
Adelia sampai di korea, kali ini ia ingin segeta nencari di mana Devian pergi. Meaki belum sepenuhnya tahu di mana kebetadaan Devian. Tapi ia hanya ingat jika dia di Korea.
"Devian!! Aku ingin melihat kamu, jangan pulang dulu!!" ucap Adelina, berjalan kaki melewati sepanajang jalan di Soul, ia tidak tahu jarus pergi ke mana lagi. Sambil menunggu kabar dari asistennya untuk mencari tahu di mana keberadaan Devian. Ia memilih unyuk pergi sendiri
Drrttt.. Drttt..
Ponsel Adelina bergetar di balik tas mahal miliknya, tas kecil yang terlihat sangat mewah, melintang di pundaknya. Gadis itu segera mengambil ponselnya, lalu mengangkat telefonnya.
"Maaf, non!!" sela asistennya, lansgung menyerobot, untuk bicara lebih dulu.
"Iya, sekarang kamus udha taju. Di mana keberadaan, Devian?" tanya Adelina menanti penuh harapan pada dirinya.
"Sudah, non. Dia sedang berada di pulau Jeju dengan seseorang!!"
"Baiklah!! Makasih!" jawab Adelina tanpa bertanya orang itu siapa. Ia tak perduli dengan siapa dia di sana. Bagi dia bisa melihat Devian sudah merasa lega.
Sudah hampir satu minggu tidak bertemu dengannya, membuat ia merasa benar-benar sudah gila. Setiap hari selalu terbayang wajah tampan dan senyum manisnya, yang masih terukir jelas di otaknya.
"Tinggu!! Apa non sudah membuat janji padanya?" tanya assisten pribadinya.
Adelina tidak mendengar ucapannya, ia menjauhkan ponselnya dari telinganya, lalu mematikan panggilan itu. Tak mau lama-lama, Adelina segera menuju ke pulau Jeju, entah dengan apa ia kesana. Nanti di pikir dulu, sekarang ia ingin pergi ke restauran terdekat lebih dulu.
"Non, Adelina. Selalu saja di matikan ponggilannya, aku belum selesai ngomong. Sekarang yang aku takutkan nanti gimana kalau dia terluka saat melihat apa yang di lakukan Devian di sini!!" gumamnya, mencoba untuk menghubungi Adelina kembali, tetapi tetap saja tidak bisa di hubungi.
__ADS_1
Adelina memang sengaja mematikan ponselnya, ia segera berlari menuju ke sebuah restauran dekat dnegan tempat ia berdiri sekarang.
------
Sedangkan Devian, ia masih tetap berbaring di ranjangnya.
Jarum jam menunjukan pukul 7 pagi. Sinar matahari pagi sudah menembus langsung ke seluruh penjuru ruangan hotelnya, yang dari awal memang terbuka, memang sengaja ia tidak menutup kaca, agar pemandangan di sekitar bisa terlihat dengan jelas.
Angel berbaring di samping Devian, mereka bahkan tidur dengan jarak yang berjauhan. Ada bantal di samping mereka tidur seakan hubungan mereka tanpa ikatan pernikahan.
Wanita itu perlahan membuka matanya, pandangannya terasa sangat buram, ia mencoba untuk duduk dengan tangan kanan memegang kepalanya, yang terasa sangat sakit. "Dev---ian" ucap Angel, mencoba untuk bicara, namun mulutnya terhenti, seakan lehernya terasa berat mengeluarkan kata-kata. Dengan tangan mencoba untuk meraih tubuh Devian, dan. Tes.. Darah segar keluar dari hidung Angel. Gadis itu langsung mengusap hidungnya.
"Darah?" gumam Angel, meraih tisu di depan meja samping ranjangnya, yang ia duduki. Ia mengusapi darah di hidungnya agar Devian tak melihatnya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Angel, tanpa menatap Devian, ia segera menyembunyikan tisu bekas darahnya.
"Iya, kamu lagi apa?" tanya Dvmevian, beranjak duduk sempurna, membuang bantal yang menghalanginya, lalu menggeser tubuhnya mendekati Angel.
"Aku baru saja bangun. Tadi kepalaku sakit, jadi aku duduk dulu!!" gumam Angel beralasan. Ia tidak mau jujur dengan keadaannya, di saat seperti ini, tidak mau jika semua khawatir dengan keadaannya.
Devian melingkarkan ke dua tangannya di pinggang Angel, menyandarkan dagunya di pundak kanan, dengan pipi kiri menempel mesra pipi kanan gadis itu.
"Syang!! Jika kamu sakit, jangan bangun dulu. Tetap tidur saja. Aku yang akan akan belikan kamu makan," ucap Devian, memeluk semakin erat tubuh Angel, seakan tidak mau pergi jauh darinya. Entah apa yang akan terjadi jika suatu hari Angel benar-benar gak ada Mungkin hatinya terasa mati.
__ADS_1
Angel membuang bekas tisunya ke bawah ranjang, ia memegang ke dua tangan Devian yang melingkar di perutnya. "Syang!! Aku mau mandi dulu!!"
"Biar aku yang basuh tubuh kamu. Kamu di sini saja. Jangan pergi kemana-mana." ucap Devian, mencium lembut pipi kanan Angel. Membuat wanita itu terkejut, menatap ke kanan, ke dua mata mereka saling tertuju. "Devian!! Maaf aku belum bisa menjadi istri yang baik buat aku. Dan aku belum bisa.." ucapan Angel terhenti, saat telunjuk tangan Devian menyentuh bibirnya.
"Sssttt... Jangan bicara lagi.. Aku menikahi kamu memang karena cinta. Tapi jika kamu belum bisa memberikan kewajiban kamu sebagai istri aku tidak masalah. Aku juga tahu keadaan kamu. Jadi jangan merasa bersalah" potong Devian, mencium lembut bibir Angel, d3ngan ke dua tangan menyentuh lehernya, mengusapnya naik turun. Angel membalikkan badannya ke kanan memeluk erat tubuh Devian, Meski merasa gairah Devian mencoba untuk menahannya.
"Devian? Apa kamu bisa menhan hasrat kamu?" Tanya Angel, melepaskan kecupannya, ke dua telapak tangannya, ia letakkan ke pipi Devian, mengusapnya lembut.
"Aku bisa!! Bisa menahannya. Kamu tenang saja." ucap Devian, mencoba untuk tetap tersenyum di depan Angel, meski ia tahu keadaan Angel semakin buruk. Tapi ia tak mau memperlihatkan kesedihannya di depan istrinya.
Devian membaringkan tubuh Angel, "Aku lepaskan, ya?" tanya Devian, merasa canggung melepaskan baju Angel.
"Kamu mau ngapain?" tanya Angel.
"Aku akan basuh tubuh kamu. Atau kamu mau mandi di dalam, tapi kita mandi bersama!!" ucap Devian.
"Aku mau berendam air hangat, syang!!" gumam Angel beranjak duduk, dengan ke dua tangan menyangga tubuhnya.
"Baiklah!!" Devian bergegas berdiri, mengangkat tubuh Angel, berjalan menuju ke kamar mandi, sampai di kamar mandi, ia menurunkan Angel. Lalu menutup pintunya kembali. "Apa boleh sekarang aku lepas?" tanya Devian sopan.
Dia benar-benar berbeda. Dia tidak pernah sama sekali menyentuh aku. Dia selalu menghormati aku. Itu yang membuat aku semakin cinta padanya. Tapi sekarang dia istri aku. Dia boleh menyentuhku. Tapi aku harap dia tidak melakukan itu padaku. Aku ingin dia akan melepaskan semuanya untuk wanita yang akan menikahinya lagi nanti. Angel terdiam, merenung menatap wajah Devian, dengan kepala ke kiri dan ke kanan.
"Gak boleh, ya?" tanya Devian nenurunkan tangannya kembali. Ia tidak berani menyentuh Angel jika dia tidak mengizinkannya.
__ADS_1
"Boleh!!" jawab Angel, menganggukan kapalnya, dengan senyum semringah di wajahnya. Devian membalas senyumannya, dan ia langsung memegang baju tidur Angel, membukanya perlahan. Selesai membuka semuanya, ia membuka semua helaian kain yang menempel di tubuhnya juga, membuat Angel tak berani menatapnya, wajahnya memerah seketika, ia memalingkan pandangannya berlawanan arah.