Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Laki-laki itu lagi


__ADS_3

Sampai Melbourne, terik matahari membakar jalanan. Dua orang laki-laki tampan menyewa mobil seharian mencari gadis idamannya. Cuaca panas tak menghalanginya untuk mencari dia seharian. Bahkan keliling kita mereka tempuh.


"Sialan.. kenapa kita belum juga bertemu dengannya," umpat Devid, memukul setir mobilnya keras, tak persilakan sakit tangannya. Hatinya kini lebih sakit dari apapun juga, jika sampai benar-benar kehilangan dirinya.


"Sabar, kita pasti menemukan dia," jawab Devian, yang terlihat datar, ke dua matanya tak hentinya terus memutar menatap ke kanan dan kiri jalanan.


"Sampai kapan? Ini sudah hampir malam. Kita keliling kota. Sama sekali tidak menemukan dia." decak kesal Devid.


"Sabar!! Aku yakin jika dia pasti ketemu nanti," ucap Devian santainya.


Devid bercak sebal, "Kamu bisa sabar? Tapi aku? Aku gak bisa terus bersabar... Kamu tahu aku sangat khawatir dengannya... Gimana kalau dia kelaparan di sini.. Gak ada tempat tinggal. Dan jika..... Arggg.. " gerutunya, ekspresi kesal, khawatir jadi satu.


"Terserah kamu!! Tapi kalau kamu amsih terbawa emosi bukanya dapat Salsa, tapi kamu malah gak akan ada hasil nantinya. Sabar dan tetap awasi setiap.sudut jalan,"


"Arggghh... " Devid menghentak kesal penuh amarah.


---------


Sedangkan Salsa mencari kerja part time yang bisa di kerjakan kapan saja, dan dia baru pulang kerja sehabis membersihkan sebuah kedai makanan kecil. Dan lumayan dapat penghasilan bisa untuk makan besok.


Salsa berjalan di tengahnya rembulan berjalan menembus gelapnya malam. Dengan langkah ringan, dan pandangan kosong. Berbagai pikiran menghantui dirinya. Pikirannya mulai melayang membayangkan jari-harinya bersama dengan Devid, yang entah kenapa tak bisa ia lupakan setiap detikpun kenangan itu. Rasanya membekas dalam hati, dan terukir jelas di pikiran. Hal indah yang tak mudah di lupakan meski di makan waktu sekalipun.


"Kenapa kamu selalu ada dalam pikiranku? Kenapa?" ucap Salsa dengan nada rendah lalu meninggi. Dia menendang kaleng tak berdosa yang tergeletak di depannya penuh frustasi, dan.


Prakkk...


Tak sengaja kaleng itu tepat mengenai mobil sport warna merah yang terparkir tepat tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Oppss... Mati aku? Haduh.. Kena mobil, lagi. Pasti bentar lagi yang punya mobil datang dan marah-marah," gerutu salsa panik, dia berjalan mondar-mandir, dengan tubuh gemetar, salsa mengigit bibir bawahnya, menahan rasa gugup dalam dirinya.


"Siapa yang melempar kaleng ini?" suara keras, serak seorang laki-laki membuatnya semakin tak terkendali. Rasa paniknya semakin menjadi. Gadis itu nenarik napasnya dalam-dalam, menahannya, lalu mengeluarkan secara peralahan. Dia mencaba memasang wajah datarnya, berjalan acuh seakan tak tahu apa-apa.


Semoga aku bisa lolos, dari pada harus di suruh ganti rugi.


"Tunggu!!" suara teriakan itu, membuat ke dua kakinya terhenti tiba-tiba.


"Apa kamu yang lempar kaleng ini?" tanyanya dengan nada merendah.


"Emm... Mungkin anda salah orang," ucap Salsa sembari menutupi wajahnya.


"Apa kamu yakin?" tanya laki-laki itu curiga, dia berdiri tepat di depan Selasa yang menundukkan kepalanya, tanpa dia tahu.

__ADS_1


"Di sini itu hanya kamu yang lewat." geram laki-laki itu, meraih dagu Salsa menariknya keatas. Salsa seketika memejamkan matanya dengan keringat dingin mulai bercucuran takut. Suara keras dan setidaknya membuat wanita yang mendengarnya bergidik takut.


"Emm... Maaf!! Tadi aku gak sengaja.. maaf!!" ucap Salsa memohon, dengan ke dua kata mengernyit.


"Oke.. Baiklah!!" Laki-aki itu mendekatkan wajahnya, hembusan napas berat mereka saling beradu. "Kamu ganti rugi?"


Salsa mendorong tubuh laki-laki itu, ke dua matanya terbelalak saat mendengar kata 'ganti rugi'. Baginya itu kata kramat yang membuatnya panas, gerah telinga, lagian dia gak punya uang untuk ganti rugi semuanya.


"Kamu ganti rugi atau tidak?" desah laki-laki itu.


"Aku gak punya uang!!" tampik Salsa yang mulai berani mengeluarkan suaranya.


"Baiklah!! Sekarang kamu ikut aku!!" Laki-laki itu menyeret Salsa masuk ke dalam mobilnya tanpa menunggu jawaban iya dari wanita itu.


"Apa yang kamu lakukan, bodoh!! Lepaskan aku!!" Salsa terus meronta menarik tangannya, namun cengkraman laki-laki itu sangat kuat membuatnya tak bisa berkutik.


"Diam! Dan duduklah!" ucap Laki-laki itu, memutar mobil dan segera masuk.


------


Di sisi lain mobil Devid dan Devian tak sengaja lewat tepat di sampingnya dan melihat sekilas Salsa masuk ke dalam mobil seorang laki-laki.


"Dasar ******!!" umpatnya kesal, mencengkeram setir mobilnya, sembari berdengus kesal. Ke dua katanya menajam. Rahangnya mulai kenenang, giginya menggertak aura tubuhnya semakin panas, Melihat di balik kaca spion tadi.


Devid terkekeh kecil, senyumnya penuh kemarahan. Membuat Devian bergidik ngeri.


"Apa katamu? Aku ikuti ****** itu.. Udah jelas-jelas di sini dia dengan laki-laki lain," pekik Devid.


"Aku tahu, tapi siapa tahu itu teman atau saudaranya, lagian kita tidak tahu jika kita tidak tanya dulu padanya.." usul Devian.


Devid menggelengkan kepalanya!. "Enggak, aku gak mau lagi berurusan dengannya.. Hatiku sudah terlanjur kecewa."


"Kamu boleh kecewa nanti.. Setelah kamu dapat jawaban yang membuat kamu kecewa..." jelas Devian menatap ke arah Devid.


"Aku tahu rasanya kehilangan. Tapi aku memang gak tahu rasanya sakit hati.. Tapi jika kita tidak tanya penjelasan darinya, aku takut nanti kamu akan menyesal. Apa yang ada di pikiran kamu jadi kenyataan,"


Devid terdiam, dua mulai nenimang-nimang apa yang di katakan adiknya itu. Sampai bertemu pada satu titik, "Oke.. Baiklah.. Sekarang aku akan ikuti dia." ucapnya, segera beranjak, melaju dengan kecepatan tinggi mengikuti kemana mobil itu pergi.


"Apa kamu gak bisa pelan?" tanya Devian.


"Gak ada waktu.. Aku butuh penjelasan dia... Jika memang dia wanita ******, lebih baik aku pergi dari kehidupannya."

__ADS_1


Hingga dia berhenti tepat di rumah yang negitu sederhana. Dan bisa di bilang hanya cukup untuk tinggal dua ornag saja. Rumah kecil satu petak. Dengan dua kamar tidur.


"Ini rumah siapa?" tanyanya dalam hati.


-----


"Lepaskan aku!!" teriak Salsa pada laki-laki yang kini semakin mencengkeram erat tangannya kasar. Salsa tahu pasti akan menimbulkan belas memar nanti di tangannya.


"Cepat ambil uang kamu sekarang. Aku gak punya banyak waktu!!"


"Iihh.. Shittt" Dia mengeram kesal, dengan tangan terangkat dia sudah siap menghujani pukulan di wajahnya.


"Cepat ambil!!" bentak laki-laki itu.


Bentar, kenapa sepertinya aku pernah melihat dia. di lihat dari matanya. Wajah dan kulit putihnya. Aku pernah melihatnya tapi di mana? Gumam Salsa dalam hatinya.


"Kenapa kamu diam di situ, cepat ambil uang kamu,"


"Apa yang kamu lakukan dengan istriku?" ucap Devid berjalan ringan mendekati Salsa. Dia menarik tangan Salsa bersembunyi di balik punggungnya.


Kenapa Devid ada di sini? Gimana dia bisa tahu rumah aku.. Oh... tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang..


Sudut bibir laki-laki tertarik sini, lalu memalingkan wajahnya berlawanan arah. seolah acuh tak suka dengan kehadiran Devid. "Kamu alki-laki wanita ini?" tanyanya kasar.


"Iya, kenapa?"


"Bayar mobil aku, lihat gara-gara istri jelek kamu ini. Mobil aku jadi tergores...."


Devid yang mulai tak kuasa menahan amarah, dia menarik kerah baju milik laki-laki itu Mencengkeram semakin erat dan sedikit menariknya lagi ke atas. "Jangan bicara sembarangan denganya". pekik Devid.


"Ganti rugi," ucap laki-aki itu membalasnya santai.


"Berapa?"


"15 juta?"


"Hanya segitu?" tanya Devid.


"Iya,"


Devid mendorong tubuh laki-laki itu hingga terpental ke belakang. "Devid ambilkan uang khas, dan lemparkan ke arahnya."

__ADS_1


Devid menghela napas dan segera mengambil uangnya, memberikan pada laki-laki itu, dan tepat dia melemparkan uang dalam amplop melesat dan tepat lemparannya mengenai dadanya.


__ADS_2