari tadi. Dan kamu kenapa bersantai itu tidak perdulikan kita sudah hampir 2 jam lo, di sini." umpat Salsa beranjak berdiri, mengeluarkan semua emosi dalam dirinya. Dengan ke dua tangan mengikuti gerakannya.
"Bodoh!" umpat singkat dan tak jelas itu dari mulut Devid, dia hanya menarik satu sudut alisnya. Menatap datar Salsa.
Kenapa dia bertindak bodoh begitu. Nanti kalau dia jatuh gimana. Benar-benar wanita aneh.
Siitt... Apa maksudnya? Kenapa dia bicara seperti itu.. Mungkin dia terlalu percaya diri pada ketampanananya. Hingga lupa tidak bisa ngaca. Atau perlu aku berikan dia kaca besar. Umpat kesal Salsa, menghela napasnya perlahan. Memutar matanya malas.
"Kalau mau keluar silahkan, ini memang kamar kamu di sini. Tetapi sebenarnya ini adalah kamar aku. Dan kamu gak berhak untuk ikut campur apa yang aku lakukan."
Salsa menghentakkan kakinya, berjalan dua lengkah mendekati Devid.
"Oke. Kamu tak perduli denganku. Tapi setidaknya kamu punya rasa iba atau kasihan denganku."
"Kenapa aku harus kasihan dengan kamu?" tanya David, mengangkat kepalanya sekilas. Hanya tersenyum samar. Lalu kembali menatap bukunya.
Salsa mengepalkan tangannya, tepat di garis celananya. Menguntupkan bibirnya, semakin menyun beberapa senti dengan ke dua matanya menatap tajam, sedikit menyipit.
"Kamu udah dewasa dan ngapain juga aku perduli dengan kamu. Semua bisa kamu lakukan sendiri. Jangan seenaknya minta tolong orang lain. Sebelum kamu berusaha." ucap Devid sok bijak tanpa menatap ke arah Salsa.
"Jangan menasehatiku. Kalau begitu kamu di sini. Aku mau mandi, dan ingat jangan mengintipku. Jika kamu berani mengintipku. Aku akan..."
"Akan apa? Atau kamu mau mengajakku mandi?" goda Devid, semakin membuat Salsa geram. Wanita itu memalingkan wajahnya acuh, dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi tanpa perdulikan Devid.
"Dasar wanita aneh. Tapi menarik juga. Saat dia marah.. Terlalu lucu!" gumam Devid, menggelengkan kepalanya.
***
15 menit berlalu. Salsa yang sudah selesai mandi. Dia membuka separuh pintu kamar mandi. Mengeluarkan kepalanya, dengan tubuh yang masih tertutup oleh pintu.
"Heh.. Kamu yang di sana!" panggil Salsa. David menutup bukunya, meletakkan di atas ranjangnya. Menatap ke arah Salsa.
"Kamu memanggil aku?" tanya Devid, telunjuk tangannya menunjuk dirinya sendiri.
"Iya.. Kamu, lah! Memangnya siapa lagi kalau bukan kamu. Di sini apa ada orang lain selain kamu dan aku." jawab Salsa kesal.
"Ada?"
__ADS_1
Salsa mengerutkan alisnya. Wajahnya mulai pucat takut, menatap ke samping kanan dan kiri. Pandangan matanya tertuju ke arah Devid.
"Di mana?" ucap Salsa. "Jangan mencoba menakutiku."
Devid mulai mengambil handuk di dalam lemari. Dan mengambil sembarang pakaian asal yang ada di depan pandangan matanya. Selesai mengambil baju. Devid berjalan dengan langkah ringan. Menarik satu sudut bibirnya.
"Aku tidak menakutimu. Apa kamu tahu, jika di sini sebenarnya ada sesuatu yang menakutkan. Mungkin kamu tak bisa melihatnya. Tapi. Aku bisa melihatnya."
"Di mana?"
"Aku melihatnya di.." Devid hanya tersenyum.
"Di mana? Jangan menakuti. Kalau aku keluar nanti aku akan balas kamu." Salsa menatap wajah Salsa. Melemparkan handuk padanya. Dengan cepat Salsa memakai handuk jubah itu.
"Udah sekarang jangan menakutiku." gumam Salsa.
"Kamu gak mau tahu?" tanya Devid.
"Gak usah.. Dari pada kau takut." gumam Salsa, mengusap rambutnya yang masih basah.
"Dia ada di belakang kamu.."
"Wuaaa... Di mana dia." Sontak Salsa melompat keluar. Memeluk tubuh Devid sangat erat. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang Devid.
"Di mana dia.. Jangan bilang itu lagi padaku." gumam Salsa, tubuhnya gemetar takut. Memeluk semakin erat tubuh Devid, detak jantung mereka saling berpacu sangat cepat.
David mengembangkan bibirnya membentuk sebuah senyuman penuh kemenangan dalam dirinya. Devid membalas pelukan Salsa, mengusap punggung dan belakang kepalanya lembut.
"Boleh jujur gak?" tanya Devid.
"Udah jangan bicara dulu. Aku gak mau kamu meneruskan ucapan kamu lagi. Aku gak mau dengar! Gak mau!" ucap Salsa, semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Devid.
"Sebenarnya aku itu.."
"Jangan bilang," sela cepat Salsa tanpa memberi cela Devid untuk bicara.
"Tapi aku ingin bilang.."
"Jangan.." Salsa menutup telinganya rapat-rapat.
"Aku bohong..."
Sontak Salsa mendorong tubuh Devid darinya. Menggeram kesal menatap tajam kesekian kalinya di saat melihat wajah Devid hang benar-benar menyebalkan.
"Apa mau mu?" tanya Salsa kesal. "Apa kamu hanya ingin mencari kesempatan dariku. Atau jangan-jangan kamu hanya ingin memrlukku?"
"Jangan terlalu percaya diri." ucap Devid, menahan senyumnya. Menepuk pundak Salsa.
"Jangan terlalu percaya diri. Tapi makasih pelukannya. Tubuh kamu menempel sangat dekat." bisik Devid. Lalu bernajak pergi meninggalkan Salsa. Dan Devid begitu mudahnya membuka pintunya. Dan berjalan pergi.
Ke dua mata Salsa melotot seketika saat melihat Devid keluar.
"Kalau pintu sudah terbuka kenapa dia tadi sini... ih.. Dasar nyebelin." gerutu Salsa menggeram kesal. Menghentakkan ke dua kakinya kesal berkali-kali.
Devid memutar langkahnya dan kembali lagi mengintip Salsa dj halik pintu.
"Cepat keluar, dan bereskan baju kamu."
"Bereskan gimana?" tanya Salsa mengerutkan keningnya bingung.
"Sudah cepat, masukan ke dalam.koper sekarang. Kita pindah. Dan sudah jangan banyak hanya. Aku tunggu kamu di bawah dengan Gio." jelas Devid dan beranjak pergi lagi.
Salsa sempat mencoba menghentikan langkahnya. Ia tak hentinya menatap bingung Devid. Kenapa sifatnya tiba-tiba aneh, seperti bukan dirinya. Yang semakin bikin tambah bingung kenapa dia mengajaknya pindah.
Devid menguntupkan bibirmya kesal. Memutar matanya. Mencoba menimang-nimang apa.yang di katakan Devid.
"Baiklah! Sekarang aku siapkan semuanya. Aku penasaran mau bawa aku kemana dia nanti,"
__ADS_1