Menikah Muda Dengan CEO

Menikah Muda Dengan CEO
Bermesraan.


__ADS_3

Satu keluar yang sedang di rungdung asmara ini, sedang duduk di ruang keluarga. Dan Salsa berbaring dengan tumpuan kepala ke dua paha Devid. Sentuhan lembut jemari tangan Devid, di kepalanya membuat dia merasa sangat nyaman.


Dan kali ini mereka sangat senang, sudah melakukan rencana besar untuk Adelina dan Devian. Wanita berambut ombak itu tidak hentinya terus tertawa membayangkan nanti gimana jadinya jika Devian dan Adelina bersama. Pasti sangat lucu dan gemesin di dalam bayangan kepala Salsa.


"Salsa, apa kamu yakin ini akan membuat rencana yang baik untuk Adelina dan Devian?" tanya Devid.


Salsa beranjak duduk, dengan ke dua kaki bersila di atas sofa menatap ke arah Devid. "Aku sangat yakin! Pasti mereka akan jadi pasangan yang romantis." ucap Salsa, ke dua matanya memutar dengan ke dua tangan saling mengepal di depan dadanya membayangkan mesranya adik iparnya itu.


Devid, menarik tangan Salsa hingga terjatuh dalam pelukan tubuhnya. "Kenapa kamu memikirkan hubungan mereka? Apa kamu sendiri tidak ingin seperti ini?" tanya Devid, memegang pinggang Salsa, ke dua mata mereka saling bertemu.


Wajah yang semula tersenyum kini mulai menatap gugup. Wajahnya terlihat semakin pucat pasi. Keringat dingin bercucuran darinya.


Kenapa aku bisa segugup ini dengan Devid. Padahal tidak hanya sekali aku seperti ini. Udah sering aku dekat denganya. Tapi hari ini perasaan itu berbeda.


"Kenapa kamu terlalu gugup, sayang!" Devid, tersenyum tipis. Mencubit ke dua pipi Salsa manja. Membuat ke dua mata wanita itu mengedip-ngedipkan matanya bingung.


"Sekarang, cepat ganti baju " pinta Devid, beranjak berdiri.


Salsa mengenyitkan matanya. "Memangnya kita mau kemana?" tanya Salsa bingung. Mengangkat kepalanya menatap Devid.


Devid menarik bersamaan ke dua alisnya. "Kita akan pergi ke taman hiburan,"


"Hah? Kita mau ngapain di sana?" tanya Salsa, sontak beranjak berdiri.


"Kenapa? Apa kamu gak mau, ini pertama kalinya kita kencan. Apalagi aku tidak hanya di temani kamu, tapi juga anak kita." Devid menunduk, mengusap perut Salsa, kemudian mengecupnya lembut.


"Tapi.. " Salsa menunduk. Memikirkan gimana jika dirinya nanti malam ganggu hubungannya Adelina dengan Devian.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan."


Salsa segera menyadarkan dirinya dari lamunannya. ke dua matanya menyipit menatap wajah tampan Devid yang tidak berhenti tersenyum menatapnya.


"Aku akan hubungi Adelina dan Devian, jika kita tidak bisa ke sana."


Kalau sampai mereka tahu bagaimana?"


"Tidak akan, kita akan sembunyi di belakang layar. Sambil melihat kedekatan mereka. Bukanya itu rencana kamu?"

__ADS_1


Salsa mengembangkan bibirnya, lalu tersenyum lebar. Memeluk erat tubuh Devid. "Makasih!"


Pelukan hangat itu di balas Devid, dengan belaian tangannya lembut mengusap kepala belakang Salsa. "Jangan mengucapkan terima kasih. Aku ingin menghilangkan rasa kecewaku padamu dulu. Dan sudah kewajiban ku untuk membuat istri selalu tersenyum bahagia. Meski masalah melanda hubungan kita."


Salsa melepaskan pelukannya. "Baiklah, sekarang aku pergi ganti baju. Bye..." Salsa berlari pergi meninggalkan Devid.


"Jangan lari-lari. Kasihan anak kita." teriak Devid khawatir dengan ulah Salsa yang membuat bahaya kehamilannya.


Dasar wanita kalau sudah bahagia tidak sadar jika dia hamil.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Berbeda dengan Adelina dan Devian yang duduk diam di taman, dengan punggung bersandar dan ke dua tangan bersendekap, menunggu Salsa yang tidak kunjung datang.


Drrrttt..


Drrttttt...


Dering ponsel Adelina dan Devian yang bersamaan membuat ke dua mata mereka saling tertuju.


"Apa itu Salsa?" tanya Devian ragu.


"Devid?" pandangan mereka saling tertuju ke sekian kalinya. Dan kembali lagi menatap ponselnya.


Maaf aku tidak bisa datang. Lebih baik kalian bersama dulu. Nanti kalau aku dan Salsa bisa datang aku akan ke sana dengan istriku. Jika kamu mau menunggu!


Isi pesan chat yang membuat ke dua mata mereka mengernyit bersamaan.


"Aku sudah jauh-jauh ke sini, apa aku harus pulang begitu saja." gumam kesal Adelina, menghela napasnya kesal. Menundukkan kepalanya malas.


Devian menatap Adelina, dia merasa tidak bisa melihat Adelina terlihat kesal dengan Salsa. Entah sepertinya memang mereka ada janji atau bagaimana.


Devian menarik napasnya dalam-dalam. Dengan terpaksa dia harus melewati malam ini bersama dengan Adelina. Tidak mungkin juga jika sudah sampai di taman hiburan pulang dengan tangan hampa.


"Apa kamu mau melewati malam ini bersama denganku?" ucapan lirih membuat Adelina mengangkat kepalanya, menoleh, ke dua matanya menatap tak percaya apa hang di katakan Devian.


"Apa yang kamu katakan?" tanya Adelina memastikan.

__ADS_1


"Jika kamu tidak mau tidak masalah." Devian beranjak berdiri, seakan acuh tak acuh pada Adelina.


Apa benar dia mau ajak aku menikmati malam ini di taman bermain ini. Apa aku salah dengar tadi? Tetapi, kenapa dia berubah?


wanita cantik berambut coklat itu menarik dua sudut bibirnya tipis. "Aku mau!" jawabnya gugup.


"Memangnya apa yang aku katakan?"


Adelina mengedipkan matanya berkali-kali. "Eh.. Apa, ya.. " Dia memutar matanya mengingat apa yang di katakan Devian, rasa gugup yang menyelimuti hatinya membuat dia merasa amnesia sementara.


"Eh...."


"Kelamaan mikir, dasar lola!" umpat Devian, meraih lengan Adelina, berjalan dengan langkah cepat menerobos kerumunan orang yang sedang menikmati berbagai wahana hiburan di sana.


Adelina hanya diam mengamati dari samping wajah Devian, membuat hatinya merasa tenang. Wajah dinginnya seakan menyejukkan hatinya yang terluka. Sentuhan lembut tangannya terasa mampu menggetarkan jiwanya, merasuk ke dalam sanu barinya.


Tuhan begitu sayang padaku. Karena telah menciptakan laki-laki yang sangat sempurna untukku. Gumam Adelina menatap kagum wajah yang membuat diantergila-gila bahkan rela jatuh bangun dalam menjalani hubungan dengannya.


"Jangan pikir ini kencan pertama kita. Jangan harap aku akan mencintai kamu,"


Deg!


Ucapan yang seketika membuat mulut Adelina semakin terbungkam rapat. Sembari menghela napasnya frustasi.


Tidak apa, yang penting aku bisa bersama dengan kamu aku merasa senang. Gumam Adelina di dalam hatinya.


Devian melepaskan lengan Adelina dari cengkeramannya. Langkah beterhenti di sebuah permainan komedi putar.


"Naik ini?" Adelina memincing matanya sedikit menunduk menatap wajah Devian dari samping.


"Iya,"


"Yakin?"


"Memangnya kenapa?"


"Emm. Aku kira kamu gak suka hal seperti ini."

__ADS_1


Devian memegang erat tangan Adelina, menariknya masuk ke dalam wahana. Adelina mengikuti kemana Devian pergi, meski pikirannya terheran-heran dengan apa yang sudah di lakuakn Devian. Kini Devian membantu dia naik ke atas, dengan tangan yang mesih saling memegang seperti seseorang yang sedang kasmaran. Wahana itu memutar perlahan. Tetap saja Devian tak mau melepaskan tangan Adelina dari genggamannya.


Hari yang begitu indah. Aku bisa seperti ini dengannya. Ini adalah baru sejarah dalam hidupku. Akan aku kenang dan aku ingat sepanjang hidupku.


__ADS_2