
Wanita ini kenapa dia begitu nurut denganku, apa dia tidak waras. Begitu bodohnya dia bertahan denganku. Aku yang berulang kai kasar padanya, dia diam dan tidak marah.
“Sudah, biarkan saja. Biar pelayan yang membereskannya.” Devian memegang tangan Adelina. Membuat gemuruh cinta semakin membara dalam hati wanita yang tidak mau melepaskan pandangan matanya dari wajah Devian di depannya sekilas. Lalu menunduk melihat tangannya yang masih terasa sakit, dia meniup-niup ujung jarinya yang sakit, sembari meringis menahan kesemutan lukanya.
Devian mengamati setial gerak gerik Adelina, yang sedang sibuk dengan tangannya yang masih kesemutan.
"Maaf," ucap Adelina.
Devian beranjak berdiri. Wajahnya berubah datar seketika. "Maaf untuk apa?" tanya Devian, tanpa menatap ke arah Adelina. Seakan acuh tak acuh padanya. Namun, di dalam hatinya berkata lain. Dia merasa kasihan dengannya.
"Karena karena aku kamu marah," Adelina, berdiri tepat di belakang punggung Devian. Menarik napasnya dalam-dalam, mencoba untuk menerima kenyataan jika Devian masih acuh padanya. Merasa sudah lega, Adelina membalikkan bandannya, dan pergi. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu di saat ada suara yang memanggilnya.
"Besok, aku akan ajak kamu ke rumah orang tua kamu," suara berat itu seketika mengubah ekpresi wajahnya, yang smeula muram dia mengembangkan bibirnya menoleh cepat, kemudian berlari memeluk tubuh Devian dari belakang tanpa pikir panjang lagi.
"Makasih!"
"Iya, tapi jangan memelukku." gumam Devian, mencoba melepaskan tangan Adelina yang melingkar di perutnya. Dia menoleh dengan pandangan acuh. Membuat Adelina yang semula tersenyum kini menunduk takut di saat melihat wajahnya.
"Maaf, aku terlalu senang. Jadi sering membuat kamu marah,"
Devian menarik dagu Adelina, membuat ke dua mata mereka bertemu, tekunci dalam diam.
Perasaanku... Kenapa semakin alam padanya. Meski dia terus membuat aku tidak ada, tapi aku selalu menganggapnya ada di hatiku. Dan sekarang aku bisa menatap matanya yang terasa berbeda dari sebelumnya.
"Pergilah!" pinta Devian, memalingkan wajahnya gugup.
"Baik," Adelina berlari pergi dari kamar Devian, dia tidak bisa menahan lagi rasa senangnya. Baru pertama kali dalam hidupnya Devian menatap ke dua matanya sangat dalam.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Devian terdiam sendiri di dalam kamarnya, duduk sendiri di balkon kamarnya, menatap pemandangan langit yang nampak begitu cerah hari ini. Deretan bintang tersenyum menatap ke arahnya.
Entah datang dari mana wajah Adelina terasa ada di depannya, bayangan senyum, dan tangisnya selalu menghantuinya. Devian yang merasa kesal dengan pikirannya, dia mengacak-aacak rambutnya frustasi.
“Arrrggg... Kenapa aku mikirin dia?” decak Kesal Devian, mencoba menghilangkan bayanga itu dari otaknya.
Tidak! Aku tidak boleh suka dengannya, aku tidak boleh suka!
__ADS_1
Devian mencoba mengkokohkan hatinya pada satu pendiran. Namun, wajah Adelina tiba-tiba terus muncul lagi dan lagi. Seakan bayangan itu melambaikan tangan padanya.
“Arrggg.... Lama-lama aku bisa gila,” umpatnya, mengacak-acak rambutnya frustasi.
Drrttt..
Suara getar ponsel,menyadarkan dari emosinya. Devian berjalan mengambil ponsel di atas laci, ke dua matanya menyipit di saat tertea sebuah pesan dari Salsa di depan layarnya.
“Aku dan Devian mau bertemu dengan kamu. Di taman hiburan, cepat kemari.”
Isi pesan itu mampu membuat Devian bingung, ke dua alisnya tertaut bersamaan.
Apa yang mereka ingin bicarakan. Kenapa jam segini ajak aku ketemu. Gumam Devian, menghela napasnya. Lalu beranjak meraih jaket di atas kursi, dan menyambar kunci mobil di atas meja. Dengan cepat dia menuruni anak tangga.
“Bi.. Kemana Adelina?” tanya Devian, sembari memakai jaketnya.
“Bukanya non Adelina tadi keluar, tuan?”
Devian melebarkan matanya. Kenapa dia keluar tidak bilang padaku, mau kemana dia? Apa diam-diam dia sudah punya laki-laki lain. Awas saja jika sampai bertemu denganku nantinya. Gerutu kesal Devian..
“Saya tidak tahu, tuan. Non Adelina tidak bilang apa-apa.”
“Ya, sudah makasih.” Devian segera pergi, melaju dengan kecepatan tinggi. Di setiap perjalanan, dia hanya diam, tidak hentinya terus mengumpat kesal dalam hatinya. Terbesit dalam pikirannya tentang Adelina yang beraninya keluar tanpa ijin darinya. Hatinya mulai gusrah memikirkan jika nanti Adelina pergi dengan laki-laki lain.
Bentar! Kenapa juga aku memikirkan Adelina. Jika dia punya laki-laki lain, itu malah bagus. Aku bisa lepas darinya. Gumam Devian mencoba menghilangkan hati dan pikirannya tentang Adelina.
Pikiran dan hatinya bertindak lain, di sisi lain Devian tidak hentinya terus memeriksa ponselnya. Melihay apa ada pesan dari Adelina atau tidak. Hingga hampir lima kali menatap ponselnya sembari mengemudi mobilnya. Merasa kesla tidak ada pesan jok kursi Devian melemparkan ponselnya ke belakang mobilnya.
“Dasar wanita murahan. Tidak akan aku biarkan kamu tersenyum lagi di rumahku.” decak Devian, dia menmabah kecepatan mobilnya. Melesat dengan kecepatan tinggi menyalip beberapa mobil di depannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sampai di taman hiburan malam di kota, Devian meraih ponsel di jok belakang mobilnya, lalu beranjak turun. Ke dua matanya memutar mengamati sekelilingnya. Mencoba mencari dimana Devian dan Salsa.
Langkahnya terhenti seketika di saat dia melihat wajah seseorang wanita yang sangat familiar duduk di sebah taman sendiri.
“Adelina?” gumam Devian, berdengus kesal melangkah cepat menghampirinya.
__ADS_1
“Kenapa kamu di sini?” tanya Devian, mengejutkan Adelina yang tidak menyadari kehadirannya dari tadi.
Adelina tertegun seketika, dia menelan ludahnya dengan tatapan gemetar takut.
“Devian? Emmm.. Kenapa kamu bisa di sini juga?” tanya Adelina, tersenyum menyeringai takut.
“Harusnya aku yang tanya. Kenapa kamu ada di sini?” bentak Devian kesal, meninggikan suaranya.
“Emmm...”
“Em, apa, heh? Apa kamu mau bertemu dengan laki-laki lain di sini? Atau kamu sedang kencan? Mana laki-laki mu, aku ingin bertemu dengannya sekarang. Cepat katakan di mana dia sekarang?” tanya Devian menggebu, meluapkan kekesalan dalam dirinya.
Adelina menarik napasnya dalam-dalam, mengeluarkan secara perlahan, mencoba untuk menenangkan hatinya. “Tunggu, aku bisa jelaskan. Aku di sini tidak bertemu siapapun.”
“Terus kenapa kamu di sini? Kalau bukan bertemu dengan laki-laki lain. Atau....”
“Salsa yang menyuruh aku ke sini.” Sela Adelina cepat, membuat Devian terdiam seketika.
Ke dua mata laki-laki itu menatap tak percaya dengan yang di katakan istrinya.
“Salsa? Apa dia yang menghubunginkamu juga?” tanya Devian memastikan.
“Devid dan Salsa menghubungiku jika dia ingin bertemu aku di sini. Dan tidak boleh bilang pada kamu.” Jelas Adelina.
“OO..” Devian memalingkan wajahnya malu.
Kenapa aku bisa bicara dan semarah itu padanya. Devian,, sudah aku bilang jangan suka dengannya. Kamu harus jaga hatimu ingat itu.
“Iya, jadi jangan salah paham.” Jawab Adelina, ke dua mata Adelina menatap Devian yang nampak sangat malu sudah salah menilainya. Bukanya marah dia malah tersenyum, melihat Devian seperti itu, pertanda jika dia perduli denganya.
“Apa kamu cemburu?” tanya Adelina menarik ujung bibirnya, sembari menunduk takut.
Devian mengejapkan matanya. “Cemburu? Emm.. Siapa juga yang cemburu. Aku tadi hanya khawatir.” Ucap Devian malu-malu.
Adelina mengembangkan bibirnya, memegang tangan kanan Devian. “Jadi kamu khawatir denganku?”
“Lepaskan!” Devian menarik tangan Adelina dari tanganya.
__ADS_1