
Kenapa Devian begitu perduli dengan Salsa. Sedangkan hubungannya sendiri berantakan. Apa dia tidak sadar jika dia juga memerlukan kebahagiaan. Gumam Adelina menatap wajah Devian yang nampak sangat serius menyusun strategi dengan semua rencana Salsa.
"Kapan kita akan bergerak?" tanya Salsa penasaran.
"Sekarang, karena aku ingin segera menyelesaikan masalah kamu. Agar kita bisa hidup tenang lagi."
Salsa memutar matanya, entah kenapa dirinya sangat berat. Tiba-iba teringat tentang Gio yang masih di rumah.
"Alan, Gio di mana?" Salsa menoleh ke arah Alan yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Dia bersama dengan Lia," jawab Alan.
Salsa menghela napasnya lega, "Akhirnya bisa lega juga kalau seperti ini. Kalau ada yang jaga Gio." gumam Salsa.
Devid beranjak berdiri, mengelurkan tangannya ke arah Salsa. Membuat wanita itu menatap tangannya, dengan pandangan mata sedikit menyipit heran. Kemudian mengangkat kepalanya menatap Devid.
"Maksudnya apa?" tanya Salsa heran.
"Kamu gak paham juga?" Devid menggerakkan kesal. Dan hanya di balas dengan gelengan kepala ringan olehnya.
"Enggak!!" gumam Salsa, tersenyum menyeringai.
Devid hanya bisa berdengus frustasi. Entah kenapa takdirnya harus perempuan lola seperti dia. Tetapi gitu-gitu, Devid juga buta cinta denganya.
Alan dan Devian hanya tersenyum.samar melihat padangan satu itu membuat semua orang iri melihatnya.
"Ayo berdiri," pinta Devid. Di balas dnegan gelengan kepala untuk ke dua kalinya.
"Mau berdiri sendiri atau aku angkat?"
Salsa mengerutkan keningnya, mencoba menimang-nimang ucapan Devid. Belum sempat memberikan sebuah jawaban. Tubuh salsa sudah melayang di tumpuan ke dua tangan Devid.
"Kaluan ikut aku," pinta Devid, dan Alan langsung beranjak berdiri mengikuti langkah Devid.
"Sayang, turunkan aku!" rengek Salsa.
"Aku gak mau, salah sendiri tadi gak mau aku ajak jalan, jadi ya, ini jalan pintas dan cepat." gumam Devid.
"Tapi... aku malu di lohat adim-adik kamu,"
"Kenapa malu, lagian kita suami istri. Jadi wajah seperti ini." jelas Devid. "Dan satu lagi, kamu masih pakai baju le gkap, jadi jangan malu. Asal kita gak salah, jangan pernah malu." ucap Devid sok bijak.
Alan dam Devid berserta Salsa masuk ke dalam mobil yang memang sudah di siapkan Devian untuk pergi bersama. Tetapi ada yang kurang di antara mereka, yaitu Devian, yang masih ketinggalan di dalam. Bahkan hampir 2 menit dia belum juga keluar.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Devian.." panggil Adelina, memegang tangan Devian erat, memeluknya, mencegahnya dia pergi.
Devian menggertakkan giginya, hembusan napas penuh kebencian terasa di setiap udara di sekitarnya. Dia menarik tangannya kasar dari pelukan Adelina.
"Devian.. aku ikut denganmu," ucap Adelina, menghadang langkah Devian, tepat berdiri di depannya.
"Pergi!"
"Gak akan,"
"Kenapa.kamu keras kepala?"
"Aku ingin ikut denganmu,"
Devian mendekatkan wajahnya, menarik dagunya sedikit ke atas. membuat wanita itu terdiam menatap mata tajam Devian.
"Di sini kita tidak butuh kamu sama sekali." pekik Devian, meninggikan suaranya.
Adelina bergidik takut, mendengar suara keras Devian, seketika tubuhnya terjingkat dari tempatnya.
"Tapi, aku ingin membantu kamu," Adelina memeluk erat tubuh Devian, tak kuasa menahan air mata yang kini tumpah lagi membasahi pipinya.
Tidak, aku tidak boleh diam saja. Aku akan tetap berjuang agar dia bisa mencintaiku. Aku tidak boleh cengeng. Gumam Adelina dalam hatinya, sembari menyeka air matanya dengan ke dua punggung tangannya bergantian.
"Kamu harus semangat Adelina, kejar cintamu!" tegas Adelina pada dirinya sendiri. Dia mencoba memberi semangat dirinya agar tetap setia pada tujuannya.
Adelina dengan berjalan cepat mengikuti Devian, dia tahu jika Devian tidak akan marah jika di depan kakaknya. Dengan cepat dia segera memanfaatkan kesempatan ini. Agar bisa dekat dengannya tanpa ucapan kasar yang melintas lagi di telinganya.
"Adelina.." teriak Salsa yang melihat Adelina keluar dari rumahnya.
Adelina tersenyum tipis, menyapa Salaa.
"Ayo ikut sekalian.." Salsa melambaikan tangannya, dan dengan senang hati Adelina melangkahkan kakinya mendekat. Dan Salsa membukakan pintu untuknya.
"Kamu duduk di belakang dengan Devian," ucap Salsa.
"Kak Dev, lebih baik tukar tempat dengan suamiku, biarkan dia di depan. Kalian duduk di belakang denganku. Lagian pasangan baru harus lebih romantis," ucap Salsa sok bijak.
"Tapi.."
"Udahlah, kak. Ayo cepat. Jangan menolak. Kamu dan Adelina harus di sini,"
__ADS_1
Adelina hanya diam, bergumam dalam hatinya. Aku henar-benar berterima kasih pada Salsa. Dia membantu aku agar bisa dekat dengannya.
Devian menghela napasnya, ia dengan terpaksa harus bertukar tempat dengan Devid. Dan Devian duduk di samping Salsa. Membuat Adelina merasa geram.
"Kak, kenapa lola sekali sih, sekarang duduk sini." Salsa beramjak, pindah tempat menggeser tubuh Adelina agar dekat denga Devian. Dan dia duduk di samping Adelina.
"Adelina, kamu setuju kan seperti ini?" tanya Salsa memastikan.
"Iya, harusnya pengantin baru jangan malu-malu lagi. Lagian kalian sudah dewasa. Sekarang waktunya saling dekat, dan mencari tempat indah baut pacaran."
"Iya," jawab Adelina, tersenyum senang dalam hatinya, bisa duduk berdua lagi dengannya. Meski hanya beberapa menit saja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di perjalanan Salsa terus bicara tampa hentinya menggoda Devid, karena ini kesempatan dirinya bisa menggodanya. Lagian sang sopir Alan di depan tidak masalah akan hal itu.
Dan Adelina dengan Devian masih saling jaim, mereka bahkan tanpa menatap satu sama lain, Dan Devian mencoba menghindari tatapan Adelina, bahkan menjauhkan tubuhnya darinya. Memberikan jarak beberapa centi.
"Sayang, kita sebenarnya mau kemana?" tanya Salsa bingung.
"Nanti juga kamu tahu, sekarang kamu diam dan duduk dengan tenang. Jangan jahil," ucap Devid mengingatkan.
"Kenapa tidak memberi tahu ku sekarang,"
"Nanti kamu bawel," tegasnya.
Salsa menatap ke arah Adelina dan Devian yang saling diam tanpa suara. Mereka terlihat canggung satu sama lain. Salsa seketika tersenyum, sifat jahilnya mulai memberontak dalam dirinya.
"Kalian kenapa saling diam?" tanya Salsa basa-basi.
"Emm... aku..." Adelina yang mau menjawab nampak sangat gugup.
"Kita hanya lagi bosan terlalu banyak bucara," potong Devian cepat, menoleh melirik tajam ke arah Adelina.
Salsa menguntupkan bibirnya, lalu memutarnya dengan ke dua tangan bersedekap melihat mereka yang begitu membautnya nggreget banget.
Salsa meraih tangan kanan Devian, lalu meraih tangan kiri Adelina. Menyatukan tangan mereka, meletakkan di atas paha Adelina.
"Sudah, seperti ini terus, ya. Jangan di lepas sampai kita ke tujuan. Jika kalian lepaskan tangan kalian, dapat denda. Harus kecupan di depanku." ucap Salsa, membuat Adelina dan Devian melebarkan matanya menatap ke arahnya.
Dan di balas dengan senyuman tipis, mengangkat tangannya 'peace' di udara.
"Hehe.. Jangan sampai lepas, ya." Salsa kembali duduk di tempatnya lagi. Mencoba membiarkan mereka berdua beradaptasi.
__ADS_1