Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Ingin mengulang kisah lalu


__ADS_3

Matahari sudah menampakkan sinarnya. Menembus kelambu putih yang mebentang di dinding kaca menghiasi kamar tidur Salsa. Hari ini Devid sudah keluar lebih dulu dari kamarnya. Dia sengaja ingin menyiapkan semua bajunya. Dan menyambut kedatangan Lia dan Alan yang sebentar lagi akan sampai.


Meski dulu sempat tak begitu suka dengan pacar Alan. Tetapi melihat ketulusan cinta Lia dia merasa sedikit menyukainya. Tetapi belum sepenuhnya suka dengannya. Masih ada sedikit rasa kekhawatiran darinya. Entah itu perasaan dia sebagai kakak yang terlalu posesif. Atau hanya pikiran negatif dia saja yang mengganggunya.


"Kak Devid!" panggil Lia, berjalan mendekati Devid yang duduk santai di sofa.


Dan Alan yang masih di luar. Dia baru saja berjalan masuk ke dalam rumah David.


Devid menoleh, menatap wajah cantik Lia tersenyum ramah ke arahnya. Pandangan matanya tak pernah menatap.kagum.sama sekali pada Lia. Bagi dia hanya sebatas teman dan bukan siapa-siapa. "Lia?" mata David memutar melihat sekeliling Lia.


"Mana Alan?" tanya Devid. Dan Lia hanya diam, dia yang semula tersenyum. Perlahan senyum itu meredup dari bibirnya. Seakan hilang di telan bumi. Kebahagiaan itu seakan sirna dari dirinya. Meski kebahagiaan sekilas.


"Aku di sini, kak! Memangnya ada apa?" Sambung Alan, berjalan mendekati mereka.


"Gak ada apa-apa, bantu aku menyiapkan semuanya. aku yakin jika Selasa ingin kembali ke Melbourne." jelas Devid.


Alan duduk di sofa tepat di depan Devid. Di susul dengan Lia yang mengikuti Alan duduk di sampingnya. "Memangnya kakak mau ikut dengannya ke sana?" tanya Alan penasaran.


"Iya, tapi entahlah. Apa dia mau pergi denganku."


"Terus nanti kamu gimana apa gak mau tinggal di sini lagi?" tanya Alan penasaran.


"Enggak! Aku akan ikut dengannya. Dan mulai hidup baru di sana." Devid menghela napasnya. Seakan dia sudah siap memulai kehidupan baru di kita baru dengan istrinya. Bagi dia sekarang harta paling terindah dalam hidupnya adalah Salsa. tak ada harta yang melebihi kebahagiaan yang selama ini dia dapatkan dengannya. Ketulusan, cinta, dan kasih sayang darinya yang membuat semuanya berbuah dalam waktu singkat.


"Hah.. Baiklah! Aku akan bantu kamu, kak? Tapi apa kalian sudah mendapatkan tiket pesawat?" tanya Alan.


"Belum, tapi sekalian saja kamu yang carikan tiga tiket pesawat untuk aku."


"Gimana aku yang pesankan kalian tiket pesawat?" saut Lia, penuh semangat.


"Terserah kalian. Tapi aku mau sekarang berangkat. Menunggu Salsa bangun dari tidurnya."


"Baiklah, setelah pesankan tiket pesawat. Aku akan bangun, kan dia." jawab Lia.


"Makasih!"


"Bentar! Memangnya kamu bisa memesan sekaligus membangunkan dia."


Lia terkekeh kecil. "Sekarang semuanya itu serba online Alan. Kita bisa beli apa saja dan memesan apa saja." jelas Lia, menepuk bahu Alan.


"Iya, ya! Kenapa aku gak kepikiran, ya dari tadi." gumam Alan menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.

__ADS_1


Selesai berbincang bertiga. dan Lia sudah memesan tiga tiket pesawat untuk mereka pergi. Kini Lia berjalan masuk ke kamarnya. menggelengkan kepalanya saat melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 8 pagi.


Lia menggelengkan kepalanya ke dua kalinya saat melihat Salsa masih berbaring di ranjangnya dengan selimut yang menutup sekujur tubuhnya. Terbesit dalam pikirannya untuk membangunkan Salsa. Dan Salsa dengan segera bangun, mengusap ke dua matanya.


"Aku ingin bicara dengan dia, kamu pergilah!" ucap Devid. Yang entah sejak kapan dia datang dan masuk ke dalam kamarnya. Terbesit dalam.pikiran Devid bersifat jahil padanya. Dia merasa kangen dengan Salsa yang dulu. Suka ngambek begitu saja, dan jahil padanya.


Devid menghela napasnya.


"Ini kesempatan aku untuk membuat hubungan indah itu terjadi. Seakan ber-nostalgia kenangan lalu." gumam Devid tersenyum tipis.


"Baiklah!! Aku pergi dulu." Lia bergegas pergi. Devid melihat lia sudha pe4gi jauh dari kamaenya, ia menarik tangan Salsa kasar hingga terjatuh dari atas ranjangnya.


Buukkk....


"Aw-- sakit!" rintih Salsa, membuka matanya lebar, dengan tangan kiri mengusap pinggulnya yang terasa sakit.


"Sakit, ya?" ucap Devid mengejrk, menarik sudut bibirnya tipis.


Salsa berdengus kesal. Mengepalaknntanganya memukul ke sembarang arah.


"Devid...." teriak Salsa menggelegar, berdengus kesal, ke dua matanya menajam, beranjak berdiri mendorong ke dua bahu Devid. Kemudian menajamkan matanya lagi, dengan ke dua tangan berkacak pinggang.


Devid memalingkan wajahnya menahan senyum. Lalu kembali manatap sedikit sinis pada istrinya itu.


"Romantis katamu?" Devid, memincingkan salah satu matanya.


"Kalau gak romantis, setidaknya kamu lebih sopan denganku."


"Kenapa aku haru sopan dengan kamu."


"Karena aku adalah istri kamu." umpat Salsa. Dia merasa sangat kesal. Devid yang biasa romantis tetapi tiba-tiba berubah menjadi Devid hang nyebelin lagi. Entah apa yang ada dalam benaknya sekarang. Apa memang dia sengaja membuat istrinya itu emosi atau hanya pura-pura. Salsa bahkan tidak tahu kenapa lakinya itu berubah drastis.


"Sejak kapan aku jadi suami kamu." gumam Devid, memutar matanya tak bersalah. Salsa menatap dia semakin aneh.


"Kamu sadar gak? atau kamu sedang ada masalah?" Salsa memegang dahi Devid, mencoba memeriksa kondisi suaminya itu.


"Kalau kamu bertindak bodoh lagi, apa kamu gak kasihan dengan istri dan anak kamu. Coba deh, anda lebih sadar lagi." sindir tajam Salsa.


"Aku sadar, dan masih sangat sadar. Memangnya kenapa? Apa ada yang salah? Atau kamu memang salah?"


Salsa menggeram kesal. "Ih... Kamu bener-bener ya. Entahlah.. Terserah gimana kamu sekarang. Apa katamu. Dan aku tak perduli tentang itu.."

__ADS_1


"Jelek!" umpat David menatap kesal ke arah Salsa.


Wanita itu seketika membuka matanya lebar. Menajamkan matanya. Rahangnya menggertak penuh dengan amarahnya. "Apa kamu bilang? Mungkin kata kamu harus di periksa."


"Kenapa? Apa kamu merasa sangat cantik?"


"Emm.. Enggak juga. Tapi setidaknya sedikit cantik gitu." ucap Salsa, dengan ke dua tangan dan wajah mengikuti ucapannya.


"Sedikit? Tapi..." David menatap setiap sudut wajah Salsa. "Emm.. Tapi sepertinya kamu gak ada sama sekali kata cantik di wajah kamu." ledek David.


"Ih.. Dasar ya, memang laki-laki batu kayak kamu nyebelin. Kamu tahu gak aku itu ingin sekali menarik bibir kamu itu." gerutu Salsa tak ada hentinya. "Di kecup manja aku mau,"


"Malas!"


Sedangkan di balik pintu, Alan dan Lia tak sengaja mendengar perdebatan mereka yang menganggu mereka.


"Lia, kemarilah! Aku punya rencana nanti."


"Apa?" tanya Lia penasaran.


"Kita kunci mereka berdua di dalam. Gara lebih akrab dan tidak terus bertengkar seperti itu." jelas Alan.


Dengan cepat Lia melakukan apa yang ucapkan Alan. Alan hanya ingin menyatukan pasangan gemesin itu lagi. Mereka seperti tom and jerry tapi juga saling sayang, dan perduli. Membuat semua iri pada hubungan mereka.


Brakk..


Suara pintu tertutup sangat keras membuat Salsa dan David terkejut. Menatap kompak ke arah pintu. Salsa berlari menuju ke pintu. Menggedor pintunya berkali-kali. Dan mencoba membuka pintunya. Sesekali dia melirik ke arah Devid yang terlihat sangat tenang seakan tak perduli jika pintunya tertutup.


"Shitt. di kunci!!" umpat Salsa kesal.


"Lia..Alan...buka pintunya." teriak Salsa, tidak hentinya ke dua tangannya menggedor pintu kamarnya. Entah ini hari sial atau keberuntungan baginya. Bisa berdua di dalam kamar yang terkunci dari luar dengan Devid.


Dan pandangan mata Devid, terlihat datar-datar saja tanpa ekspresi. Seakan dia tidak perduli dnegan semua itu. Ke dua tanganya sibuk mencari beberapa koleksi bukunya. Dan mulai mengambilnya,  selesai mengambil buku. Devid berjalan menuju ke sofa, duduk santai tanpa menatap ke arah Salsa sama sekali. Seakan dia memang sengaja tidak menganggapnya.


"Eh.. Kamu gak kepikiran untuk keluar gitu."


"Buat apa?" tanya datar Devid, jemarinya membolak-balikkan lembaran buku. Tanpa sedikitpun menatap ke arah Salsa. Wanita itu terlihat sangat bingung. Dia berjalan mondar-mandir tidak jelas. Mencoba mencari cara gimana untuk keluar. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah gimana. saat dia nanti mandi, dan gimana kalau ganti baju. Meski sudah alma menikah, entah kenapa dia masih merasa malu jika ganti baju di depan Devid. Apalagi mandi berdua. Hah.. Itu tak terbayang. Jika bukan dia yang mengajaknya.


"Eh.. Buat apa katamu? Emangnya kamu mau tetap di sini sampai beberapa hari."


Wajah Devid masih tetap tenang. Dia tahu jika Alan hanya mencoba mendekatkan dirinya dengan Salsa. Rencana anak kecil baginya tidak mempan. Bagaimanapun juga hatinya tetap satu yaitu Dea.

__ADS_1


__ADS_2