
"Suka, tapi kenapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Salsa, pandangan matanya berkeliling menatap sekitarnya. Pemandangan yang begitu indah itu membuat kagum matanya. Bahkan ia tak mau berkedip.
"Aku ingin membuat kamu dan baby kita selalu bahagia." ucap Devid, ia duduk di belakang Salsa, memeluk tubuhnya dari belakang. Menyandarkan kepalanya manja di pundak kiri Salsa.
Salsa tersenyum, melirik suaminya itu sekilas. Ia mengacak-acak rambutnya membuat sedikit berantakan.
"Segini saja aku sudah bahagia," ucap Salsa mrnyecup pipi Devid.
Devid mencubit hidung mungil Salsa. Ia melepaskan pelukannya. Beranjak berbaring dengan kepala di atas ke dua paha Salsa. "Boleh aku tidur sebentar?" ucap Devid, tersenyum tipis, menggerakan ke dua alisnya naik turun sedikit menggoda. Lalu memejamkan ke dua matanya.
Entah kenapa aku merasa hari ini adalah hari kebahagiaan. Gak hanya bisa dapat suaminya yang selalu pengertian dengan kita. Dia juga selalu sayang dan cinta padaku. Gak akan mungkin lagi ada wanita lain yang bisa menempati hatinya.
"Alan bilang padaku jika dia akan tiba di Melbourne nanti malam dengan Oma."
"Kamu yakin?" tanya Salsa memastikan.
"Iya, aku yakin. Tapi entah sampai nanti malam atau besok pagi. Kita tunggu saja mereka di sini."
"Kita harus segera pulang sekarang." Salsa mengangkat kepala Devid, dan beranjak berdiri dengan segera. Langkahnya terhenti saat tangannya menyangkut sesuatu di belakang.
"Kamu mau kemana?" tanya Devid mencegah Salsa pergi.
"Aku mau segera pulang sekarang. Nanti Gio di rumah sendiri. Aku gak bisa tinggalin dia." Salsa menarik tangannya. Ia tetap bersikukuh untuk segera pergi.
"Apa kamu gila? Ini di tengah laut, sayang?" pekik Devid, beranjak berdiri. Memeluk tubuh Salsa dari belakang. Jemari tangannya mengusap lembut perut istrinya.
"Anak kita butuh belaian dari papanya."
"Maksud kamu?" tanya Salsa memincingkan matanya memastikan.
Devid memegang ke dua bahu Salsa, memutarnya badannya. Membuat ke dua mata mereka saling tertuju. "Aku mau kamu sekarang ikut aku,"
"Kemana?"
Devid mengusap wajah Salsa. Melepaskan, lalu menarik tangan wanita berambut hitam pekat itu berjalan menuju ke sebuah ruangan berada bawah.
Devid... Apa yang kamu lakukan?" tanya Slasa bingung.
"Malam ini, aku ingin bersama dengan kamu. Di sini, dan memulai kebahagian baru." gumam David.
"Tapi, apa kamu yakin?" tanya Salsa.
"Soal masalah kota belum selesai."
"Iya, biarkan saja. Yang penting anak kita selamat. Dan aku ingin, bisa hidup bahagia di sini. Bersama dengan keluarga kecilku."
Salsa mengerutkan keningnya bingung. "Maksud kamu di sini mana? Apa di kapan ini?" tanya Salsa.
__ADS_1
"Enggaklah, Sayang. Memangnya kamu mau tinggal di dalam kapal. Kalau mau gak apa-apa," goda Devid memeluk erat tubuh Salsa.
Drrrtt.... Drrtt...
Getaran ponsel membuat Devid melepaskan pelukannya. Ia mengambil ponsel di sakunya. Ke dua matanya mengkerut saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya 'Alan'.
"Kenapa dia menghubungiku?" gumam Devid.
"Siapa?" tanya Salsa pensaran.
"Alan."
"Cepat buka, siapa tahu ada kabar penting darinya." ucap Salsa.
Devid membuka isi pesan dari Alan. Ia perlahan membaacanya dalam hati.
Aku sudah menemukan semua bukti. Dan sekarang, aku serahkan semua ke polisi. Aku harap kalian sekarang baik-baik saja.
"Alan sudah menemukan bukti untuk kita. Jari kamu jangan khawatir lagi. Atas semua yang mengganggu. Aku ingin sekali, sekarang bersama denganku. Melewati hari-hari bersama dengan kehidupan baru." ucap Devid, memeluk erat tubuh Salsa. Ia meletakkan pinselnya. Lalu mengecup leher Salsa perlahan.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Salsa.
"Olahraga!" goda Devid, dengan kedua tangan memegang dua bola Salsa.
"David.. Hentikan, geli, tahu!" Salsa menepis ke dua tangan David.
"Kamu gak mau?" tanya Devid menguntupkan bibirnya kesal.
"Jatah? Apa memangnya?" tanya Salsa bingung.
"Jatah makan," decak kesal Devid. Merasa tak dapat perhatian dari Salsa. Devid beranjak keluar, dan duduk menatap hamparan luas laut yang membentng di depannya. Ia berbaring di depan bagian kapalnya, di temani hembusan angin malam, yang dinginnya hahkan sampai kenusuk ke tulangnya.
Devid menatap langit yang nampak begitu gerah. Di temani rentetan gemerlap bintang yang seakan tertawa melihatnya.
Salsa berjalan menghampiri Devid. Dia merasa menyesal telah membuat Devid ngambek.
"Sayang..."
"Ada apa?" tanya Devid memejamkan matanya. Dengan ke dua tangan di lipat menumpu kepalanya.
"Kamu ngambek?"
"Enggak!"
"Terus kenapa kamu gak mau menatapku?" tanya Salsa.
"Malas."
__ADS_1
"Apa sudah malas dengan hubungan kita?" gumam Salsa menguntupkan bibirnya.
"Enggak!"
"Terus kenapa?"
"Aku lagi ingin sendiri! Jangan ganggu!"
Salsa menghela napasnya, ia membaringkan tubuhnya tepat di samping Devid, dengan pandangan mata ke atas. "Aku tahu, kamu marah denganku. Tapi kenapa kamu marah?"
"Kamu tidak menghargai perjuangan aku melakukan ini semya."
Salsa memiringkan tubuhnya ke samping. Ia memeluk tubuhnya sangat erat, sembari menyadarkan kepalanya di atas dada Devid. "Bolehkah aku seperti ini, aku ingin merasakan detak jantungmu. Aku ingin mendengar suara hati kecilmu saat memanggil namaku."
Devid membuka matanya, ia ia tersenyum tipis. Mengusap lembut rambut Salsa. "Aku sebenarnya kau marah, tapi kalau kamu manja seperti ini aku gak bisa marah lagi."
Salsa mengangkat kepalanya, ia mendekatkan wajahnya, memberikan sebuah kecupan lembut di bibir Devid. Devid yang semula terkejut dengan sebuah hadiah itu. Dia membalas begitu antusias kecupan Salsa. Membalikkan tubuh Salsa di bawahnya. Sebuah kecupan yang semula lembut berubah kasar dan penuh gairah. Sudah beberapa hari Devid tak dapat jatah malam darinya.
"Sayang, hentar!" Slasa mendoring tubuh Devid.
"Apalagi!"
"Kenapa disini?"
"Udah gak apa-apa, lagian gak ada yang lihat." Devid melanjutkan mengecup lehernya.
"Tapi aku malu," Salsa mendorong tubuh Devid lagi.
"Malu kenapa lagi, sayang!" gumam Devid kesal.
"Di luar sangat dingin."
Devid mengbaikannya. Dia yak perduli ocehan Salsa lagi. Jemari tanganya sueha mulai beraksi membuang semua helaian henang yang menempel di tubuhnya.
Salsa yang pemula menolak, ia hanya bisa diam. Dinginnya malam membuatnya tak bisa berkutik lagi. Dia tak bisa membohongi dirinya jika dia juga menginginkannya. Selesai menjelejahi tubuh Salsa. Dna membuat wanita itu basah seketika. David memulai permainannya, mereka saling memeluk, mencengkeram, merasakan sebuah hentakan. Keringat mulai bercucuran membahasi tubuh mereka. Rasa dingin hilang berubah kejajdi hangay seketika. Mereka berpacu sampai lima belas menit lamanya. Dengan berbagai gaya yang meraka lakukan.
"Salsa, makasih!" ucap Devid, mengusap dahi Salsa. Dan berbaring di sampingnya memeluk tubuhnya.
"Iya, sayang!" Salsa, kembali memeluk tubuh Devid.
"Gimana kalau kita di dalam saja,"
Salsa tersenyum, "Boleh!"
-------
Sementara Alan sednag di kantir polisi. Dia mealorkan felix dan Dea karena melakukan rencana untuk pembunuhan. Dan dia memang sengaja ingin menbunuh David. Sementara Felix dia ingin mendapatakn cinta Salsa.
__ADS_1
Yang lebih parah lagi Lia, kekasihnya. Dia ternyata diam-diam suka dengan kakaknya. Dia juga yang membantu Felix agar bisa tidur dengan Salsa dan membuat David cemburu.
Alan sangat kecewa padanya. Dan memutuskan membatalkan pernikahan yang akan mereka langsungkan. Dia harus menyerahkan wanitanya ke kantor polisi.