
Setelah hampir setengah jam Devid menunggu dokter. Sambil terus mengusap wajah Salsa yang terlihat sangat pucat. Tak lama penantianya datang. Dokter itu berjalan masuk ke kamarnya di antar dengan bi Inem pembantunya.
Wajah yang semula cemas dan khawatir dia mula bisa tersenyum tipis. Dan membiarkan dokter itu memeriksa istrinya sejenak.
Setelah selesai memeriksa keadaan Salsa dan janinnya. Dokter itu berjalan mendekati Devid.
"Kondisi ibunya saat ini masih lemas, dia kedinginan dan juga kurang tidur, dan makan. Mengakibatkan kondisinya sekarang drop. Darahnya turun drastis. Jadi harus di kasih obat penambah darah nanti."
"Terus kondisi bayi saya gimana dok?" tanya tergesa-gesa Devid.
Dokter itu menghela napasnya sejenak, dan tersenyum tipis.
"Kandungan dalam perut istri bapak baik-baik saja. Bapak, bersyukur jika bayi dalam kandungannya masih tetap sehat. Hanya ibunya harus di beri asupan gizi lengkap nantinya" ucap sepenggal dokter itu, sudah membuat Devid merasa sangat lega.
"Tetapi, bapak jangan sampai membiarkan istri bapak kurang gizi ya. Nanti akan berakibat fatal bagi janin yang ada di dalam perutnya. Dan ingat jaga kesehatan ibunya. Jangan sampai seperti ini lagi, bisa beresiko kematian pada janin anda," jelas lengkap dokter itu.
Devid tersenyum lega, menatap ke arah Salsa. Lalu kembali menatap dokter di depannya.
"Iya, dok, pasti, Saya akan menjaga istri dan bayi yang ada di dalam perutnya."
"Baik, saya akan tuliskan resep vitamin ya pak. Untuk kebaikan ibu dan janinnya,"
"Iya, dok."
Dokter itu mulai menuliskan resep obat penambah darah dan Vitamin untuk membantu asupan gizi, untuk Salsa. Lalu memberikan pada Devid suaminya.
"Ini tuan," ucap dokter itu.
"Baik, makasih!" jawab Devid.
"Sekarang saya permisi dulu," lanjutnya. "Kalau ada apa-apa dengan istri bapak. Bapak, bisa hubungi saya."
"Baik, dok." jawab antusias Devid.
"Bi Inem, antar dokter sampai ke depan, ya."
"Baik, tuan."
Setelah dokter itu melangkahkan kakinya pergi, dengan napas lega, Devid meskipun dalam hatinya masih sangat kecewa. Dia merasa sudah bersyukur jika janin dalam kandungan Salsa baik-baik saja. Jika terjadi apa-apa pada anaknya. Itu akan menjadi sebuah penyesalan yang sangat luar biasa untuk Devid.
Devid, memeluk tubuh Salsa yang masih tertidur. Sembari mengusap lembut perutnya.
"Maafkan, papa. Sayang! Papa, terlalu jahat ya, sama kamu." ucap Devid, mencium lembut perut Salsa.
"Sekarang, papa, janji padamu. Akan merawat mama kamu dengan baik. Meski sebenarnya papa masih sangat kecewa dengan mama kamu,"
"Kak, gimana keadaan Salsa," tanya Alan, yang tiba-tiba berlari masuk ke dalam kamarnya dengan wajah panik dan cemasnya.
__ADS_1
Devid tersenyum tipis.
"Dia baik-baik saja. Sekarang yang paling penting adalah gizi anaknya." jawab Devid.
"Terus apa kamu gak perduli dengan ibunya?"
Devid tertunduk sejenak, "Saya memang sangat peduli dengannya. Tapi hatiku masih sangat terluka," jelas Devid, dengan wajah terlihat kosong.
Devid menghela napasnya, mengangkat kepalanya ke arah Alan. "Sekarang kamu ajak asisstenku untuk segera cari tahu semua yang terjadi kemarin. Jika aku sudah menemukan bukti jika Salsa tidak bersalah. Maka aku akan berpikir lagi untuk memaafkan dia seutuhnya." kata Devid, wajahnya seakan penuh harapan jika sebenarnya Salsa tidak bersalah.
Alan tersenyum, jika kakaknya sudah mulai tersadar. "Baiklah, aku akan bantu carikan bukti. Karena aku merasa sangat bersalah dengannya." jawab Alan. "Kakak sekarang jaga Salsa baik-baik. Aku akan segera kembali dengan bukti itu," Alan keluar tergesa-gesa. Dia ingin segera mendapatkan bukti dan mengembalikan lagi cinta mereka.
Di lain sisi Gio dan Felix datang ke rumah Devid. Mereka melangkahkan kakinya mendekati kamarnya.
"Kakak..." teriak Gio, berlari memeluk tubuh lemas kakaknya.
Felix menatap tajam ke arah Devid, berjalan dengan penuh kebencian padanya.
"Apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Felix meninggikan nada suaranya.
Devid hanya diam, tertunduk, dia merasa sangat bersalah dengan Salsa. Felix meraih kerah baju Devid, sedikit menariknya ke atas.
"Kenapa kamu diam? Katakan... Kenapa Salsa bisa seperti ini? Katakan padaku.. Kenapa?" ucap Felix emosi.
Devis menarik satu sudut bibirnya. Melepaskan tangan Felix dari kerahnya. "Kamu siapa? Apa perdulimu padanya? Dan ingatlah, penyebab semua ini adalah kamu. Si pengganggu hubungan orang. Lebih baik anda ngaca. Siapa penyebab ini semua," jelas Devid, menunjuk wajah Felix, kemudian mendorong pelan tubuh Devid menjauh darinya.
"Aku tidak mau kakak aku kenapa-napa, karena hanya dialah keluarga aku sekarang!" jelas Gio, yang masih memeluk tubuh lemas kakaknya.
"Kita bawa saja dia ke dokter," sambung Felix menerobos ucapan Gio.
Devid memutar matanya malas. "Anda terlambat. tadi dokter sudah memeriksanya. Dan sekarang lebih baik anda keluar dari sini. Karena aku tidak mau ada orang asing masuk ke rumahku," ucap tajam Devid.
"Aku akan tetap di sini!" kata Felix bersikukuh.
"Kamu keluar sekarang atau aku akan panggilkan polisi," ancam Devid, menajamkan matanya.
Felix menarik satu sudut bibirnya sini, dengan ke dua tangan terangkat ke atas. "Oke. Fine, aku akan pergi dari sini. Dan ingat, jika dia sampai kenapa-napa. Aku tidak akan segan-segan untuk menjebloskanmu ke dalam pejara, tuan Devid."
Devid hanya diam, tanpa pedulikan ucapan Felix. Dan laki-laki itu segera pergi dari kamar Devid. Dan keluar dari rumah itu dengan penuh rasa kekecewaan pada dirinya.
"Devid.. Maaf!" ucap lirih Salsa, yang baru tersadar tanpa membuka matanya. Devid sontak duduk di samping ranjangnya, laku meraih tangan Salsa.
"Iya, aku ada di sini. Kamu sadarlah! Aku akan memaafkan kamu," ucap Devid, jemari tangan kanannya mengusap.lembut rambut Salsa, membelaianya penuh dengan perasaan.
Salsa mengernyitkan matanya, mencoba untuk terbuka.
Kruukkkk...
__ADS_1
Suara perut Salsa tidak henti terus berbunyi. "Bi..." teriak panik Devid. Membuat para pembantu di rumahnya berhamburan masuk ke dalam kamarnya.
"Iya, tuan, ada apa?"
"Masak makanan yang enak untuk istriku, saat dia sadar dia pasti butuh asupan makanan yang banyak. Jangan lupa beri dia soup hangat," ucap Devid.
Baik tuan!" jawa salah satu pembantunya, dan segera pergi.
"Devid.." Salsa memegang lengan Devid.
"Sayang! Apa kamu memaafkan aku?" tanyanya penuh dengan harapan.
"Salsa, sekarang yang paling penting kesehatan kamu dan anak kita. Jangan banyak tanya atau bahas masa lalu," jelas Devid, mencoba melupakan kenyataan yang ada. Dan Salsa mencoba tersenyum, memegang erat lengan kiri Devid. Dan di balas dengan sentuhan lembut jemari tangan Devid yang masih terus membelainya.
"Kakak, jangan bertindak bodoh lagi. Kakak tahu jika aku sangat mengkhawatirkan kakak!" sambung Gio, yang masih meneteskan air matanya.
Salsa tersenyum, memandang wajah Devid yang masih terlihat muram. Tetapi dia tidak perdulikan akan hal itu. Dia mencoba untuk tetap berpikir positif jika Devid pasti masih sangat khawatir dengannya.
"Devid,"
"Panggil aku mas, biar lebih enakan. Lagian aku suami kamu, dan termasuk umur aku juga lebih tua dari kamu." jelas Devid, mencoba tersenyum dalam hati yang memendam luka. Sekuat tenaganya dia mencoba memaafkan Salsa. Meski merasa sangat sulit nantinya. Tapi yang paling penting baginya sekarang Salsa tidak bertindak nekat lagi. Dan dirinya juga berusaha membuang egonya yang hampir saja membunuh anaknya.
"Baik, dev.. Eh.. Maksud aku Mas," ucap Salsa terbata-bata.
"Iya," jawab Devid, mencium lembut kening Salsa kesekian detik.
"Oya, sekarang kamu pasti sangat lapar. Ni inem dan lainya masih masak buat kamu. Dan tunggu dulu ya, baby kita juga pasti sangat lapar. Karena keegoisan kamu!"
"Kenapa aku?" tanya Salsa, mengerutkan keningnya bingung.
"Ya, kamu gak mau makan dua hari, dan hampir saja membunuh anak kita. Kalau anak kita kenapa-napa, aku juga pasti akan lebih marah lagi padamu,"
Salsa tersenyum tipis, meraih tangan kanan Devid. Lalu meletakkan tangannya tepat di perutnya. "Lihatlah, baby kuta baik-baik saja, kan!" ucap Salsa.
"Iya, tapi kamu jangan bertindak bodoh lagi,"
"Iya, mas!" jawab Salsa lembut. Tubuhnya yang masih merasa sangat dingin, Devid menutup dari kaki hingga dada Salsa dnegan selimut tebal dan bertumpuk.
Salsa menghela napasnya. "Makasih! Aku masih di beri kesempatan untuk tetap hidup dan bisa bersama dengan kamu lagi, mas!" ucap Salsa, meraih tangan kiri devid, meletakkan di pipinya, membuat sentuhan lembut di pipinya membuat kehangatan sendiri bagi tubuh dan janin yang ada di perutnya.
"Gio, sekarang lebih baik kamu istirahat. Kakak gak apa-apa,"
"Tapi, kak!"
"Nanti biar pelayan di sini yang akan siapkan kamar untuk kamu," sambung Devid.
Gio menghela kesal, meski dalam hati dia sangat ingin menemani kakaknya. Tetapi ia juga sadar jika kakaknya butuh waktu berdua untuk saling memaafkan satu sama lain.
__ADS_1